Ai, Love Me! Season 2 ; Willsh World

Ai, Love Me! Season 2 ; Willsh World
Chapter 25 ; Kepulangan Johan


__ADS_3

“sebenarnya apa aku kehujanan dengan lama? Tubuhku rasanya sudah rusak. Kepalaku benar benar pusing, perutku mules tiga hari nggak beraq, dan juga sepertinya aku meriang karena habis kehujanan” gumam Johan.


“Johan? Apa kau sudah sadar?” tanya Odessa yang berada disampingnya.


“hah? Odessa?” tanya Johan menoleh perlahan ke sampingnya.


Ia melihat raut wajah Odessa dari samping, ternyata Odessa benar benar berada disampingnya sambil menggenggam tangannya.


“aku sangat percaya kalau Johan akan kembali menemuiku. Aku sangat yakin kalau Johan tidak akan pernah melupakan janji hanabi kita berdua” ucap Odessa.


“aaahhhh, kepalaku sakit banget belalang kupu kupu” ucap Adam memegang kepalanya.


“akhirnya kalian bertiga sadar” ucap riana.


“tidak bisa dipercaya kalau Johan bisa memberikan nyawa kepada Odessa” ucap sang ketua.


Johan mengangkat tangan kirinya dan melihat telapak tangannya.


“benar benar hilang. Simbolku benar benar hilang” ucap Johan.


“apa kau menukarkannya dengan nyawa?” tanya sang wakil.


“biarkan mereka bertiga istirahat terlebih dahulu. Jangan tanya yang aneh aneh” sahut tegas sang bendahara.


“kalian bertiga kelelahan hebat. Kalian bertiga dalam keadaan perut kosong dan dehidrasi berat. Kalian bertiga demam dan meriang. Sebaiknya aku akan menjadi perawat untuk beberapa hari kedepan” ucap riana.


Mereka bertiga pun kembali tertidur karena terlalu memaksakan untuk bangun. Seringkali riana membanunkan mereka untuk makan makanan yang halus dan mudah dicerna. Memberi mereka minum, dan mengantarkan mereka ke kamar mandi.


3 hari kemudian,..


“bagaimana? Apa kalian sudah enakan?” tanya riana.


“teirmakasih banyak” jawab Johan.


“kita udah enakan banget” jawab Odessa.


“makasih ya, riana” ucap Adam.


Mereka bertiga duduk di atas kasur mereka dengan kaki yang memasuki selimut dan meminum minuman hangat.


“bukannya mengusir kalian, tapi apa kau tidak dicari sama orangtuamu di kota?” tanya pak ketua.


“aku udah gaada orangtua” jawab Adam.


“aku kan baru jadi manusia” jawab Odessa.


“aku bicara sama Johan” tegas pak ketua.


“bener juga sih, Odessa bakal tinggal sama siapa ya di kota? sebagai manusia membutuhkan tempat tinggal, makanan dan pakaian. Sepertinya kau harus bekerja” ucap Adam.


“bener juga, sepertinya aku bakal cari kerjaan” jawab Odessa.


“tapi kau tidak ada ijazah sekolah” jawab Johan.


“bener juga sih. Enaknya gimana ya?” tanya Odessa.


“untuk sementara kau tinggallah bersamaku dan adikku naomi” jawab Adam.


“tidak perlu, aku tidak ingin begitu merepotkanmu” jawab Odessa.


“aku ada kos murah tapi bagus. Bukan kos sih, lebih ke arah kontrakan rumah murah. Pembayarannya setiap setengah tahun” ucap Johan.


“dimana itu?” tanya Odessa.


“tidak perlu, biarkan dia tinggal dirumahku saja. akan kuanggap dia sebagai anakku sendiri. apa tidak masalah, Johan?” tanya pak Abdi yang secara tiba tiba saja memasuki ruangan.


“hah? pak Abdi?” tanya Johan dan Adam bersamaan begitu terkejutnya.

__ADS_1


“kalian kaget udah kek ketemu mayat aja” ucap pak Abdi.


“apa mereka sudah pulang semua kemarin hari?” tanya Johan.


“mereka semua sudah pulang, tapi ada yang lupa. Kopi ku ketinggalan disini, jadi aku mau mengambilnya. Tapi tanpa sengaja aku bertemu dengan para pak tetua di aula. Mereka semua menceritakan ini kepadaku” jawab pak Abdi.


“jadi, pak Abdi jauh jauh kesini cuma pengen kopi?” tanya Adam.


“ada 3 galon dirumah yang kosong. Aku ingin mengisinya dengan kopi disini” jawab pak Abdi.


“buset gile bener” ucap Odessa.


“bagaimana Odessa, melihatmu tanpa orangtua, menjadi manusia sendirian bukanlah hal yang mudah. Apalgi kamu masih muda. Kamu juga harus bersekolah bersama dengan Johan. Sama sepertiku. Aku juga kehilangan keluargaku, kehilangan istriku, kehilangan anak anakku. Rumahku sekarang sepi dan tabunganku menumpuk. Aku hanya hidup dalam pekerjaan dan tidak ada yang menghabiskan uang tabunganku. Jadi, apa kamu mau jadi manusia yang menghabiskan tabunganku?” tanya pak Abdi.


“buset tawarannya ngeri banget. kek konglomerat aja sekarang” jawab Adam.


“yeee ngeremehin pak Abdi. kau belum tau rumahnya kan?” tanya Johan.


“belum” jawab Adam.


“kau akan terkedjoed termendelangah tersumringah melihat kemegahan rumah pak Abdi” jawab Johan.


“emangnya segede itu?” tanya Adam.


“BUSET GEDE BANGET!” teriak Adam ketika melihat Johan berfoto di rumah pak Abdi.


“ini rumah berapa taun lalu. Sekarang udah sepi” jawab pak Abdi.


“boleh deh pak, aku tinggal di rumah pak Abdi” jawab Odessa.


“tapi tidak bisa begitu saja. jika aparat melihatmu dirumah bapak tanpa hubungan darah, nantinya disangka bapak penculik. Jadi, bapak akan mengurus identitasmu dan kamu akan bapak anggap sebagai anak angkat bapak sendiri. bagaimana?” tanya pak Abdi.


“tidak ada yang salah dengan itu” jawab Odessa.


“jangan mau sama om om cabul peminum kopi campur air raksa ini, Odessa. Kau tidak tau kan dirumahnya ada anjing galak” ucap Adam.


“tenang aja, anjingnya masih sakit kok. Sekarang dia minum susu yang kebanyakan gula” jawab pak Abdi sedikit tertawa.


“salah siapa memasukkan 4 sendok gula di gelas kecil?” tanya riana tertawa di ruangan itu.


“yaahh aku kan gatau takarannya” jawab Adam menyeruput susu gula itu.


Jam menunjukkan pukul 3 sore, mereka bertiga tetap berada di ruangan itu dan berkemas, mengadah pakaian dan perlengkapan mereka terkecuali Odessa.


Pada akhirnya, di jam 4 sore, mereka bertiga sudah siap berbenah dengan fisik dan tubuh yang begitu segarnya. Mereka bersiap, keluar kamar dan berjalan keluar. Hingga sampai mereka melewati satu kamar dimana itu adalah kamar dari anak anak desa.


“lihatlah mereka, mereka tertidur pulas” ucap Adam.


“apa kamu mau masuk dulu, Johan?” tanya Odessa.


“tidak perlu, biarkan mereka istirahat” jawab Johan tersenyum melihat mereka semua.


Mereka bertiga bersama dengan keempat tetua dan riana pun berjalan ke arah aula kantor desa. Walaupun badan mereka sudah pulih dan tidak demam, tetap saja tubuh mereka masih lemas. Mereka tidak ada semangat untuk melakukan hal hal berat lagi.


Sesampainya disana, mereka melihat mobil pak Abdi yang sudah terparkir di depan kantor aula.


“jadi, nak Johan akan pulang” ucap pak ketua.


“sampai sekarang aku masih belum tau siapa pemimpin desa baru” jawab Johan.


“biarkanlah dia, dia masih sibuk mengurus anggaran dana di ibukota. Setidaknya ada yang mengurusnya, tidak seperti kita berempat yang hanya bisa menunggu bantuan” jawab pak wakil.


“baguslah kalau begitu” ucap Johan.


“kembalilah kemari kalau kau mau walaupun tidak ada alasan lagi bagimu kemari” ucap pak ketua.


“walaupun Odessa telah kembali ke kota, walaupun aku sudah tidak lagi menjadi manusia setengah roh, tapi tetap saja desa ini adalah kampung halamanku dan juga kakekku. Aku akan tetap mengunjunginya” jawab Johan.

__ADS_1


“kita akan selalu menyambutmu” ucap pak ketua.


“terimakasih banyak atas semua bantuanya” ucap Adam.


“hati hati, Adam” ucap riana.


“hmm, iya” jawab Adam menganggukkan kepalanya.


“yaudah, cepet masuk, keburu macet kalo udah masuk magrib” ucap pak Abdi.


“kita pulang…” ucap Johan melihat untuk yang terakhirkalinya desanya.


Mereka bertiga masuk, hanya bisa melihat mereka semua berjalan memasuki kantor aula. Pak abdi pun menginjak pedal gas dan beranjak dari sana.


“tidak kusangka kalau ini akan menjadi hal yang sangat melelahkan” ucap Adam.


“syukurlah kau baik baik saja, Johan. Teman temanmu menceritakan semuanya kepada orangtuamu. Aku tidak tau bagaimana reaksi kedua orangtuamu ketika melihatmu pulang” ucap pak Abdi.


Tidak lama setelah itu, pak Abdi menerima telfon dari bos nya. pak Abdi menerima telfon tersebut ditengah tengah ia menyetir.


“selamat sore pak, ada apa?,… baik pak, ini kunjungan saya sudah selesai. Saya sudah bawa barangnya pak,.. baik,.. setelah ini saya akan mampir kerumah bapak sekalian mengembalikan mobilnya,.. baik pak”


“siapa pak?” tanya Adam.


“biasalah, bos bapak juga ketagihan kopi” jawab pak Abdi.


“pak Abdi bawa berapa?” tanya Johan.


“total di bagasi belakang ada tiga karung beratnya masing masing karung 8 kilo an” jawab pak Abdi.


“buset, itu udah nggak beli lagi pak, itumah ngerampok” jawab Johan.


“yeee mana ada, kenalan bapak ada disana, sebenernya bapak dikasih total 30 kilo, tapi karungnya ngga cukup. jadi sisa 6 kilo digiling dulu jadi bubuk dan udah bapak taruh di plastik” ucap pak Abdi.


“buset, kalo aku mah palingan juga bisa buat 7 keturunan baru bisa abis” jawab Johan.


Perjalanan memakan waktu sekitar kuranglebih 8 jam karena pada saat itu pak Abdi mengendarai mobil tidak begitu cepat. Adam yang duduk di depan hanya bisa melihat jalanan yang basah sehabis hujan sementara Johan dan Odessa dibelakang sepanjang perjalanan hanya tidur.


“sepertinya mereka berdua kecapekan banget ya” ucap pak Abdi.


“biarin aja mereka pak. Aku gatau secapek apa mereka, tapi kalo udah tidur pulas seperti itu, tenaga yang mereka kuras juga begitu banyak. Apalagi Johan tidak tidur 3 hari” jawab Adam.


Sesampainya di depan rumah, Johan terbangun namun tidak dengan Odessa. Johan melihat di jam 12 malam, keadaan rumah masih benar benar terang.


“loh, jam 12 kok masih belum pada tidur? mereka kemana? Lampu rumah sama teras masih banyak yang belum dimatikan. Dan juga, kenapa motornya temen temen yang lain masih parkir di dalam teras?” tanya Johan.


Pak abdi mematikan mesin mobilnya dan menggendong Odessa selembut mungkin agar tidak membangunkan tidurnya. Adam dan Johan berjalan memasuki rumah.


Johan mengetuk pintu rumah, berjalan memasuki rumah dan begitu terkejutnya dirinya. Tak disangka sangka ia melihat begitu meriahnya persiapan dalam menyambut Johan disana.


Johan melihat bahwa ruangannya telah dihias oleh kertas warna warni. Ia melihat balon berwarna dimana mana. Saat itu, mamah papahnya berdiri di tengah tengah kursi dan meja sementara teman temannya sedang sibuk bermain hp sendiri sendiri di sofa ruang tamu


Johan melihat bahwa terdapat lilin yang berbentuk angka 71 sedang menyala dihadapan kedua orangtuanya dan menancap di kue tar nya.


“ehh? Lilinnya kebalik, dan juga ulangtahunku kemarin” tanya Johan begitu terkejut.


Spontan seisi rungan terkejut saat melihat Johan disana. seketika semua teman temannya berdiri disamping orangtua Johan dan meniupkan terompet kecil kecilan serta meletuskan bom kejut perayaan hari ulangtahun di sampingnya.


“selamat ulang tahun, Johan!” ucap semua orang diruangan tersebut.


Mendengar itu, Johan tidak bisa berkata kata lagi, ia menundukkan kepalanya teringat akan perayaan hari ulangtahunnya yang dirayakan oleh keluarga kandungnya di dunia willsh sebelumnya.


“ini adalah takdir. Menyatukan sebuah keluarga yang tidak memiliki hubungan darah sama sekali, namun kedekatannya tak bisa dibedakan dengan hubungan terdekat sekalipun. Aku bersyukur memiliki kalian semua. Papah yang penakut dengan serangga, mamah yang menyemangatiku disaat aku berada di rumahsakit, Callysta yang masakannya berantakan, Jehian yang bodoh, Lia yang begitu sabar dan sangat baik hati, Farel yang jeniusnya melebihi ilmuwan NASA, Nyoman yang mulutnya bau septictank, naomi yang sama sama wibunya, Adam yang pekerja keras serta tak mudah menyerah, dan Odessa yang begitu pengertian. Tak lupa juga pak Abdi yang selalu membantuku disaat aku ingin pergi ke desa. Aku memiliki kalian semua. Walaupun masing masing dari kita memiliki keluarga sendiri di rumah masing masing, walaupun mereka memiliki rumah masing masing, walaupun kita memiliki teman masing masing, walaupun kita memiliki kesibukan kita masing masing, tapi tetap saja, rumah kalian, kesibukan kalian, teman kalian, keluarga kalian, tetap berada disini. sekali lagi, ini yang dimaksud kesempurnaan dalam keluarga” gumamnya menundukkan kepalanya.


“Johan? Kenapa? Apa kamu pusing?” tanya Lia.


Johan mengangkat kepalanya. Raut wajahnya yang segar dan tersenyum lebar, memancarkan aura positif bagi siapapun yang melihatnya.

__ADS_1


“kakek, nenek, papah, mamah, apa kalian melihatnya dari dunia willsh? Aku menemukan keluarga seperti apa yang kalian mau. Aku hidup di tengah keluarga seperti apa yang kalian minta, kalian tidak perlu khawatir denganku. aku hidup di tengah tengah orang orang yang mencintaiku, menyayangiku, mengkhawatirkanku, memperdulikanku dan mempertaruhkan nyawanya demi berjuang bersamaku. Greisha, Kruger, apa kalian lihat dari Niemann? Aku sangat bahagia saat ini. rasanya aku ingin menangis dan berterimakasih kepada kalian berdua. melihat keluargaku yang bahagia pasti membuat kalian iri, tapi sejujurnya aku ingin membagi tempat dirumahku sekarang untuk kalian berdua. kalian sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri. tak ada hal lain yang kuinginkan selain keluargaku ini. karena Odessa, aku bisa menyatukan semuanya. Karena Odessa, aku bisa melengkapi keluargaku kembali. dan karena Odessa pula aku dipertemukan oleh keluarga. Terimakasih banyak,…” gumam Johan.


Johan melangkahkan kakinya, menapak dengan tegas. Melihat disampingnya sudah ada pak Abdi yang meletakkan tubuh Odessa yang telah terbangun di sofa, melihat raut wajah semua orang disana, Johan menghampirinya dengan tersenyum lebar seraya berkata “aku pulang,..”


__ADS_2