Akibat perceraian!!

Akibat perceraian!!
Ponsel Mahal.


__ADS_3

Raihan memberikan isyarat pada Imelda, dan berkata, "Bawa anak itu." ucapnya sambil menarik lengan Azkia secara paksa.


Raihan membawa Azkia bersama dengan anak kecil itu ke kantor security. "Duduk." perintah Raihan pada Azkia.


Gadis itu hanya menurut dengan wajah kesal. Sedangkan si anak kecil berdiri di sebelah Azkia.


"Imelda, kamu kembali bekerja, biar saya yang urus masalah di sini." ucapnya.


Dengan berat hati, dan wajah yang kesal, Imelda pun terpaksa meninggalkan anak tersebut bersama Azkia. "Ah, sialan. Ngapain sih pak Raihan harus ikutan." Imelda merasa tidak terima.


Azkia masih menundukkan kepalanya dan terus berkata dalam hatinya, "Mau apa sih dia bawa aku ke sini? Aku kan bukan komplotan anak ini." Azkia mencuri pandang sesekali ke arah Raihan.


"Dek, nama kamu siapa?" tanya Raihan pada anak kecil yang dituduh mencuri.


"Nama saya Roni kak." jawab anak itu dengan berani.


"Kenapa kamu mencuri? Apa ada orang yang menyuruh kamu melakukan nya?" pertanyaan Raihan kepada Roni, namun matanya melirik pada Azkia.


Jelas sekali dia mencurigai Azkia. "Ih, apaan sih ... Apa dia curiga, kalau aku terlibat dalam kejahatan anak ini." gerutu Azkia dalam hatinya.


Roni menoleh pada Azkia, "Tidak kak, saya melakukan nya karena saya memang membutuhkan susu untuk adik saya." jawabnya yang kemudian menoleh pada Raihan.


"Kamu tidak berbohong, kan?" tanya Raihan, dan Roni menggeleng dengan cepat.


"Kamu jangan takut, kalau memang ada orang yang menyuruh atau memaksa kamu mencuri, maka sudah seharusnya orang tersebut yang dihukum, bukan kamu, dek." lanjut Raihan.


Namun Roni masih tetap mengangguk tanpa menoleh lagi. "Benar, kak. Saya butuh susu, adik saya juga sudah menunggu di rumah, kak." jawabnya yang mulai gemetar.


"Kamu tuh kenapa sih? Maksa banget anak ini untuk mengakui kalau dia disuruh orang lain? Apa kamu berpikir aku yang telah menyuruh nya, begitu?" Azkia pun menjadi kesal dan emosi.


Raihan mendekati Azkia, "Kamu merasa menyuruh nya atau tidak? Kalau memang kamu tidak bersalah, ya kamu tenang saja lah." ucapan Raihan hanya membuat Azkia geram, giginya pun terus bergemeretak.


"Dek, apa kamu mengenal saya?" tanya Azkia, dan Roni dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Lihat, dia saja tidak mengenal aku, bagaimana kamu bisa mencurigai aku?" ucap Azkia semakin emosi.

__ADS_1


Raihan tersenyum, "Yang curiga sama kamu siapa, ha? Aku hanya ingin memastikan saja, karena di jaman sekarang lagi marak anak-anak yang dijadikan pencuri oleh oknum yang tidak bertanggung jawab." Azkia mencibirkan bibirnya saat Raihan berbicara.


"Sebentar ya dek." ucapnya sambil mengelus puncak kepala Roni. "Sekarang, aku mau bahas masalahku denganmu." lanjutnya. Azkia hanya diam dan membuang pandangannya ke arah luar. "Bagaimana penjelasan kamu tentang ponsel ku yang rusak? Apa kamu juga tidak mau mengakui nya dan masih mau mengelak?" tanya Raihan dengan menatap tajam pada Azkia.


"Berapa harga ponsel mu? Akan aku ganti." jawab Azkia lantang.


Raihan tersenyum sinis, "Kamu yakin mau mengganti ponselku?" pertanyaan Raihan seakan merendahkan Azkia.


Azkia langsung mengernyitkan dahinya, "Ya, katakan berapa yang harus aku ganti?" tanya Azkia lagi tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Hmm, baiklah. Kalau kamu memang merasa bersalah dan mengakuinya, kamu bisa mengganti ponselku dengan yang baru, atau kamu cukup meminta maaf padaku." ucapan Raihan lagi-lagi membuat harga diri Azkia serasa direndahkan.


Azkia pun bangkit dari tempatnya dengan penuh emosi. "Hei, kamu kira aku tidak mampu mengganti ponselmu itu? Katakan saja berapa, dan akan aku bayar cash." bentak Azkia.


Raihan tersenyum lagi dengan tatapan yang sangat tajam. "Harganya 35juta." Roni terkejut mendengar jumlah uang yang disebutkan Raihan, dia sampai menutup mulutnya karena tidak percaya.


Sedangkan Azkia terbelalak sejenak, lalu dia tertawa dengan keras. "Haa?? Hahahaha ... Kamu kira aku ini gadis bodoh, ya? Kamu mau menipu aku dan memeras aku?" mendengar ucapan Azkia, jelas membuat Raihan tertawa pelan.


"Tadi kamu yang bersikeras ingin mengetahui harganya, setelah aku beritahu kenapa kamu malah tidak percaya?"


"Apa?? kamu bilang apa barusan?" tanya Raihan yang samar mendengar ucapan Azkia.


"Mana ponselmu?" tanya Azkia yang ingin memastikan kalau pria di hadapan nya itu, tengah berusaha menipu dan memerasnya. "Berikan!" bentaknya.


Raihan hanya tersenyum menatap Azkia, "Gadis ini, wajahnya cantik, tapi sayang bicaranya terlalu frontal." batin Raihan.


"Hey...." Azkia menjentikkan jarinya di depan wajah Raihan, hal itu membuat Raihan terkejut dan sadar dari lamunan nya. "Lagi mikir ya, dimana cari ponsel rusak yang mahal seperti ucapan kamu tadi?" Mendengar tuduhan Azkia, Raihan menyipitkan matanya dengan kesal.


"Ponselku ada di toko ponsel di dalam, aku tadi tengah memilih ponsel baru untuk ganti ponselku, tapi aku malah mendengar keributan, dan meninggalkan ponselku yang rusak di toko itu." ucap Raihan memberi alasan.


"Ha? wah, alasan kamu benar-benar tidak masuk di akal sama sekali. Kamu masih saja ya berdalih." Lagi-lagi Azkia menuduhnya berbohong.


"Baik, kalau kamu memang tidak percaya, ikut aku sekarang." ucap Raihan yang kemudian berjalan keluar. "Pak, tolong awasi anak ini dulu, berikan dia minum atau makanan, saya akan segera kembali." ucap Raihan memberikan perintah pada security, dan security tersebut pun mengangguk padanya.


"Ayo, katanya kamu mau bukti." Raihan mengayunkan tangannya pada Azkia, agar berjalan mengikutinya.

__ADS_1


Perlahan Azkia pun mengikutinya. Mereka masuk kembali ke dalam mall dan langsung menuju toko ponsel, dimana Raihan menaruh ponselnya.


"Enda, mana ponselku tadi?" tanya Raihan pada pegawai counter begitu tiba di tempat. Enda langsung menyerahkan ponsel milik Raihan tanpa bicara. "Nah, lihat sendiri." Raihan menyodorkan ponsel nya yang sudah hancur pada Azkia.


Sejenak Azkia ragu, lalu dia meraih ponsel itu dan membolak-balikkan ponsel tersebut, "Mampus, ternyata benar, ini kan ponsel mahal. Bagaimana ini?" Azkia pun sedikit gugup setelah melihat dengan mata kepala nya sendiri. Namun dia hanya bisa diam seribu bahasa.


"Bagaimana? Kenapa sekarang kamu diam? Masih mau bilang aku penipu dan memeras kamu?" Raihan menyudutkan Azkia.


Mata Azkia pun berpendar ke kanan dan ke kiri. "Be-berapa harganya?" tanya Azkia dengan gugup pada Enda.


"Kalau ponsel milik pak Raihan, di toko kami tidak ada, Bu. Tapi kalau anda bertanya berapa harga ponsel ini, harganya sekarang mencapai 35juta sih mungkin." jawab Enda.


"Apa? Ti-tiga pu-puluh lima??" Azkia sangat terkejut, Raihan tersenyum di sudut bibirnya.


Disaat mereka sedang berdiskusi di counter ponsel, tiba-tiba saja dua orang wanita yang sangat elegan, menghampiri Raihan.


"Hunie ...." seorang wanita yang usianya tidak jauh dari Azkia mendekati Raihan dan menempel di lengan nya dengan genit.


Azkia menoleh, dia menatap tajam ke arah wanita satunya, yang ditaksir Azkia usianya tidak jauh dari mommy nya.


"Tante." sapa Raihan, dan mencium punggung tangan wanita itu.


"Kamu lagi apa di sini, Rai?" tanya wanita paruh baya itu.


"Eh, ini Tante. Ponsel Raihan tadi tidak sengaja jatuh." jawab Raihan.


Tante itu menoleh pada Azkia, tiba-tiba matanya terbelalak menatap tajam Azkia. "Gadis ini..." ucap wanita itu dalam hatinya.


BERSAMBUNG.


JANGAN LUPA LIKE, SHARE AND KOMENTAR YA.


TINGGALKAN PESAN KALIAN JUGA.


TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2