
Mereka bertiga ikut bingung dan panik mendengar ucapan Satya.
"Pa, ada apa? Siapa yang sakit dan di rumah sakit, pa?" tanya Gina yang mulai cemas.
"Ma, Davi ma, Davi.." Satya yang panik pun bingung untuk menjelaskan.
"Davi kenapa pa? papa bicara yang jelas dong, pa!" ucap Gina tegas.
Satya mencoba menenangkan dirinya dan menarik nafasnya. "Davi kecelakaan, ma. Dan sekarang ada di rumah sakit, kita kesana sekarang yuk, ma." mendengar ucapan suaminya, tubuh Gina menjadi lemas, dan dia pun terhuyung beberapa langkah.
"Tante, tenang tan." Safa yang berdiri di sebelah Gina berusaha menangkap tubuh Gina yang hampir terjatuh.
Azura menjadi bingung, pasalnya dia merasa tidak tau dengan orang yang disebutkan. "Duh, aku rasa waktu nya tidak tepat untuk membicarakan pekerjaan sekarang." batin Azura yang hanya bisa mematung diantara keluarga itu.
"Pa, ayo kita kerumah sakit sekarang. Safa, maaf tante sama om harus kerumah sakit, Davi kecelakaan, Safa." ucap Gina, yang kemudian naik keatas dan masuk dalam kamarnya.
"Safa, om minta maaf karena harus menunda rencana kita. Om harus kerumah sakit melihat keadaan Davi." ucap om Satya setelah tante Gina kembali dari kamarnya.
"Iya om, tidak apa. Kalian pergilah kerumah sakit, kabari Safa keadaan Davi nanti ya om." jawab Safa.
"Ya sudah om tinggal dulu yah." om Satya dan tante Gina pun pergi menggunakan mobilnya, dan meninggalkan Azura dan juga Safa diruang tamu rumah itu.
Safa membawa Azura untuk duduk di sofa, dan menghabiskan minuman yang sudah dihidangkan, sebelum mereka memutuskan untuk pulang.
"Safa, siapa Davi?" tanya Azura pelan karena pikiran nya terus bertanya-tanya tentang siapa orang yang kecelakaan itu.
Namun Safa tidak menjawabnya, dia berjalan dengan pikiran yang kosong dan tengah memikirkan keadaan Davi.
"Safa..!!" Azura membangunkan Safa dari khayalannya.
"Eh, iya Zura. Kenapa?" tanya nya bingung.
"Davi siapa sih?" dia mengulang kembali pertanyaan nya.
Safa kembali terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Azura, "Davi adalah anaknya om dan tante ku. Tapi, yang membuat aku bingung, kemarin siang tante Gina bilang, kalau Davi masih di Amerika. Kenapa dia bisa mengalami kecelakaan di Indonesia ya? Aneh sekali." ucap Safa sambil memikirkan hal tersebut.
"Sudah lah buat apa kamu pikirkan itu, sebaiknya kamu menyusul om dan tante mu, siapa tau mereka butuh bantuan kamu." ucap Azura.
"Haa, bantuan? Ya elah Zura, kamu fikir om dan tante ku itu tidak punya pesuruh begitu? hmm, mereka pasti tadi membawa pesuruhnya juga Zura..!" jawab Safa jelas.
"Eh iya juga ya, secara mereka kan konglomerat, maaf aku lupa. Terus apa kamu tidak mau menyusul mereka?" tanya Azura kembali.
Safa terdiam sesaat, lalu dia menggeleng kan kepalanya. "Loh kenapa Fa?" tanya Azura lagi.
"Kamu sepertinya belum mengerti juga ya Zura, om dan tante ku itu tidak akan punya waktu melirik ku disaat mereka sibuk. Jadi kalau aku datang saat ini, akan percuma saja." jelas Safa dengan tegas.
"Iya maaf, ya sudahlah, kalau begitu kita pulang saja yuk." ucap Azura.
Safa pun menganggukkan kepalanya, dan mereka berjalan keluar dari rumah Satya. Mereka menunggu taksi di depan rumah itu.
Namun sebelum taksi yang mereka pesan, tiba di rumah itu, Azura menerima panggilan di ponsel nya.
"Tring"
__ADS_1
"Tring"
"Tring"
Azura meraih ponselnya dari tas kecilnya. "Eh nomer tak dikenal, siapa ya." gumam Azura.
"Angkat saja dulu ra, mungkin penting." ucap Safa.
Azura pun mengangguk dan tersenyum pada Safa. Lalu dia menerima panggilan itu. "Halo, siapa ya?" ucapan pertama yang dia tanyakan.
"Permisi, benar ini nomernya mba Azura?" jawab seorang wanita di seberang panggilan itu.
Azura hanya terdiam sejenak, suaranya seperti pertama kali dia dengar. "Iya benar, saya Azura. Ini dengan siapa dan ada perlu apa?" tanya Azura sebaliknya.
"Begini mba, saya suster dari rumah sakit Amirah, saya mau menyampaikan bahwa keluarga dari pasien yang Anda bawa tadi, ingin bertemu. Bisakah anda ke rumah sakit sekarang mba?" ucapan suster membuat Azura mengingat kejadian yang dia alami tadi saat bertemu Safa.
"Bagaimana ini, hari sudah mau gelap. Aku harus segera sholat maghrib. Hmm, apa aku tolak saja ya." Azura pun bingung, dan bergumam dalam hatinya.
"Mba, masih disitu kan?" suara perawat di seberang panggilan pun menyadarkan nya.
"Haa, iya mba saya disini. Maaf sekali mba, saya tidak bisa datang sekarang. Saya masih ada pekerjaan, dan rumah sakit itu sangat jauh dari tempat saya sekarang." jawab Azura memberikan alasan.
"Oh begitu, baiklah mba, akan saya sampaikan kepada keluarga yang bersangkutan. Sekali lagi maaf sudah mengganggu waktunya mba." jawab perawat tersebut, dan kemudian menutup panggilannya sepihak.
"Siapa zura? kenapa kamu menyebutkan rumah sakit?" tanya Safa penasaran.
"Itu, perawat dari rumah sakit tadi. Katanya keluarga pasien yang kita bawa tadi, sudah datang. Dan ingin bertemu denganku." jawab Azura.
"Terus kenapa kamu menolaknya? Bukankah kamu sangat menyukai pria itu...!" ledek Safa sambil mencolek pinggang Azura.
Tidak berapa lama, taksi yang mereka tunggu pun tiba. Mereka bergegas naik dan langsung pulang, kebetulan Safa memilih turun dijalan menuju rumah Azura.
"Terima kasih zura untuk tumpangan nya. Sampai ketemu besok." ucap Safa saat turun dari mobil tersebut.
"Iya fa, maaf ya aku tidak bisa antar kamu sampai rumah." jawab Azura.
"Tidak apa, ya sudah kamu pulang sana." ucap Safa.
Setelah melambaikan tangan, akhirnya Azura meminta supir taksi untuk melanjutkan perjalanannya. Mengantarkan Azura sampai ke rumahnya.
Azura pun tiba dirumahnya tepat sebelum adzan berkumandang. Setelah membayar ongkos taksi, dia pun bergegas masuk kedalam rumahnya. Dia masuk dan membersihkan dirinya sebelum melaksanakan ibadahnya.
Selesai itu, dia pun turun ke lantai bawah dan menghampiri Uminya, Zubaidah. Azura menceritakan tentang apa yang dia alami sore ini.
"Tapi zura tidak apa-apa kan nak?" Zubaidah langsung membolak-balikkan tubuh Azura untuk memeriksanya.
Azura tersenyum melihat sikap panik ibunya itu. "Umi, Azura tidak kenapa napa, Azura yang menyelamatkan, bukan Azura yang diselamatkan loh Umi." jawab Azura sembari tertawa.
"Huff.. Syukurlah, Umi khawatir kalau Zura sampai celaka. Lain kali zura harus hati-hati ya nak." ucap Zubaidah memberikan nasihat padanya.
Azura hanya mengangguk pada ibunya. Lalu dia memeluk ibunya agar lebih tenang.
"Tring.."
__ADS_1
"Tring.."
Ponsel Azura berdering saat dia tengah makan malam bersama Zubaidah dan Rahmat juga Olivia.
"Zura diangkat dulu, siapa tau penting." ucap Rahmat yang melihat ponselnya berdering terus.
"Biarkan saja om, Zura masih makan. Kalau penting pasti akan telepon lagi nanti." jawab Azura yang mengabaikan panggilan tersebut.
Azura melanjutkan makan malamnya hingga selesai. "Umi, Zura balik ke kamar duluan yah, Zura mau nyiapin materi untuk besok." ucap Azura yang lebih dulu selesai makan.
"Materi apa Zura?" tanya Olivia yang penasaran.
"Haa, itu tante, Zura mau cari pekerjaan di sekolah besok." jawab Azura jelas.
"Ya sudah kamu juga istirahat sana, jangan lupa sholat isya sekalian sebelum tidur." timpal Zubaidah.
Azura mengangguk pelan dan tersenyum. Dia melanjutkan langkah kakinya menuju kamarnya.
"Ah, lelahnya hari ini." Azura merebahkan tubuhnya diatas kasurnya.
Belum sempat dia memejamkan mata, tiba-tiba suara ponselnya kembali berdering.
"Tring.."
"Tring.."
Azura pun menoleh dan meraih ponselnya. "Ish siapa sih ini, nomernya tidak aku save. Kalau tidak diangkat pasti akan terus menelpon aku." gumamnya sambil menatap layar ponselnya.
Dia duduk di pinggiran kasur, lalu menggeser layar ponsel tersebut. "Halo.." ucapnya singkat.
"Assalamu'alaikum, benarkah ini nak Azura?" terdengar suara seorang wanita yang menghubungi nya diseberang ponsel.
Azura mencoba menerka suara tersebut, "Maaf, ini siapa?" tanya Azura sebaliknya.
"Saya mamanya Davi, orang yang kamu selamatkan tadi sore, dan kamu bawa ke rumah sakit." ucap wanita itu.
"Deg..." mendadak jantung Azura berdegup kencang, dia bangkit dan berdiri. "Ma-mamanya Davi..??" tanya nya dengan suara terbata.
"Iya nak, apa kamu punya waktu sebentar. Saya ingin bertemu dengan kamu." pinta wanita itu.
"Deg.." lagi-lagi jantung Azura berdegup semakin kencang. "Namanya Davi, seperti nama anak tante dan om nya Safa, apa mungkin, Davi yang sama..?" batin Azura.
"Nak Azura..!!" Wanita itu memanggilnya karena tidak ada jawaban dari Azura.
"Eh iya tante, sebelumnya saya mau tanya, apa benar ini mama nya Davi, tante Gina, dan istrinya om Satya?" tanya Azura yang ingin memastikan sendiri apa yang dia pikirkan.
"Lah, kamu kenal sama tante dan om? apa kita pernah bertemu sebelumnya??" tanya wanita itu balik.
"Astaga, jadi benar.. Kalau pria yang aku selamatkan tadi..."
BERSAMBUNG..
JANGAN LUPA TINGGALKAN PESAN DAN KESAN KALIAN DI KOLOM KOMENTAR YAH..
__ADS_1
TERIMA KASIH