
Setelah mendapatkan perawatan dari dokter, akhirnya, Azkia melewati masa kritis nya. Azkia dipindahkan ke ruang perawatan. Kuning cukup bingung mencari biaya perawatan rumah sakit untuk Azkia.
"Bu Ipah bantu lah, kasihan dia. Jika saya punya uang tentu saya akan memilih merawat nya dan membesarkan nya." pinta Nuning yang terus merengek dihadapan Saripah bak anak kecil meminta permen.
Karena lelah dengan permohonan dari Nuning, akhirnya Saripah pun membantu semua biaya Azkia. "Ning, ning.. anak ini jelas anak orang berduit, lebih baik kamu beritahu polisi biar segera menghubungi orang tua nya ning" Saripah masih berusaha meyakinkan Nuning untuk tidak salah mengambil keputusan.
"Tapi bu Ipah, apa anda sendiri tidak ingin punya anak lagi? kan anak bu Ipah sudah pada besar, tidak ada salahnya jika bu Ipah mengasuh satu anak lagi bu! " Nuning yang keukeh masih tetap ingin mengadopsi Azkia.
Tiba-tiba beberapa perawat berlari kearah ruangan dimana Azkia dirawat. Nuning dan Ipah yang tengah berdebat pun terkejut. "Ning ada apa ya?" tanya Ipah penasaran.
"Lahh mana Ning tau buk, kan Ning sama bu Ipah sejak tadi."
"Apa jangan-jangan Ning..."
Mendengar ucapan Ipah barusan, mereka berdua pun berlari bersama mendekati pintu ruangan Azkia dirawat.
"Maaf ya bu, kami tutup dulu pintunya" ucap seorang perawat yang ingin menutup pintu kamar tersebut.
"Sus.. anak saya bagaimana?" Nuning tanpa ragu mengakui Azkia adalah anaknya. Sedangkan Ipah langsung menoleh pada Nuning.
Ipah menarik lengan nya untuk menjauh dari orang-orang. "Ning, kamu nggak waras ya..?? Gimana kalau nanti anak itu sadar dan bilang kamu bukan ibunya?? Kamu bisa dituduh menculik anak itu ning!" tegas bu Ipah.
"Bodo amat ahh buk, mau dituduh penculik kek dituduh penipu kek, Ning nggak peduli lagi. Sekarang Ning harus merawat anak itu, kecuali kalau bu Ipah mau merawatnya." ancam Nuning.
Ipah tertegun mendengar ucapan Nuning yang begitu berani untuk mengambil sikap seperti itu. "Baiklah Ning jika tekad mu sudah bulat, aku tidak sampai hati melihat anak itu jika harus hidup dengan mu nantinya, apalagi dengan kehidupan mu yang pas-pasan saat ini. Lebih baik dia tinggal bersama ku. Tapi jika anak itu ingin pulang, aku akan mengantarkan nya Ning." Ucapan Ipah membuat Nuning tersenyum puas.
"Makasih bu Ipah. Tapi izinkan Ning membantu ibu merawat nya yah, bu Ipah bisa jadikan Ning pengasuh nya, nggak perlu dibayar Ning ikhlas" paksa Nuning.
Ipah menggeleng kan kepalanya sambil tersenyum. Nuning benar-benar sudah kehilangan akalnya hingga dia begitu berani mengambil tindakan ini.
Setelah lebih dari 10 menit dokter dan perawat memeriksa keadaan Azkia, mereka pun keluar.
"Dokter.. bagaimana keadaan anak saya?" tanya Ipah, nuning tersenyum kecil di sudut bibirnya.
"Alhamdulillah anak ibu sudah siuman, tapi ada berita buruk buk." ucapan dokter membuat Saripah dan Nuning saling menoleh. Entah kabar apa yang dokter akan sampaikan. Apakah dokter mau bilang kalau anak itu butuh donor ginjal atau sumsum belakang ya, kalau itu sampai terjadi jelas akan ketahuan bahwa Nuning atau Saripah bukanlah keluarga nya.
"Anak anda seperti nya tidak bisa mengingat apapun sebelum kecelakaan yang dialaminya. Dengan kata lain, anak anda mengalami amnesia. Mungkin dia tidak akan bisa mengingat kembali memori sebelumnya."
Nuning dan Saripah menoleh kembali. Sekali ini pemikiran mereka berdua berbeda, jika Ipah mencemaskan kesehatan Azkia, Nuning merasa bahagia dan merasa Tuhan memang mengizinkan nya untuk mengadopsi Azkia.
__ADS_1
"Baiklah dok, Terima kasih karena anda sudah berusaha menyelamatkan anak saya. " jawab Ipah dengan sedikit lega. Setidaknya anak itu sudah selamat dan bisa bertahan.
"Bu, ini pertanda kalau keinginan kita dikabulkan oleh allah buk" bisik Nuning di telinga Ipah sembari menutup mulutnya dengan tangan nya.
"Kalau begitu kami permisi dulu buk"
"Terima kasih sekali lagi dok" jawab Ipah.
Nuning pun dengan semangat langsung masuk kedalam ruangan Azkia dirawat untuk melihat kondisi nya. Saripah pun menyusul dibelakang nya.
Azkia menatap kearah dua wanita yang dia sama sekali tidak kenal. Bukan hanya karena dia amnesia, tapi juga karena dia memang tidak mengenal kedua wanita itu sebelum terjadi kecelakaan.
"Bu, kalau dia tanya nama nya siapa gimana? bu ipah harus sudah punya nama yang bagus untuk nya bu.." bisik Nuning saat berdiri di dekat ranjang Azkia.
"Ibu siapa??" tanya Azkia yang memang tidak ingat apapun.
"Astaga non, masa non nggak kenalin mama non sendiri sih" jawab Nuning dengan wajahnya yang sedih. Seolah Nuning memang tengah bersedih karena Azkia tidak ingat apapun.
"Maaf tapi aku nggak bisa ingat apapun. Kata dokter aku mengalami kecelakaan, dan aku terkena amnesia. Amnesia itu apa buk?" Ipah benar-benar tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan Azkia, dia merasa tidak tega untuk membohongi gadis kecil itu.
Ipah berlari keluar dari ruangan itu, dan Nuning pun menyusul nya. "Bu Ipah kenapa anda kabur? anaknya bisa curiga nanti buk!" tegas Nuning.
"Buk, sudah terlanjur dia melihat kita, ditambah dokter juga sudah mendengar kalau bu Ipah mengakui dia sebagai anak ibu loh"
"Tapi Ning, bagaimana aku bisa tega berbohong dan mengakui dia sebagai anakku?" Ipah yang terbawa emosi pun mulai menangis.
"Buk.. Ning mohon, jangan sampai anak itu di bawa ke panti sosial karena tidak punya keluarga buk" Nuning masih juga terus membujuknya.
Karena Nuning terus mengeluh dan memohon, akhirnya Saripah menguatkan dirinya kembali. Mereka berjalan masuk kedalam ruangan Azkia lagi.
Ipah langsung mendekati Azkia dan mencium kening gadis kecil itu. "Maafin mama yang tidak becus mengurus kamu ya nak, tapi mama janji akan merawat kamu lebih baik lagi." ucap Ipah sambil menangis.
Hanya Tuhan saja lah yang tau, apa yang membuat Ipah menangis saat ini. Apa kah karena bahagia bisa mempunyai anak lagi, atau dia sedih karena telah membohongi anak tersebut.
"Jadi aku anak nya mama?" tanya Azkia dengan polosnya.
"Hum.. iya cantik." jawab Ipah sembari menghapus air matanya. Ipah berusaha sekuat tenaga nya untuk tidak menangis lagi.
"Terus ibu itu siapa?" tanya Azkia sembari mengarahkan jarinya pada Nuning.
__ADS_1
Nuning mendekati Azkia dan menggenggam tangan nya. "Saya Bik Nuning, pengasuh non sejak kecil. Non lupa ya sama bibi" jawab Nuning yang berbohong dengan sepenuh hatinya.
"Oh jadi bik Nuning pengasuh aku?"
"Iya sayang, mama kan sibuk bekerja, jadi mama selalu nitip kamu sama bik Ning biar ada yang jagain." timpal Saripah menjawab pertanyaan Azkia.
"Nama aku siapa ma?" tanya Azkia.
Mendengar pertanyaan itu, Nuning dan Saripah saling menoleh, lalu kembali menatap matanya Azkia. Wajahnya cantik dengan kulit bersih, rambutnya panjang dan bergelombang. Lebih bagus dia diberikan nama yang sangat cantik sesuai dengan karakter luarnya. "Nama kamu Anggun sayang. Anggun Sartika Dewi."
Nuning melongo dan menganga kan mulutnya. Dia tidak percaya bahwa bu Ipah bisa mendapatkan ide memberi nama sebagus itu. "Iya non Anggun" timpal Nuning meyakinkan Azkia.
"Anggun.. berarti cantik dong ma" Azkia tersenyum tipis dengan tatapan mata kosong melihat kearah jendela kamar nya.
Syukur lah Azkia tidak menolak nama itu, dan dia juga sangat cocok dengan nama itu. Semoga saja dengan menggunakan nama itu, dia bisa menjadi wanita yang cantik sempurna.
"Ma.. Anggun lapar." Ucap Azkia yang merasa perut nya sangat lapar. Dengan cepat Nuning mencari buah diatas meja. Lalu Nuning mengupas kan buah jeruk untuk Anggun alias Azkia.
"Ma, ceritakan tentang Anggun selama ini ya ma. Biar Anggun tidak kaku kalau bertemu orang, seperti teman atau tetangga ma." Pinta Anggun.
Saripah mengulum senyum kebingungan, namun dia mengangguk pada anak perempuan yang baru saja dia angkat menjadi anaknya itu. Saripah pun mengarang cerita agar anak nya itu bisa mudah memahaminya.
Sementara itu di rumah sakit yang berbeda, Sulaiman masih mengkhawatirkan keadaan adiknya Heny.
"Mas, bagaimana keadaan Heny..??" Yusuf tunangan Heny baru saja tiba di Indonesia setelah melakukan perjalanan dari Dubai ke Indonesia.
Sulaiman hanya memeluk dan menangis dalam pelukan Yusuf. "Belum ada perkembangan suf, masih sama saja. Heny belum juga sadar, sedangkan anakku belum juga ditemukan." jawab Sulaiman dengan mata kosong tanpa arah.
"Mas.. sudah waktunya kamu memberikan kabar ini pada mba Zubaidah mas, dia berhak tau mengenai kabar anaknya juga" ucap Yusuf sambil mengusap pundak calon abang iparnya itu.
"Tidak suf.. Dia pasti akan menyalahkan aku atas kecelakaan ini, dan dia pasti akan mengatakan aku tidak becus menjadi ayah untuk Azkia." Sulaiman masih tetap dengan keras kepalanya.
"Ya sudah lah mas, aku dan Heny selalu berharap kamu bisa berdamai dengan mba Zubaidah. Tapi semua keputusan ada padamu." tegas Yusuf padanya.
Sulaiman mengakui dalam hatinya bahwa dia memang yang bersalah dalam perceraian mereka. Tapi bagaimana Sulaiman akan bertanggung jawab pada kecelakaan Azkia kali ini. Dia merasa bersalah, namun tidak ingin dianggap remeh oleh mantan istri nya itu.
BERSAMBUNG...
TINGGALKAN PESAN DAN MASUKAN DI KOLOM KOMENTAR YA GUYS.
__ADS_1
TERIMA KASIH...