
Setelah mengantarkan Yulia pulang ke rumah nya, Sulaiman pun pulang juga. Begitu Sulaiman tiba di rumah, Heny sudah menunggu nya di ruang tamu.
"Akhirnya yang di tunggu pulang juga" ucap Heny dengan ketus.
"Mau apa lagi sih Heny? Apa belum cukup kamu membuat Yulia seperti itu?" tanya Sulaiman dengan malas.
"Itu belum seberapa mas, apa yang kamu lakukan belum cukup untuk membayar kesalahan yang kamu lakukan terhadap putri mu mas" jawab Heny yang menjadi kesal.
"Kesalahan apa maksud mu?" Sulaiman bertanya seolah dia tidak sadar sudah berbuat kesalahan fatal.
"Oh jadi kamu tidak merasa mas? kamu lupa hari ini kamu tidak menjemput Azkia di sekolah, dan malah asik berzina dengan wanita itu?" Heny mencoba mengingat kan Sulaiman dengan kesalahan nya.
Bukan nya dia tidak ingat setelah mendengar ucapan Heny, dan bukan pula Sulaiman merasa bersalah, dia justru membela dirinya dengan dalih yang tidak masuk akal.
"Aku tidak lupa, aku memang ingin Azkia belajar hidup mandiri, dan tidak manja dengan harus di antar jemput terus setiap harinya" ucapan Sulaiman membuat Heny semakin kesal.
"Jadi kamu pikir anak usia 5 tahun seperti Kia sudah pantas hidup mandiri ya mas? kalau cara berfikir mu seperti ini, baiklah mas aku yang akan membesarkan Azkia" Heny yang tidak tega melihat keponakan nya di telantarkan oleh abang nya pun berharap ancaman itu bisa merubah pemikiran Sulaiman.
"Enak saja kamu bicara Hen, dia anakku dan biarkan aku mendidik nya dengan caraku sendiri" jawab Sulaiman.
"Tapi mas.."
"Sudahlah aku lelah, aku mau istirahat" Sulaiman pun menolak mendengarkan ucapan Heny yang ingin melanjutkan pembahasan mengenai Azkia.
Sulaiman langsung beranjak naik dan masuk dalam kamarnya. Sementara itu Heny yang ditinggalkan Sulaiman dibawah, masih memikirkan bagaimana caranya agar Azkia tidak akan diperlakukan dengan buruk lagi oleh Sulaiman.
"Dia sudah keterlaluan, apa aku perlu bicarakan masalah ini dengan mba Zubaidah ya?" gumam Heny seorang diri.
"Tapi bagaimana kalau nantinya mas Sulaiman akan marah padaku, ahh masa depan Azkia lebih penting dari pada rasa takut ku dengan mas Sul" ucap Heny lagi.
__ADS_1
Setelah cukup lama berfikir Heny pun mencoba menghubungi mantan kakak iparnya itu.
"Assalamu'alaikum kak, apa kabar?" sapa Heny lebih dulu saat mendengar bahwa panggilan tersebut tersambung.
"Waalaikumsalam, maaf umi nya lagi di bawah sama anak-anak pengajian bu, apa ada yang bisa ura bantu? biar nanti ura sampaikan sama umi" Heny sempat terdiam saat mendengar suara dari seberang telepon nya, suara yang sangat menggemaskan dan sangat dia rindukan.
"Ini.. Azura ya?" tanya Heny untuk memastikan nya.
"Iya ini Azura Putri Alfatih, dan ibu siapa ya dan ada perlu apa?" Azura yang tidak mengenal Heny sejak kecil pun hanya bisa bertanya tentang dirinya saja.
"Hah? hmm saya adiknya umi kamu, umi Zura mana ya?" Heny tidak ingin membuat Azura berasumsi terlalu jauh makanya Heny pun membohongi dirinya.
"Umi lagi dibawah bu, lagi mengajar ngaji anak-anak komplek" jawab Azura menjelaskan keberadaan uminya Zubaidah.
"Oh begitu, ya sudah nanti saja saya hubungi lagi" ucap Heny.
"Ya bu, nanti ura sampaikan sama umi ya kalau ibu telpon" ucap Azura.
"Ya allah mendengar suara Azura kenapa aku merasa mba Zubaidah sudah berhasil membesarkan nya menjadi anak yang sholeha ya, sedangkan disini.. mas Sulaiman lebih sibuk dengan berbuat dosa, dan lupa untuk mendidik anak nya" gumam Heny setelah menghubungi Zubaidah.
"Hmm.. sudah lah besok aku coba hubungi mba Zubaidah aja lagi" ucap Heny yang kemudian beranjak masuk ke dalam kamarnya.
Sementara itu, di rumah nya Zubaidah.
"Umi, tadi pas Ura lagi ambil buku tajwid, ponsel Umi berdering, jadi Ura angkat dan katanya adik Umi yang telepon, tapi nanti dia akan hubungi Umi lagi katanya" ucap Azura menyampaikan apa yang baru saja dia dengar saat menerima panggilan dari Heny.
"Adiknya Umi? siapa ya? kalau tante Olivia kan pasti kamu tau suara nya, Umi nggak punya adik selain om Rahmat, lalu siapa yang mengaku sebagai adik Umi?" Zubaidah pun sedikit bingung saat mendengar ucapan Azura itu.
Setelah melihat ponsel nya dan melihat siapa penelpon yang di maksud Azura tadi, Zubaidah pun kaget, dan tersenyum tipis.
__ADS_1
Walaupun sudah lama tidak berhubungan dengan Sulaiman ataupun Heny, tapi dia sangat yakin benar, bahwa itu adalah kontak whatsapp milik Heny. Zubaidah bisa memastikan nya hanya dengan melihat foto profil Heny saja.
"Heny.. akhirnya aku mendapatkan kabar baik ya allah, akhirnya aku punya kesempatan untuk menghubungi putriku Azkia lagi" batin Zubaidah.
"Anak-anak pengajian nya kita sudahi dulu ya, mari kita baca doa penutup nya dulu setelah membaca al-fatihah bersama" ucap Zubaidah yang langsung membubarkan pengajian rutin untuk anak-anak di komplek rumah nya itu.
"Loh kok udahan Umi, kan kita juga belum lama mulai habis sholat isya tadi Umi?" tanya seorang murid nya Zubaidah.
"Iya Umi minta maaf ya, karena Umi seperti nya lagi tidak sehat, dan Umi mau istirahat, tidak apa-apa kan nak?" Zubaidah pun berdalih dengan tubuhnya yang tidak sehat agar bisa membubarkan pengajian itu.
Lalu anak-anak tersebut mengikuti ucapan Zubaidah, mereka serempak membaca al-fatihah dan melanjutkan nya dengan doa penutup. Selesai membaca kan ayat-ayat tersebut, semua anak pun pulang secara bergantian setelah memberikan salam kepada Zubaidah.
"Umi.. Umi benar tidak sehat kah, apa mau Ura buatin teh anget untuk Umi?" tanya Azura yang sangat memperhatikan keadaan Umi nya.
"Boleh nak, tapi nanti bawa ke kamar Umi saja ya" jawab Zubaidah.
Setelah itu Zubaidah pun langsung masuk ke dalam kamarnya, dan berniat menghubungi Heny dengan hati yang bahagia. Namun kebahagiaan nya berubah menjadi kesedihan kembali.
"Nomer yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar service area. Silahkan tinggalkan pesan anda setelah nada berikut.. tuttt"
Hanya operator saja yang bersuara saat dia mencoba menghubungi Heny. dia mencoba menghubungi ke nomer whatsapp nya pun juga sama saja, tidak aktif.
Dengan perasaan kecewa dan sedih, Zubaidah pun hanya bisa menangis sembari menatap layar ponselnya.
"Umi kenapa sedih? apa sakitnya terlalu parah ya Umi?" Azura yang baru saja masuk pun memperhatikan keadaan Umi nya tersebut.
"Tidak nak, Umi hanya sedang sedih, Umi sudah lama tidak berkomunikasi dengan adik Umi yang telepon tadi, dan barusan Umi mencoba menghubungi nya, tapi tidak bisa di hubungi lagi" jawab Zubaidah sembari menangis karena tidak dapat menahan air mata nya lagi.
"Oh Azura pikir Umi sakitnya terlalu parah, ya sudah Umi sebaiknya istirahat saja habis minum teh ini" ucap Azura agar umi nya merasa lebih baik lagi.
__ADS_1
"Terima kasih ya nak" jawab Zubaidah yang kemudian meneguk teh buatan Azura itu.
BERSAMBUNG...