Ai, Love Me! Season 2 ; Willsh World

Ai, Love Me! Season 2 ; Willsh World
Chapter 15 ; Nyawa Manusia Lebih Berharga


__ADS_3

Perjalanan hanya berkisar 10 menit, mereka berdua melihat keramaian dari jauh dan ternyata benar saja kalau mie ayamnya sudah dikerubungi para manusia kelaparan.


Pak wakil meletakkan motornya di daerah parkir dan kemudian berjalan memasuki kedai. Nampaknya pak wakil mengenal penjual mie ayam tersebut.


“weh slamet! Gimana kabarnya broh. Tambah rame aja nih kedai” ucap pak wakil.


“syukur puji tuhan. Gimana, makan sini apa bungkus?” tanya sang penjual.


“keknya mau ujan deres, jadi lebih cepet kalo dibungkus” jawab Johan.


“yaudah, bungkus enam. Dan juga, kan kita temen sendiri. paham kann yang ku maksud?” tanya pak wakil kepada sang penjual.


“nih, langsung enam bungkus. Orangnya tadi katanya masih ke kamar mandi, jadi ambil dulu aja” jawab sang penjual.


“naahh gitu dong. Berapa duit?” tanya sang penjual.


“enam enam” jawab sang penjual.


Setelah pembayaran selesai, pak wakil seketika berjalan keluar dari kedai diikuti Johan dibelakangnya. Nyatanya saat itu sudah gerimis membasahi jalanan berbatu disana.


“buset enak banget kalo punya temen disana” ucap pak wakil.


“makanya jadi orang tuh harus punya banyak temen. Siapa tau kan dikasih kek gitu” jawab pak wakil.


“gimana pak? Udah gerimis nih” ucap Johan.


“bapak juga lupa ngga bawa jas hujan” jawab pak wakil.


“yaudahlah pak, gaskeun aja. terobos ajalah belalang kupu kupu” ucap Johan.


“waah aku suka primata pemberani” jawab pak wakil.


Seketika pak wakil pun tancap gas dan kemudian beranjak dengan ngebutnya disana. mie ayam terombang ambing tergantung di gantungan depan motornya, bersamaan dengan Johan yang terombang ambing


Perlahan hujan gerimis berubah menjadi hujan yang begitu derasnya. Pak wakil semakin menambahkan kecepatannya walau limit motor itu hanya 80KM/Jam


“phaaakk, phak wakil, pelan dikit phaak uueegghhhh,…” teriak Johan dari kursi belakang.


“tenang aja udaah” jawab pak wakil.


Hanya dalam lima menit saja, mereka berdua sampai di kantor aula dengan keadaan basah kuyup sebab hujan yang begitu derasnya.


“kita datangg untuk menyelamatkan perut keroncongan kalian” ucap Johan membanting pintu kamarnya.

__ADS_1


“ganti baju dulu sana, bajumu basah kuyup” jawab Farel.


“udaah gampang, sekarang perut dulu yang diisi” sahut tegas Johan.


“nanti masuk angin” jawab Lia menatap tajam kedua mata Johan.


“hmm, iyadeh” jawab Johan berjalan keluar sambil membawa tasnya. Berapa menit berlalu, Johan telah mengganti pakaiannya dan berlari ke arah kamarnya kembali.


“ayo kita makaannn!” teriak Johan.


Johan menyumpit mie ayamnya perlahan, dan kemudian seluruh kebahagiaan menyelimuti tubuhnya. ia tersenyum seraya berteriak kencang di ruangan itu “ini enaaaakkkkk‼”


Johan menyuap porsi mie ayam itu yang bisa dibilang portugal (Porsi Tukang Gali). Ia memenuhi seluruh mie ayamnya didalam mulutnya.


“pelan pelan kalo makan, kau seperti tentara saat perang dunia kedua yang kelaparan” tegas Nyoman.


Namun ditengah tengah makannya, ia merasa seperti ada yang memanggilnya dari kejauhan. Panggilan pertama dan kedua pun tidak Johan hiraukan. Namun suara semakin kencang.


“siapa sih panggil panggil!? Gatau orang lagi makan apa!?” fikir Johan dalam hati.


Johan pun mencabut alis kirinya dan kemudian menggenggamnya erat erat di tengah simbolnya itu. spontan ia terkejut saat melihat tubuh riana yang transparan basah kuyup di luar jendela sembari memanggil Johan.


“ini sangat penting, aku harus berbicara kepadamu” ucap riana.


“a-aku kebelet pipis bentar” jawab Johan.


“lah tiba tiba banget?” tanya Farel.


“aneh banget” ucap Lia.


Johan berjalan ke arah luar aula dan kemudian menemui riana disana.


“ada apa? Riana? Setahuku kau ikut makan didalam” tanya Johan.


“aku dah makan” jawab riana.


“sekarang ada apa?” tanya Johan.


“nyawa manusia lebih berharga dari nyawa para roh. Aku tidak bisa mengatakan ini kepada teman temanmu. Tapi kau seharusnya bisa membaca kitab ini ketika kau sedang bersemedi” jawab riana.


“sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Johan begitu kebingunagan sembari mengambil potongan ayam yang menyelip di giginya.


“apa kau ingat ketika kau bisa melihatku menangis di balik tubuh Adam? Aku tidak bisa mengatakannya langsung. kau harus membacanya sendiri sambil bertapa” jawab riana memberikan sepotong kertas.

__ADS_1


“ini isinya apa?” tanya Johan.


“ini isinya adalah kesimpulan yang dapat diambil ketika telah memasuki dunia willsh. Semua perbandingan, resiko dan keuntungan yang didapat ketika memasuki dunia willsh” jawab riana.


“baiklah kalau begitu, aku akan membacanya” jawab Johan.


Johan pun duduk bersila teras aula, memegang kertas tersebut dan merabanya. Dan kemudian ia pun bertapa, merasakan kasarnya kertas yang menguning dan berbahasa aneh.


Saat Johan merabanya, ia perlahan bisa membacanya. Tulisan yang tidak ia ketahui perlahan muncul di angan angannya. Sekitar 5 menit Johan membacanya, ia memahami arti per kata, memahami begitu jelas dan kemudian menggagalkan bertapanya.


“bagaimana? Apa kau sudah membacanya?” tanya riana.


“sudah selesai” jawab Johan.


“bagaimana? Ini adalah pertaruhan, resikonya luar biasa, ada hal yang tidak diketahui oleh Adam dan teman temanmu ada di kertas ini. jika mereka mengetahui ini, mereka seratus persen akan menolakmu untuk memasuki willsh” jawab riana.


Johan pun terdiam, melihat tanah yang becek terkena air hujan. Becekan dari air yang bergelombang sebab terus terusan ditembaki air dari langit.


“kau tau, nyawa manusia lebih berharga dari roh. Manusia bisa memiliki wewenang yang lebih besar. Hidup dengan damai dan bebas. Sementara kami, para roh tidak bisa melakukan hal itu” jawab riana.


“aku merasa, aku lebih bijak dari biasanya. Aku seperti kakek yang dapat mengendalikan emosi negatifku dan memancarkan emosi positifku. Aku telah menentukan pilihanku sendiri” ucap Johan.


“bagaimana?” tanya riana.


“aku akan tetap pergi ke willsh apapun resikonya” jawab Johan menatap kedua mata riana begitu tajamnya.


“begitu yah, kau mewarisi tekad api milik kakekmu. Aku berbohong didepan teman temanmu mengenai kakekmu bimbang saat mengambil pilihan, padahal aku menatap wajahnya secara langsung. wajahnya sangat mirip dengan ekspresimu saat ini. dia mengambil keputusan dengan hatinya. Tatapannya yang tajam tak memperlihatkan kebimbangan sama sekali. kalau memang itu pilihanmu, aku tidak masalah. Aku tidak berani memberitahukan ini kepada teman temanmu. Jadi terserahmu mau kasih tau sekarang atau tidak sama sekali” jawab riana.


“kau benar, aku sangat yakin sekali kalau kakek memang merasa bersalah dengan pilihannya namun tidak pernah menyesali perbuatannya” jawab Johan.


Johan berjalan memasuki ruangan, dengan menunduk memikirkan tentang apa yang ia telah baca barusan.


“resikonya terlalu besar, ini sudah terambang batas kewajaran.jika aku masuk kedalam willsh, aku tidak ada kesempatan untuk bisa sadar dan menyelamatkan Odessa, tapi jika aku tidak masuk, aku pasti akan menyesali perbuatanku selamanya” fikiran dan hati Johan saling bertempur, hingga sampai ia memasuki ruangan dan duduk kembali di depan mie ayamnya yang telah mendingin, ia masih saja melamun.


“eh? apa kau udah kenyang? Padahal sebelumnya semangat banget mau makan” ucap Adam.


“kita perlu bicara sekarang, Adam!” tegas Johan kepada Adam.


“selesaikan makananmu terlebih dahulu kemudian bahas permasalahanmu kembali” jawab Lia.


“aku udah kenyang, kalian bisa menghabiskannya atau membuangnya” jawab Johan berjalan keluar ruangan.


“ada apa dia?” tanya Adam diikuti rasa heran seisi ruangan.

__ADS_1


Adam menyusul Johan yang telah berada di ruang tamu kantor tersebut. Johan duduk di kursi sambil melipat lengannya dan berada di dada.


__ADS_2