
Pria itu kemudian berjalan menuju toko ponsel untuk membeli ponsel baru. Disaat dirinya tengah memilah ponsel, dia dikejutkan dengan suara keramaian.
"Dasar pencuri!!" teriak seorang pegawai Mall.
"Maaf saya butuh susu untuk adik saya, kak." seorang anak kecil berusia 9 tahunan, meminta maaf dan mengakui kesalahannya.
Pria yang tengah memilih ponsel karena Azkia, menghampiri keramaian tersebut. "Ada apa ini?" tanya pria itu ditengah keramaian.
"Eh pak Raihan" sapa seorang pegawai yang juga menyaksikan kejadian sore hari itu.
"Anak itu mencuri, Pak." ucap pengunjung yang berada di keramaian.
Raihan hanya memperhatikan anak yang dituduh mencuri itu dengan seksama. "Apa ada barang buktinya?" tanya Raihan.
"Iya, Pak. Dia tertangkap tangan sama Imelda, Pak." jawab pegawai Mall.
Raihan mengangguk pelan. "Ya sudah bawa dia ke bagian keamanan, dan selesaikan di sana, biar tidak membuat pengunjung lain jadi tidak nyaman." perintah Raihan.
"Pak, saya mohon jangan laporkan saya ke kantor polisi, Pak. Saya mohon ... Adik saya sedang menangis pasti, Pak." anak yang ketahuan mencuri itu dengan cepat langsung bersimpuh di kaki Raihan, dan meminta pengampunan darinya.
"Hah, sudah mencuri masih saja kamu mengelak. Kalau kamu dibebaskan, nanti pasti akan mencuri lagi!!" bentak pegawai Mall yang menangkap basah anak itu sedang mencuri.
"Jangan, Pak. Saya jani tidak akan mencuri lagi, saya cuma minta jangan penjarakan saya. Kasihan adik-adik saya pasti sedang menunggu saya sekarang, Pak." anak itu pun terus memohon sambil menangis di kaki Raihan.
"Jangan hiraukan dia, Pak. Biar saya yang urus anak ini, Pak." ucap Imelda, pegawai Mall itu lagi.
Raihan menoleh pada anak itu, dalam hatinya, dia merasa iba melihat keadaannya. Tapi yang bersalah tetap lah bersalah, dan harus dihukum. Raihan kemudian melepaskan tangan anak itu dari kakinya, dan berusaha mengabaikannya.
"Pak ... Pak ... Saya mohon maafkan saya ...!!!" anak itu terus berteriak, saat di seret paksa oleh Imelda. Raihan sama sekali tidak menanggapinya, dan berniat kembali ke toko ponsel.
"Lepasin saya kak!!! Lepas ...!!!" anak itu berusaha memberontak untuk melepaskan diri dari genggaman tangan Imelda.
"Kamu harus dapat hukuman yang setimpal!!" bentak Imelda.
__ADS_1
"Saya tidak mencuri!!" anak itu menggigit tangan Imelda dengan kuat.
"Aw.. dasar anak berandalan!!" Imelda meringis kesakitan, kemudian saat anak kecil itu hampir terlepas, Imelda menariknya dengan tangan lainnya, dan dibantu para teman pegawai Mall lainnya.
"Huh, dasar pencuri, sudah mencuri sekarang bersikap kasar padaku ya!!" teriak Imelda sambil mengibaskan tangannya yang sakit, dan hendak memukul anak tersebut.
Pada saat kejadian itu, ternyata Azkia berada di dalam keramaian tersebut, dan terus mengamati semuanya. Hingga pada saat dia melihat Imelda mengangkat tangannya, dan ingin memukul anak itu, Azkia bergerak cepat.
"Bruk..." Azkia menendang Imelda dengan kakinya, hingga Imelda terjatuh.
Anak kecil, dan semua orang tercengang melihat sikap Azkia. "Kakak ..." Anak kecil itu mendekati Azkia, dan memeluk kakinya.
"Hey ...!! Kau pasti komplotannya kan!!!" teriak Imelda yang kemudian bangkit setelah terjatuh dan tersungkur.
Azkia tersenyum sinis di sudut bibirnya. "Komplotan? Aku tidak mengenal anak ini, dan aku juga tidak membelanya karena dia sudah melakukan kesalahan. Tapi, aku tidak suka ada orang dewasa yang bersikap kasar terhadap anak kecil. Walaupun dia memang bersalah, tapi kamu tidak seharusnya menghukum dia dengan tanganmu sendiri." Azkia membantah tuduhan Imelda padanya.
"Halah, bilang saja kamu dan dia bekerja sama untuk mencuri, bukan? Itu sebabnya, kamu membela nya." Imelda masih tetap menuduh Azkia berkomplot dengan anak kecil itu.
Raihan yang sudah duduk di toko ponsel, yang letaknya tak jauh dari keributan itu, menoleh ke arah keramaian. "Apa belum juga dibawa ke kantor keamanan?" ucapnya seorang diri.
Raihan pun bangkit, dan berjalan kembali mendekati keramaian itu, katanya terhenti menatap gadis yang membelakangi dirinya. "Siapa wanita itu?" tanya Raihan pada orang-orang yang menonton kejadian tersebut.
"Nggak tau, Pak. Tadi wanita itu menendang mba karyawan nya, dan katanya sih dia komplotan si anak yang mencuri, Pak." jawab seorang pria yang melihat kejadian itu sejak tadi.
Raihan pun maju dan mendekati Azkia, dan Imelda. "Imelda, belum selesai juga kah?" tanya Raihan, dan sontak Azkia pun berbalik menoleh suara yang mendekat.
"Deg ..." jantung Raihan tiba-tiba saja berdegup kencang, saat rambut panjang Azkia mengibaskan wajahnya.
Raihan terkejut begitu menatap wajah Azkia, dan begitu pula Azkia, dengan cepat dia memalingkan wajahnya dan membelakangi Raihan kembali.
"Mampus aku, itukan pria yang tadi. Apa dia mau meminta ganti rugi padaku?" batin Azkia.
"Hei ... Kamu ..." ucap Raihan dengan mata melotot.
__ADS_1
"Aku harus bagaimana ini, kenapa juga sih aku harus ikut campur urusan anak ini." ucap Azkia dalam hatinya.
Raihan dengan cepat membalikkan tubuh Azkia, dan akhirnya mereka saling berhadapan satu sama lain. "Kamu mau lari kemana lagi, haa?" bentak Raihan.
Jelas saja semua perhatian semua orang teralihkan pada mereka berdua. Bahkan Imelda dan anak yang mencuri itu merasa bingung.
"Pak, dia memang komplotan pencuri dengan anak ini kan?" tanya Imelda setelah beberapa detik merasa bingung.
Raihan menoleh pada Imelda, "Komplotan?" tanya Raihan yang jadi bingung sebaliknya.
"Iya, Pak. Wanita ini menendang ku, dan membela anak ini, Pak. Pasti dia komplotan nya, Pak." lanjut Imelda.
Raihan menyadari ada yang tidak beres, "Aku tidak tau kalau mereka adalah komplotan, tapi wanita ini punya urusan pribadi denganku." jawaban Raihan membuat semua mata semakin menyipit memperhatikan mereka.
"Maaf, saya masih ada urusan." ucap Azkia yang hendak melarikan diri dari keramaian yang terjadi.
Namun dengan cepat, tangan Raihan sudah menangkapnya.
"Hey ... Enak saja kamu mau lari setelah membuat keributan!" bentak Imelda, Raihan pun menatap tajam pada Imelda.
Imelda hanya bisa mengendus melihat tatapan tajam bosnya itu, "Maaf, Pak. Tapi wanita ini harus menyelesaikan urusan nya dulu, Pak." ucap Imelda lagi.
"Aku tidak ada hubungannya sama anak ini, aku hanya tidak suka melihat kekerasan yang kamu lakukan padanya. Kalau aku tidak mencegah mu tadi, mungkin tanganmu sudah berbuat kasar padanya!!" hardik Azkia membela dirinya.
Raihan pun mendengar ucapan Azkia dengan seksama, dia menoleh pada anak yang dituduh mencuri itu, "Dek, apa kakak ini temanmu, atau komplotan kamu? Jika benar, katakan yang sejujurnya, karena jika benar, sudah seharusnya dia yang bertanggung jawab atas kesalahan kamu." tanya Raihan pada anak itu, sambil tetap menggenggam erat tangan Azkia.
Anak tersebut menoleh pada Azkia, dan menoleh lagi pada Imelda, lalu dia menggelengkan kepalanya. "Saya tidak kenal kakak ini, Pak. Tadi kakak ini, mau memukul saya, tapi kakak ini langsung melindungi saya, Pak." jawab si anak sambil menunjuk ke arah Azkia dan Imelda.
Imelda pun tertunduk dengan wajah bingung, Imelda merasa bersalah dan takut menghadapi Raihan, apalagi mata Raihan menyipit dan menatapnya tajam.
BERSAMBUNG.
JANGAN LUPA TINGGALKAN PESAN DAN KESAN KALIAN DI KOLOM KOMENTAR YA..
__ADS_1
TERIMA KASIH.