
“mana ada, heh asal kau tau ya, semut itu nggak begitu bisa ngeliat. Dia memanfaatkan antena dikepalanya” sahut Jehian.
“terus? Matanya buat apa?” tanya Nyoman.
“mungkin matanya bisa buat ngeliat, tapi agak rabun” ucap Lia.
“mana ada binatang rabun? Faktanya semut itu bisa ngeliat titik!” tegas Nyoman.
“lah aku pernah nyoba jariku aku taruh di depannya, terus dia nabrak. Masa iya semut yang bisa ngeliat nabrak jari segede itu” sahut Naomi.
“semut kan mengandalkan penciumannya” ucap Adam diikuti tawa seisi mobil.
“kau malah tambah aneh, sudah kubilang, semut itu mengandalkan antena nya” tegas Jehian.
“nggakk, semut itu mengandalkan penglihatannya” sahut Nyoman.
“semut itu mencium menggunakan hidungnya. Buktinya dia selalu ciuman ketika bertemu sama semut lainnya” tegas Adam.
“bener juga ya, kira kira first kiss nya semut tuh siapa ya?” tanya Lia.
“HHAAAAHH KALIAN SEMUA BERISIK BANGETT!. KAKIKU KESEMUTAN BANGET INI!” teriak Johan.
“ABANG JUGA BERISIK BANGET AKU LAGI TIDUR INI!” teriak adiknya terbangun dari tidurnya.
“kau daritadi udah bangun tapi kenapa ngga segera bangun?” tanya Johan.
“gapapa enak aja tiduran” jawab Callysta.
“minggir kamu, kakiku kesemutan banget parah udah gaada rasa” tegas Johan.
“jadi? semut itu ngeliat, mencium apa antena?” tanya Lia.
“masih dilanjutin aja!” ucap Johan menepuk jidatnya.
“kita udah mau sampai di desa. Kita udah masuk gapura” ucap pak Abdi.
“astagaa aku lupa” teriak Naomi.
“lupa apa?” tanya Nyoman.
“apa disekitar desa ada supermarket?” tanya Naomi.
“gaada, kenapa?” tanya Johan.
“kak Lia, apa kakak bawa psssttttt” ucap Naomi membisikkan kepada Lia.
“ohh iya, aku juga lupa astagaaa” teriak Lia pula.
“bawa apaansih? Bawa softex? Aku bawa tenang aja” jawab Callysta dengan begitu lantangnya.
Spontan seisi mobil terdiam, kebisingan yang merajalela. Walaupun belum tengah malam tapi heingnya melebihi kota tanpa kehidupan. Seketika Callysta pun menyadari apa yang baru saja ia katakan .
“kah-kalian nggak denger kan!?” teriak Callysta kepada seisi mobil sambil memandangi wajah mereka satu persatu.
“e-enngg-enggaakkk” jawab Farel.
“aku denger kalo jelas jelas kau bilang soft-“ ucap Nyoman tersahut henti.
“naaahhhh kita sudah sampai!” sahut pak Abdi
__ADS_1
“untungnya topiknya diselamatkan oleh pak Abdi” gumam Farel menghela nafas lega.
Mereka sampai di depan aula tempat dahulu mereka semua datang, tempat dimana semua penduduk mengungsi dan menerima bantuan dari daerah lain. mereka semua keluar, meninggalkan barang barang mereka di dalam mobil dan keluar di tanah yang becek sehabis hujan.
“aahhh sepatuku baru aja kubersihin” ucap Farel.
“jangan kebanyakan omong, ini cuma lumpur” sahut Johan.
Mereka semua berdiri di depan pintu aula, mengetuk pintu dan menunggu seseorang untuk membuka pintu itu dari luar. Beberapa saat setelah mereka lelah menunggu, barulah datang seorang lelaki yang mereka kenal. Beliau adalah mantan tetua desa yang telah pensiun dan digantikan oleh oranglain.
“lahh kalian datang, dan nak Johan juga” ucap lelaki itu.
“kita mampir untuk mendengarkan kabar pergantian kepengurusan desa ini” ucap pak Abdi.
“yaahhh, aku udah pensiun sih. Sebelumnya masuk dulu” ucap lelaki itu.
Lelaki itu membukakan lebar pintu aula dan memperlihatkan seisi aula. Sebelumnya aula depan dipenuhi oleh pengungsi yang tiduran di bawah, namun sekarang aulanya terlihat lebih bersih karena tidak terdapat pengungsi sama sekali.
“lah pengungsinya kemana semua pak?” tanya Johan.
“syukur puji tuhan proyek yang kita semua bahas saat lalu telah berhasil. Kita sudah membangun rusun bagi mereka yang kehilangan rumah. Mereka juga sudah mulai bekerja, walau hanya sebagai petani setidaknya mereka memiliki penghasilan mereka masing masing. Tanggungjawab kita sudah selesai untuk menyelesaikan masa pahit, sisanya biarkan anakku sendiri yang memimpin desa ini” jawab lelaki itu.
Lelaki itu membukakan pintu yang menuju ke meja bundar tempat mereka semua rapat tentang keuangan desa dahulu. Disana terdapat wakil, sekretaris dan bendahara yang telah lengser pula. Sambil meminum kopi, mereka hanya mengobrol di ruangan menggema itu.
“ada tamu kita dari jauh” ucap lelaki itu kepada teman temannya.
“pak Abdi, Johan, kalian datang kembali” ucap sang sekertaris lama.
“udah berapa lama aku gak kesini, gaada yang berubah” ucap Johan.
“yaahhh kita ngga berani mengubah apa yang telah kakekmu bangun disini. kita hanya sedikit merenovasinya saja” jawab sang sekertaris.
“iya” jawab mereka semua serentak.
“apa kalian menyimpan buku itu?” tanya Johan.
“buku yang mana?” tanya sang bendahara lama.
“buku kuno buatan kakekku bersama dengan nenekku? Apa kalian ingat saat aku mengajak kalian untuk membasmi penebang pohon itu?” tanya Johan.
“ohh, buku peninggalan kakekmu itu. sudah kubawa ke rumahku. Sebelumnya ada seorang perempuan berpakaian aneh datang kemari. Katanya orang orang sih perempuan itu sering berenang di danau depan. banyak yang mengira itu hantu. Tiba tiba saja kita melihat hantu perempuan itu membawa buku itu dan membacanya di depan danau. Seketika kami mengejarnya. Namun pada saat kita menghampiri perempuan itu, dia menghilang dan menyobek satu lembar kertas. Aku tidak tau sobekan apa yang dia ambil, tapi yang pasti buku itu aman dan berada di ruanganku” jawab sang bendahara.
“jangan jangan? Riana?” bisik Johan kepada Adam disampingnya.
“permisi sebelumnya, apa kalian semua masih mengingatku?” tanya Adam kepada mereka semua.
“kau temannya Johan? Kukira kau dulu tidak ikut bersama Johan dan rombongannya kemari” jawab sang wakil.
“aku adalah Adam Abraham yang kalian tahan di gudang” jawab Adam.
“jadi kau? Kau adalah orang gila yang selalu tidur di pinggir danau untuk mengemis agar tidak ada yang membuang sampah di danau? Apa itu kau?” tanya sang wakil sambil sedikit menurunkan kacamatanya.
“iya itu aku” jawab Adam.
“ada apa kau kemari? Apa kau kehabisan obat nak?” tanya Adam.
“aku terlalu banyak minum kopi disini, jadi aku agak sedikit berhalusinasi dan mabuk kopi. Jadi yaahh, aku tiduran di gudang. Tapi kesampingkan hal itu. aku ingin bertanya kepada kalian mengenai hantu perempuan itu. apa masih ada?” tanya Adam.
“kenapa? Apa kau takut tiduran di danau lagi?” tanya sang wakil.
__ADS_1
“buat apa aku tiduran di danau lagi?. apakah kalian sempat bertemu dengan perempuan itu? hanya sekedar berkomunikasi atau menatap wajahnya?” tanya Adam.
“tidak, kita tidak sempat bertemu dengannya. Bahkan untuk melihat wajahnya saja kita tidak tau. Yang pasti rambutnya cokelat panjang dan memakai pakaian serba putih agak kehijau hijauan” jawab sang wakil.
“ternyata benar mereka bisa melihat riana” gumam Adam.
“permisi, kamar mandinya dimana?” tanya Adam.
“biar kuantar” jawab Johan.
“tidak, biar aku sendiri” jawab Adam.
“aku tau isi fikiranmu. Aku juga ingin membahas sesuatu” jawab Johan.
“baiklah kalau begitu” jawab Adam.
Maka mereka berdua pun berdiri dari kursi mereka dan kemudian berjalan keluar ruangan. Hingga sesampainya mereka berada di depan danau, Johan pun duduk di kursi danau bersikap semedi memanggil Greisha, sementara Adam memanggil berkali kali nama Riana.
Johan berusaha untuk fokus, bersemedi dengan posisi seperti biasanya sembari memanggil nama Greisha berkali kali. Hingga suara Greisha pun terdengar samar samar dan perlahan jelas di lubuk otak dan hatinya.
“apa kau sudah hadir?” tanya Johan.
“bagaimana? Apa kau sudah membacanya?” tanya Greisha.
“aku sekarang sedang di desa” jawab Johan.
“aku tau itu. segera baca dan biarkan riana dan Adam membacanya” ucap Greisha.
“ada yang ingin kutanyakan kepadamu” ucap Johan.
“apa?”
“ini mengenai sifat roh yang menjaga alam. Aku mendengar kabar kalau penduduk setempat berkali kali melihat hantu yang ternyata itu adalah Riana. Roh tidak dapat dilihat oleh manusia jika roh itu tidak mengijinkan beberapa manusia untuk dilihatnya. Hanya orang orang tertentu yang telah diijinkan olehnya yang dapat melihat tubuhnya. tapi apakah riana memang dapat dilihat oleh manusia pada umumnya?” tanya Johan.
“mungkin ini berhubungan dengan Kruger. Aku merasa kalau Kruger juga memiliki bawahan yang telah dipengaruhi olehnya” jawab Greisha.
“apa maksudnya?” tanya Johan balik.
“maksudku adalah, seperti yang kau tau sendiri kalau Kruger adalah dewa yang menguasai alam bawah roh. Alam bawah yang dimaksud adalah neraka. Roh disana akan disiksa karena tidak menjalankan tugasnya selama di bumi. Itulah sebabnya kruger ingin mencari roh sebanyak banyaknya untuk disiksa” jawab Greisha.
“dia adalah dewa tapi mengapa ingin menyiksa manusia?” tanya Johan.
“jawabannya ada di kitab buatan kakekmu” jawab Greisha.
“baiklah. aku akan menghubungimu kembali. aku merasakan kehadiran roh yang sangat banyak disekitarku” ucap Johan.
“itu bukan kehadiran roh, tapi kau yang menemui mereka” jawab Greisha.
“hah? apa maksudnya?” tanya Johan.
“aku sudah mengatakannya kepadamu kalau saja insting dan indra mu akan naik berkali kali lipat kuatnya saat bermeditasi bahkan kalau tidak menghubungiku. Kau sekarang berada di tengah alam. Berbeda dengan biasanya ketika kau bermeditasi di dalam kamar. Perlahan kau merasakan kehadiran para roh yang menjaga seisi hutan, kemudian kau akan mengetahui bentuknya, kemudian kau akan mengenali wajahnya dan mengetahui baunya, selanjutnya kau akan mengetahui ukuran dan pakaiannya, dan terakhir kau pastinya mendengar suara langkahnya”
Benar saja, setelah Greisha mengatakan seperti itu, perlahan insting Johan naik berkali kali lipat, Johan merasakan banyak sekali roh yang berada di dalam pohon, sedang berdiri di tengah batang pohon, berada di dalam danau, bahkan ada yang sedang mengintip dari balik pohon dibelakangnya.
“aku mengenal salah satu roh dibelakangku. Apa kau tau caranya agar aku bisa berkomunikasi dengan roh yang sedang mengintipku dibelakang?” tanya Johan.
“cabut satu batang alismu dan letakkan di simbol tangan kirimu. Tergantung alis mana yang kau cabut. Jika alis kiri, maka mata kirimu yang dapat melihat roh. Begitupula sebaliknya. Selama alismu berada di genggamanmu, maka kau masih dapat melihatnya. Namun ingat, energimu akan habis dan kau akan kelelahan seperti kau berlarian keliling lapangan. Jadi jangan sia siakan komunikasimu bersama dengan roh yang sedang kau ajak bicara” jawab Greisha.
“aku paham konsepnya. Terimakasih banyak Greisha, aku akan kembali” ucap Johan.
__ADS_1
“baiklah” jawab Greisha.