
Keesokan harinya.
Azura bersiap untuk pergi ke rumah tante nya Safa. "Umi, Zura pamit ya, ada acara di rumah tante nya Safa." ucap Azura berpamitan sambil mencium pipi Zubaidah.
"Lah, padahal Umi sudah masak makanan kesukaan kamu lah Zura. Memang ada acara apaan sih?" tanya Zubaidah yang merasa tak rela putrinya akan pergi.
"Maaf ya, Umi. Zura diundang makan siang di rumah tantenya, Safa." jawab Azura dengan wajah penyesalan.
"Hmm, ya sudahlah, mau gimana lagi. Tapi kamu hati-hati dijalan ya, nak." pesan Zubaidah sebelum mengizinkan Azura untuk pergi.
"Iya, Umi. Terima kasih, Umi. Assalamu'alaikum." ucap Azura yang kemudian berhambur pergi keluar rumahnya.
Ternyata, Safa sudah menjemputnya di depan gerbang rumahnya. "Lah kebetulan sekali, Safa. Aku baru saja mau ke rumah kamu." ucap Azura.
"Ya sudah sekalian saja, ayo kita berangkat." jawabnya.
Kemudian Azura dan Safa pun pergi bersama, menuju rumahnya Gina dan Satya. Sepanjang jalan mereka mengobrol masalah pekerjaan, dan beberapa teman mereka saat masih di pesantren.
"Oh ya Zura, kamu ingat kan sama si Mikhayla?" tanya Safa saat mereka tengah berbincang.
"Iya, kenapa dengannya?" tanya Azura balik.
"Tadi malam, aku tuh kan iseng buka sosmed, terus aku lihat postingannya. Dia mau menikah bulan depan. Katanya dia juga mau mengundang semua alumni santri dari pondok." jelas Safa.
"Benarkah?" Azura sedikit terkejut.
"Iya, yang lebih mengagetkan lagi, calon suaminya ternyata seorang duda, sudah berumur 47 tahun."
"Haa?? Masa sih dia mau menikah sama pria yang jauh lebih tua darinya?" tanya Azura yang semakin terkejut.
"Nah, aku sendiri juga merasa nggak percaya sih. Tapi itulah yang aku lihat, perbedaan mereka 22 tahun. Secara kan si Mikha masih 19 tahun." lanjut Safa.
"Ya sudah lah, mungkin memang sudah takdirnya, bertemu jodoh seperti itu. Sudah jangan ghibah lagi, Safa. Aku nggak mau menyumbangkan pahala ku untuknya."
Safa tertawa mendengar ucapan Azura, dan Azura pun akhirnya ikut tertawa juga. Tanpa terasa perjalanan mereka pun tiba di rumah yang dituju.
"Assalamu'alaikum." ucap Azura dan Safa saat memasuki rumah tantenya.
"Wa'alaikumsalam, eh neng Safa sudah datang. Masuk neng." sahut mbok Yuyun.
Azura dan Safa pun berjalan masuk ke ruang tamu rumah itu. Tak berapa lama, tante nya Safa, Gina, datang menghampiri mereka.
__ADS_1
"Safa, Azura ... Tante kira kalian tidak akan datang." sapa tante Gina.
"Datang dong, Tan, kan sudah janji Azura sama Tante." jawab Safa sambil melemparkan senyuman.
"Yah siapa tau kalian sibuk."
"Mana mungkin kami ingkar, Tante." timpal Azura.
Tante Gina berpindah tempat duduk ke dekat Azura. "Oh iya, Tante mau ucapin terima kasih sama kak Azura, nih." Tante Gina langsung meraih tangan Azura dan menggenggamnya.
Azura sedikit gugup mendapatkan perlakuan yang lembut dari Gina. "Hanya kebetulan saja, Tante." jawabnya sedikit malu.
"Hmm, Tante sudah dengar dari Davi. Itu anak memang begitu, selalu ugal-ugalan kalau bawa mobil. Susah diaturnya." jelas Gina.
Azura semakin bingung untuk menjawab ucapan Gina, "Eh, iya, Tan." Dia menoleh pada Safa, dan Safa hanya menaikkan kedua bahunya pada Azura. "Tapi keadaan, Davi, baik-baik saja kan, Tan?" lanjut Azura.
Gina melepaskan genggaman tangannya, dari Azura, lalu dia mengusap wajahnya dengan tangannya. "Davi sudah kembali 3 hari yang lalu ke Indonesia, tapi itu anak, bukannya langsung pulang ke rumah, dia malah pergi clubbing dengan teman nya. Dan pada saat bertemu kamu kemarin, dia habis minum, dan mabuk. Makanya sampai kecelakaan begitu. Syukur nya, kamu menyelamatkan nya, kalau saja sore itu tidak bertemu nak Azura, mungkin dia bisa mengalami kecelakaan yang lebih buruk." Gina pun mengeluarkan uneg-uneg di hatinya.
Azura langsung mengambil tangan Gina dan menggenggam nya, "Tante, yang sabar yah. Insyaallah, Davi akan berubah dengan sendirinya nanti, saat ini mungkin Davi sedang tersesat dan salah mengambil jalannya." ucapan Azura membuat Gina tersenyum tipis.
"Wah ternyata ada ustadzah disini." Tiba-tiba suara seorang pemuda terdengar mendekati mereka yang tengah mengobrol.
Safa dan Azura menoleh kearah asal suara tersebut. "Eh, Davi." Safa segera melompat dan langsung memeluk Davi.
"Hehe, iya maaf, aku reflek melihat Davi. Maklum lah, kamu sudah lama tidak bertemu." jawab Safa cengengesan. Azura hanya bisa menggeleng mendengar ucapan sahabat nya itu.
"Hai, Dav, apa kabar kamu?" tanya Safa.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik, dan aku sangat tampan." jawab Davi dengan percaya diri dan tersenyum lebar pada Safa.
"Oh, tampan ya ... Tapi masih lebih tampan om Papa kamu ini loh." Satya menyela perbincangan Davi dan Safa.
"Ih, Papa. Jelas lebih tampan aku lah dari pada, Papa." Davi pun tidak ingin kalah saing dari papanya itu.
"Sudah, sudah. Sebaiknya, kita makan saja yuk. Mbok Yuyun sudah masak menu special untuk kalian." sela Gina menengahi perdebatan ayah dan anak itu.
"Eh, ini temannya Safa kemarin kan?" tanya Satya sebelum berjalan ke ruang makan.
"Iya, Pa. Nanti di meja makan, Mama jelasin." ucap Gina sambil menggandeng lengan Satya, dan mengajak Davi dan yang lain ikut menuju ruang makan. Azura dan Safa pun tidak lagi bicara, mereka mengikuti langkah Gina dan Satya.
Di Kota lain, tepatnya kota tempat tinggalnya Azkia, dia sedang mengalami masalah. Azkia yang setiap harinya terus bermain dengan teman-temannya, pergi ke salah satu Mall.
__ADS_1
"Yeay aku menang lagi." teriak Azkia dengan senang saat bermain game di pusat permainan.
"Ah kamu pasti curang kan?" ucap Dimas teman Azkia yang merasa kesal karena selalu kalah darinya.
"Lah, kamu kalah kenapa malah nyalahin aku sih." Azkia pun tidak mau disalahkan.
"Sudahlah pulang yuk, aku lapar nih." ucap Dimas yang kemudian meninggalkan Azkia.
"Eh, Dimas, tunggu dong!" teriak Azkia.
Melihat Dimas yang tidak menghiraukan dirinya, dan terus berjalan, akhirnya Azkia pun berhenti bermain, dan segera mengejar Dimas.
Namun saat menuruni eskalator, Azkia yang berlari, malah menabrak seorang pria yang tengah bermain ponsel. Karena kecerobohan Azkia ponsel pria itu jatuh dan pecah.
"Brukk ..."
"Hei ...!!" teriak pria itu dengan emosi.
Azkia menoleh dengan tatapan menyala. "Apa?" ucapnya dengan menantang.
"Lihat ponselku!!" pria itu mengambil ponselnya di anak tangga eskalator yang masih terus berjalan.
"Makanya main ponsel jangan sambil berjalan!!" jawab Azkia tanpa rasa bersalah.
"Kamu yang salah kenapa malah ..."
Saat pria itu ingin memarahi Azkia, ternyata mereka sudah berada di ujung anak tangga eskalator, karena sibuk bertengkar mereka tidak memperhatikan nya. Dan nyaris saja, Azkia jatuh.
Namun dengan sigap pria itu menangkap tubuh Azkia, dan memeluknya. Seperti di drama Korea, Azkia dan pria itu saling bertatapan saat tubuh mereka begitu dekat.
"Lepas!! Dasar pria aneh, mesum!!" ucap Azkia saat melepaskan tubuhnya dari pria itu, tanpa meminta maaf atau berterima kasih, Azkia meninggalkan pria itu dan berlalu pergi.
"Dasar wanita aneh." ucap pria itu sambil memandangi punggung Azkia.
Lalu setelah Azkia menghilang dari pandangan matanya, dia baru mengingat bahwa ponselnya rusak karena Azkia.
"Astaga, aku sampai lupa meminta ganti rugi." ucapnya yang kemudian berlari mengejar Azkia. Namun tentu saja wanita itu sudah tak terlihat lagi. "Ah, sial." ucapnya kesal.
BERSAMBUNG ...
JANGAN LUPA TINGGALKAN PESAN DAN KESAN KALIAN DI KOLOM KOMENTAR YAH..
__ADS_1
TERIMA KASIH..