
Dengan perasaan bingung yang bercampur aduk, Zubaidah pun menghela nafasnya. "Ya dokter, anak saya memang kembar. Tapi hanya satu saja yang tinggal bersama ku, sedangkan yang satunya bersama mantan suami saya"
Mendengar jawaban Zubaidah, si dokter pun mengangguk. "Ternyata benar dugaan saya" Ya tentu saja benar.
"Lalu bagaimana dok, apa yang harus saya lakukan??"
"Apa anda tau dimana anak anda sekarang? jika bisa tanya kan keadaan nya terlebih dahulu. Karena rasa sakit ikatan batin tidak dapat di sembuh kan dengan tenaga medis manapun"
Zubaidah hanya bisa menangis mendengar ucapan dokter. Bagaimana caranya dia menghubungi Azkia, bahkan dia saja tidak pernah diberikan izin bertemu sejak Sulaiman memisahkan nya. "Saya tidak tau dimana putri saya yang satunya lagi dok. Sejak kami bercerai, mantan suami saya membawanya pergi. Dan sampai detik ini, saya belum pernah mendengar tentang kabar nya"
Zubaidah cuma bisa mengutarakan isi hatinya dengan jujur. Dia benar-benar merasa khawatir saat ini, bukan hanya karena Azura. Tapi dia juga mulai mengkhawatirkan Azkia. "Jika benar apa yang dokter itu katakan, artinya saat ini Azkia dalam bahaya, atau dia dalam keadaan yang tidak baik"
"Saya sudah memberikan obat pereda nyeri, semoga sebentar lagi anak ibu akan siuman"
"Terima kasih banyak dok, saya permisi dok"
Zubaidah pun melangkah keluar dari ruangan dokter menuju ke ruang UGD. Namun seorang perawat mengatakan bahwa Azura sudah di pindahkan ke ruang rawat anak. "Terima kasih sus, alhamdulillah akhirnya Zura sudah di pindahkan" Dengan langkah besar, Zubaidah pun pergi menuju ruangan dimana Azura di rawat.
Setelah masuk ke ruang rawat nya Azura, Zubaidah berlari mendekatinya. "Sayang, Umi sayang sama Ura, cepat sehat nak.. hiks.. hiks.." Zubaidah tidak dapat membendung air matanya lagi.
"Maafin Umi yang sudah memisahkan kamu dan Azkia nak.. hiks.. hiks.. maaf Ura.."
"Azkia siapa Umi?"
Zubaidah terkejut mendengar suara nya Azura yang terbangun setelah diberikan obat penenang oleh dokter. "Haa.. tidak nak.. nanti Umi akan cerita kalau Zura sudah mulai membaik ya sayang" Zubaidah tidak punya pilihan lain selain membohongi putrinya itu.
"Umi yakin mau cerita tentang Azkia??"
"He'em sayang, Umi janji nak"
"Ya sudah Zura tagih terus janji Umi ya"
Dasar anak-anak. Kelakuan nya selalu menggemaskan. "Iya bawel" Zubaidah melemparkan senyum padanya.
__ADS_1
"Umi.. kapan kita boleh pulang? Ura bosan" pertanyaan Azura membuat Zubaidah semakin menertawakan nya.
"Tunggu dokter nya izinkan pulang ya nak"
"oke Umi.. Umi Ura lapar.."
Dasar anak kecil kalau nggak membuat cemas, pasti membuat orang tua nya bahagia dengan tingkah lakunya itu. "Ura mau makan apa sayang?"
"Ura mau makan sop boleh nggak Umi?"
"Haa..?? Sop..??" Ini anak persis sekali dengan ayah nya, setiap kali sakit pasti minta nya dibuatkan sop. "Boleh tapi setelah sampai dirumah kalau sop ya Ura, sekarang kamu makan ayam goreng aja mau nggak?" Zubaidah mana mungkin bisa membuat sop dirumah sakit, hanya bisa membeli ayam goreng saja yang paling praktis untuk anaknya.
"Iya Umi mau" Memang lucu dan membuat hati bahagia jika melihat anak tersenyum.
Sementara itu saat ini Azkia yang tengah tak sadarkan diri, berada di tepi sungai.
Seorang wanita muda yang sedang mengumpulkan barang bekas, tidak sengaja melihat tubuh mungil Azkia. "Ehh ada mayat, aku coba periksa dulu deh. Mungkin saja belum meninggal" Nuning mendekat kearah tubuh Azkia.
"Ehh masih bernafas, anak ini masih hidup. Aku harus bagaimana ini, apa aku harus bawa pulang atau laporkan ke pihak kepolisian ya. Tapi kalau aku menunggu tim kepolisian, takutnya nyawa anak ini bisa tidak selamat. Sudah lah lebih baik aku bawa saja dia ke klinik Bu Saripah"
Nuning menyembunyikan semua barang bekas yang sudah dia kumpulkan di balik semak. Lalu dia kembali mendekati Azkia dan mengangkat tubuh kecil Azkia.
"Kasihan sekali anak ini, wajahnya terlalu imut. Pasti orang tuanya sangat khawatir" Nuning menggendong Azkia dalam pelukan nya, dan berlari menuju klinik dekat rumah nya. "Bu Ipah, Bu Ipah.."
Nuning yang khawatir dengan keselamatan gadis kecil yang baru saja dia selamat kan, langsung mencari bidan yang bertugas di klinik tersebut. "Bu Ipah.. Buruan bu.."
"Ada apa ning..??"
"Bu coba tolong periksakan anak ini bu, saya menemukan nya di pinggir sungai. Cepatlah bu, saya khawatir dengan nyawa nya kalau kita terlambat menyelamatkan nya"
Klinik tersebut bukan lah seperti rumah sakit yang memiliki alat medis lengkap. "Bantu saya membuka bajunya" Bu Saripah dan Nuning pun membuka semua pakaian Azkia hingga dia hanya mengenakan pakaian dalam nya saja.
"Bagaimana bu?" Nuning yang khawatir, terus menggosok telapak tangan Azkia agar dia merasa lebih hangat. "Apa dia bisa diselamatkan bu??" dengan wajah pucat, Nuning sangat mencemaskan anak yang dia temukan itu.
__ADS_1
"Ning, cari pakaian anak yang bisa dia gunakan. Luka di tubuh anak ini tidak terlalu mengkhawatirkan, tapi untuk memastikan luka dalam kita harus membawa nya ke rumah sakit besar sekarang juga"
Nuning tidak membantah ucapan Saripah, dia mencari pakaian anak di lemari yang tak jauh dari tempatnya saat ini. "Ini bu, saya rasa ini muat untuk dipakai anak ini" Saripah mengangguk sembari terus menghangatkan tubuh Azkia. Sedangkan Nuning membantu Azkia memakai pakaian yang dia ambil tadi.
"Ayo lekas ning, kita tidak boleh terlambat menyelamatkan nya" Nuning pun dengan cepat menggendong tubuh Azkia. Sementara bu Saripah menutup klinik nya. Dan mereka masuk dalam mobil milik bu Saripah.
"Dimana kamu menemukan anak ini ning?" Saripah yang penasaran ingin mengetahui identitas anak yang mereka bawa. "
"Di pinggir sungai Bu, saat saya sedang mencari barang bekas, saya melihat anak ini. Awalnya saya berfikir dia sudah meninggal. Tapi pas saya periksa denyut nadi nya, eh dia masih hidup"
Mendengar penjelasan Nuning, Saripah yang sudah mendengar berita kecelakaan pagi ini pun langsung mengingat tentang berita tersebut. "Anak ini korban kecelakaan, tadi pagi dia mengalami kecelakaan bersama ibunya" Ucapan Saripah membuat Nuning terkejut hingga dia pun menganga kan mulutnya.
"Dari mana bu Ipah tau?"
"Saya melihat berita di televisi tadi pagi, lihat lah seragam sekolah yang dia gunakan tadi. Dia menggunakan seragam sekolah HighScope Internasional School, sekolah itu adalah lokasi terdekat dari kejadian kecelakaan itu"
Nuning mendengarkan penjelasan Saripah dengan seksama. Dia mencoba mengingat seragam yang dikenakan oleh Azkia tadi. "Iya sih bu, itu kan sekolah anak orang kaya bu. Pasti anak ini dari keluarga yang terpandang" Nuning menatap wajah Azkia dengan kulit putih bening. Walaupun wajah nya lusuh karena kotor dan bercak darah, tetap saja kulit Azkia terlihat sangat putih bersih. "Apa aku akan dituduh menculik nya kah bu? Kenapa aku merasa jadi takut ya"
Jelas saja Nuning menjadi cemas apabila keberadaan Azkia ditemukan oleh pihak kepolisian, namun orang yang menyelamatkan nya sama sekali tidak menghubungi polisi. Nuning bisa dianggap telah menculik anak tersebut. "Bu, sebaiknya kita jangan ungkapkan identitas anak ini dulu di rumah sakit, biarlah saya merawat nya hingga dia sembuh" Entah pemikiran dari mana, tiba-tiba saja Nuning ingin merawat Azkia.
Sambil menoleh sesaat, Saripah hanya bisa tersenyum. "Kamu yakin ning? bagaimana kalau anak ini siuman dan meminta mu untuk mengantarkan nya pulang ning?"
Nuning yang mendengar ucapan Saripah hanya bisa menghela nafasnya saja. "Aku juga tidak mengerti bu, kenapa hatiku nyaman sekali saat menggendong nya. Aku tidak ingin dipisahkan darinya bu" Saripah sangat mengerti dengan perasaan yang du rasakan oleh Nuning.
3 tahun yang lalu rumah tangga Nuning harus kandas, karena pihak ketiga. Nuning yang tengah hamil muda, dipaksa untuk menuruti kemauan suaminya. Mertua Nuning menginginkan sebuah jam mahal untuk mengikuti trend teman arisan sosialita nya. Namun, suaminya Nuning terus menerus melakukan apapun yang ibunya inginkan.
Hingga saat itu, Nuning yang ingin memberontak pun hanya bisa menyesal. Karena perlawanan nya terhadap suaminya itu, dia ditampar oleh si suami dengan sangat keras. Nuning terjatuh dan perutnya menabrak lengan kursi.
Setelah Nuning dibawa kerumah sakit, ternyata bayi dalam kandungan nya, tidak dapat diselamatkan. Akibat sikap Nuning itu, membuat suami tidak terima dan menyalahkan Nuning yang ceroboh. Kehidupan mereka pun berubah, lalu suami nya menggugat cerai setelah 2 bulan sejak insiden tersebut.
Sejak saat itu, Nuning memilih bekerja dengan cara memungut barang bekas di semua jalan. Agar dirinya bisa lupa dengan duka nya yang telah kehilangan anak nya.
BERSAMBUNG....
__ADS_1