
Saripah bingung bagaimana cara menjelaskan semuanya. Namun Nuning menggenggam erat tangan nya, dan memberikan isyarat padanya agar mengurungkan niatnya itu, seolah Nuning mengerti apa isi di kepalanya.
"Hem, tidak nak. Tapi mama rasa kamu mengalami mimpi unik." jawab Saripah yang kembali membohongi Anggun.
Saripah selalu merasa bersalah setiap kali dia membohongi gadis yang dia akui sebagai putrinya itu. Namun dia juga tidak mampu untuk kehilangan gadis kecil itu, rasa sayang nya sudah tumbuh semakin besar untuk anak yang dia selamatkan 5 tahun yang lalu itu.
"Iya sih ma, sudah lah lupakan saja, namanya juga cuma mimpi." ucap Anggun dengan mengalihkan pandangan matanya.
Sementara Nuning bisa menghela nafas nya dengan lega. Dia sempat berfikir kalau Anggun akan mengingat masa lalunya, dan akan pergi meninggalkan mereka. Namun semuanya ternyata belum berakhir.
"Ya sudah karena kamu sudah baik-baik saja, kita pulang ya." ucap Saripah.
"Iya, ma." jawab Anggun.
Setelah menyelesaikan biaya rumah sakit, Anggun pun diperbolehkan untuk pulang ke rumahnya.
****
Azura pun akhirnya sadar juga, berbeda dengan Azkia yang bingung melihat sosok wanita yang mirip dengan nya dalam mimpi, Azura terlihat bahagia.
"Syukurlah nak, kamu akhirnya sadar juga." ucap Zubaidah sambil menghela nafas panjangnya.
"Umi, Zura bertemu Kia, mi." ucap Azura dengan senyum lebar di wajahnya.
"Haa? bertemu bagaimana maksudnya Zura?" tanya Zubaidah bingung.
"Ya Zura bertemu dengan nya di alam bawah sadar nya Zura, dia seperti nya tidak mengenali Zura, mi." jawab Azura yang kemudian menjadi sedih.
"Hmm, Zura, kamu jangan terus terobsesi untuk bertemu Azkia, karena hal itu cuma memperburuk kesehatan nya Zura." ucap Zubaidah dengan nada lembut.
"Tapi mi, Zura benar bertemu dengan nya. Hanya saja dia mengaku bahwa namanya adalah Anggun, bukan Azkia." ucap Azura dengan sangat yakin akan mimpinya itu.
"Iya, iya. Ya sudah kamu istirahat saja, Umi mau antar dokter Tania pulang, Umi juga sekalian pulang ya." jawab Zubaidah yang langsung berpamitan setelah memastikan keadaan putrinya itu.
Sebenarnya dalam hati Zubaidah dia sangat terpukul tiap kali Azura membahas tentang Azkia. Berasa luka lama terkoyak kembali. Namun dia tidak pernah menunjukkan keadaan nya itu pada Azura.
"Iya Umi hati-hati dijalan ya mi." jawab Azura sembari mencium punggung tangan Zubaidah.
Zubaidah mengelus puncak kepala Azura, dan mengecup lembut kening nya sebelum meninggalkan kamar anaknya itu. Setelah itu Zubaidah langsung menghampiri guru Azura untuk berpamitan.
"Tunggu aku Azkia, aku akan mencari kamu nanti." gumam Azura yang kemudian kembali merebahkan tubuhnya dan beristirahat.
Sementara Zubaidah kembali terbawa suasana setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Azura tadi. Ucapan Azura terus terngiang-ngiang di telinga nya.
__ADS_1
"Entah bagaimana keadaan Azkia saat ini, tapi dengan adanya Azura, aku bisa mengetahui keadaan nya, walaupun masih tabu." gumam Zubaidah dalam hatinya.
Selesai mengantarkan dokter Tania kembali ke rumah sakit, Zubaidah segera pergi ke rumah adiknya Rahmat. Dia menceritakan apa yang terjadi pada Azura hari ini.
Rahmat merasa sangat yakin, bahwa Azura memang benar bertemu dengan Azkia. "Bisa saja sih mba, mereka itu terikat satu sama lainnya, mba." ucap Rahmat usai Zubaidah menceritakan kisah mereka sejak awal.
"Aku juga mat, hanya saja mba bingung harus mencari Azkia kemana. Sementara mba juga tidak pernah komunikasi dengan mas Sulaiman maupun Heny.
****
7 TAHUN KEMUDIAN...
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Azura pun akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan nya di pesantren dengan nilai sempurna.
" Assalamu'alaikum umi." ucap salam dari Azura yang baru saja tiba di rumahnya.
"Wa'alaikumsalam.. Ehh anak Umi akhirnya pulang juga, hmm kangen." Zubaidah menyambut putrinya yang sudah menjadi gadis dewasa.
"Hmm.. Kangen.." Azura langsung memeluk erat Zubaidah setelah 2 tahun mondok dan tidak bertemu dengan ibunya.
"Umi, Aura mau ke kamar dulu yah. Nanti selesai sholat Ashar, Zura mau keluar lagi mi, ada janji sama Safa." ucap Azura setelah melepaskan pelukan Uminya, Zubaidah.
"Hum..Baru juga balik sudah mau pergi lagi aja kamu Zura." Zubaidah pun terlihat cemberut dan memalingkan wajahnya.
"Oh begitu ya, hmm ya sudah kamu mandi terus beres-beres lah, biar Umi siapin makan siang dulu." ucap Zubaidah yang kembali tersenyum dan ceria.
"Makasih ya Umi." ucap Azura.
Kemudian Azura pun naik ke atas menuju kamarnya. Selesai mandi dan sholat dzuhur, Azura pun turun untuk makan siang bersama Zubaidah.
"Ehh om, tante. Assalamu'alaikum." Azura langsung memberi salam pada Rahmat dan Olivia.
"Wah, mba Idah benar yah, Zura walaupun pakaian hijab dan syar'i begini, tapi tetap saja wajah cantik nya mempesona." puji Rahmat.
Azura menjadi malu dan menundukkan wajahnya. "Om jangan berlebihan memuji Azura ya." ucap Azura dengan malu dan pipi yang mulai memerah.
"Hmm..Mba sepertinya kita harus lebih extra nih menjaga anak gadis kita yang satu ini. Kalau sampai ada mata jahat yang mengincar kecantikan nya, bisa menyesal kita mba." timpal Olivia sembari terkekeh.
"Hahaha.." Azura terkekeh mendengar ucapan tante nya itu. "Oh iya tan, Abel sama Nico nggak ikut kesini?" tanya Azura disela candaan mereka.
Olivia pun berhenti tertawa. "Abel katanya ada ujian, sedangkan Nico ada pertandingan sih." jawab Olivia menjelaskan keberadaan kedua anak kembarnya.
"Oh, sayang sekali ya tidak bisa bertemu dia adikku yang menggemaskan itu." ucap Azura sembari tersenyum.
__ADS_1
"Astaga Zura, kamu jangan coba-coba bilang mereka menggemaskan dihadapan mereka ya, karena mereka bisa menjadi liar. Hahaha.." jawab Olivia dengan tertawa lebar.
Mereka pun akhirnya makan siang bersama sembari bercengkrama dengan penuh tawa bahagia.
Selesai sholat ashar, Azura pun menghampiri Zubaidah yang tengah mengobrol dengan Rahmat dan juga Olivia. "Umi, Zura pergi ya." Azura mencium punggung tangan Zubaidah, lalu beralih ke Rahmat dan juga Olivia.
"Loh kamu mau kemana Zura?" tanya Rahmat.
"Dia mau melihat pekerjaan di salah satu sekolah milik paman teman nya mat." timpal Zubaidah.
"Iya om, Zura nggak mau lama-lama nganggur." sahut Azura.
"Kan bisa nanti saja Zura, kamu sudah lama loh mondok, masa sih tidak mau liburan dulu sama keluarga." timpal Olivia.
"Maaf tante, tapi Zura merasa rugi kalau ilmu yang Zura pelajari selama di pondok, nggak bisa Zura terusin ke orang lain." jawab Azura.
"Sudah lah Mat, Liv. Biarkan saja, selagi dia masih muda, biarkan dia mencari kebahagiaan nya sendiri." sahut Zubaidah.
"Iya sudah kalau Umi kamu juga mengizinkan, om bisa apa lagi. Hati-hati kamu dijalan yah Zura." ucap Rahmat sembari menepuk pelan pundak Azura.
"Iya om, Zura pamit yah semua. Assalamu'alaikum." ucap salam dari Azura.
"Wa'alaikumsalam" jawab Zubaidah, Rahmat, dan juga Olivia secara bersamaan.
Azura pun keluar dari rumah itu dan pergi menggunakan taksi online. Dia pergi menuju ke tempat pertemuan yang sudah dia janjikan dengan teman pondoknya, Safa.
Begitu tiba di salah satu cafe, Azura melihat dari seberang jalan kalau Safa juga sudah berada di sana. "Safa..!" teriak Azura.
"Ra.. Sini.." jawab Safa sembari berteriak juga.
Tapi belum sampai Azura ketempat nya Safa, tiba-tiba ada mobil yang melaju dengan sangat kencang kearah Azura.
"Aaaaahhh ..." Azura berteriak keras saat mobil itu sudah sangat dekat dengan nya.
"Azura ...!!!" Safa yang melihat nya pun ikut panik dan berteriak juga.
BERSAMBUNG..
JANGAN LUPA BACA SETIAP BAB NYA YAH.
TINGGALKAN PESAN DAN KESAN KALIAN DI KOLOM KOMENTAR YA.
TERIMA KASIH.
__ADS_1