
5 tahun kemudian...
Sejak kejadian itu, Sulaiman hanya terus minum-minum tanpa sibuk bekerja. Semua usahanya, dia serahkan pada Yusuf.
"Mas.. Ke rumah sakit sekarang!" Yusuf menghubungi Sulaiman dengan ponselnya.
"Ada apa suf" tanya Sulaiman dengan nada berat, karena dirinya tengah mabuk.
"Heny mas.. Dokter baru saja mengatakan Heny sudah siuman." jawab Yusuf.
Sejak kecelakaan, Heny dinyatakan koma, Yusuf tidak berhenti berusaha dan berharap agar Heny bisa sadar dari komanya.
"Haa? Kamu serius suf. Baik aku akan segera ke rumah sakit" Sulaiman seketika tersadar dari mabuk nya.
Sulaiman pun langsung masuk ke toilet, dan mencuci muka nya agar rasa mabuk nya benar-benar hilang. Syukur lah akhirnya Heny sadar juga, hanya keterangan Heny saja yang bisa membantu nya menemukan Azkia. Dia pun bergegas menuju rumah sakit, tempat dimana Heny selama ini dirawat.
"Suf.. Yusuf.. bagaimana Heny?" tanya Sulaiman begitu tiba di rumah sakit.
"Dokter bilang sedang melakukan observasi secara menyeluruh pada Heny mas, sebentar lagi selesai." jelas Yusuf.
Mereka berdua sudah tidak sabar ingin melihat dan bertemu dengan Heny. "Pak, silahkan masuk" seorang perawat keluar dari ruang rawat Heny, dan mempersilahkan Sulaiman dan Yusuf untuk masuk.
Tanpa menunda nya lagi mereka pun masuk secara bersamaan.
"Heny.. bagaimana keadaan kamu Hen?" tanya Sulaiman begitu masuk dan menghampiri Heny.
"Semua sudah kami periksa, dan keadaan bu Heny sudah normal dan pulih secara keseluruhan pak" ucap dokter yang berada di sebelah ranjang Heny.
"Mas.. Azkia dimana? kenapa kamu tidak membawanya bersama mu?" hal pertama yang Heny tanyakan adalah keponakan nya itu.
Sulaiman menoleh pada Yusuf yang berdiri tepat disebelah nya. Sulaiman menatap Heny kembali dan menggeleng kan kepala nya.
"Apa maksud kamu mas. Mas Yusuf?" Heny menoleh pada Yusuf dan menaikkan alis nya dengan maksud bertanya kepada Yusuf.
Yusuf hanya bisa menghela nafas dan ikut menggeleng kan kepala nya juga.
"Pak saya permisi dulu" ucap dokter berpamitan.
__ADS_1
Sulaiman hanya mengangguk dan tersenyum pada dokter.
"Mas Sul, Mas Yusuf.. Ada apa.. Kenapa tidak ada yang menjawab ku? Dimana Azkia?" Heny mengulang kembali pertanyaan nya.
Yusuf berjalan memutar dan berdiri di seberang Sulaiman, dia memegang tangan Heny. "Azkia hilang saat kecelakaan itu Hen" ucap Yusuf menjelaskan.
Heny mencoba mengingat kejadian kecelakaan 5 tahun yang lalu. Dia masih ingat jelas sebelum menutup mata nya dan akhirnya koma. "Aku hanya ingat hari itu, Azkia terlempar dari kaca depan mobilku dan terpental jatuh ke semak. Apa kalian sudah mencarinya?" tanya Heny.
"Sudah Hen, kami dan pihak kepolisian sudah menyusuri pinggiran sungai, tapi tidak menemukan jejak Azkia sama sekali." jawab Yusuf kembali menjelaskan.
"Aku ingin pulang sekarang mas..!" pinta Heny dengan memaksa.
"Iya iya kita pulang sekarang, aku akan urus semuanya dulu yah, kamu tunggu disini." jawab Yusuf.
Yusuf pun keluar dari ruangan itu meninggalkan Heny dan Sulaiman di dalam ruangan hanya berdua saja.
"Apa kamu sudah menyelidiki penyebab kecelakaan itu mas..?" tanya Heny.
Sulaiman hanya terdiam sesaat, tentu saja dia tau penyebab kecelakaan yang merenggut putrinya. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apapun. Dia hanya mengusir Yulia dalam kehidupan nya. "Sudah, tapi penyebab nya memang kecelakaan murni, kamu hilang kendali saat itu." mendengar ucapan Sulaiman, Heny mengernyitkan dahinya.
Heny masih ingat semua kejadian jelas di benaknya, seakan itu baru saja terjadi kemarin. "Tidak mas, mobilku di sabotase, aku ingat rem mobilku tiba-tiba saja blong, dan aku terpaksa banting setir untuk menghindari kecelakaan lainnya" ucapan Heny membuat mata Sulaiman terbelalak.
Sulaiman hanya bisa diam, dan berpura tidak mengetahui apapun. "Tapi pihak kepolisian sudah menyelidiki nya Hen, tidak ada masalah di rem nya, jadi tidak mungkin ada yang sabotase" ucap Sulaiman menutupi kesalahan Yulia.
Heny termenung dan kembali mengingat kejadian itu. Di benaknya, dia tidak salah ingat. Rem mobil itu memang blong, dan akhirnya dia lepas kendali lalu akhirnya banting setir. Tapi kenapa mas Sulaiman mengatakan semuanya normal ya. Aneh sih, tapi dia sendiri sudah cukup lama tidak sadarkan diri.
"Aku sudah mengurus semuanya, kita bisa pulang sekarang" Yusuf baru saja masuk dan langsung mengajak Heny untuk bangun dan berdiri.
Tapi karena tubuh Heny sudah cukup lama terbaring, kaki nya menjadi berat dan kaku. Dia tidak bisa berjalan secara normal beberapa saat. Yusuf segera mengambil kursi roda, dan memindahkan tubuh Heny diatasnya.
Heny pun dibawa keluar dari rumah sakit. Mereka sempat berhenti untuk melihat lokasi kejadian itu sesuai keinginan Heny sebelum pulang.
"Aku sangat ingat, Azkia jatuh disini mas, sebelum aku akhirnya tidak sadar" ucap Heny menunjukkan lokasi terakhir yang dapat dia lihat sebelum kehilangan kesadaran nya.
"Sudah lah Hen, sebaiknya kita pulang dulu. Kamu masih butuh banyak istirahat sampai tubuhmu bisa kuat untuk berjalan lagi. Kita akan cari Azkia nanti." ucap Yusuf sembari menjaga Heny yang duduk di kursi roda.
"Hum ayo kita pulang, aku ingin mandi dan mengaji" jawab Heny.
__ADS_1
Yusuf pun mendorong kursi roda itu dan membantu Heny masuk dalam mobilnya. Mereka pun melanjutkan perjalanan pulang ke rumah Sulaiman.
"Apa mba Zubaidah sudah diberitahu kalau Azkia hilang dalam kecelakaan itu mas?" tanya Heny saat dijalan.
"Tidak" jawab Sulaiman singkat tanpa menoleh padanya.
"Kamu gila ya mas, mba Zubaidah itu ibu kandung nya. Dia berhak tau apa yang terjadi pada Azkia mas." Heny pun menjadi emosi mendengar ucapan Sulaiman itu.
"Sudah lah Hen, sekarang kamu fokus untuk kesehatan kamu dulu, setelah itu aku akan mengajak kamu ke Jakarta dan bertemu mba Zubaidah. Biar kita saja yang memberitahu kan segala kejadian nya pada Zubaidah." timpal Yusuf.
Sulaiman tidak bergeming sedikit pun, dia hanya diam menatap arah luar dari jendela pintu mobil. Entah apa yang tengah di pikir kan oleh pria 43 tahun itu saat ini. Heny hanya mengamati diam kakaknya itu dengan sangat tajam.
Sesampainya di rumah, Sulaiman langsung masuk dalam kamarnya tanpa bicara.
"Alhamdulillah akhirnya non Heny sudah pulang." ucap bik karsih pembantu yang setia membantu Sulaiman selama ini.
"Iya bik, makasih ya sudah mengurus rumah ini dan mas Sulaiman" jawab Heny sembari tersenyum.
Karsih pun membantu Yusuf membawa barang-barang milik Heny. Yusuf sengaja menempatkan Heny dikamar bawah, agar dia tidak bersusah payah untuk menaiki tangga.
"Kamu istirahat ya, kalau mau mandi kamu minta bik karsih untuk membantumu. Aku harus keluar sebentar, ada urusan yang harus aku kerjakan" ucap Yusuf setelah mengantarkan Heny kedalam kamarnya.
"Iya mas, kamu hati-hati ya dijalan" jawab Heny.
Yusuf pun pergi dan berlalu dari hadapan Heny.
"Bik bantu aku ke kamar mandi." perintah Heny pada bik Karsih.
Bik Karsih pun sigap membantu Heny untuk bangkit dan menopang tubuh nya, lalu membawa Heny masuk kedalam kamar mandi.
"Makasih ya bik, bibi boleh keluar, nanti kalau sudah selesai saya akan panggil bibi" ucap Heny.
"Baik non" Karsih pun meninggalkan Heny di dalam bathtub kamar mandi itu.
Selama di kamar mandi, Heny masih saja terus memikirkan keberadaan Azkia saat ini.
BERSAMBUNG..
__ADS_1
TERIMA KASIH..