Akibat perceraian!!

Akibat perceraian!!
Kontak batin 2.


__ADS_3

Nuning pun mengangkat tubuh lemah Anggun dengan bantuan orang yang ada di lokasi. Dia membawa Anggun ke rumah sakit dengan menggunakan mobil seorang yang bersedia membantunya.


"Mari buk, biar saya bantu mengantarkan kalian ke rumah sakit." ucap pria paruh baya dengan pakaian santai.


Nuning pun tidak menolak dan langsung membawanya. "Anggun bangun nak, kamu kenapa nak." Nuning terus menepuk pelan pipi Anggun agar dia terbangun.


Sedangkan pria yang membawa mereka terus memperhatikan Nuning dan Anggun di kursi belakang melalui kaca dalam mobilnya. "Gadis ini.. Aku merasa tidak asing untuk ku, tapi dimana ya aku pernah melihatnya." pikiran itu terlintas dalam benak Yusuf.


"Terima kasih pak, biar saya urus sendiri keponakan saya dari sini." ucap Nuning begitu tiba di rumah sakit.


"Baik bu, Sama-sama" jawab Yusuf.


Nuning pun segera memanggil perawat dan memindahkan tubuh Anggun keatas brankar. Lalu perawat membawa nya keruang IGD.


"Aku harus mengabari bu Ipah, dia pasti sangat khawatir." ucap Ipah sembari mengeluarkan ponsel dari dalam tas nya.


" Assalamu'alaikum bu Ipah, saya mau kasih tau ibu kalau tadi Anggun pingsan saat di pasar, jadi saya membawa nya ke rumah sakit Mutiara Bunda." ucap Nuning saat menghubungi ipah.


Setelah mengabarkan hal itu pada Saripah, Nuning pun segera menyusul keruang IGD.


"Dok bagaimana keadaan keponakan saya?" tanya Nuning pada dokter yang baru saja memeriksa Anggun.


"Untuk saat ini hasil pemeriksaan sih tidak ada yang berbahaya bu, tapi untuk memastikan nya, kita harus melakukan CT scan secara keseluruhan. Apalagi kondisi pasien yang lemah dan masih belum sadarkan diri." ucap dokter menjelaskan.


Nuning terlihat diam sejenak mencerna ucapan dokter. "Lalu apa saya bisa melihat keponakan saya dok?" tanya Nuning kembali.


"Sabar ya bu, setelah pasien melakukan CT scan, kami akan langsung memindahkan nya keruang rawat." jawab dokter.


Nuning hanya mengangguk pelan, dokter pun pamit meninggalkan dirinya di depan pintu ruang ICU.


Entah apa yang sebenarnya terjadi hingga Anggun bisa pingsan dan tak sadarkan diri. Namun Nuning sangat merasa bersalah karena dia sudah lalai mengawasi anak itu.


****


Ditempat berbeda, tepat nya di kota Jakarta. Azura tengah mengaji bersama teman-teman nya sore itu di pondok pesantren tempatnya belajar. Namun tiba-tiba saja dia merasa pusing dan sakit di bagian kepalanya, lalu dia pun jatuh pingsan.


"Azura.. Azura.. Umi Azura kenapa Umi..?" Syahnaz sahabat nya Azura pun menjadi panik melihat sahabatnya itu terjatuh tak sadarkan diri di hadapan nya.


"Anak-anak bantu Umi membawa Azura ke dalam kamarnya ya." perintah Umi Asyifa, guru yang tengah mengajar Tahfiz untuk semua muridnya.


Beberapa santriwati pun ikut membantu Syahnaz membawa tubuh Azura yang lemas.

__ADS_1


"Zura, kamu kenapa ra.. Apa karena kamu puasa ya ra?" Syahnaz terus mengoceh karena cemas dengan kondisi sahabatnya tersebut.


Ya kejadian yang sama terulang kembali, jika dulu pada saat kecelakaan yang dialami oleh Azkia dapat dirasakan oleh Azura, maka kali ini pun juga sama. Namun perbedaan nya, dulu Azura belum mengetahui penyebab sakit yang dia alami, tapi kini dia mulai mengerti setiap merasakan sakit yang sama sekali tidak ada obatnya itu.


Zubaidah telah menceritakan segalanya kepada Azura setahun yang lalu. Saat itu Azura yang sehat dan baik-baik saja, tiba-tiba mengalami sakit di bagian kepala nya, namun setelah diperiksa kan berulang kali, tetap saja hasilnya nihil.


"Assalamu'alaikum Umi, saya Umi Asyifa mau mengabarkan bahwa Azura tiba-tiba saja pingsan Umi." Umi Asyifa pun segera mengubungi Zubaidah dan memberitahu kan nya tentang keadaan Azura.


"Baik Umi, saya akan segera kesana." jawab Zubaidah.


Zubaidah pun segera meluncur ke pondok pesantren tempat dimana Azura selama ini mengejar pendidikan nya. Namun sebelum Zubaidah sampai ke rumah sakit, dia menyinggahi klinik dokter pribadi Azura, dan membawanya ikut bersama dengan nya.


"Assalamu'alaikum Umi." Semua santriwati yang mengenal Zubaidah pun langsung menyapa nya dengan lembut.


"Wa'alaikumsalam." jawab Zubaidah sembari melemparkan senyum kecil di bibirnya.


"Umi.. Mari saya antarkan ke kamar Azura." ucap Fatma teman sekamar Azura.


Zubaidah pun mengikuti langkah gadis kecil itu menuju kamar Azura bersama dokter.


"Silahkan dok." ucap Zubaidah begitu mereka tiba di kamar Azura.


Dokter Tania pun langsung memeriksa kondisi Azura. Namun masih tetap sama seperti sebelumnya, Azura dinyatakan normal dan tidak ada tanda fital yang serius.


"Baik dok, tunggu sebentar ya, saya ingin menemani putri saya sampai dia sadar." jawab Zubaidah.


Saat ini, kedua anak Zubaidah tengah tidak sadarkan diri, perbedaan nya hanya satu anak dia bisa dampingi, sedangkan anak lainnya dia pun tidak tau dimana keberadaan nya.


***


"Kamu siapa?? Kenapa wajahmu mirip dengan ku??" Anggun sangat terkejut melihat sosok wanita yang sangat mirip dengan nya tersenyum kearahnya, wajah dan postur tubuhnya sama persis dengan nya. Hanya saja gadis itu mengenakan pakaian Muslimah, sedangkan Anggun sangat urakan dan tomboy.


"Aku adalah kamu." jawab gadis yang sangat mirip dengan nya itu.


"Eh apa-apaan sih ini. Apa aku sedang bermimpi yah?" Anggun menampar kedua pipinya berulang kali, namun dia tetap saja merasakan sakit.


"Kamu jangan bercanda yah, kamu siapa, kenapa wajahmu mirip dengan ku?" tanya Anggun sekali lagi.


Gadis kecil yang memiliki wajah sama dengan nya itu hanya tersenyum. "Aku adalah dirimu Azkia." ucapan gadis itu membuat mata Anggun terbelalak sesaat, lalu dia mengernyitkan dahinya karena bingung.


"Azkia? namaku adalah Anggun bukan Azkia, dan kenapa kamu mengaku sebagai diriku?" Anggun masih saja tidak memahami apa yang terjadi padanya.

__ADS_1


"Azkia, sadarlah. Aku adalah adikmu, saudara kembarmu. Nama mu adalah Azkia, bukan Anggun." wanita itu kembali mengulangi ucapan yang sama, dia terus mengatakan bahwa Anggun adalah Azkia.


"Nama ku Anggun bukan Azkia. Pergi..!!!" Anggun berteriak keras, lalu dia pun tersadar dari tidur panjangnya.


"Loh aku dimana?" Anggun melihat sekelilingnya dan menyadari bahwa dirinya tengah berada di ruangan rumah sakit.


"Eh nona sudah siuman, saya panggil dokter dulu ya." seorang perawat terkejut melihat Anggun yang sudah terduduk diatas ranjangnya.


"Kenapa aku bisa bermimpi seperti itu ya, Azkia. Siapa ya Azkia, kenapa aku merasa tidak asing dengan nama itu ya." Anggun terus bergumam seorang diri sembari mengingat apa yang baru saja dia lihat di dalam mimpinya.


"Maaf dek saya periksa dulu yah." Anggun yang masih terus mengingat mimpinya pun tidak lagi sedar bahwa dokter dan beberapa perawat sudah berada di hadapan nya.


"Dek.. kamu kenapa..?" dokter itu pun menepuk pelan pundak Anggun, dan akhirnya membuat dirinya sadar dari lamunan nya.


"Ehh dok, tidak apa dok, saya hanya lagi memikirkan keadaan ibu saya." jawab Anggun.


"Oh, ibu dan bibimu sejak tadi ada di depan, mereka sangat mencemaskan keadaan kamu." ucap dokter menjelaskan.


"Benarkah dok? Saya ingin bertemu sama mama saya dok." pinta Anggun.


Dokter pun tersenyum padanya. "Iya baik, tapi kamu harus diperiksa dulu yah." jawab dokter sembari memeriksa pupil mata Anggun.


Setelah selesai memeriksa keadaan nya Anggun, dokter pun tersenyum kembali padanya. "Sepertinya tidak ada hal yang mengkhawatirkan, saya permisi yah." ucap dokter yang kemudian berlalu pergi dari hadapan Anggun.


Tak berapa lama, Saripah dan Nuning yang sangat mencemaskan keadaan Anggun pun masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Anggun..Kamu tidak apa-apa kan nak? Masih ada yang sakit?" tanya Saripah dengan sangat cemas dan terus memeriksa tubuh anak nya itu.


"Tidak mommy, Anggun baik-baik aja kok." jawab Anggun.


"Huh syukurlah. Mama sangat khawatir sama kamu nak." ucap Saripah yang merasa sedikit lega mendengar ucapan Anggun.


"Maafin bulek ya nak, ini semua salah bulek karena nggak lalai jagain kamu." ucap Nuning yang manyun dan merasa bersalah.


"Tidak bulek, ini semua kesalahan aku sendiri, seharusnya aku nggak pergi dari sisi bulek, maafin Anggun ya bulek" mendengar ucapan Anggun, Nuning pun tersenyum ceria. Dia bahkan langsung memeluk tubuh Anggun dengan erat.


"Oh ya ma, tadi aku bermimpi melihat seseorang yang sangat mirip dengan ku, dan dia memanggil namaku Azkia. Aneh kan ma, kenapa aku bisa bermimpi hal seperti itu ya." Anggun melepaskan pelukan nya dari Nuning dan langsung menceritakan tentang mimpi yang dia lihat tadi.


Saripah sangat terkejut mendengar ucapan putrinya itu, dia menoleh kearah Nuning yang juga terdiam mendengar ucapan Anggun.


Namun ternyata diamnya Saripah dan Nuning di sadari oleh Anggun yang mulai merasa curiga. "Mama sama bulek ning kenapa?"

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2