Ai, Love Me! Season 2 ; Willsh World

Ai, Love Me! Season 2 ; Willsh World
Chapter 18 ; Mulainya Ritual


__ADS_3

*kukuruyuuukkk


*tiitt,.. tiitt,.. tiitt,..


Bunyi ayam berkokok dan alarm Johan bersamaan. Johan terbangun dari tidurnya dan merasa tidak enak badan. Saat ia terbangun, ia melihat wajah Adam yang semakin pucat.


Merah bibirnya memudar dan wajahnya memutih pucat. Ia melihat Adam tertidur dengan mata yang terpejam kaku, bak menahan sakit. Johan menyentuh jidatnya dan benar saja kalau Adam terkena demam hebat.


Perlahan Johan mengambil termometer dari tasnya dan meletakkannya di ketiak kanan Adam. Begitu terkejutnya Johan ketika mendapati kalau suhu badan Adam sudah mencapai 40 derajat celcius.


“inimah udah keterlaluan. Kita juga lupa minum obat kemarin malam. sekarang masih jam 6 pagi, apakah yang lain sudah pada pulang ya?” tanya Johan.


“heh Adam, bangun!” ucap Johan menggoyang goyangkan tubuh Johan.


“hmm,..” jawab Adam merengek di atas kasurnya.


“dah pagi, bangun” ucap Johan.


“oohhh, i-iya,..” jawab Adam duduk di atas kasurnya sambil memegangi kepalanya.


“kenapa? Apa kau pusing?” tanya Johan.


“dikit sih, hehe” jawab Adam merintih kesakitan.


Tidak lama setelah itu, riana bersama dengan para tetua lainnya menampakkan diri mereka di dalam ruangan. Mereka berlima berdiri di depan tubuh Adam dan melihatnya.


“apa dia sakit?” tanya riana.


“bisakah kalian itu lebih menjaga privasi orang? Main seenaknya aja masuk. Sejak kapan kalian disini?” tanya Johan.


“kita ikut tidur disini” jawab riana.


“kalian harusnya tidur di alam kalian sendiri. malah tidur di dalam kamar” jawab Johan.


“sudahlah,.. apa Adam sakit?” tanya riana.


“udah, gapapa. aku bisa kok. Kita akan melaksanakan ritualnya pagi ini” ucap Adam.


“jangan bodoh, kau istirahatlah disini. makanlah dan minum obat” tegas Johan.


“kalau kalian berlima melakukan ritualnya, siapa yang akan menjaga Johan kalau bukan aku?” tanya Johan.


“aku yang akan menjaganya” jawab riana.


“setidaknya harus ada manusia yang menjaganya” tegas Adam.

__ADS_1


“kalau begitu, kita akan undur ritualnya dan menunggumu sembuh dahulu” jawab Johan.


“jangan bodoh, itu adalah pilihanmu sendiri. jangan plin plan dengan pilihan yang sudah kau pilih. Aku telah bersiap untuk ini. kita sudah menghitung hari sebelum Ruwah. kalau kita masih saja mengundurnya, kita akan terlambat dan Odessa tidak bisa diselamatkan” tegas Adam.


“dia salah tapi benar. Tapi dia lebih benar. Jadi dia tidak salah” jawab pak ketua.


“ngemeng apaansih pak” ucap Johan.


“pokoknya, apa yang dikatakan Adam itu benar. Kita tidak bisa mengundur lagi. kita berempat akan ikut untuk menjagamu di dalam willsh. Walauupun kita tidak berada di dalamnya, tapi kita yang akan memastikan kau aman dari Kruger dan Greisha disana” jawab pak ketua.


“persiapkan semua ritualnya. Kita akan memanggil Odessa” tegas Adam.


“baik” jawab riana dan empat tetua itu bersamaan.


Mereka berlima berjalan keluar bersamaan dan meninggalkan Adam dan Johan seorang disana. Johan melihat wajah Adam begitu rapuh, seakan akan dia sangat amat berusaha untuk berdiri.


“aku minta tolong kepadamu, jangan terlalu memaksakan diri” tegas Johan.


“usahaku ini tidak sebanding dengan usaha yang telah kau kerahkan untuk menyelamatkan Odessa. Setidaknya aku ingin memiliki peran untuk membantumu” jawab Adam.


“jika aku mengatakan kalau aku tidak membutuhkan bantuanmu? Apa yang akan kau lakukuan?” tanya Johan.


“aku tau kalau aku tidak ikut kedalam dunia willsh, bantuanku hanya sekedar memberikan informasi kepadamu. Tapi keselamatanmu juga tanggungjawabku juga. jadi walaupun kau sudah melakukan ritualnya, aku tidak akan pernah membiarkanmu jauh dariku” jawab Adam dengan tatapan tajamnya.


“aku melihatmu, tekadmu yang membara. Terserahmu akan melakukan apa, tapi jika kau menyusulku di alam sana, aku tidak akan memaafkanmu” jawab Johan.


Maka mereka berdua pun berjalan ke kamar mandi, mencuci muka dan menggosok gigi dan kemudian berjalan keluar rusun. Adam berjalan begitu pelan sebab tubuhnya yang lemas. Johan hanya bisa memeganginya dan berusaha agar tidak terjatuh disana


Mereka berdua merasakan kalau saat itu sedikit gerimis, Johan dan Adam spontan merinding kedinginan karena mereka tidak membawa pakaian tebal. Dari kejauhan, mereka melihat kalau empat tetua sudah duduk bersila dengan lilin yang tetap menyala tenang didepannya.


Ada satu lilin yang masih belum dinyalakan, itu adalah lilin milik Johan. Johan pun mendatangi mereka dan duduk ditengah tengah mereka. mereka membentuk huruf U dengan sisa batang pohon Odessa ditengahnya. Pak ketua dan pak wakil berada di sebelah kanan Johan dan pak sekretaris dan bendahara berada di sebelah kiri Johan.


Mereka duduk bersila, membuat pola tangan mereka masing masing. Nyatanya bentuk tangan mereka hampir sama dengan Johan. Namun bedanya, pak wakil dan ketua yang berada di sebelah kanan Johan meletakkan tangan kirinya sebagai penopang dari tangan kanannya. Tangan kanan pak wakil dan ketua membentuk pola yang sama seperti milik Johan. Berbanding terbalik dengan pak sekretaris dan bendahara. Mereka menggunakan tangan kiri mereka sebagai penopang. Telapak tangan kanan mereka melebar dan diletakkan di bawah tangan kiri mereka. tangan kiri mereka juga memiliki pola yang sama seperti Johan.


Hanya Johan seorang yang tidak memiliki penopang disana. tangan kanan dan kiri Johan membentuk pola. Keempat tetua membentuk setengah pola dan Johan seorang yang membentuk pola love terbalik secara utuh. Setelah Johan memejamkan matanya, seketika lilin yang dihadapannya menyala sendirinya tanpa ada yang menghidupkannya.


“apa kau sudah siap? Ingatlah semuanya yang ada disini. perbandingan waktu di willsh dan di dunia kita adalah satu banding satu. Tidak ada perbedaan waktu. Jika disini malam, maka disana juga malam. jika disana berganti hari, maka disini juga berganti hari. Kuatkan mentalmu dan kendalikan emosimu. Semuanya untuk menyelamatkan Odessa” ucap pak ketua.


“aku sudah siap” jawab Johan.


“baiklah, kita akan mulai” jawab pak ketua.


“untuk riana dan Adam. Lilin di depan kita tidak mungkin habis. Jika api di depan kita mati, maka itu menandakan kalau kita memang sudah mati. Selama tiga hari, kita bisa memastikan kalau lilin kita berempat akan tetap hidup. Tapi awasi terus lilin milik Johan. Api kita tidak mungkin padam karena air, maka jangan takut jika hujan turun. Lindungi Johan dengan payung. Dan juga jangan ada roh atau manusia yang melangkah didepan kita atau lilin Johan akan mati karena hilangnya konsentrasi dari Johan. Jika sudah tiga hari, bangunkan kita berempat dan jangan bangunkan Johan. Jika lilin Johan mati, bangunkan kita berempat dan jangan bangunkan Johan. Jika Johan bagun duluan, bangunkan kita berempat. jika Johan tidak kunjung bangun selama tiga hari tapi lilinnya masih hidup, jangan bangunkan kita berlima. ingatlah hal ini. dan juga, jangan pernah sekalipun kalian menatap lilin yang berada di sisa tebangan pohon milik Odessa atau lilin itu akan mati dan Odessa tidak akan bisa diselamatkan. Lilin itu akan menghilang dan digantikan dengan tubuh Odessa entah sebagai roh atau manusia. Ingatlah pesan pesanku. Jangan mengacau karena kecerobohan kalian” ucap pak ketua.


“baiklah” jawab Adam dan riana bersamaan.

__ADS_1


Mereka berlima pun menutup mata mereka bersamaan dan kemudian mendelangah wajah mereka menatap ke arah pohon. di perspektif Johan, ia merasa angin berhembus kencang dari hadapannya. Ia mendengar suara pintu terbuka. Perlahan, sebuah kotak berwarna merah pun muncul diatas sisa tebangan pohon Odessa.


Mereka berlima saling berinteraksi melalui telepati. Walaupun mereka tidak membuka mulut, tapi isi fikiran mereka saling memahami satu sama lain.


“bukalah kotak itu, Johan” ucap pak wakil dari suara hatinya.


“baik” jawab Johan.


Tubuh fisik Johan tetap diam ditempat, namun jiwanya berjalan kedepan. Ia membuka peti merah tersebut dan mendapati adanya belati dan keris yang pernah ia pakai sebelumnya.


“itu adalah untuk membunuh semua manusia yang seharusnya meninggal di bumi. Tancapkan itu ke dada mereka” ucap pak wakil.


“siapa saja yang harus kubunuh?” tanya Johan.


“nanti kau juga akan paham” jawab Johan.


“baiklah” ucap Johan.


Setelah Johan mengambil belati dan keris tersebut, Johan melihat disekelilingnya. Ternyata dia tidak melihat siapapun di sekelilingnya.


“ehh? Kok kalian gaada?” tanya Johan.


“iyalah, kan kita yang bertugas memberikan instruksi kepadamu. Hanya suara kita yang terdengar” jawab pak bendahara.


“naahh itu suara pak bendahara, aku mengenalnya” ucap Johan.


“jangan bercanda. Sekarang setelah kau mengambil isi kotak itu. kau akan melihat sebuah pintu berwarna merah yang tertulis willsh, sementara disebelahnya tertulis Niemann. Kau masuklah kedalam willsh” ucap pak ketua.


“hah? Niemann? Apa itu? aku baru mendengarnya” ucap Johan.


“jangan memasuki pintu itu” tegas pak ketua.


“isinya apa?” tanya Johan.


“yaahh itu dunia para dewa dewi. Kakekmu berusaha menyatukan Greisha dan Kruger didalamnya. Mungkin di Niemann lah kau bertemu dengan Greisha dan Kruger saat bermimpi” ucap pak sekretaris.


“oalah jadi begitu” jawab Johan menganggukkan kepalanya.


“sekarang masuklah kedalam Willsh. Ingatlah hubunganmu dengan Odessa. Jangan berusaha mengingat kita berempat, tapi ingatlah Odessa. Apapun barang yang kau terima darinya, apapun kenangan bersamanya, dan apapun yang kalian lakukan, selalu ingatlah kenanganmu bersamanya” ucap pak ketua.


“baiklah” jawab Johan.


“setelah kau masuk kedalam dunia willsh, aku tidak tau apakah kau masih mengenal kita atau tidak. Yang pasti suara kita masih ada di benakmu. Kendalikan emosimu seperti biasanya. Dan ingatlah Odessa” ucap pak wakil.


Johan berjalan mendekati pintu berwarna merah. saat ia memegang gagang pintunya, ia sedikit melirik kearah pintu berwarna hitam disebelahnya yang bertuliskan “Niemann” namun ia tidak begitu menghiraukannya.

__ADS_1


Saat ia membuka pintu itu lebar lebar, ia begitu terkejut akan apa yang ia lihat. hatinya bergetar, matanya meneteskan air mata, seketika hanya dengan melihatnya tubuhnya ditenggelamkan oleh emosi.


__ADS_2