
“ehh, nak Johan sudah bangun” ucap sang papah kandung.
“haahhh, kopi buatanmu selalu nikmat” ucap sang kakek menyeruput kopi buatan nenek.
“makanlah dulu. Mamah tau kamu capek, jadi mamah masak makanan kesukaanmu. Nasi merah dengan sup iga sapi” ucap sang ibunda kandung Johan.
“apa kau tidak bosan memasak itu?” tanya sang kakek kepada mamah kandung Johan.
“tidak pernah, ini makanan kesukaan Johan” jawab ibunda kandung johan.
Melihat tubuh Johan yang mulai lepas kendali, pak ketua berusaha untuk menyadarkan Johan kembali. namun naas, suara pak ketua sama sekali tidak terdengar sedikitpun oleh Johan.
Johan berlari ke arah meja makan dan mengambil sesuap nasi di mangkuk kecilnya.
“bagaimana ujiannya? Apa susah?” tanya sang ibunda kandung Johan.
“mana ada susah? Kan aku sudah belajar matematika kemarin. Lihatlah ini” jawab Johan menunjukkan sebuah kertas dari tas yang ia bawa di punggung.
“sejak kapan Johan membawa tas?” tanya pak wakil.
“ternyata dunia willsh sehebat ini, Greisha mampu memanipulasi ingatan dan dunia yang Johan tempati” jawab pak sekretaris.
“waaahhh nak Johan dapat 90” ucap sang papah.
“iyadongg, aku sendiri yang dapat nilai diatas KKM dari semua orang dikelas” jawab Johan begitu membanggakan dirinya sendiri.
Disisi lain, Adam dan riana melihat bahwa lilin Johan mulai bergoyah. Walau tanpa ada angin sedikitpun, api dari lilin Johan bergerak kekanan dan kekiri.
“sudah biarkan saja, instruksinya adalah kita hanya menjaga mereka” ucap riana.
“Johan, ingatlah Odessa” jawab Adam dengan suara rintihnya.
Setelah Johan memakan masakan dari sang ibunda kandung Johan, ia pun beranjak ke kamarnya yang berada di kamar atas. Disana masih penuh dengan komputer dan laptop dengan kabel yang berantakan di lantai. Ia memutar lagu kesukaannya di speaker dan kemudian rebahan di kasurnya.
Perlahan rasa kantuk pun tiba, ia mengenakan selimutnya dan kemudian tertidur pulas saat itu juga.
“ini kesempatan kita” ucap pak bendahara.
Seketika keempat tetua itupun memasuki mimpi Johan. Walaupun Johan tidak bermimpi apapun, tapi suara dari keempat tetua itu masuk didalam mimpi Johan.
“Johan, apa kau mengingat kita? suara kita?” tanya sang ketua.
“Johan, ini aku, kau selalu mengenal suaraku!” ucap sang bendahara.
“hah? sepertinya aku mendengar seseorang” ucap Johan.
“buang jauh jauh emosi negatifmu dan tampakkan emosi positifmu. Kau tenggelam sangat dalam didalam emosi negatifmu sampai kau tidak bisa mendengar kita” ucap pak sekretaris.
“a-apa? E-Emosi?” tanya Johan.
“ingatlah selalu Odessa” ucap sang wakil.
“desa? Hmm, ide bagus. Aku pengen ke desa” ucap Johan.
“bukan desa, ingatlah Odessa” ucap pak ketua.
“siapa? Odessa? Siapa itu, aku tidak mengenalnya” jawab Johan.
“waahh ini sudah keterlaluan” ucap pak wakil.
“dia benar benar tidak siap memasuki dunia willsh ini. jika dia tidak membunuh keluarganya sendiri dan tidak menyelamatkan Odessa, sama saja dia setor nyawa” jawab pak bendahara.
“kalau dia tidak ditampakkan pohon Odessa, dia tidak akan teringat oleh Odessa” ucap pak wakil.
“kau benar” jawab pak ketua.
__ADS_1
Disisi lain, hujan pun turun dengan sangat amat deras di siang itu. jam sudah menunjukkan pukul 2 siang. sementara lilin milik johan masih saja bergoyang.
Adam berlindung di payungnya sendiri dengan tubuh yang masih sangat lemas sementara riana melindungi tubuh Johan dengan payung.
“sudahlah, masuklah kedalam dan istirahatlah. Wajahmu semakin memucat” ucap riana.
“tidak apa apa, aku masih kuat” jawab Adam.
Didalam dunia willsh, Johan masih saja tenggelam dalam emosinya. Ia terlalu menikmati waktu waktu berharganya bersama dengan keluarga kandungnya.
“ayo Johan, kita makan malam” teriak sang papah dari lantai bawah.
“iya pah” teriak Johan dari kamarnya.
Johan berlari ke arah lantai bawah dan kemudian makan bersama di satu meja makan yang sama. bersama dengan sang kakek dan sang nenek, ibu kandung dan ayah kandungnya. Mereka bercanda gurau, bercerita kesana kemari. Johan melihat jam sudah pukul 8 malam.
“bagaimana? Apa kamu sudah terbiasa?” tanya sang ibunda kandung Johan.
“tetap gabisa, ini pait dan bau” jawab Johan.
“yaahh, pete mah kesukaan kakekmu. Dia kalo udah kena pete serasa butuh dua kilo lebih” jawab sang ibunda.
“rasanya aneh banget” jawab Johan.
“tidak apa apa, ada hal didnuia ini yang walaupun sudah terbiasa pun tidak bisa dipaksa” jawab sang kakek.
“lainkali kamu ikut kakekmu memancing di desa, mumpung sekarang musimnya bagus, ikan di danau depan rumah benar benar besar” ucap sang nenek.
“boleh juga tuh” jawab Johan.
Disisi lain, Adam masih saja menunggu tanpa berhenti. Hujan sudah reda, namun riana dan Adam masih saja duduk dan melihat Johan dari belakang.
“kamu itu manusia biasa bukan roh. Apalagi kamu sedang demam. Kamu butuh makan, butuh minum dan butuh istirahat. Sudahlah jangan paksakan” ucap riana.
“gapapa, kalau para tetua desa sudah bangun, aku yang akan istirahat” jawab Adam.
“kalau memang perlu, aku akan melakukannya” jawab Adam.
“tapi seperti yang kau lihat sendiri, situasinya pun aman dan terkondisikan” jawab riana.
“lilin Johan perlahan sudah mulai meredup. Ini adalah hari pertama, tapi lilin Johan lebih redup dari keempat tetua. Aku tidak tau apa yang terjadi didalam sana, tapi pastinya aku bisa yakin kalau Johan tidak bisa melakukannya sendirian” jawab Adam.
Seharian berlalu, begitu berdegup kencang jantung Adam mulai dari awal pertamakali Johan dan para tetua melaksanakan ritual sampai di jam 3 pagi. Berjam jam berlalu, riana mengambilkan roti dari dalam rusun dan diberikannya kepada adam.
Tanpa meninggalkan tempat itu sedikitpun, Adam membungkus dirinya yang meriang kedinginan dengan selimut dan jaket hangat milik para penduduk desa.
“aku membawakanmu susu hangat” ucap riana.
“terimakasih” jawab Adam menerimanya.
“apa kau tidak ngantuk?” tanya riana.
“aku tidak bisa meninggalkan Johan” jawab Adam.
Berjam jam berlalu, Adam dan riana hanya bisa menunggu diluar dan menjaga agar tidak ada satupun manusia maupun roh yang datang dan mendekati proses ritual Johan.
Adam membakar rokok yang hari sebelumnya diberi oleh pak Abdi sebelum mengantarkan semua teman temannya pulang. hanya untuk menghangatkan tubuh, Adam memaksakan menghisap asap rokok walaupun tenggorokannya begitu sakit.
Disisi lain, didalam dunia willsh. Tidak ada tanda tanda kesadaran Johan. Dia sama sekali tidak bisa mengingat satupun kejadiannya bersama dengan Odessa. Bahkan ketika Johan menemukan kaktus yang ia beli bersama dengan Odessa, ia merasa kalau kaktus itu adalah hadiah pemberian dari Lia.
“ini dapet kaktus darimana?” tanya Johan.
“kurangtau juga” jawab sang ibunda kandung Johan.
“palingan juga dari Lia” jawab Johan.
__ADS_1
Hari hari berlalu, berjam jam tanpa hasil. Para tetua tidak lelah lelahnya memanggil nama Johan, memperingatinya, memanggil nama Odessa dari dalam hati Johan, dan segala upaya lainnya. Namun hasilnya nihil, tak ada satupun hasil yang dapat didapat oleh Johan.
“benar benar diluar nalar. Kenapa Johan benar benar tidak bisa tersambung dengan kita?” tanya pak ketua.
“bukan salah Johan. Dia sudah berlatih dengan benar. Hanya saja masa lalunya yang terlalu kuat menggiring Johan tenggelam didalam emosi” jawab pak wakil.
“sekali lagi, Johan. Apa kau bisa mendengar kita!?” tanya pak ketua.
Suara dari mereka berempat seakan akan diblokir oleh aura negatif yang menyelimuti tubuh Johan. Emosi positifnya benar benar kosong sementara emosi negatifnya meluap hingga meluber kemana mana.
Hari berganti sore hari. Hari kedua, mulai gelap walau sedikit hangat dibanding kemarin. Adam dan riana menyadari kalau saja lilin dari Johan benar benar sudah sangat redup, tapi bukan berarti mati. Mereka berdua semakin khawatir akan keselamatan Johan di dunia willsh.
“bahkan api Johan sudah berkurang setengah jika dibandingkan dengan api milik para tetua” ucap Adam.
“benar benar tidak bisa dipercaya” jawab riana.
Malam hari, ketika hari sudah memasuki dini hari. Kedua mata Adam benar benar sudah sakit dan memerah. Ia merasa kalau dirinya tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. di jam 2 pagi, di hari ketiga, Adam pun pingsan dan terjatuh dari kursi.
“Adam!” teriak riana.
Riana segera mengangkat tubuh Adam dan kemudian menyandarkannya di tembok rusun pertama terdekat dari Johan. Saat itu Adam dalam kondisi setengah sadar walaupun hanya bisa merintih kesakitan.
“riana, jagalah mereka” ucap Adam.
“kau benar benar panas. Kau harus istirahat” jawab riana.
“aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. aku seperti diambil alih. Ini bukan penyakit, singkirkan kedua tanganmu dariku” ucap Adam.
“apa maksudnya?” tanya riana.
Seketika Adam termenung sesaat dan kemudian berdiri dengan tegap. Tak seperti biasanya Adam bisa melakukan hal itu di kondisinya yang begitu lemas.
“ternyata tubuh anak ini sedang sakit. aku tidak bisa begitu memanfaatkan staminanya” ucap seseorang yang merasuki tubuh Adam.
“katakan siapa kau dan kenapa kau memasuki tubuh Adam?” tanya riana.
“aku adalah eyang” jawab sang kakek yang merasuki tubuh Adam.
“te-terimakasih karena telah mengkhawatirkan Johan” jawab riana menundukkan kepalanya.
Sang kakek berjalan ke arah lilin pak ketua dan kemudian mematikannya menggunakan jari telunjuk dan ibu jarinya. Seketika pak ketua begitu terkejut akan apa yang dilakukan Adam saat itu.
Hal yang sama kakek lakukan kepada lilin milik pak wakil, pak sekretaris dan kemudian pak bendahara. Mereka terkejut ketika mereka terputus oleh Johan secara tiba tiba dan merasakan lilin mereka mati.
“apa yang kau lakukan, Adam!?” teriak pak bendahara.
“jadi nama anak yang kurasuki ini adalah Adam?. Aku sangat bersyukur karena cucuku mendapatkan teman sebaik Adam. Dia tidak tidur selama 3 hari hanya untuk menjaga cucuku” ucap sang kakek didalam tubuh Adam.
“jangan bilang, eyang!?” tanya sang ketua.
“kurasa badan anak ini sedang sakit. rawatlah ketika aku berhasil untuk menyelamatkan Adam dan Odessa” jawab sang kakek.
“baik eyang” jawab sang ketua.
“sekarang, apa permasalahannya?” tanya sang kakek.
“dia terjerat emosinya. Dia sudah benar benar tenggelam oleh emosinya sendiri. akan sangat susah untuk memberikan ingatan mengenai Odessa kepadanya” jawab sang ketua.
“kalian ini sungguh bodoh. Menurutmu mengapa aku memberikan kitab itu kepada kalian?” tanya sang kakek.
“kenapa eyang?” tanya balik sang ketua.
“didalamnya sudah ada beberapa bocoran yang telah kutulis. Aku menulisnya agar saat cucuku masuk kedalam dunia willsh, dia tidak tersesat seperti sekarang” jawab kakek.
“kita sudah membeberkan semuanya kepada Johan. Mulai dari berlatih melatih emosi, berkomunikasi dengan Greisha dan lain lain” jawab sang ketua.
__ADS_1
“kau melupakan satu hal” ucap sang kakek.
“ada apa itu eyang?” tanya sang ketua.