
Azura yang baru saja selesai melaksanakan kewajiban nya, duduk melihat bintang di balkon kamarnya. Tiba-tiba saja, wajah Davi melintas di benaknya. "Astaghfirullah, kenapa aku memikirkan pria itu, hmm." ucapnya yang menyadari kekhilafan nya.
"Sayang, ada tamu yang cari kamu, nak." suara Zubaidah di balik pintu kamarnya pun membuat Azura bergegas bangun dan menghampiri nya
"Ceklek." Azura membuka pintu kamar nya. "Iya ada apa Umi?" tanya nya.
Zubaidah merasa bahwa putrinya terlihat sangat lesu dan tak bersemangat. "Kamu kenapa? Sakit ya? Kok Umi perhatikan kamu seperti tidak bersemangat begitu." tanya Zubaidah sambil memeriksa kening Azura.
"Zura nggak apa-apa, Umi. Cuma mungkin kecapean aja, Umi." jawab Azura.
"Hmm, sebelum tidur, nanti Umi buatkan teh jahe ya, biar kamu merasa lebih baik." ucap Zubaidah.
Azura mengangguk pelan. "Umi, siapa yang datang mencari ku?" tanya nya.
"Oh, iya. Umi hampir lupa, di bawah ada pria yang mencari kamu, katanya sih ada hal penting yang mau di omongin." jelas Zubaidah.
Azura mengernyitkan dahinya, dia tidak pernah berteman dengan lelaki, lalu siapa pria yang datang malam begini mencarinya. "Apa pria itu menyebutkan namanya, Umi?" tanya Azura.
"Wah, Umi sampai lupa menanyakan namanya, sudahlah kamu turun dan lihat sendiri saja." perintah Zubaidah, kemudian Azura pun berjalan bersama Zubaidah turun ke ruang tamu.
Sontak langkah Azura terhenti di tengah anak tangga rumahnya, dengan mata terbelalak dan tercengang. "Mau apa dia datang mencari aku." batin Azura.
Zubaidah menoleh pada putrinya, "Kamu kenapa, nak?" tanya nya penasaran.
"Hmm, tidak apa, Umi." jawab Azura yang kemudian melanjutkan langkah nya, dan duduk di hadapan pria yang datang berkunjung ke rumah nya.
"Maaf, nak. Kamu kenal Azura dimana?" Zubaidah langsung membuka obrolan yang dia rasa sangat canggung bagi Azura.
"Kemarin, Tante. Azura menyelamatkan nyawa saya." jawab Davi.
"Oh, iya. Umi sudah mendengar ceritanya dari Azura. Jadi kamu pria yang diselamatkan Azura itu ya?" tanya Zubaidah setelah mengingat cerita Azura kemarin malam.
"Eh, Iya, Tante." jawab Davi sedikit gugup.
__ADS_1
"Jangan panggil tante. Panggil Umi saja." ucap Zubaidah agar merasa lebih nyaman.
"Baik, Tante. Eh, Umi, maksud saya." Zubaidah tersenyum melihat sikap Davi.
"Kamu mau apa kesini?" Azura tidak berbasa-basi dan langsung menanyakan maksud dan tujuan kedatangan Davi.
"Hmm, maaf kalau aku lancang datang kesini, tanpa mengabari kamu lebih dulu." Davi melirik ke arah Zubaidah, dia merasa sungkan ingin bicara di hadapan ibunya Azura.
Melihat tatapan Davi, Zubaidah pun mengerti. "Zura, Umi lupa tadi belum sempat matikan setrikaan, Umi ke belakang dulu, ya." ucapnya.
Namun, Azura menjadi cemas jika uminya pergi meninggalkan dia berdua saja dengan Davi, dia meraih lengan Zubaidah, dan meminta nya untuk tetap duduk menemani nya.
"Zura ...." Zubaidah memberikan isyarat pada Azura agar dia melepaskan tangan nya.
Dengan berat hati, Azura pun membiarkan Zubaidah pergi. Lalu dia menatap tajam pada Davi untuk sesaat, kemudian dia memalingkan pandangan nya ke lantai, dan menunduk.
"Maaf ... Aku tidak bermaksud mengganggu kamu, tapi aku juga terpaksa datang kesini, ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan kamu." ucap Davi.
"Begini, aku akan bicara to the point saja sama kamu. Kedua orang tuaku, sangat menyukai kamu, dan mereka berharap kamu dan aku bisa berjodoh." mendengar ucapan Davi, Azura mengangkat kepalanya dengan tegak dan menatap Davi dengan serius.
"Aku tidak bermaksud menyakitimu, itu sebabnya aku ingin meminta bantuan darimu." lanjut Davi.
"Bantuan? Bantuan apa?" tanya Azura.
Kini gantian, Davi pula yang merasa canggung dan menundukkan kepalanya. "Aku mau kamu membatalkan tawaran pekerjaan dari orang tuaku. Dan jangan pernah temui mereka lagi." ucap Davi sambil menutup matanya sesaat, kemudian dia mengangkat kepalanya kembali dan mendapati wajah Azura yang tengah bingung. "Kamu kenapa?"
Azura menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Davi. "Tapi apa masalahnya? Aku ingin bekerja untuk menyiarkan agama ku, bukan untuk mencari pasangan atau mendekati kamu." jawab Azura dengan perasaan kecewa.
"Sekali lagi aku minta maaf sama kamu. Tapi, kalau kamu menerima tawaran dari keluarga ku, kamu pasti akan sering bertemu mereka. Dan aku yakin, mereka akan semakin yakin menjadikan kamu sebagai menantunya. Apa kamu mau menikah denganku?"
Zubaidah yang berdiri di balik tembok, tercengang mendengar pertanyaan Davi. "Hah? Azura ingin dijodohkan dengan anak itu, sama orang tuanya?" gerutu Zubaidah pelan.
Azura sendiri merasa terkejut mendengar pertanyaan Davi. "Maaf, tapi pekerjaan yang aku butuhkan tidak ada hubungannya dengan pernikahan, aku sendiri belum memikirkan untuk menikah di usia muda ku." ucapan Azura membuat Davi tersenyum tipis.
__ADS_1
"Maaf kalau aku terpaksa bicara kasar, aku tidak mungkin menikah denganmu, aku sudah memiliki pacar yang cantiknya seribu kali darimu. Jadi, aku hanya berharap kamu akan menolak keinginan kedua orang tuaku, itu saja."
"Hey, apa kamu pikir aku bersedia menikah dengan pria pemabuk seperti mu?" Azura pun akhirnya memberanikan dirinya untuk menentang Davi.
"Sudahlah, aku tidak mau berdebat denganmu. Aku sangat berterima kasih, karena kamu menyelamatkan nyawaku. Tapi, bukan berarti aku harus menikah denganmu sesuai keinginan kedua orang tuaku." ucapan Davi semakin membuat harga diri Azura terluka.
"Mohon maaf tuan Davi yang terhormat. Ini sudah malam, dan sebaiknya anda segera tinggalkan rumah saya." ucap Azura dengan sangat lantang.
"Baiklah, aku rasa kamu sudah faham maksud ku. Jadi, besok sebaiknya kamu tidak perlu datang ke rumah ku lagi." pinta Davi dengan memaksa.
"Silakan anda keluar dari rumah saya." Azura pun mengarahkan tangannya ke pintu rumahnya, dan mengusir Davi.
Dengan tatapan yang sangat tajam dan mematikan, Davi menatap Azura beberapa detik. Kemudian dia meraih jaket kulitnya di kursi, lalu berjalan keluar dari rumah Azura. "Sombong sekali wanita itu." ucapnya saat sudah berada tepat di ambang pintu rumah Azura.
Begitu melihat Davi sudah keluar dari rumahnya, Zubaidah pun segera menghampiri putrinya. "Azura, kamu tidak apa-apa, nak?" tanya nya dengan cemas.
Azura tersenyum dan memegang lengan Zubaidah, lalu dia menempelkan kepalanya di pundak Zubaidah. "Zura baik-baik saja, Umi." jawabnya dengan senyuman.
"Berani sekali anak itu bicara omong kosong di rumah kita." ucap Zubaidah kesal.
Azura menggeser kepalanya sedikit, dan mendongak menatap Zubaidah. "Umi, jangan bilang Umi menguping pembicaraan aku dan Davi tadi?" tanya Azura sambil memicingkan matanya.
Sontak Zubaidah melepaskan tangan Azura, dan kemudian dia duduk di sofa. "Iya, Umi sudah mendengar semuanya. Tapi, Umi berharap kamu tidak akan menuruti ucapan pemuda itu." ucap Zubaidah kesal dan bersungut.
Melihat sikap ibunya, Azura berlutut di dekat kakinya. "Umi, Azura tidak akan menyerah hanya karena pria tadi. Azura ingin berdakwah, bukan ingin memikatnya, dan menikah dengan nya." jawab Azura dengan senyuman lebar.
Zubaidah menatap putrinya beberapa saat, lalu mengangkat tubuh Azura untuk duduk di sebelah nya. "Azura, Kamu harus janji sama Umi, kalau orang tua pemuda itu meminta kamu untuk menikah dengan anak itu, kamu harus menolaknya." pinta Zubaidah.
BERSAMBUNG..
JANGAN LUPA TINGGALKAN PESAN DI KOLOM KOMENTAR YA GUYS.
TERIMA KASIH..
__ADS_1