Ai, Love Me! Season 2 ; Willsh World

Ai, Love Me! Season 2 ; Willsh World
Chapter 20 ; Kesadaran Johan


__ADS_3

“kau lupa menyalakan lintingan rokoknya disaat dia berada di dunia willsh” jawab sang kakek.


Mendengar ucapan kakek barusan membuat mereka semua tak habis fikir. Mereka seketika teringat akan reaksi Johan ketika ia menghisap lintingannya kemarin hari.


“ma-maafkan kita, eyang. Tidak benar benar tidak terfikirkan dengan cara itu” jawab sang ketua.


“salah satu orang harus ada yang membantu Johan harus manusia. Aku tidak bisa lagi memasuki dunia willsh karena aku sudah seratus persen menjadi roh. Harus ada yang bisa membantu Johan didalam dunia willsh” ucap sang kakek.


Namun seketika, saat itu juga tubuh Adam terjatuh seketika ketanah dengan kencang. Untungnya tubuh Adam yang telah sadar menopangnya dengan kedua lengannya dan dengan nafas yang begitu ngos ngosan.


“ka-kakek!?” tanya sang ketua.


“kalian semua adalah roh, biarkan aku, Adam Abraham yang masuk membantu Johan” ucap Adam.


“apa kau sadar? Adam?” tanya sang wakil.


“iya ini aku, Adam. Kakek sudah keluar dari tubuhku. Aku yang akan memutuskan untuk amsuk kedalam dunia itu dan membantu Johan” jawab Adam berdiri dengan lirih kesakitan.


“waktu sudah tersisa tinggal enam jam lagi. sekarang jam dua pagi, dan kita berlima memasuki dunia willsh jam 8 pagi dua hari yang lalu. Jadi waktumu hanya enam jam untuk membuat Johan sadar dan kemudian membuatnya membunh seluruh keluarganya dan menyelamatkan Odessa” jawab sang ketua.


“berikan urusan Johan kepadaku, jagalah dia diluar sini. Sudah waktunya untukku mengerahkan semua tenaga dan upayaku untuk membantu Johan” jawab Adam


“baiklah kalau begitu, aku akan memberikan tata caranya kepadamu. Karena kau bukanlah seorang roh melainkan manusia asli, jadi aturan di dunia willsh tidak berlaku kepadamu. Emosimu tidak akan disaring dan kau akan tetap mengingat apapun tanpa terkurang sedikitpun. Setelah kau memasuki alam bawah sadarmu, kau menemukan dua pintu. Pintu berwarna merah dan pintu berwarna hitam. pintu berwarna merah bertuliskan Willsh sementara pintu berwarna hitam bertuliskan Niemann. Masuklah ke dunia willsh dan temukan Johan disana. selamatkan dia dan berikan lintingan yang berisi tembakau, cengkeh dan sedikit parutan dari kulit pohon Odessa” jawab sang ketua.


“bagaimana aku mendapatkan barang barang itu?” tanya Adam.


“sudahlah, pokoknya masuk saja. waktunya sudah sangat mepet” sahut pak ketua.


“baiklah” jawab Adam menganggukkan kepalanya.


Adam pun duduk dibelakang Johan. Tubuhnya dilemaskan sementara keempat tetua mengarahkan tubuh Adam seperti posisi kedua tangan Adam menyentuh tulang ekor milik Johan.


Setelah itu, Adam pun menutup kedua matanya begitupula dengan keempat tetua yang berada di posisi sebelumnya. Perlahan keempat api dihadapan para tetua mulai hidup kembali. Adam perlahan turun kealam bawah sadarnya.


Ia merasakan tubuhnya diam namun jiwanya yang bergerak. ia berdiri dan berjalan ke arah sisa tebangan pohon Odessa.


“didepan sana ada sebuah kotak berisi tembakau, cengkeh, serutan dari kayu milik Odessa dan sedikit pakaian Johan yang kurobek sebagai kertasnya. Lintinglah ketika kau menemukan Johan dan berikan kepadanya” ucap sang ketua dari suara hatinya.


“baiklah” jawab Adam.


Adam membuka kotak tersebut dan benar saja jika terdapat keempat benda itu. seketika keempat benda itupun ia ambil dan ia saku di dalam saku celananya. setelah ia mengambilnya. Ia membalikkan badannya dan mendapati ada dua pintu berada dihadpaannya.


“masuklah kedalam pintu berwarna merah. jangan takut, kau tidak akan melupakan apapun. Statusmu disini hanyalah sebagai penolong Johan dan bukanlah seseorang yang diuji” jawab sang ketua.


“baik” jawab Johan menganggukkan kepalanya.


Ia memegang gagang pintu tersebut dan kemudian melirik ke arah pintu berwarna hitam disebelahnya. Ia membuka pintu merah tersebut dan kemudian berjalan memasukinya. Sontak terkejut, ia berada di depan rumahnya.


Ketika sadar, ia sudah berada di dalam dunia willsh, ia berlari sekencang kencangnya kerumah Johan yang letaknya memang agak jauh dari rumahnya.


Jam dua pagi, hanya ada suara jankrik yang saling bersahutan di saluran air sepanjang perjalanan. Hihngga sesampainya ia berada didepan rumah Johan.


“hoaahh, capek banget. untung masih sempat” ucap Adam.

__ADS_1


“tapi,.. tapi kenapa lampu ruang tengahnya masih menyala?” gumam Adam begitu terheran.


Saat ia berjalan memasuki pagar rumah dan hendak mengetuk pintu rumah. Ia salah fokus dengan pantulan cahaya dari sebuah cermin yang bersandar di ruang tamu. spontan ia melihat dan mengintip dari luar tentang apa yang dilakukan Johan di jam dua malam ini.


Ia mengintip dan melihat bahwa ruangannya telah dihias oleh kertas warna warni. Ia melihat balon berwarna dimana mana. Saat itu, Johan berdiri di tengah tengah kedua orangtua kandungnya sementara kakek dan neneknya berdiri dibelakang Johan.


Adam melihat bahwa terdapat lilin yang berbentuk angka 17 sedang menyala dihadapan Johan dan menancap di kue tar nya.


“aku tiup yaa‼ satu! Dua! Tiga! Huuuuffffttt!”


Saking kencangnya tiupan Johan, ludahnya amber kemana mana.


“heh, kamu tuh disuruh niup lilin, bukannya meludahi kue nya!” sahut sang ibunda tertawa disana.


“ahh, akhu thidak sengajah! Hoaahahahahaha” jawab Johan tertawa terbahak bahak disana.


“maaf ya nak Johan, kue nya baru diambil jam dua pagi. Seharusnya jam duabelas tadi” ucap sang kakek.


“gapapa kek. Sekarang kita makan kue nya bareng bareng” ucap Johan.


“gamau, udah bau jigong semua” sahut sang nenek.


“enggaaakkk, aman kokk hahahahaha” jawab Johan tertawa terbahak bahak sampai perutnya sakit dan mengusap air mata kebahagiaannya.


Adam hanya bisa melihat dari kejauhan, menatap temannya yang begitu bahagia disana. tertawa di tengah tengah keluarganya, bersenda gurau dengan lengkapnya keluarga kandungnya, meniup kue tar di sweet seventeen nya, memakan kue tar yang mulai belepotan kemana mana.


“aku tidak tau harus melakukan apa. Disisi lain aku tidak ingin kau mengakhiri kebahagiaanmu di dunia willsh ini, tapi disisi lain, Odessa yang sudah mulai kedinginan dan ketakutan berada sendirian di desa. Kau nampaknya sangat bahagia ya disini, Johan” ucap Adam meneteskan air matanya.


“iya ada apa?” tanya Johan.


“ha-halo, Johan” ucap Adam.


“i-iyyaaa, siapa ya?” tanya Johan.


“apa,.. apa kau tidak mengingatku?” tanya Adam.


“ma-maaff sepertinya aku mabuk krim di kue tar ku” jawab Johan.


“a-aku ingin bicara empat mata denganmu, Johan” ucap Adam.


“ma-maaf, bukannya menolak. Tapi semalam ini dengan orang yang tidak kukenal. Aku agak sedikit takut” jawab Johan.


“ini kepentinganmu sendiri, dan juga kepentingan Odessa” jawab Adam.


“Odessa, aku seperti mengenalnya tapi tidak tau apakah itu nama tempat atau nama seseorang” jawab Johan.


“apa kau tidak merasakan hal yang janggal dengan nama itu?” tanya Adam.


“entah kenapa, saat aku memanggil namanya, aku seperti melupakan sesuatu yang penting. Selama ini aku merasa janggal, tapi aku tidak tau apa yang harus kulakukan” jawab Johan.


“anggap saja aku adalah penolongmu untuk saat ini. aku tau kau dahulu pernah merokok, dan sekarang sempat berhenti. Ikutlah kepadaku, aku akan memberikan kado ulang tahun terbaik sepanjang masa untukmu” ucap Adam.


“waah apa itu?” tanya Johan.

__ADS_1


“ikutlah denganku keluar pagar rumahmu sebentar” ucap Adam berjalan keluar pagar rumah.


“hmm, iya” jawab Johan mengikuti Adam dibelakangnya.


Mereka berdua pun berjalan keluar pagar dan kemudian Johan menutup pagar rumahnya dari luar.


“sekarang apa yang ingin kau katakan?” tanya Johan.


“sebelumnya aku minta maaf kepadamu kalau sudah mengganggu waktu berhargamu. Tapi percyalah kepadaku kalau semua ini adalah ilusi” ucap Adam.


“ilusi?” tanya Johan.


“apa kau mengingat sesuatu sebelum tiga hari yang lalu” tanya Adam.


“tiga hari lalu?” tanya Johan.


“iya, sebelum kau ujian matematika disekolah. Apa kau mengingat sedikitpun sebelum itu?” tanya Adam.


“kau benar juga, aku tidak mengingat apa apa. Tiba tiba saja aku datang ke rumah dengan membawa ujian matematika” jawab Johan.


“kau telah kehilangan ingatanmu yang sangat amat berharga” jawab Adam.


“apa kau tau alasanku kenapa aku sampai hilang ingatan? Apa aku kecelakaan?” tanya Johan.


“kau tidak hilang ingatan. Semua ingatanmu telah ku kunci di dalam lintingan” jawab Adam.


“hah? maksudnya?” tanya Johan.


“tunggu sebentar.” Ucap Adam.


Ia melinting rokok yang berisi tembakau, cengkeh, serbuk pohon milik Odessa dan dilinting di tengah kain tipis milik Johan. Sekitar satu menit berlalu, dikarenakan tidak ada lem, maka Johan yang memegangi rokok itu agar tidak terbuka dan tumpah.


“sekarang bakar rokok itu” jawab Adam.


“baiklah” jawab Johan.


Johan membakar rokok itu dan kemudian menghisapnya. Sekali hisapan, ingatan Johan perlahan kembali. ingatan kenangannya bersama dengan Odessa, ingatannya ketika memasuki dunia willsh, ingatan milik Odessa dan miliknya sendiri.


Ditengah tengah Johan menghisap rokoknya, sang papah kandung Johan membuka pagar dan kemudian melihat Johan yang sedang menghisap rokok aneh.


“nak!? Nak Johan!? Letakkan benda itu!” tegas sang papah.


Johan hanya berdiri, meneteskan air matanya dan membuang rokok itu. ia menarik rambutnya sendiri dengan kencang dan menangis sejadi jadinya ditempat itu.


Tanpa suara, ekspresi wajah Johan menunjukkan penyesalan yang luar biasa berat. Rambutnya rontok sebab ia menariknya terlalu kencang.


“Johan, tenangkan dirimu. Kendalikan emosimu” tegas Adam.


“tidak, Adam. Aku payah karena tidak bisa mengendalikan emosiku” jawab Johan.


“jadi kau sudah menyadari hal ini ya, Johan” ucap sang papah kandungnya tersenyum tulus.


Spontan Johan berlari ke arah tubuh papah kandungnya dan memeluknya kencang Johan memeluk tubuh sang papah dengan begitu eratnya hingga kedua lengan Johan bergetar saat memeluknya.

__ADS_1


__ADS_2