Ai, Love Me! Season 2 ; Willsh World

Ai, Love Me! Season 2 ; Willsh World
Chapter 5 ; Rencana Keberangkatan


__ADS_3

“aku menemukannya menggantung di setir motormu, jadi aku mengeluarkannya dan menjadikannya hiasan ruang tamu” jawab Lia.


“aku akan memberikan satunya kepada pak kades dan meletakkannya di aula engkobappe. Soalnya satunya punya Odessa” jawab Johan.


“kapan kau akan ke desa?” tanya Farel.


“Odessa? Siapa itu?” tanya Naomi.


“bucinannya Johan” jawab Nyoman.


“lah kukira kak Johan jomblo” jawab Naomi.


“bukannya jomblo, tapi udah jadi duda” jawab Farel diikuti tawa seisi ruangan.


Mereka semua mengobrol diruang tengah, hingga jam menunjukkan pukul 8 malam. mereka semua mengobrol tak henti, makan bersama diiringi lagu yang diputar keras dengan speaker milik Johan namun tidak dengan papah dan ibunda Johan, mereka berdua sedang mengurus kerjaan di kantor masing masing.


“lah mamah udah ada kerjaan?” tanya Johan.


“kalo gasalah dia jadi kek semacam editor di gramedia digital publishing system. Jadi kek pembimbing buat penulis sebelum terbit buku. Setahuku cuma itu” jawab Lia.


“tau darimana?” tanya Johan balik.


“lah nggak sengaja ketemu pas aku sama Lia cari buku di gramed, dia lagi nemenin kek remaja kuliahan gitu ngetik di kantornya. Terus pas kita samperin dia bilang kalo dia kerja disini” jawab Farel.


Tidak lama setelah itu, Adam mengetuk pintu rumah Johan dan masuk kedalam ruangan sembari membawa roti yang ia bawa dari toko milik orangtua Nyoman. Dengan wajah yang sedikit loyo, ia berjalan memasuki ruangan.


“hufft, capek banget. aku tadi kerumahsakit tapi gaada yang kasih kabar kalo Johan pulang. pas aku nanya ke perawat katanya udah dirumah, makanya aku samperin sekarang” ucap Adam dengan nada begitu lelahnya.


“eh kok lesu, apa abang cape?” tanya Naomi, adiknya.


“aku dikasih roti sisa sama papah Nyoman. Katanya ini roti kurang begitu laris sih, soalnya manusia mana yang suka sama selai nanas. Kalo mau ambil aja, aku udah eneg makan roti disana” ucap Adam.


“weh kebetulan banget nih kita semua disini kelaperan” ucap Jehian.


“lah laper lagi? yang tadi habisin yoghurt 3 botol siapa?” tanya Callysta balik.


“katanya gamau, yaudah aku abisin. Asal kamu tau ya, yoghurt tuh harus cepet diabisin” jawab Jehian.


“yee, padahal tutupnya aja belom kebuka” sahut tegas Callysta.


Tidak lama setelah obrolan mereka terhenti sebab mereka makan roti, Adam membuka suaranya dan mengajak Johan untuk berbicara empat mata dengannya.


“apa kau sibuk sekarang?” tanya Adam menatap tajam Johan.


“ada apa?” tanya Johan balik.


“ini masalah Greisha dan engkobappe” jawab Adam.


Saat mereka semua mendengar apa kata Adam, mereka semua menatap tajam Adam dan menghentikan mulut mereka ditengah tengah kunyahan rotinya.


“Johan masih sakit, kalau kau sampai mengajak Johan ke desa sekarang juga, aku yang akan mengadukannya ke ibunda” tegas Lia.


“jangan bawa bawa desa ketika Johan masih sakit” tegas Nyoman.


“katakan saja apa yang terjadi” ucap Johan.


“aku tadi didatangi oleh pelanggan wanita tinggi dan berambut hijau dan putih serta menggunakan kacamata hitam dan masker hitam pula seakan akan menutupi identitasnya. Dia berkata kepadaku kalau dia adalah ibunya Riana Dassilva. Aku seketika terkejut kalau riana masih punya ibu sedangkan aku tidak mengenal perempuan itu sama sekali. dia juga berkata kalau aku harus menyampaikan pesan ini kepada Johan karena dia tau kalau aku mengenalmu” jawab Adam.


“pesan apa itu?” tanya Johan.


“keadaannya genting, kau harus meditasi sekarang juga untuk menghubunginya. Aku kurangtau apa yang dikatakan sama perempuan itu, yang pasti setelah dia mengatakan itu dia langsung berjalan keluar toko” jawab Adam.


“hah? a-apa yang terjadi?” tanya Johan bergumam dan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


“pindahkan aku ke sofa dan posisikan kakiku bersila” tegas Johan.


Tubuh Johan diangkat oleh Nyoman, Jehian dan Adam dan dipindahkan ke sofa. Ia juga minta tolong ambilkan gunting. Setelah ia posisi duduk bersila, ia menerima gunting yang telah diambilkan oleh Callysta, adiknya.


Ia menggunting perban yang membalut tangannya erat dan membukanya. Perlahan rasa sakit pun mulai muncul, namun sudah mereda begitu drastis. Rasa sakitnya mulai berkurang dan ia mampu menahannya.


Ia melihat tato yang berada di telapak tangan kirinya masih untuh dan jelas. ia pun melakukan posisi meditasinya seperti biasa. Ia membentuk simbol love terbalik dengan keempat kuku yang saling menempel dan ibu jari yang berada di posisi atas.


Ia memejamkan mata dan berusaha untuk fokus, membayangkan nama Greisha, membayangkan tujuan untuk apa memanggil Greisha dan keperluan apa agar bisa berkomunikasi dengan Greisha. Seisi ruangan kebingungan akan apa yang dilakukan Johan saat itu, dan membuat mereka sedikit takut akan suasana yang begitu tenang dan sunyi itu. namun kesunyian itu


tidak bertahan lama setelah tiba tiba saja hujan disertai dengan gemuruh petir melanda kota tersebut dengan begitu derasnya.


“untunglah kau menghubungiku, ada keadaan yang genting disini, di desa mu” ucap Greisha bergema seisi ruangan.


“apa yang terjadi? suaramu kurang jelas, kau menurunkan hujan yang begitu deras dikotaku” jawab Johan.


“aku melakukan kesalahan karena menurunkan hujan dikotamu. Ambillah air hujan itu dan letakkan di tatomu sekarang juga” ucap Greisha.


Johan membisik kepada Adam untuk mengambilkan beberapa tetes air hujan dari luar dan meletakannya ke arah simbol tangan kiri Johan yang terdapat tato simbol tersebut.


Spontan Adam berlari, mengadah air hujan tersebut dan meletakannya ke arah simbol tato yang berada di telapak tangan Johan dan kemudian menggenggamnya kuat kuat. Johan dalam masih dalam keadaan meditasi dan memejamkan matanya itupun kembali mengembalikan posisi tangannya ke posisi semula seperti pada meditasi biasanya.


“sudah, aku sudah meletakkan air hujannya di tanganku” jawab Johan.


“baiklah, itu adalah medianya. Aku yang akan menghentikannya. Alirkan air tersebut ke arahku. Rasakan tetesan airnya membasahi seluruh tubuhmu dan aku yang akan mengeringkannya” ucap Greisha.


“baik, aku mulai merasakannya. Tetesan air, bukan, ini air hujan. Dingin, hambar, walau aku tidak menjilatnya aku tau kalau ini hambar. Membasahi seluruh tubuhku. Baiklah, sekarang kau bisa mengeringkannya” jawab Johan.


“sudah selesai, hujan akan reda beberapa menit lagi. sekarang kembali ke topik desa” tegas Greisha.


“ada apa di desa?” tanya Johan.


“pergantian kades dan pergantian sistem disana. aula akan dipindahkan sementara barang barang yang ada didalamnya akan dijual. Jadi, aku sarankan untuk kau mengambil kitab milik kakekmu terlebih dahulu dan minta tolong kepada Adam dan riana untuk mempelajarinya” jawab Greisha.


“ini berhubungan dengan Kruger, nantinya kau akan tau sendiri siapa itu kruger setelah kau membaca seisi buku itu. Kruger juga lah yang menahan Odessa di Willsh, aku harap kau segera mempelajari kitab tersebut sebelum 6 bulan setelah kepergian Odessa” jawab Johan.


“kenapa?” tanya balik Johan.


“semua jawaban ada di kitab tersebut. aku sarankan agar kau memanfaatkan waktu luangmu untuk menyelamatkan Odessa atau dia tidak akan dapat kembali lagi didunia ini. carilah kosakata Kruger dan apa hubungannya denganku, nanti kau yang akan menemukan jawabannya sekarang” jawab Greisha.


“kenapa kau tidak memberitahukannya langsung kepadaku?” tanya Johan.


“aku tidak bisa” jawab Greisha.


“baiklah kalau begitu, aku sangat berterimakasih” jawab Johan.


“jangan lupa istirahat. Kau memiliki waktu kurang dari 1 bulan lagi, dan manfaatkan waktu mu sebaik baiknya. 5 bulan kau sudah tidak bertemu dengan Odessa, jangan sampai kau kehilangannya selamanya” jawab Greisha dengan suara yang mulai menyamar.


“hei, dewi alam! Greisha! Hei apa kau sudah kembali?” ucap Johan tanpa jawaban dari Greisha.


Johan perlahan membuka matanya, ia merasakan indra perasanya dan instingnya lebih kuat dari biasanya. Ia memperkirakan suara hujan yang tak lagi berisik berada di atas langit. Tak ada lagi gesekan air dari atas dan awan bergerak menjauh. Ia mampu merasakan gesekan gesekan kecil dari jari teman teman mereka yang saling menggesek satu sama lain, merasakan hentakan kaki dari kucing yang lewat depan rumah dan bahkan gesekan yang sangat keras hingga Johan merasa terganggu saat ibunda Johan membuka pagar rumah.


“hujannya akan segera berhenti” jawab Johan.


“kau tau dari mana?” tanya Callysta.


“apa kau dan riana tidak membawa buku itu dari aula?” tanya Johan menatap tajam kearah Adam.


“buku itu masih terpajang di aula” jawab Adam.


“dan kau tidak membawanya?” tanya balik Johan.


“tidak” jawab Adam.

__ADS_1


“sial!” ucap Johan mengumpat sambil memukul meja didepannya.


“apa kau tau siapa itu Kruger? Apa hubungannya dengan Greisha? Ada apa setelah 6 bulan kepergian roh? Apa kau tau mengenai hal itu?” tanya Johan.


“aku masih belum membaca sejauh itu” jawab Adam.


“sebenarnya apa yang sebenarnya kalian bahas?” tanya bisik Naomi.


“mereka membahas tentang roh” jawab bisik Lia.


“sekarang di desa tetuanya udah ganti dan aulanya akan dibersihkan. Jangan sampai kitab itu terjual atau aku tidak akan tau informasi mengenai Odessa dan willsh tentang Kruger” tegas Johan.


“bagaimana caramu menghubungi mereka?” tanya Adam.


Tidak lama setelah itu, hujan berhenti, secara drastis berhenti total. Tak ada gerimis, tak ada percikan air dan menyisakan air embun di dedaunan dan atap rumah.


“hujannya dah berhenti” jawab Johan mengibaskan air hujan dari telapak tangan kirinya.


“apa kau akan kesana sekarang juga?” tanya Adam.


Johan hanya bisa menatap wajah Lia yang berada di sebelahnya. Wajahnya menunjukkan kalau Johan akan dihabisi sekarang juga kalau Johan berangkat sekarang.


“kau liat sendiri kan ekspresi wajahnya” jawab Johan tertawa saat melihat wajah Lia


“kau tau aku tidak akan mengijinkanmu” jawab Lia tegas.


“iya iya, aku nggak akan berangkat sekarang. Kalau mau kalian yang membawakan buku itu untukku, tapi kalian tidak akan tau bentuknya dan isinya. Yang tau hanyalah Adam sementara akhir akhir ini dia sibuk” ucap Johan.


“kira kira siapa ya yang bisa mengambilkannya untukmu?” tanya Adam.


“tidak perlu, aku masih punya waktu satu bulan” jawab Johan.


“emangnya harus satu bulan?” tanya Callysta.


“aku gatau kenapa, takutnya kalau sudah satu bulan dan aku masih belum menyelamatkan Odessa, aku nggak akan bisa ketemu sama dia lagi” jawab Johan dengan senyum palsunya.


“besok pagi aku akan menemanimu, siapkan barang barangmu dan obatmu. Aku yang akan bilang ke mamahmu. Kita semua juga akan pulang dan menyiapkan barang barang kita” tegas Lia berdiri dari sofa tempat duduknya.


“waaahhh Lia emang baik bangeetttt” ucap Johan tersipu haru.


“sekarang istirahatlah, kita akan pulang. besok pagi aku yang akan bilang ke ibunda” jawab tegas Lia berjalan keluar rumah.


“ehh, i-iya aku juga mau balik. Dadaaahhh Johan” jawab Farel.


“aku juga dah capek, besok aku tidak bisa ikut ke desa, jadi hati hati aja disana. kalau udah dapet bukunya, kasih ke aku biar aku dan riana yang menerjemahkannya” jawab Adam.


“aku ikut apa engga?” tanya Naomi.


“kau harus sekolah besok!” tegas Adam.


“kau juga sekolah dan jangan ikut!” tegas Johan kepada Callysta.


“yaahh padahal aku cuma pengen liat desa nya. aku kan juga pengen ke desa” jawab Callysta.


“kamu disini aja, ntar aku vc kalo udah disana” jawab Jehian.


“mana puas aku” tegas Callysta.


“yaudah biar aku aja yang puasin” jawab Jehian.


“dasar manusia rusak” sahut Johan.


Pada akhirnya, Nyoman, Jehian, Naomi, Adam dan Farel keluar dari rumah dan hendak pulang kerumah masing masing meninggalkan Johan dan Callysta dirumah. Kepulangan mereka bersamaan dengan kedatangan mamah dan papah yang baru saja masuk kedalam rumah.

__ADS_1


__ADS_2