Akibat perceraian!!

Akibat perceraian!!
Bermimpi Azkia lagi.


__ADS_3

"Nak, Azura. Apa kamu masih disitu?" suara tante Gina menyadarkan lamunan ku.


"Eh iya tante, ini saya Azura. Tadi kita bertemu di rumahnya tante, saya temannya Safa, tan." jawab Azura sedikit gugup.


"Lah, jadi kamu gadis yang ke rumah sore tadi ya. Hmm, kalau begitu besok siang kamu dan Safa ke rumah Tante yah. Tante mau bicara sama kamu, sekalian makan siang bareng." pintanya.


Azura sedikit bingung menerima undangan dari tante Gina, "Baiklah, tante. Saya akan ke rumah, tante, besok siang." jawab Azura menyetujui nya.


"Tante tunggu di rumah ya, Zura." pintanya mengulang kembali.


"Iya, Tante." jawab Azura singkat.


Gina menutup panggilannya dengan senang hati. Lalu dia kembali kedalam ruang rapatnya Davi. "Pa, Papa. Kamu tau tidak, Pa, siapa gadis yang di bilang suster sudah menyelamatkan nyawa, Davi?"


Satya yang sedang memberikan buah untuk Davi, hanya menatap wajah Gina dengan menyipitkan matanya, "Memangnya siapa gadis itu, Ma?" tanya Satya penasaran.


"Eum, siapa, Ma? cantik tidak, Ma?" timpal Davi.


Gina yang tadi sangat bersemangat ingin menceritakan tentang Azura, mendadak diam dan berfikir, "Ah, besok saja aku beritahu mereka langsung, saat bertemu, Azura. Biar jadi kejutan, Azura juga cantik, jadi pasti serasi sama, Davi." batin Gina.


Melihat Gina yang diam dengan bola mata yang terus berputar ke kanan dan kiri, membuat Satya dan Davi saling menoleh. "Kamu kenapa, Ma?" tanya Satya. Namun sepertinya Gina masih hanyut dalam khayalannya.


"Ma ... Lagi mikirin apaan sih, Ma?" tanya, Davi.


Gina pun kaget mendengar suara, Davi. "Haa, Iya kenapa, Nak?" Gina malah bertanya balik pada Davi.


"Mama lagi mikirin apaan?" tanya Davi dengan nada berat.


"Itu, hmm ... Sudah lah lupakan saja." Sikap Gina membuat Satya dan Davi saling menoleh kembali, dan mereka mendongakkan kepala mereka bersama, dan sama-sama pula mengangkat bahu mereka.


"Ma, tadi Mama bilang gadis yang sudah menyelamatkan, Davi. Siapa, Ma?" tanya Satya kembali ke topik sebelumnya.


"Haa, Mama lupa, Pa. Tadi sih kata susternya, cewek cantik, Pa. Tapi mama belum ketemu juga." jawab Gina membohongi Satya.


"Hmm, begitu. Ya sudah kalau begitu, apa Mama sudah menyelesaikan pembayaran untuk perawatan, Davi?" tanya Satya.


"Sudah, Pa. Ayo kita pulang." ajak Gina sambil memegangi lengan Davi agar mudah berjalan.

__ADS_1


"Safa, kamu pernah bertemu, Davi, anaknya om Satya dan tante Gina, tidak?" tanya Azura saat menghubungi Safa dari ponselnya.


"Sejak dia ke Amerika, aku sih belum pernah ketemu. Memangnya kenapa, Zura?"


Azura sempat tidak bersuara beberapa detik, "Oh pantas saja kamu tidak mengenali nya tadi." ucapan Azura membuat Safa bingung.


"Maksudnya kamu, Zura?"


"Davi itu adalah pria yang kita selamatkan tadi sore loh, Safa!" jawab Azura dengan tegas.


Safa terkejut mendengarnya, dia bahkan sampai bangkit dari duduknya. "Haa?? Seriusan kamu, Zura?" Safa pun masih tidak percaya, "Kamu tau dari mana, Zura?" lanjutnya lagi.


"Tadi itu, Tante Gina menghubungi aku. Nah, awalnya aku juga tidak mengenali suaranya. Setelah dia mengatakan bahwa dia adalah ibunya Davi, barulah aku menyadarinya." jelas Azura.


"Oh, pantas saja waktu kecelakaan dan informasi Davi kecelakaan bisa pas begitu ya." Safa pun akhirnya mengerti.


Azura pun menjelaskan undangan yang diberikan oleh Tante Gina untuk mereka berdua. Mereka sepakat, akan pergi besok siang untuk memenuhi undangan makan siang tersebut.


"Ya sudah, aku tutup ya, aku mau tidur. Ngantuk nih." Azura mengakhiri panggilannya, dan bergegas tidur.


Dalam tidurnya, Azura melihat Azkia kembali. Setelah beberapa bulan dia tidak mendapatkan mimpi tentang Azkia, malam ini dia melihatnya kembali.


"Kia, kenapa Kia nangis?"


"Aku kangen sama Mama dan Papa ... Huhuhu ..."


"Kamu tenang ya, Kia. Begitu aku mendapatkan pekerjaan, aku akan segera mencari kamu."


"Tapi ... Bagaimana caranya kamu menemukan aku, sekarang aku sakit, aku harus di operasi karena ada radang usus."


"Astaghfirullah, tapi kamu sudah baik-baik saja kan, Azkia?"


"Huhuhu ... Mama ... Papa ..."


"Jangan menangis lagi, Azkia."


"Permisi, mba, kami harus membawa pasien ke ruang operasi, sekarang." seorang perawat pun menyela perbincangan Azura dan Azkia.

__ADS_1


"Azkia, kamu harus kuat. Aku ada disini bersama kamu."


"Mama ... Papa ..." Azkia tidak bicara lain selain menangis dan menyerukan Mama dan Papa.


Setelah 3 jam menunggu, dokter yang melakukan operasi usus nya Azki pun keluar. "Keluarga Azkia!!" panggilnya.


Azura menghampiri dokter, "Iya, dok. Saya adiknya." jawab Azura.


"Mba, saya mohon tegarkan hati anda, kami sudah berupaya semaksimal mungkin, tapi takdir Tuhan yang berkuasa. Kami gagal menyelamatkan nyawa, Azkia, mba."


Ucapan dokter membuat Azura kalut dan panik. Azura tak kuasa menahan air matanya, dia tidak mengira pertemuannya dengan Azkia, akan berakhir seperti ini. "Azkia...!!!!" Azura berteriak sekerasnya, hingga membuat Zubaidah dan yang lain terbangun.


"Azura ... Azura, bangun, nak." Zubaidah pun berusaha membangunkan Azura yang tertidur, sambil menampar pelan kedua pipinya.


"Ma, Azkia, Ma ... Azkia ..." Azura pun menangis setelah terbangun, dan memeluk Zubaidah.


Zubaidah merasa bingung, dia menoleh dan menatap adiknya, Rahmat. Adiknya hanya mengedipkan mata, dan mengangguk. Bermaksud agar Zubaidah tetap tenang.


"Zura sayang, kamu hanya bermimpi, nak. Jangan takut yah, Azkia pasti baik-baik saja, mungkin dia sedang merindukan kita, nak." Zubaidah pun berusaha membuat Azura merasa tenang.


"Tapi, Ma. Azkia sakit, dia butuh aku, Ma." Azura yang masih menangis pun menyeka air matanya di pipi. Dia bangun, dan masuk ke dalam kamar mandi.


"Mba, Mba juga harus tenang ya. Jangan berfikir mimpi Azura itu ada arti yang buruk." Rahmat pun mulai menyadari kegelisahan di wajah Zubaidah.


Zubaidah hanya bisa diam, menahan air matanya. Walaupun dia sangat mencemaskan keadaan anaknya, yang sudah lama terpisah darinya, tetap saja dia harus memikirkan keadaan Azura.


Setelah beberapa menit di kamar mandi, Azura pun keluar dan langsung mengambil perlengkapan sholatnya. "Ma, Zura mau sholat tahajjud dulu."


Melihat sikap Azura yang sudah tenang, Zubaidah mengajak adiknya, Rahmat dan Olivia keluar dari kamar Azura. "Mama kembali ke kamar ya, nak. Kalau kamu butuh sesuatu, panggil saja Mama dikamar ya." ucap Zubaidah sesaat sebelum keluar meninggalkan kamar Azura.


"Iya, Ma." jawabnya singkat.


Setelah semua orang keluar, Azura pun langsung menyelesaikan kewajiban nya. "Ya Allah, Ya Tuhan ku, sejak kecil Engkau pisahkan hamba dengan saudari hamba, hamba mohon lindungilah Azkia. Jagalah ia selalu, dan tetap permintaan hamba seperti hari lainnya, mohon pertemukan hamba dengan Azkia, ya Rabb." pintanya Azura dalam do'a setelah sujud terakhir nya.


Selesai melaksanakan sholat tahajjud, Azura kembali merebahkan tubuhnya, dan tertidur.


BERSAMBUNG..

__ADS_1


TINGGALKAN PESAN DAN KESAN KALIAN DIKOLOM KOMENTAR YA.


TERIMA KASIH..


__ADS_2