Akibat perceraian!!

Akibat perceraian!!
Wajah asli Safa.


__ADS_3

Beralih ke kota Jakarta, Azura baru saja selesai mengobrol dengan Satya dan Gina. Mereka mengobrol setelah makan siang yang hangat.


"Azura, kamu mau bekerja di kantor om saja tidak?" tanya Satya padanya.


Azura menjadi gugup mendapat tawaran bekerja di kantor pemerintahan. "Eh, jangan Om, Azura lebih mau menjadi guru saja, dari pada bekerja kantoran." jawab Azura sambil meremas kedua tangannya.


Gina tersenyum melihat wajah Azura yang gugup lalu dia berkata, "Azura, kami benar-benar merasa hutang budi dengan kamu. Besok akan tante antar kamu ke sekolah paling bergengsi di kota ini." ucapan Gina membuat Azura ceria.


"Astaga,Tante, jangan Tan. Azura cuma mau mengajar dan berdakwah, jadi izinkan Azura bekerja di sekolah yang memiliki sarana pendidikan agama, seperti sekolah Islam atau sekolah Madrasah saja."


"Hmm, baiklah kalau Azura mau seperti itu, besok kita langsung melihat sekolah yang sesuai untuk kamu." sahut Satya. Azura menjadi tersipu malu mendengar ucapan Satya yang sangat menjanjikan itu.


"Ma, Davi naik ya." di sela perbincangan yang tidak berguna bagi Davi, dia pun merasa bosan.


Sesaat Azura menatap Davi dengan tajam, lalu dia tersadar dan memalingkan wajahnya. "Astaghfirullah, apa yang aku pikirkan." ucapnya dalam hati.


"Davi, kamu antarkan Azura pulang ya. Sekalian kamu sampaikan terima kasih pada keluarga Azura." ucap Gina yang menahan langkah Davi.


Mendengar perintah Gina pada Davi, sontak Azura merasa sungkan. "Tidak, tante. Tidak perlu. Azura bisa pulang bareng Safa saja, Tante." timpal Azura dengan cepat.


"Mama dengar sendiri kan, dia bisa pulang dengan Safa, sudah lah, Ma. Davi lelah, mau istirahat." jawab Davi.


Davi bergegas naik dan masuk dalam kamarnya. "Sudah ketebak alur papa dan mama menyuruh aku mengantar gadis itu. Mana mungkin aku bisa jatuh cinta dengan gadis sok alim seperti dia." gerutu Davi di dalam kamarnya.


"Maafkan sikap Davi ya Azura. Dia memang keras kepala, tapi dia anak yang baik. Tante sangat berharap dia akan menemukan pasangan hidup yang sholeha seperti nak Azura." sontak Azura terkejut, begitu pula Safa yang sampai tercengang.


"Aih, Tante. Davi dan Azura saja baru bertemu hari ini, kenapa sudah bicarakan masalah pasangan." ucap Safa sambil cengengesan.

__ADS_1


Satya pun ikut tertawa pelan mendengar ucapan Safa, "Kamu benar, Safa. Maklum lah anak om kan cuma Davi seorang, jadi Tante kamu pasti ingin yang terbaik menjadi menantunya." timpal Satya.


"Maafin tante ya Zura, Tante tidak bermaksud menjodohkan kamu sama Davi, tapi tante sangat berharap kalau kamu dan Davi bisa berjodoh." ucap Gina sambil tersenyum dan menggenggam tangan Azura.


"Iya,Tante. Tidak masalah, kita manusia kan bisanya berencana, segalanya sudah ditakdirkan oleh yang kuasa." jawab Azura dengan lembut.


"Hmm, sepertinya Safa harus mengganggu pembicaraan Tante deh, ini sudah sore, Tante. Jadi Safa dan Azura harus segera pulang. Maaf ya , Tante, Om." Safa menyela perbincangan mereka.


"Eh, iya. Azura mohon pamit ya, Tante, Om." timpal Azura yang juga pamit pada keluarga itu.


"Yah, bagaimana lagi tante bisa menahan kamu untuk tetap di sini. Tapi besok pagi, kamu harus kesini ya Azura, biar om dan tante antarkan kamu mendapatkan pekerjaan di sekolah." jawab Gina.


Azura dan Safa pun kemudian bergegas pamit dan keluar dari rumah tersebut. Sepanjang perjalanan, Safa melirik pada Azura yang terus termenung. "Kamu kenapa Zura? Mikirin Davi ya?" ledeknya.


"Ish, apaan sih, Safa. Aku lagi mikirin pekerjaan untuk besok, aku sangat khawatir kalau resume ku akan ditolak." jawab Azura lesu.


Azura merasa lebih baik mendengar Safa memberikan semangat untuk meyakinkan dirinya. "Terima kasih ya, Safa. Kalau bukan karena kamu, mana mungkin aku bisa mendapatkan pekerjaan." ucap Azura.


"Yang terpenting, saat kamu gajian, aku harus ditraktir ya." canda Safa.


"Siap sahabatku." jawab Azura yang disambut dengan tawa oleh Safa.


Setelah mengantarkan Azura pulang kerumahnya, Safa pun bergegas pulang. Namun siapa yang menduga, ternyata Safa sejak kecil menyimpan perasaan terhadap Davi. "Aku yang menyukainya sejak kecil, tapi kenapa tante Gina membicarakan Azura untuk menjadi menantunya. Argh...." Safa yang kesal memukul setir mobilnya dengan keras.


Safa pun menceritakan masalahnya pada kakak laki-laki nya. "Aku tidak ikhlas mas kalau sampai Davi menikah dengan orang lain." ucap Safa dengan sangat geram.


Kenzi, kakak nya Safa menatap nya dengan sinis, lalu tersenyum kecil. "Kamu yang salah, kenapa harus bawa teman wanita mu ke rumah mereka, harusnya kan itu jadi kesempatan buatmu mendekati mereka." ucap Kenzi sambil menuangkan minuman beralkohol ke dalam 2 buah gelas.

__ADS_1


"Lah, mana lah aku tau akan jadi seperti ini, selama 3 tahun aku memaksa diriku untuk belajar di pondok pesantren, demi mewujudkan impian Tante Gina, dia menginginkan menantu yang sholeha dan seorang santri. Tapi, kalau aku tidak bisa mendapatkan Davi, sama saja usahaku selama 3 tahun jadi sia-sia dong." jawab Safa dengan kesal.


Kenzi menyodorkan segelas minuman beralkohol tersebut pada adik nya, Safa. "Tenangkan dulu dirimu, Safa. Minumlah." ucap Kenzi.


Safa dengan segera melepas hijab syar'i yang dia kenakan, lalu membuka pakaian gamis nya, kini dia hanya mengenakan celana di atas lutut, dan tanktop saja. Dia meneguk minuman yang diberikan Kenzi padanya.


"Bagaimana? Lebih baik?" tanya Kenzi.


"Hum." jawab Safa singkat.


Safa merebahkan tubuhnya di atas kursi panjang di hadapan Kenzi. "Mas, kamu harus lakukan sesuatu agar Davi tetap menjadi milikku. Aku tidak akan bisa menerima kenyataan kalau Davi menikah dengan wanita lain." pintanya dengan tegas.


"Begini saja, kamu minta pekerjaan dari om Satya, dan aku yakin mereka juga akan memberikan kamu pekerjaan. Kalau teman mu saja diberikan, masa kamu yang sudah seperti anak mereka tidak diberikan." tegas Kenzi memberikan masukan.


Safa diam sejenak, dan berpikir. "Hmm, aku mengerti mas. Tapi, kalau sampai mereka serius ingin menjodohkan Davi dan Azura, aku mau kamu mengambil tindakan mas." pintanya lagi.


Kenzi duduk tepat di sebelah adiknya, "Tenanglah, serahkan saja padaku. Jangan kan Davi, pria manapun, aku jamin tidak akan ada yang sudi menikah dengan temanmu itu." Kenzi pun menjanjikan hal yang membuat Safa penasaran.


"Haa?? Memang nya mas mau berbuat apa?" tanya nya penasaran.


"Kamu tidak perlu tau, lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan." ucap Kenzi dengan mata yang penuh dengan dendam.


BERSAMBUNG...


JANGAN LUPA TINGGALKAN PESAN DAN KRITIK DI KOLOM KOMENTAR YAH..


TERIMA KASIH..

__ADS_1


__ADS_2