
"Aaaahhh ... !!" Azura teriak karena takut dan panik.
"Azura ...!!" Safa pun hanya bisa berteriak sebelum mobil itu nyaris menyentuh nya.
"Ciiiiiiittttt..!!" mobil pun mendadak berhenti dengan keras.
"Astaga Azura.. Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Safa yang langsung menghampiri nya, dan menarik lengan Azura untuk menepi di pinggir jalan.
"Zura, kamu serius tidak apa-apa?" Safa mengulangi pertanyaan nya lagi karena khawatir.
"Iya Safa, aku gak kenapa-napa." jawab Azura yang masih terkejut.
Azura menoleh kearah mobil yang nyaris menabrak nya. "Kenapa pemilik mobil itu tidak turun yah? Dia baik-baik saja kan?" batin Azura sambil menatap kearah mobil tersebut.
"Zura..!! Kamu lagi mikirin apa sih?" Safa mengejutkan Azura yang tengah melamun dan memikirkan orang di dalam mobil.
"Iya apaan sih Safa?" jawab Azura sedikit kesal.
"Kamu mikirin apa sih, aku dari tadi nanya kamu malah bengong." ucap Safa.
"Fa, lihat deh mobil itu." ucap Azura sembari menunjuk kearah mobil di seberang mereka.
"Kenapa emang nya? Dia nyaris mencelakai mu, apa kamu masih berniat untuk menyelamatkan dia? Biarkan saja dia mati di dalam mobilnya itu." jawab Safa dengan kasar.
"Ish, kamu ini ya Safa, baru saja selesai mondok, sudah bersikap kasar dan jahat. Tidak baik kita mengabaikan orang lain yang membutuhkan kita." ucap Azura menasihatinya.
"Iya, iya Zura. Terserah kamu saja kalau mau menyelamatkan dia, kalau aku nggak akan mau." jawab Safa yang langsung melipat kedua tangan nya di dada nya.
Azura melangkah menghampiri mobil tersebut, dia menempelkan tangan nya di kaca jendela mobil itu. "Pak apa anda baik-baik saja?" tanya Azura dari luar pintu mobil.
"Azura.. Biarkan saja..!!" teriak Safa dari seberang jalan.
"Sebentar Fa, aku harus memastikannya dulu." jawab Azura.
"Hmm, dasar Azura. Sikap baiknya tidak pernah kenal tempat dan waktu." gerutu Safa yang kemudian berjalan menghampiri nya.
"Fa, dia tidak menjawab. Sepertinya dia pingsan atau mungkin.." Azura pun menduga hal buruk pada orang di dalam mobil itu.
"Zura, aku tau kamu orang baik, tapi hal ini cuma bisa mempersulit kamu aja loh, sudah lah tinggalkan saja dia disini." ucap Safa sambil menarik lengan nya.
"Tidak bisa Fa, aku tidak mungkin membiarkan nya sendirian kalau memang dia terluka." jawab Azura yang masih ngotot ingin menolong.
"Hmm.. Begini saja ya Zura, sebaiknya kita hubungi polisi atau rumah sakit, biar dia ditangani oleh medis. Aku cuma tidak mau kamu akan kena dampaknya." ucap Safa memberi masukan.
Azura pun terdiam sejenak mencerna ucapan sahabatnya itu. "Iya sudah kalau begitu, kita.." saat Azura dan Safa masih berdebat didekat pintu mobil, tiba-tiba saja pintu mobil itu terbuka.
"Tolong..!!" seorang pria keluar dengan jalan sempoyongan dan meminta bantuan.
"Bruk.." pria itu jatuh sebelum Safa dan Azura berhasil menangkap nya.
"Pak.. Pak.. Bangun Pak.." Azura berusaha membangun kan pria itu.
__ADS_1
"Zura, tampan sekali wajahnya. Kelihatannya dia bukan asli orang Indonesia deh." bisik Safa yang terus memperhatikan pria itu.
"Ishh kamu ini Fa, masih aja sempat memikirkan hal begitu. Bantu aku loh Fa, kita antar dia ke rumah sakit dulu ya. Habis itu kita ketempat pamanmu." pinta Azura.
Safa pun tidak lagi berdebat dengan nya, dia membantu Azura mengangkat pria itu masuk dalam mobilnya, di bangku belakang.
Sedangkan Azura mengambil alih kemudi mobil nya, dan melaju menuju rumah sakit terdekat.
Setibanya di rumah sakit, Safa dan Azura langsung memanggil perawat untuk membantu mereka mengangkat pria itu.
"Suster.. Tolong.." teriak Safa.
Beberapa perawat pun langsung berlari menghampiri mereka dengan membawa brankar. Setelah itu mereka membawa pria itu masuk kedalam untuk diperiksa dan mendapatkan perawatan medis.
"Permisi mba." panggil seorang suster.
Azura dan Safa pun menghentikan langkah nya dan langsung menghampiri suster di bagian resepsionis itu. "Iya sus ada apa?" tanya Azura sopan.
"Maaf mba, bisa bantu saya untuk data diri pasien barusan. Apa anda keluarga yang bertanggung jawab atas pasien??" tanya perawat tersebut.
Azura dan Safa pun bingung, dan saling bertatapan. "Maaf sus, kami menemukan pria itu jatuh dan pingsan di pinggir jalan, jadi kami hanya membantunya untuk kesini." jawab Azura tegas.
"Oh baik mba, bisakah kalian mengisi formulir ini dan menandatangani nya, ini hanya formalitas saja mba. Sebagai saksi yang mengantarkan pasien sampai kesini." ucap perawat sembari menyodorkan selembar kertas.
Azura awalnya ragu untuk melakukan nya, tapi setelah dia berfikir beberapa detik, dia pun setuju. Azura meraih kertas tersebut dan mengisi data dirinya, dan kemudian menandatangani nya.
"Baik mba terima kasih." ucap perawat setelah urusan nya selesai.
"Zura, sudah yuk. Biarkan saja pria itu disini, kan sudah ada dokter yang akan mengurusnya." ajak Safa.
"Haduh Zura..!! belajar dong cuek sedikit sama sekeliling kamu Zura. Semakin kamu ikut campur urusan orang lain, maka kami sendiri yang akan menyesal nantinya." ucap Safa meyakinkan sahabat nya untuk segera pulang.
"Hmm kamu payah emang Fa, ya sudah ayolah kita segera ke rumah paman mu." jawab Azura dengan terpaksa.
"Nah gitu dong. Dari tadi harusnya." ledek Safa.
"Sus, saya sudah meninggalkan kontak saya di form tadi, jadi kalau pasien mendapatkan masalah, tolong hubungi saya segera ya." pinta Azura pada perawat.
"Astaga Zura, aku pikir kamu setuju pergi. Ternyata tetap aja kamu mikirin tuh cowok." ucap Safa yang jadi kesal.
"Oh ya sus, ini kunci mobil pasien." Azura menyodorkan kunci pria itu.
Setelah itu mereka pun segera keluar dari rumah sakit. Mereka langsung pergi naik taksi online menuju rumah paman nya Safa.
"Assalamu'alaikum." ucap Safa dan Azura saat tiba di rumah paman nya.
"Wa'alaikumsalam." jawab seorang pembantu.
"Eh neng Safa, masuk neng." lanjut ibu paruh baya itu.
Azura dan Safa pun berjalan mengikuti pembantu itu dan dipersilakan duduk di sofa. "Tunggu sebentar ya neng, biar si mbok panggilkan tuan dan nyonya." ucap mbok Yuyun.
__ADS_1
Mereka pun hanya menganggukkan kepalanya saja. Mata Azura berpendar mengelilingi rumah besar itu. "Safa, paman mu cukup kaya juga ya." bisik Azura.
"Hustt.. Kamu jangan ngomong sembarangan. Paman ku itu sebentar lagi mau mencalonkan diri jadi bupati bogor." jawab Safa setengah berbisik.
"Haa? Wah keren banget. Paman mu ini saudara mu bagaimana sih Fa?" tanya Azura penasaran.
"Yah tidak terlalu dekat sih, cuma Abi sama paman Abdullah itu bersahabat sejak masih sekolah." jawab Safa menjelaskan.
"Oh bukan keluarga, hanya sudah seperti keluarga ya." ucap Azura sambil menganggukkan kepalanya.
"Tapi pembantu tadi sepertinya sudah sangat mengenal kamu Fa?" tanya Azura lagi dengan sangat penasaran.
"Ya pasti lag Zura pea, aku kan sejak kecil sering nginap di rumah ini." jawab Safa.
"Loh memang nya paman mu ini, tidak punya anak?" tanya Azura semakin antusias.
"Ada sih, tapi anak nya tinggal di Amerika. Sama ibunya pamanku ini. Tau sendiri lah kehidupan pejabat tidak ada yang santai, jadi mereka tidak punya waktu mengurus anak mereka. Makanya anak mereka tinggal bersama neneknya." jelas Safa. Azura hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Safa dengan seksama.
"Silahkan di minum dulu neng, tuan sama nyonya sebentar lagi turun." ucap mbok yuyun menyuguhkan teh.
"Terima kasih buk" ucap Azura.
"Ehh ada anak cantik nya tante datang." sapa Gina, tante nya Safa.
"Assalamu'alaikum Om, tante." Safa dengan segera menghampiri tante dan om nya lalu mencium punggung tangan mereka.
"Ughh nggak pernah berubah ya pa." puji Gina melihat sikap sopan nya Safa.
"Oh ya om, tan, ini teman nya Safa. Namanya Azura, dia yang mau bekerja di sekolah itu." ucap Safa memperkenalkan Azura.
"Oh iya, salam kenal ya nak Zura." sapa Satya, pamannya Safa.
"Assalamualaikum om, tante." sapa Azura.
"Begini nak, besok pagi kita akan..." saat Satya ingin bicara, tiba-tiba ponsel nya berdering.
"Tring.."
"Tring.."
"Duh maaf ya Safa, om angkat dulu yah, takutnya penting." ucap Satya menghentikan obrolan nya.
"Maaf ya Safa, nak Zura. Maklum lah om Satya super sibuk." sahut Gina dengan tersenyum.
"Iya tante tidak apa-apa." jawab Azura dengan hangat.
"Apa..?? Rumah sakit mana..??" Satya terdengar panik saat menerima panggilan di ponselnya.
Sontak Gina, Safa dan Azura pun bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Satya.
BERSAMBUNG..
__ADS_1
JANGAN LUPA TINGGALKAN PESAN DAN KESAN KALIAN DI KOLOM KOMENTAR YAH..
TERIMA KASIH..