Akibat perceraian!!

Akibat perceraian!!
Anggun pingsan.


__ADS_3

"Satu.. Dua.. Tiga.. Empat.. Lima.. Udah belum?? Aku buka mata nih ya.." Seorang anak tengah bermain di lapangan bola.


"Kemana yah mereka perginya..." ucap anak kecil itu.


"Deby.. Niko.. Sarah.. hmm tinggal kak Anggun nih, dimana ya kak Anggun.." mereka tengah bermain petak umpet. Beberapa anak kecil berusia 4 sampai 7 tahunan sedang main di sana. Dan hanya satu anak remaja yang masih ikut main petak umpet itu bersama anak kecil.


"Nah itu kak Anggun.. yee kak Anggun kena.." Anak-anak yang bermain bersama Anggun selalu merasa bahagia dan ceria.


"Ahh kak Anggun kena lagi ya.. hahaha.." Anggun tertawa lebar.


Usia nya sudah memasuki 11 tahun, tapi tingkah nya masih seperti anak usia 5 tahun. Saripah tidak pernah mendidiknya secara berlebihan, namun tidak juga melepaskan tanggung jawab nya. Dia menyekolahkan Anggun dengan sekolah yang bagus, dan memiliki pendidikan agama yang bagus. Namun tetap saja tingkah Anggun seperti anak laki-laki.


Dia selalu menggunakan pakaian seperti anak laki-laki, tidak seperti anak perempuan pada umumnya. Namun Saripah tidak pernah memaksanya, karena baginya Anggun suatu saat akan berubah dengan sendirinya.


"Anggun.. sudah pulang yuk nak, makan dan sholat dulu." teriak Nuning.


"Iya bulek.." jawab Anggun setengah berteriak juga.


"Anak-anak, kak Anggun pulang yah.. Kalian jangan main jauh-jauh ya." Ucap Anggun yang selalu mengingatkan semua anak untuk tidak main jauh, seperti peringatan dari Ipah padanya selalu.


Setelah itu Anggun pun pulang ke rumah nya bersama Nuning. Rumah mereka tidak terlalu jauh dari lapangan bola tadi. Sejak mereka menemukan Anggun ditepi sungai 5 tahun yang lalu, Saripah menjual klinik dan rumah nya. Lalu dia membawa Nuning dan Anggun pindah ke rumah baru.


Masih di daerah Medan, tapi cukup jauh untuk di curigai orang kalau Anggun bukan lah anak Saripah.


"Assalamu'alaikum mam.." Anggun selalu bersikap pasaran. Cara bicara dan pakaian nya benar-benar seperti anak lelaki.


"Wa'alaikumsalam, nak ... Sana mandi terus sholat dzuhur dan makan ya." Saripah memberi perintah.


"Siap mommy" jawab Anggun sembari mengacungkan jari jempol nya.


Saripah kini tidak lagi membuka klinik, dia hanya membuka toko obat dan menerima pasien rawat jalan saja. Namun pendapatan nya masih cukup untuk menafkahi Anggun.


Sedangkan Nuning bekerja di Laundry yang tak jauh dari rumah Saripah. Dia pergi pagi dan pulang sore. Dari penghasilan Nuning dapat membantu mereka untuk menyekolahkan dan memenuhi kebutuhan Anggun lainnya.


"Mom, besok Anggun ada ujian kan, jadi mommy siapin makanan seperti biasanya ya." pinta Anggun sembari menaikkan alis nya dan tersenyum.


"Hum.. Kalau ada maunya yah ini anak.." ledek Saripah.


Anggun selalu dimanja dengan kasih sayang dari Saripah dan juga Nuning. Dia tidak pernah kekurangan setiap menginginkan sesuatu yang dia butuhkan.


"Ning.. Ayo kita makan bersama." ajak Saripah.


Nuning pun ikut bergabung bersama mereka di meja makan.


"Oh iya mom, Anggun mau cerita deh mom." ucap Anggun di sela makan siang mereka.

__ADS_1


"Cerita apa nak?" tanya Saripah.


"Gini loh mom, kan dari jauh hari bu Guru udah bilang kalau sebelum ujian akhir, wajib bayar semua biaya administrasi dan perpisahan mom. Nah jadi tuh ada satu murid di kelas Anggun, papanya baru aja meninggal bulan lalu, terus ibunya juga udah nggak ada mom. Kasihan mom dia jadi nggak bisa ikut ujian." Cerita Anggun.


"Astaga.. Apa tidak ada keringanan kah dari pihak sekolah?" tanya Saripah yang sedikit prihatin dengan teman sekelas Anggun.


Anggun hanya menggeleng kan kepalanya sambil mengunyah makanan dalam mulutnya.


"Coba kamu ajak teman-teman kamu sekelas untuk saling membantu, biar dia bisa ikut ujian. Kasihan loh tinggal ujian akhir begini, masa dia harus putus sekolah." timpal Nuning di sela makan nya juga.


"Yoa ito dioa bolek" jawab Anggun sembari mengunyah makanan nya, hingga suaranya pun tidak terdengar jelas.


"Sudah habis kan makanan nya dulu, nanti kita bicarakan." ucap Saripah menyudahi obrolan saat tengah makan mereka.


Selesai makan, Nuning pun membersihkan semua piring kotor dan sisa makanan diatas meja dibantu oleh Anggun. Sementara Saripah tengah melayani pembeli. Kebetulan Saripah juga membuka toko obat di bagian depan rumah nya. Jadi tidak terlalu repot untuk pulang kerumahnya.


"Ning.. Sudah selesai kamu beberes?" tanya Saripah.


"Sudah buk. Kenapa buk?" tanya Nuning sebaliknya.


"Ini stok obat ada yang kurang, kalau kamu sudah nggak repot kamu belanja ya ning." jawab Saripah.


"Baik buk, ibu catatkan saja apa yang harus saya beli." ucap Nuning.


"Bulek, Anggun boleh ikut?" tanya Anggun.


Nuning mengernyitkan dahinya, tidak seperti biasanya Anggun bersemangat untuk ikut belanja seperti ini. "Tanya Mommy mu dulu sana." jawab Nuning.


Anggun pun berbalik badan dan menghampiri ibunya yang tengah menulis beberapa bahan obat yang telah habis dan harus dibeli.


"Mom, aku boleh ikut bulek Ning ya belanja." ucap Anggun dengan bergelayut di lengan Saripah.


Saripah menghentikan gerakan tangan nya yang sedang menulis, dan mendongak menoleh pada Anggun. "Tumben kamu mau nemenin bulek mu? Apa yang mau kamu cari di sana ha?" tanya Saripah sambil membelalakkan kedua matanya.


"Hehe.. anu mom.. boleh ya.." Anggun pun merengek bak anak kecil.


"Hmm.. Boleh nggak ya..?? Oke boleh, tapi ada syaratnya." ucap Saripah.


"Ishh mommy.. Kenapa harus pakai syarat segala sih Mom?" Anggun pun mulai cemberut mendengar ada persyaratan.


"Ya kalau mau ikut, ya harus setuju dulu." ujar Saripah.


Dengan memasang wajah malas, dan kesal akhirnya Anggun mengangguk menyetujui. "Syarat nya apa Mom?" tanya Anggun.


"Kamu harus bawa semua barang belanjaan bulek mu, dan kamu nggak boleh jauh dari bulek, bisa?" ucap Saripah menanyakan kepastian pada Anggun.

__ADS_1


"Yahh cuma itu doang mah bisa banget Mom." jawab Anggun sembari tersenyum dan melingkar kan tangan nya di leher Saripah.


"Ning.. Ini catatan nya, nanti kamu suruh dia yang bawa semua belanjaan nya ning. Jangan sampai kamu kehilangan dia di pasar Ning." ucap Saripah yang terus mengingat kan Nuning.


"Baik buk."


Nuning pun pergi bersama Anggun menggunakan sepeda motor. Sesampainya di pasar, Anggun terus mencari kesempatan saat Nuning lengah.


"Kamu mau kemana Anggun? Jangan coba-coba berfikir untuk kabur ya." tegas Nuning yang menyadari kalau Anggun ingin lari dari sisinya.


"Ih apaan sih bulek, Anggun nggak mau kemana-mana bulek." Jawab Anggun yang memberikan alasan.


Namun pada saat Nuning fokus belanja, Anggun benar-benar sudah melarikan diri entah kemana. Nuning pun panik mencarinya setelah menyelesaikan pembayaran.


"Anggun..Anggun.." Nuning berteriak di dalam keramaian pasar.


"Cari siapa buk?" tanya salah seorang penjual.


"Anak perempuan tinggi nya segini, rambutnya panjang segini, dan kulitnya putih. Tadi pakai baju kaos garis-garis berwarna biru dan celana ponggol." jawab Nuning menjelaskan secara rinci ciri-ciri Anggun.


"Ohhh tadi kalau tidak salah lihat kearah sana buk." ucap pedagang lain yang melihat Anggun.


Nuning menoleh kearah yang dimaksud. "Terima kasih ya buk." jawab nuning sebelum pergi dari hadapan penjual itu.


Nuning pun berjalan menyusuri pasar, namun dia tidak melihat tanda-tanda keberadaan Anggun di sekitarnya. Lalu tiba-tiba saja, beberapa pengunjung berlari kearah luar pasar beramai-ramai.


"Ada apa buk di depan? Kok pada ramai-ramai keluar begitu?" tanya Nuning.


"Itu di depan buk katanya ada yang keserempet mobil dan pingsan buk." jelas seorang pengunjung yang hendak berlari melihat di keramaian tersebut.


Entah mengapa Nuning ingin mengabaikan nya, dia ingin kembali mencari Anggun. Namun saat dia melangkah untuk semakin masuk dalam pasar, dia mendengar obrolan dari orang yang sudah melihat keramaian tersebut.


"Korban nya anak perempuan tanggung, mana cantik lagi." ucap ibu-ibu sambil berjalan.


Nuning langsung menghentikan langkah ibu-ibu tersebut. "Bu, maaf apa korban nya ibu lihat pakai baju warna apa?" tanya Nuning yang mulai penasaran.


"Kalau nggak salah sih warna biru bajunya, ada garis-garis putih gitu buk." jelas ibu-ibu tersebut.


Sontak kedua mata Nuning pun terbelalak dan hendak keluar dari tempat nya. Tanpa berbicara lagi, Nuning pun segera berlari menghampiri keramaian.


"Permisi buk.. permisi.." Nuning pun berusaha menerobos kerumunan orang yang tengah menonton korban itu.


Begitu Nuning berhasil mencapai depan, dia semakin panik dan terkejut. "Anggun.. Anggun..Bangun nak.." Nuning berteriak histeris melihat Anggun yang tak sadarkan diri.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2