
Johan merasakan kehadiran seseorang yang ia kenali. Johan bisa merasakan emosi negatifnya. Saat orang itu mendekat, tanpa melepas semedinya Johan pun berkata “ada apa kemari”
Tanpa mengucapkan kata kata, Adam memberikan payung yang ia kenakan dan melindungi Johan. Adam sebelumnya telah mengambil kursi plastik dan duduk disebelah Johan. Ia duduk sambil melindungi Johan agar tidak begitu kehujanan.
“terimakasih atas bantuannya” ucap Johan.
“sama sama” jawab Adam.
Mendengar suara Adam, konsentrasi Johan agak sedikit terganggu. Johan hampir kehilangan konsentrasinya dan kehilangan komunikasinya bersama dengan Odessa.
“ada apa?” tanya Odessa.
“tidak, mungkin aku hanya kedinginan” jawab Johan.
“apa disana hujan?” tanya Odessa.
“disini terang banget malahan. Aku sedang menikmati senja yang begitu hangat ini” jawab Johan.
“hmm, senja ya. Heh Johan, bagaimana rasanya saat aku menjadi manusia nanti?” tanya Odessa.
“saat kamu jadi manusia nanti, kamu akan merasa lapar dan haus. Kamu akan butuh minum dan makan. berbeda jika kamu sebagai roh. Kamu msih tetap bisa makan dan minum, tapi kamu tidak akan lapar dan haus. Dua komponen ini sangat penting bagi manusia tapi tidak begitu penting bagi roh. Dan juga saat menjadi manusia, emosi kita juga akan lebih kaya. Kau akan merasakan sedih, amarah, kesepian, kerinduan, ketakutan, dan lain lain” jawab Johan.
“tapi kan aku yang sekarang juga bisa merasakannya” jawab Odessa.
“kamu bisa merasakannya, tapi tidak akan bisa mengendalikannya. Akan sangat sulit bagi manusia untuk mengendalikan emosinya. Untuk sekarang, aku masih berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mengendalikan emosiku” jawab Johan.
“hmm, jadi begitu” jawab Odessa.
Mereka bersemedi dengan sangat amat lama. Adam disebelah Johan dan melindungi Johan hingga hari sangat gelap. Berjam jam berlalu, disaat Adam melamun melihat wajah Johan, ia terkejut begitu Johan membuka matanya dan menoleh ke arah Adam.
“hooaaahh‼??” teriak Adam.
“hhooaaaaahhh‼??” teriak Johan.
“kau jangan bikin kaget!” teriak Adam.
“kau yang mengagetkanku duluan” jawab Johan.
Setelah saling tatap, perlahan mereka tertawa akan kejadian barusan. mereka tertawa bersama hingga sampai Johan tersedak dengan air hujan yang tidak sengaja masuk kedalam mulutnya.
“sejak kapan dan sampai kapan kau akan terus memberikanku payung sedangkan kau sendiri sedang basah kuyup?” tanya Johan.
“aku akan melindungimu hingga kau selesai bertapa” jawab Adam.
“sekarang jam berapa?” tanya Johan.
“sekarang udah jam sepuluh” jawab Adam.
“hahh!? Apa aku bertapa selama itu?” tanya Johan begitu terkejut.
“hujannya awet banget. sampe jam sepuluh hujannya masih belum reda aja" jawab Adam.
“jadi kau!? Dari tadi hanya seperti ini aja?” tanya Johan.
“aku tadi ngompol dan rasanya anget banget” jawab Adam.
“ihh jorok” jawab Johan.
“yaudah, sebaiknya kau harus ganti baju” ucap Adam.
“seharusnya aku yang berkata seperti itu. kau harus ganti baju. Dan kau juga sudah kehujanan sampe selama ini” ucap Johan memegang pergelangan tangan Adam.
“tanganmu dingin banget. muka mu juga pucat. Apa kau tidak apa apa?” tanya Johan.
__ADS_1
“yaelah cuma kehujanan doang” jawab Adam.
“aku sudah membawakan koper kalian” ucap Lia bersama dengan Farel disebelahnya.
“buseett kalian berdua udah kek pengantin baru. Kemana mana selalu bareng” jawab Johan.
“wajah kalian berdua benar benar pucat. Apa kalian kehujanan?” tanya Farel.
“nggak, tubuh kita kering banget kok” jawab Adam.
“kita akan kembali besok pagi. Aku dengar kalau Johan akan pergi ke wiilsh besok hari. Aku hanya bisa berdoa semoga kau dan Odessa pulang sebagai manusia” ucap Lia.
“sepertinya aku akan menginap di rusun bersama dengan Adam. Kalau besok pagi aku dan Adam tidak ada di aula kantor, kalian boleh meninggalkan kita berdua dan kembali. dan juga titipkan salamku kepada Jehian, aku titipkan Callysta kepadanya. Dan juga ucapkan salamku kepada papah, aku akan mengganti uangnya. Ambil saja di rekeningku. Sudah tertulis jelas pin nomernya kok. Titipkan salam kepada mamahku, kalau memang aku pulang dari sini, aku akan mengajak Odessa untuk sekolah. Dan pastinya aku akan mengulang dan tidak satu angkatan bersama kalian. titipkan salam kepada naomi dan Nyoman, hubungan mereka harus lebih jelas lagi. katakan kepada pak Abdi, besok di depan gerbang desa saat akan memasuki tol akan ada event raya, kalau mau kalian bisa mampir untuk menikmati kuliner disana. yaaahh aku dikasih tau sama roh disekitaran sini sih. Dan juga untuk Farel, jagalah Lia seperti kau menjaga dirimu sendiri. dan terakhir, pesanku untuk Lia. aku harap kau-“ ucap Johan tersahut henti.
Ucapan Johan terhenti sebab tamparan keras dari Lia di pipi Johan. Lia menatap wajah Johan dari dekat seraya berkata “aku tidak akan pernah menerima ucapan terakhir darimu. Jika kau mau, kau harus mengatakannya saat kau pulang nanti. Aku tidak suka mendengarnya”
“doakan saja supaya aku bisa pulang” jawab Johan tersenyum halus.
Tak kunjung mampu menahan isak tangisnya, Lia memeluk tubuh Johan yang begitu basahnya itu sambil menangis dipelukannya. Lia memukul pundak kanan Johan dan berkata “kau itu tidak pernah berubah. Kau selalu melakukan apapun demi Odessa. Aku tidak pernah merasa kalau kau pernah memperhatikan teman temanmu, tapi aku merasa kalau roh mengambil segalanya darimu” ucap Lia.
“lebih akrab lagi dengan mamah dan belajarlah masak dengannya. Pasti dia akan menyukai masakanmu” ucap Johan.
“baiklah” jawab Lia mengusap air matanya.
Tidak lama setelah itu, Farel dan Lia pun meninggalkan tempat itu setelah mereka memberikan tas bawaan Johan dan Adam.
“bagaimana? Kita kembali sekarang?” tanya Adam.
“iya, kita masuk kedalam” jawab Johan.
Mereka berdua memasuki rusun yang keempat dari kanan. Johan memasuki rusun tersebut dan begitu terkejutnya ketika ia mendapati para tetua desa berada disana.
“apa yang bapak lakukan disini?” tanya Johan.
“aku tau kau tidak ingin bertemu denagn teman temanmu untuk sekarang. Jadi kau dipersilahkan untuk tidur disini. gantilah bajumu dan minum obat agar kau tidak sakit besok hari” jawab pak sekretaris.
“kita sudah menyiapkan satu kamar kosong disini. gunakan kamar itu dengan Adam” ucap pak ketua.
“terimakasih banyak pak” ucap Adam.
Disana mereka pun bergantian memasuki kamar mandi dan kemudian mengenakan pakaian hangat. badan mereka sedikit demam tapi mereka memutuskan untuk langsung istirahat di atas kasur.
“kau tau, gara gara aku nggak ngabisin mie ayamnya aku agak laper sekarang” ucap Johan.
“sama aku juga” jawab Adam.
“apa ada makanan ya disini?” tanya Johan duduk di kasurnya.
Ditengah tengah obrolan mereka, mereka berdua dikejutkan dengan ketukan dari pintu yang tipis namun keras. Saat Adam membukanya, Adam melihat anak anak dari desa sedang berkumpul disana.
“apa kak Johan ada di kamar ini?” tanya Ryu,
“kak Johan sedang istirahat. Dia sedang sakit. kalo mau main besok aja” jawab Adam.
“ehh enggakk, kita nggak mau main. kita bawa obat demam untuk kalian berdua dari mamah” sahut Aqila.
“ohh, i-iya makasih” jawab Adam.
“tapi obat itu diminum setelah makan. jadi makan dulu baru diminum. Katanya mamah sih kayak gitu” ucap Aqila dengan ucap lugunya.
“terimakasih ya, namamu siapa?” tanya Adam.
“namaku Aqila, aku tunangannya kak Johan”
__ADS_1
Spontan terkejut, Johan yang saat itu minum air putih menyemburkan airnya dari mulutnya. Ia pun tersedak dan batuk berkali kali.
“apa didalam ada kak Johan?” tanya Fathur.
“i-iya, dia sedang ganti baju” jawab Adam.
Spontan mereka semua berlari memasuki ruangan tersebut dan mendapati kalau Johan sedang bermain ponsel sambil menggaruk kepalanya dan menguap lebar.
“ha-haaahhh‼??” teriak Johan begitu tekejutnya.
“a-apa yang kalian lakukan!? Cepat kembali dan tidur di kamar kalian sendiri!” tegas Adam.
“kak Johan, teman kakak yang itu jahat banget. pemarah banget” ucap Aji seraya menunjuk Adam.
“iya tuh! Kalo suka marah nanti cepet tua dan cepet matinya” jawab Ryu.
Layaknya sebuah tombak dari dinasti kuno yang melesat jauh dan menancap di dada Adam, perkataan Ryu benar benar menusuk hati dan jantung Adam hingga lupa bernafas.
“heh kalian gak boleh gitu. Sekarang udah malam. kak Johan juga pengen istirahat” ucap Johan dengan menguap begitu lebarnya.
“lah, kukira manusia setengah roh itu tidak tidur” ucap Guntur.
“kalian tau itu darimana?” tanya Johan.
“kita nggak sengaja mendengar kerumunan orang desa yang lagi ngerumpi” jawab Aqila.
“asal kalian tau ya, kak Johan itu sedang mengerjakan proyek untuk membuat film buat tugas sekolah kakak. jadi kak Johan yang bakal jadi manusia setengah roh yang menyereamkan” jawab Johan mendramatisir keadaan.
“hah? jadi roh itu nggak ada?” tanya Aqila.
“mana ada roh. Itu cuma cerita novel dari penulis yang gabut aja dirumahnya” jawab Johan.
*yee nyindir
“jadi kak Johan bukan manusia setengah roh beneran?” tanya Guntur.
“hah apa apaan itu? dicerita kakak, manusia setengah roh akan meminum darah manusia yang tidak tidur dimalam hari. Kalau manusia setengah roh itu melihat manusia tidur, manusia setengah roh itu menganggap kalau manusia itu sudah mati. Jadi darahnya tidak segar. kalau kalian tidak tidur, kakak yang akan meminum darah kalian sampai habis dan kalian akan khhookkk!” tegas Johan
“hah? yang bener? Kalo gitu kita balik aja yuk, serem nih” ucap Fathur.
“iya deh kak, terserah mau ngarang cerita apa. Yang penting minum obatnya. Kalo belom makan, di rusun dua ada dapur, masak mie aja disana” jawab Ryu.
“i-iya” jawab Johan.
“kita balik dulu, dadahhh kak Johan!” jawab mereka semua bergerombol keluar dari kamarnya.
“dasar serem” sahut Ryu.
“sini kau! Bertumbuk kita! masih bocil dah ngeselin banget dah jadi manusia” sahut Adam terpancing emosinya.
“nyenyenye,.. birtimbik kiti, misih bicil dih ngisilin bingin jdi minisii” jiwib Ryi.
“Johan, caranya nyantet orang gimana sih?” tanya Adam kepada Johan.
“udaahh biarin aja, namanya aja masih anak kecil” jawab Johan.
Adam menutup pintu kamar itu dan kemudian kembali rebahan di kasurnya.
“gimana? Mau buat mie?” tanya Johan.
“kalo mau buat aja, aku ada roti dua” jawab Adam.
“bagi dong” ucap Johan.
__ADS_1
“ambil aja di tas. Ambil semuanya di resleting kecil didepan” jawab Adam.
Mereka berdua pun memakan roti itu dan hingga habis dan kemudian lanjut rebahan sambil main hp menunggu rasa kantuk mulai datang. Pada akhirnya setelah ngobrol beberapa saat, mereka berdua pun tertidur lelap dan melupakan obat pemberian Aqila.