Ai, Love Me! Season 2 ; Willsh World

Ai, Love Me! Season 2 ; Willsh World
Chapter 23 ; Willsh dan Niemann


__ADS_3

“hufftt, aku dah kena titik tengahnya berkali kali. Apa aku harus mulai berburu ya?” gumam willsh seraya mengelap keringatnya.


Saat ia hendak kembali, ia mendengar teriakan dari seorang perempuan yang berada jauh di tengah hutan. Dari kejauhan, ia melihat terdapat seorang perempuan seumurannya yang hampir diterkam oleh seekor harimau.


Spontan ia mengeluarkan panahannya dan menembakkannya. Anak panah itu melesat cepat nan jauh, namun tak mengarah ke harimau tersebut melainkan menancap di atas kepala perempuan itu.


“eehh, ha-hampir saja, itu nyaris sekali” ucap willsh menutup mulutnya.


Dikarenakan adanya anak panah yang melesat cepat, harimau tersebut merasa tidak aman dan memutuskan untuk meninggalkan mangsanya dari sana. Wiilsh pun berjalan menghampiri perempuan tersebut dan menanyakan keadaannya.


“untungnya aku menyelamatkanmu. Apa kamu tidak apa apa?” tanya willsh.


“tidak apa apa muatamu!? Kau hampir membunuhku. Seharusnya kau mengarahkan anak panahmu ke arah harimau, bukan ke kepalaku!” teriak perempuan itu.


“yaahh, ma-maaf, aku tidak sengaja. Aku belum pernah berburu, jadi baru berapa bulan aku memegang busur panah ini” jawab willsh.


“yaahh, mau bagaimanapun, aku masih tetap berterimakasih kepadamu” ucap perempuan itu.


“willsh” ucap willsh menjulurkan tangannya.


“hah?” tanya perempuan itu.


“apa di suku mu tidak diajarkan untuk berjabat tangan saat berkenalan? Dari kelihatannya kamu bukan dari suku Maika, bukan dari suku ku. disekitaran sini tidak ada pemukiman lagi. kamu dari suku mana? Apa kamu tersesat?” tanya willsh.


“na-nama? Suku?” tanya perempuan itu.


“iya, apa kamu tidak punya nama? Apa kamu mengingat rumahmu?” tanya willsh.


“sepertinya aku lupa dengan rumahku. Dan juga aku tidak tau namaku., bahkan orangtuaku” jawab perempuan itu.


“sepertinya kamu habis diserang binatang buas dan mengalami kecelakaan hingga lupa ingatan. Untuk sementara, aku akan memberikanmu nama. Aku akan memanggilmu Niemann” ucap willsh.


“Niemann, nama yang bagus” jawab perempuan itu.


“baiklah, Niemann. Sekarang ikutlah denganku. aku akan membawamu ke kepala suku ku” ajak willsh.


“gamau ah, takut” jawab Niemann.


“udaahh gapapa. ayahku adalah kepala sukunya. Aku akan meminta izin kepada ayahku agar kau bisa masuk kedalam suku ku. tapi pastinya, kau harus mengikuti ritual penyambutannya terlebih dahulu” ucap willsh.


“hah? ritual?” tanya Niemann.


“aaarrrggghhh, i-ini sakitnya luar biasa! Wwooohhh!” teriak Niemann ketika sebuah logam panas yang sudah dibentuk dan memanas menempel di telapak tangan kiri Niemann.


Besi panas itu menempel di telapak tangan kiri Niemann dan kemudian dilepaskan. Seketika para penduduk disana menyiramkan air di telapak tangan kiri Niemann agar luka bakarnya tidak begitu parah.


Sekitar satu jam setelah ritual selesai, willsh memasuki daerah khusus wanita hanya untuk ingin menemui Niemann. Ia memasuki salah satu rumah dan mendapati kalau Niemann saat itu sedang tertidur pulas.


“dasar dia, sepertinya dia memilih untuk tidur agar tidak terlalu merasakan rasa sakitnya” ucap willsh.

__ADS_1


Ia berjalan ke samping tempat tidur Niemann dan membuka tangan kiri Niemann. Willsh melihat indahnya simbol yang terpapang jelas dari sebuah luka bakar di telapak tangan kiri Niemann.


“ini cantik sekali. baru kali ini aku bisa melihat sebuah pohon yang memiliki rambut layaknya singa” ucap willsh.


Ia melihat wajah lugu seorang Niemann tengah tertidur didepannya. Pipinya yang mengembung, alisnya yang hitam pekat, rambutnya yang cokelat gelap, lentik bulu matanya dan manis suara dengkuran seperti kucing membuat willsh lupa untuk tidak melihat wajahnya.


Willsh mencubit pipi Niemann dan menariknya. “benar benar halus kulitnya”. Nyatanya hal itu membuat Niemann terbangun dari tidurnya dan melihat bahwasanya sudah ada willsh disampingnya.


“ma-maaf, apa aku membangunkanmu?” tanya willsh.


Seketika Niemann duduk dialas tidurnya itu dan melihat simbol yang berada di telapak tangannya.


“i-ini masih sakit” ucap Niemann.


“jelas sakit. ini baru satu jam setelah ritual. Kalau sudah satu hari atau bahkan satu minggu, rasa sakitnya akan menghilang dan membekas simbol yang sangat indah ditanganmu” jawab willsh.


“benarkah?” tanya Niemann.


“lihatlah telapak tangan milik para perempuan tua di desa ini. di telapak tangan mereka ada simbol yang berwarna hitam. milikmu berwarna merah karena masih luka. Kalau sudah berwarna hitam akan jauh lebih bagus” jawab willsh.


“hmm, jadi begitu,.. ohh iya, istri mu mana? Aku dari tadi tidak melihat istrimu. Jika dia melihat kita berduaan di ruangan ini, dia akan marah” ucap Niemann.


“aku masih belum menikah dan belum berencana untuk itu. walaupun umurku sudah 18 tahun sedangkan adikku sudah menikah duluan di umur 15 tahun, tapi aku merasa kalau menikah terlalu cepat juga tidak baik. Mendingan aku latihan busur anak panahku dahulu” jawab willsh.


“hmmm,.. jadi begitu” jawab Niemann menganggukkan kepalanya.


Singkat cerita, beberapa hari pun berlalu. Luka di tangan kiri Niemann sudah kering dan menghitam menjadi sebuah simbol. Hubungan mereka berdua semakin dekat seiring berjalannya waktu. Niemann sering ikut willsh dalam latihan panahan, bersama belajar berburu domba di tebing dan mengurus peternakan sapi.


“hah? apa nggak sakit?” tanya Niemann.


“kalau sakit, sapinya akan memberontak. Beri pelupas di ujung putingnya agar susunya lebih mudah keluar” ucap willsh.


“baiklah akan kucoba” jawab Niemann.


Niemann duduk disebelah willsh dan mulai memegang ****** susu sapi tersebut. saat Niemann menekannya, nyatanya susunya tidak keluar, yang ada malah sapinya eek disebelah Niemann secara lausung.


“eehhh, dia eek, baunya ihhh, huueekk” ucap nieman menutup hidungnya.


“hahaha, dasar sapi kurang ajar” jawab willsh tertawa sambil menepuk perut sapi didepannya.


Willsh hanya bisa tertawa melihat ekspresi jijik dan kager dari Niemann yang meliat sapi eek secara langsung didepannya. Willsh tertawa lepas disana sambil masih saja memeras susu sapi.


Berhari hari berlalu, berbagai aktivitas mereka kerjakan berdua. dimulai dari memancing, memberi makan ternak, mengambil hasil ternak, memetik buah dan sayuran untuk mereka makan, sampai bahkan mereka pun tidur di satu rumah.


“kita sudah seperti sepasang suami istri. Hubungan kita tidak ada bedanya dengan suami istri yang lain” ucap Niemann.


“hah? ke-kenapa kamu tiba tiba berkata seperti itu?” tanya willsh begitu terkejut saat rebahan santuy diatas tempat tidurnya.


“jika kamu keluar rumah sekarang, kamu akan melihat ribuan bintang yang sangat jelas. indah bukan?” tanya Niemann.

__ADS_1


“benar benar indah” jawab willsh.


“kamu tau? Aku tidak pernah merasakan sebahagia ini bersama seorang manusia” ucap Niemann.


“hah? maksudnya? Apa kamu selalu hidup sendirian?” tanya willsh.


“ada benarnya juga sih. Aku ingin mengatakan ini kepadamu. Sejak pertama aku melihatmu, aku melihat wajah dari seorang manusia yang gegabah ingin menyelamatkan seseorang yang akan diterkam oleh binatang buas. Padahal dia masih belum berbakat dalam berburu, tapi dia sudah sangat yakin ingin menggunakan busurnya untuk menembak binatang itu. saat aku mengingatnya, itu lucu juga ya” ucap Niemann tersenyum melihat wajah willsh disampingnya.


“ja-jangan bahas itu, aku malu” jawab willsh menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


“aku melihat manusia yang tumbuh berkembang, perlahan belajar dari kesalahan dan belajar sesuatu dari hal yang sebelumnya ia belum kenal dan belum handal. menurutku itu adalah seni dari penciptaan manusia. Memiliki kesadaran utuh dalam belajar di setiap aspek dalam kehidupannya, memiliki keinginan dan juga emosi, serta memiliki perasaan cinta satu sama lain”


“willsh, dari awal aku melihatmu, aku sudah mencintaimu. Melihat seorang manusia yang berkembang, menurutku itu sangat indah. Melihat wajahmu yang selalu yakin akan kau bisa melakukan segalanya, aku melihat tekad itu di matamu” ucap Niemann seraya menggenggam erat tangan willsh disebelahnya.


“mencintaiku maksudnya? Apa kau ingin menjadi istrimu?” tanya willsh.


“sangat, aku sangat ingin menjadi istrimu” jawab Niemann.


“aku, aku juga, aku juga sangat ingin memiliki istri sepertimu. Aku ingin kita menikah. Kita akan menjadi pasangan suami istr-“ ucap willsh tersahut henti.


“tidak mungkin” sahut Niemann memotong ucapan willsh.


“hah? ke-kenapa? Jangan bilang kamu? Kamu sudah punya suami?” tanya willsh.


“sejak aku diciptakan, aku telah mengemban tugas yang besar. Menjaga salah satu danau kecil yang berada di perbatasan yang memisahkan antara suku Maika dan suku Yahmein. Terdapat satu sungai yang membentang membelah daerah mereka berdua dan diujung sungai itu aku menjaga. Danau Tahiko. Itu nama sungai yang tengah ku jaga saat ini” ucap Niemann.


“kamu menjaga danau? Atas perintah siapa? Kenapa kamu menjaga danau?” tanya willsh.


“Sepertinya aku harus terus terang kepadamu sebelum kita menjalani hubungan yang lebih serius dari ini” jawab Niemann.


“jadi ada satu dewa yang menciptakan manusia dan roh. Mereka berdua hidup berdampingan di alam. Roh bertugas untuk menjaga alam sesuai dari teritorinya, seperti roh penjaga sungai, roh penjaga pohon, roh penjaga gunung, dan lain lain” ucap Niemann.


“jangan bilang, kamu!?” tanya willsh.


“iya, aku adalah roh dan bukan manusia. Aku bisa saja menghilangkan wujudku, dan lain lain” jawab Niemann.


Sekitar 30 menit Niemann menjelaskan tentang kehidupan roh dan penciptaan roh, willsh akhirnya paham begitu isi maksudnya.


“aku sangat paham. Bahkan kamu mempraktekkan kepadaku kalau tubuhmu bisa menghilang. Menurutku itu bukan satu hal yang keren. Jelaskan kepadaku dewa yang menciptakanmu, tidak, maksudku menciptakan kita” ucap willsh.


“satu dewa, diatas langit, ia membawa sebuah timbangan neraca dengan mata yang tertutup. Satu sisi timbangan berisi tengkorak kepala manusia yang dibanjiri oleh darah, yang satu lagi adalah tubuh seorang roh yang digantung lehernya. Ini seperti konsep surga neraka. Bagi roh, jika dia tidak melakukan tugasnya dengan baik dan mati karena alamnya rusak, ia akan dihukum gantung di persidangan kelak. Aku tidak tau dimana tempat letak persidangan itu, yang pasti itu sangat menyeramkan” ucap Niemann.


“mengapa ia membawa neraca dan menutupi matanya?” tanya willsh.


“ia menciptakan dua makhluknya untuk mengisi bumi ini. sayangnya kedua makhluk ini tidak taat peraturan. Apalagi para manusia yang memiliki kebebasan sebebas bebasnya untuk melakukan sesuatu. Maka dari itu, ia membawa timbangan neraca yang berisi kumpulan tengkorak kepala manusia yang penuh darah dan disisi lain berisi tubuh roh yang digantung. Hal itu adalah simbol bahwa dia adil. Hukuman bagi roh yang bersalah adalah kesalahan dari manusia. Roh akan dihukum dan manusia juga akan dihukum. Tetapi hal itu tidak memberikan spekulasi seakan akan semua roh adalah baik. Contohnya aku, aku bukannya menjaga danau malah bersamamu kuranglebih satu bulan ini. aku pasti dihukum akan hal ini. tapi aku sadar, aku mencintai seorang manusia yang seharusnya hal ini tidak boleh terjadi. hubungan antara manusia dan roh ditentang keras karena mengakibatkan rusaknya keseimbangan tatanan dunia. Hal itu dapat dilihat dari timbangan neraca yang dibawa oleh dewa” jawab Niemann.


“jadi? apa yang harus kita lakukan?” tanya willsh.


“sepertinya kita harus berpisah. Tapi ada kalanya nanti, suatu hari nanti kita akan tetap bersama” jawab Niemann.

__ADS_1


Obrolan tersebut begitu dalam hingga berlanjut sampai jam 2 pagi. Hingga sampai semua topik pun telah dibahas, mereka berdua pun akhirnya tertidur di atas ranjang mereka.


__ADS_2