Akibat perceraian!!

Akibat perceraian!!
Tiba di jakarta.


__ADS_3

"Lalu, Nek?" tanya Khairil penasaran.


"Aku ingat jelas, gadis di kursi roda itu, adalah gadis di foto ini." jelas si nenek singkat.


"Nenek yakin?" tanya Khairil untuk memastikan nya. Nenek tersebut mengangguk pelan.


Kemudian Khairil diam sejenak, "Terima kasih ya, Nek. Informasi dari nenek sangat membantu penyelidikan kami." ucap Khairil sambil mengelus punggung nenek itu.


"Rai, bisa kamu bantu nenek ini?" Khairil menoleh pada Raihan dan bertanya.


"Bantu gimana, Mas?" tanya Raihan sebaliknya.


"Kamu ajak nenek ini makan, dan berikan dia uang, atau kalau boleh, kamu antarkan dia pulang." ucap Khairil.


Raihan menoleh pada nenek, dan kemudian tersenyum. "Mari, Nek. Saya akan traktir nenek makan sepuasnya." ajak Raihan sambil merangkul pundaknya.


Si nenek pun menuruti ucapan Raihan, dan berjalan bersama dengannya. Sementara itu, Khairil memerintahkan anak buahnya untuk melihat ulang CCTV. Khairil ingin memastikan ucapan si nenek, dan mengetahui siapa yang menculik Anggun.


Setelah mendapatkan titik terang dari rekaman CCTV, Khairil pun memerintahkan seluruh anggota kepolisian untuk berkumpul di kantor nya. Sedangkan Raihan, dia suruh pulang kerumahnya.


***


"Mau apa kalian? Kenapa kalian menculik aku?" Anggun baru saja siuman dan menjadi panik melihat ada 3 pria di hadapannya.


"Tenanglah, kami tidak akan menyakitimu. Kami hanya membawamu liburan, ini atas perintah keluarga mu." jawab salah seorang pria.


"Apa? Keluargaku?" Anggun pun menjadi bingung mendengar ucapan pria itu.


"Ya, ibumu yang menyuruh kami melakukan ini, katanya ingin memberikan surprise untuk mu." jelas pria itu.


Namun Anggun tidak langsung memercayai ucapan pria itu. "Mana mungkin Mommy melakukan hal konyol, pasti mereka sedang berusaha menipu ku." batin Anggun.


Dia diam dan mengamati sekeliling kamar kecil itu, "Aku harus tetap tenang, jika tebakanku benar, mereka pasti berniat jahat terhadapku. Aku harus berpura-pura menurut saat ini." gerutu Anggun dalam hatinya.


"Makanlah." ucap pria lainnya, sambil memainkan lidah dan bibirnya dengan penuh nafsu.


Anggun tidak menyentuh makanan tersebut, dia hanya memandang makanan itu. "Jangan takut, makanan ini tidak beracun. Lihatlah!" pria itu mencicipi makanan yang dia berikan pada Anggun, agar Anggun tidak ragu untuk memakannya.


"Lihat ... Tidak terjadi apapun padaku, kan." ucapnya lagi setelah menyuap sesendok makanan tersebut.

__ADS_1


Anggun masih enggan untuk memakannya. "Aku tidak lapar." jawab Anggun sambil memalingkan pandangannya.


"Kita masih harus menempuh sehari lagi di atas kapal ini, jadi kamu harus makan kalau tidak mau mati." ucap pria itu sarat dengan ancaman.


Mendengar ucapan pria itu, Anggun menoleh dan menatap nya sangat tajam. "Baik, kalau kalian ingin aku makan, tinggalkan aku sendirian di sini." pinta Anggun memaksa.


Pria itu tersenyum miring di sudut bibir nya. "Kamu kira kami ini bodoh, ya?" ucapnya.


"Apa kalian kira aku juga bodoh, haa?" Anggun mencibir kan bibirnya.


"Sudahlah, biarkan saja dia. Kalau tidak mau makan, dia sendiri yang akan menyesal." ucap pria lainnya.


Anggun yang keras kepala pun tidak peduli dengan ucapan pria yang menjaganya itu. Begitu pula ketiga pria itu, mereka juga bersikap cuek terhadap Anggun. Namun, karena merasa lapar, akhirnya Anggun tidak dapat lagi menahan dirinya.


Dengan sangat lahap, dia menghabiskan makanan dan minuman yang disediakan untuk nya. "Ahh, kenyang juga." ucapnya sambil merebahkan kepalanya di bagian kursi tempat dia duduk.


Belum lagi Anggun beranjak dari tempatnya, dia sudah dibuat tidak sadarkan diri lagi. Pria yang menjaganya, kembali membiusnya dengan cepat. Kemudian mereka merebahkan tubuh Anggun di atas ranjang.


Salah satu dari ketiga pria itu, sejak awal sangat bernafsu memandang tubuh Anggun. Dia menatapnya dengan tatapan yang lapar. Namun dua rekannya yang lain, menyadarkannya.


"Tahan dirimu Fer, ingat dia adalah milik bos kita. Jika si bos tau, kita bisa dihabisi." Rekan lainnya pun memperingatkan nya.


Perjalanan mereka di atas lautan pun akhirnya berakhir, setelah 2 setengah hari melintasi lautan, mereka pun tiba di pelabuhan Tanjung Priok.


"Kalian bawa dia hotel, aku akan segera menyusul." perintah Hendra pada anak buahnya.


"Baik, bos." kemudian Anggun yang masih belum sadarkan diri, dibawa ke sebuah hotel yang cukup mewah.


Sementara Hendra pergi menemui seorang teman, wanita yang sangat dikenal dalam dunia pelacuran.


"Hai, Hen. Sudah lama kamu menunggu?" sapa mami Amel.


"Haa, baru kok Mam, aku baru saja tiba di pelabuhan pagi tadi, dan langsung ke sini biar urusan kita cepat kelar, Mam." jelas Hendra.


"Lalu ... Dimana gadisnya?" setelah matanya berpendar, mami Amel pun menanyakan gadis yang dijanjikan oleh Hendra padanya.


"Ada, Mam. Sekarang masih istirahat di Hotel. Malam nanti akan aku antar sendiri ke tempat mu, Mam." jawab Hendra.


"Oke, baiklah." Mami Amel membuka tasnya, lalu mengeluarkan amplop coklat.

__ADS_1


"Nah, ini bagianmu. Sisanya akan aku berikan setelah gadis itu kamu antarkan." Mami Amel memberikan amplop coklat yang ternyata berisi sejumlah uang pada Hendra.


"Kalau begitu, aku pergi duluan, masih ada urusan lain yang harus aku selesai kan." lanjut mami Amel yang kemudian beranjak dari tempat duduknya, dan pergi meninggalkan Hendra.


***


"Pak, lalu bagaimana?" Saripah yang baru saja menerima kedatangan pihak kepolisian di rumahnya, tidak ingin membuang waktu lagi.


"Kami sudah memastikan dari rekan kepolisian yang bertugas di pelabuhan Tanjung Priok. Dan mereka juga sudah mengidentifikasi bahwa memang benar, anak anda dibawa kesana dalam keadaan tidak sadar." jelas Khairil.


"Kalau begitu, saya harus segera kesana, Pak. Saya tidak mau anak saya kenapa-napa." ucap Saripah dengan panik.


"Tenanglah, Bu. Tim kami sudah mengurusnya. Kita tunggu saja hasilnya, jika memang tim kami di sana tidak kompeten, barulah kami akan langsung mengambil alih kasus ini." ucap Khairil menenangkan Saripah.


"Tidak, Pak. Kalau harus menunggu, saya tidak bisa. Siang ini juga saya akan terbang ke Jakarta, saya akan mencari anak saya sendiri di sana." Saripah masih dengan keinginan nya yang keras.


"Pak, lebih baik kita juga ikut ke sana, Pak. Selain kasus ini memang milik kita, kasus ini sangat berbahaya, Pak." sambung Juan menyela.


"Hmm. Baiklah, Bu. Kami akan bersama anda, untuk lebih aman, biar tim kami yang mengurus keberangkatan kita siang ini." ucapan Khairil membuat Saripah tersenyum lega.


"Bu, saya ikutkan?" tanya Nuning. Saripah pun menangguk pelan.


"Kami permisi, Bu. Kita akan bertemu langsung di bandara saja." Khairil pun pamit setelah Saripah mengangguk.


Saripah dan Nuning pun menyiapkan beberapa pakaian selama di Jakarta. Begitu pula Khairil dan beberapa petugas kepolisian yang akan ikut bersama nya. Mereka pulang dan bersiap untuk berangkat menuju kota Jakarta.


"Rai, kamu jaga papa dan mama, ya." ucap Khairil saat hendak pergi dari rumahnya.


Raihan mengangguk pelan, "Hati-hati, mas. Jika ada masalah, segera hubungi aku, Mas." jawab Raihan.


Khairil pun bergegas pergi keluar dari rumahnya. Begitu mobilnya Khairil keluar dari halaman rumah mereka, Raihan masuk ke dalam kamarnya. Namun saat menutup pintu kamarnya, bingkai foto dirinya dan Khairil tiba-tiba saja terjatuh dan pecah.


"Lah, bagaimana foto ini bisa terjatuh?" ucap Raihan seorang diri sambil mengambil selembar foto yang terjatuh di lantai kamarnya.


Jantung Raihan mendadak berdegup kencang, dan hatinya pun gelisah. "Ada apa ini, kenapa perasaan ku jadi begini."


BERSAMBUNG...


JANGAN LUPA LIKE, KRITIK DAN SARAN KALIAN DI KOLOM KOMENTAR YA.

__ADS_1


TERIMA KASIH..


__ADS_2