Ai, Love Me! Season 2 ; Willsh World

Ai, Love Me! Season 2 ; Willsh World
Chapter 21 ; Kembalinya Odessa


__ADS_3

“pah, ma-maaf. Cukup sampai disini saja” jawab Johan menangis kencang di pelukan sang papah kandungnya.


“tidak apa. Ini sudah cukup buat papah” jawab sang papah.


Spontan Johan berlari ke arah mamah kandungnya yang saat itu wajahnya begitu belepotan oleh krim dari kue tart. Johan memeluknya dengan kencang dan menangis sejadi jadinya disana.


“mah, maafkan Johan. Cukup sampai disini saja” ucap Johan seraya memeluk tubuh ibunda kandungnya erat erat.


“jadi begitu ya, jadi kau sudah paham akan semua ini” ucap sang ibunda.


“maafkan Johan, mah” ucap Johan.


“tidak apa apa. Ini sudah cukup buat mamah. Keluarga yang hangat dan lengkap, bisa merayakan ulangtahunmu bersama mereka semua, menurut mamah ini sudah cukup. selanjutnya, kamu harus merayakan ulangtahunmu dengan keluargamu yang berharga lainnya” jawab sang ibunda.


“tidak peduli apapun keluarga baruku, aku tidak akan pernah melupakan keluarga ini. keluarga yang sempurna, lengkap tanpa adanya pertengkaran. Aku harap aku bisa abadi di dunia ini” ucap Johan.


“kendalikan emosimu, Johan. Kamu tidak boleh egois seperti itu. kita berempat juga ingin beristirahat. Sisanya biarkan kamu yang menyelesaikannya” ucap sang kakek.


“kakekmu benar, Johan. Waktumu tinggal sebentar lagi. kejarlah perempuan yang ingin kau selamatkan. Tapi sebelum itu, kau paham kan apa yang harus kau lakukan dengan belati dan keris yang kau bawa kemari?” tanya sang nenek.


“tidak, aku tidak akan mungkin bisa membunuh kalian semua” ucap Johan.


“pilihanmu kau tentukan sekarang, Johan. Antara kau bisa kembali dengan Odessa bersama menjadi dua roh yang saling mencintai didunia, atau kau memberikan jiwamu kepada Odessa yang utuh menjadi manusia didunia” jawab Adam berjalan memasuki rumah tersebut.


“kita sudah membahas ini di aula, Adam. Aku tidak ingin membahasnya lagi” jawab Johan.


“kalau begitu, cepatlah pergi ke engkobappe. Waktumu hanya bersisa 5 jam saja” jawab Adam.


“hanya lima jam? Apa aku bisa sempat?” tanya Johan.


“tidak perlu berfikir seperti itu. cepat keluarkan motormu dan selamatkan Odessa disana” jawab Adam.


Johan menatap tajam kedua mata Adam dan menganggukkan kepalanya dan berkata “hmm, iya. Selamat tinggal”.


“selamat tinggal juga, sahabatku” jawab Adam meneteskan air matanya.


Seketika Johan berlari mengambil kunci motornya dan kemudian mengeluarkan motornya dari garasi depan. seketika Johan pun dengan begitu ngebutnya menarik gasnya begitu pol sehingga perjalanan antara tengah kota hingga engkobappe hanya memakan waktu 4 jam saja.


Namun sayangnya, motornya kehabisan bensin di depan gapura desa. Ia merasa kalau tidak ada yang menjual bensin disekitar sini. Oleh karena itu, ia mengambil kunci motornya dan kemudian meletakkan motor tanpa standar itu bersandar di salah satu pos penjagaan samping gapura desa.


Ia berlari sekencang kencangnya, tanpa berhenti ia berlari di tengah tengah cahaya matahari yang perlahan mulai menghangatkan tubuhnya. saat itu sudah jam 7 pagi.


“perjalanan dari rumah kemari dari jam 3 pagi sampai jam 7 pagi. Gilak cepet banget padahal jaraknya jauh banget. jarak antara gapura desa dan rumah lama kakek sekitar satu kilometer. Aku harus berlari sekencang kencangnya” gumam Johan sambil berlari tanpa henti.

__ADS_1


Dengan kecepatan 16KM/jam, ia menempuh jarak 1 kilometer. Dengan begitu, dia sampai di depan pohon milik Odessa selama 225 detik berlari tanpa henti dengan kecepatan konstan tanpa berubah ubah. Ia sampai di depan pohon milik Odessa dengan nafas yang luar biasa sakit dan berat sebab ia terlalu memaksakan tubuhnya.


Saat ia berdiri dan berusaha mengatur nafas, ia hanya bisa melihat kedua tangan Odessa yang terbelenggu oleh rantai besar dan kuat serta berat yang menempel di pohon. Odessa hanya bisa menekukkan kedua kakinya dan meletakkan kepalanya di lututnya.


Johan berjalan menghampiri Odessa dan kemudian berkata “aku datang untuk menyelamatkanmu”


Sontak terkejut, Odessa mendelangah kepalanya, mengangkat wajahnya dan melihat kalau saja senyum dari Johan masih terpancar jelas didepan matanya. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, seorang Mahesa Johan menemuinya dan datang untuk menyelamatkannya.


“a-apa aku bermimpi?” tanya Odessa.


“iya kamu bermimpi” jawab Johan menempelkan telapak tangan kirinya ke arah gembok yang mengunci pergelangan tangan Odessa.


Johan melakukan hal yang sama di kedua pergelangan tangan Odessa hingga kedua tubuh Odessa melemas dan bersandar di tubuh Johan.


“apa aku bermimpi, Johan?” tanya Odessa.


“sayangnya ini hanya mimpi” jawab Johan.


Dengan seketika, air mata pun menetes. Odessa menundukkan kepalanya, membiarkan tetesan air matanya itu membasahi kakinya yang tanpa alas sama sekali. tubuhnya bergetar, menahan isak tangisnya.


“kenapa? Kenapa kau tidak membunuh keluargamu dikota?” tanya Odessa.


“aku ingin melihatmu didunia menjadi seorang manusia utuh. Aku bisa merasakannya dari sini” jawab Johan.


“aku ingin kau bisa tumbuh dan berkembang di bumi. Menjadi manusia normal, bergurau dan memiliki teman, hingga sampai pada akhirnya, saat kau tumbuh dewasa kau akan menemukan cinta baru, menikah dengannya dan mengurus anak serta menjadi ibu rumah tangga yang baik” jawab Johan memegang kedua pundak Odessa yang bergetar.


“semua itu tidak ada artinya jika tidak ada kamu” jawab Odessa.


“kau benar, untuk beberapa hari kedepan kamu tidak akan rela, tapi jika sudah berbulan bulan, kamu akan terbiasa. Melupakan seorang Mahesa Johan yang begitu egoisnya ingin menyelamatkan perempuan yang ia cintai dan mengorbankan nyawanya sendiri” jawab Mahesa Johan.


“bodoh! Kamu bodoh! Sangat bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh!” ucapan Odessa berkali kali mencaci maki Johan dengan menggegat mulutnya sehingga rahangnya saling menekan satu sama lain.


Johan memeluk tubuh Odessa, membuat Odessa berhenti mengatakan cacian kepadanya. Tubuh Odessa yang sebelumnya bergetar menangis perlahan mulai mereda.


“aku bisa merasakan emosi negatifmu, Odessa. Seperti biasa, jangan lupakan janji hanabi kita” ucap Johan.


“tidak peduli, pokoknya kamu harus ikut ke bumi denganku. aku tidak ingin menjadi manusia, yang penting kita bersama” jawab Odessa.


Perlahan seluruh tubuh Odessa mengeluarkan cahaya disekelilingnya. Johan merasa bahwa sudah waktunya untuk Odessa pulang ke bumi.


“sepertinya hanya sebentar saja aku bisa melihat wajahmu. aku sangat lega melihatmu baik baik saja” ucap Johan.


“aku akan sangat senang kalau kamu juga bisa kembali kebumi” jawab Odessa.

__ADS_1


“aku tidak tau bisa atau tidak” jawab Johan.


“berjanjilah kepadaku, kamu akan menemuiku kembali di bumi” ucap Odessa.


“semoga aku bisa kembali” jawab Johan.


“bagaiamanapun caranya, kamu harus kembali” tegas Odessa.


“baiklah” jawab Johan tersenyum tulus kepada Odessa.


Perlahan tubuh Odessa mulai memudar dihadapannya. Mereka saling menunjukkan wajah kesedihan masing masing, namun masih memaksakan untuk terenyum lebar. Johan melambaikan tangannya begitupula dengan Odessa. Hingga sampai pada akhirnya, tubuh Odessa tak nampak lagi dihadapannya, iapun terjatuh, lengannya menyentuh tanah dan wajahnya berhadapan langsung dengan tanah.


Ia menangis sejadi jadinya, air matanya mengalir begitu saja, ia berteriak, menangis, tak terima begitu saja.


“kenapa? Kenapa aku harus kehilanganmu, lagi? aku sudah cukup melihatmu menderita, setidaknya aku tidak ingin melihatmu kesakitan untuk yang keduakalinya” ucap Johan.


Ia menangis begitu lama hingga matanya memerah dan sakit serta bengkak. Ia berdiri dan berjalan serta duduk bersandar di pohon milik Odessa yang utuh


“sebuah epilog tanpa prolog, sepenggal cerita yang tidak pernah dimulai namun berakhir tanpa kata selesai”


Disisi lain, di bumi, mereka semua terekjut ketika perlahan tubuh Odessa mulai menampakkan dirinya sedang lemas tertidur di atas pohonnya. Keempat tetua melihat Odessa yang telah muncul dan melihat bahwa Adam saat itu terjatuh melemah. Namun Johan masih saja berada di posisinya, dengan lilin yang sudah begitu redup, ia masih saja mempertahankan semedinya itu.


“Adam, hey Adam katakan sesuatu!” ucap riana berusaha membangunkan Adam yang pingsan ditempat.


Pak bendahara pun mengambil tubuh Odessa pula. Ia menggendongnya dan kemudian meletakkannya di kamar rusun yang sebelumnya Johan dan Adam tempati.


“semoga kau baik baik saja disini” ucap sang bendahara.


Pak bendahara meletakkan tubuh Odessa di kasur dan kemudian menyelimutinya. Ia memegang dahinya dan menyadari suhunya tidak begitu demam.


“dia hanya tidak sadarkan diri. Mungkin masih syok berada di tubuh manusianya” ucap sang bendahara.


Ia berjalan keluar rusun. Mendapati jika Adam digendong oleh pak ketua dan wakil dan kemudian memasuki kamar yang sama. Adam diletakkan di kasur sebelah Odessa dan kemudian diselimuti disana.


Pada akhirnya, empat tetua bersama dengan riana masih saja menunggu apa yang terjadi kepada Johan disana.


“lilinnya masih belum mati, nyawa manusianya masih ada didalamnya” ucap sang sekretaris.


“apa itu sebabnya Odessa masih belum bangun juga? kan seharusnya Johan memberikan nyawanya kepada Odessa. Jika nyawanya berada di Johan, maka tubuh Odessa masih belum ada nyawa” ucap riana.


“tidak, sepertinya aku menemukan hal lain” jawab sang ketua.


“apa itu?” tanya riana.

__ADS_1


“ini sangat menarik” jawab sang ketua.


__ADS_2