
Bab 10- Menjalankan Rencana.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit. Mobil yang dikemudikan Teo sampai di depan gedung mewah. Arjuna langsung turun membukakan pintu mobil untuk Nana.
"Terima kasih, aku merasa diratukan."
Nana menyambut uluran tangan dari Arjuna. Pria tampan itu hanya mengangguk dan menggandengnya masuk ke hotel. Begitu keluar dari lift, Nana dan Arjuna menjadi perhatian banyak orang terutama kaum wanita. Mereka pun mulai berbisik mengagumi ketampanan Arjuna sampai terdengar di telinga Nana.
"Mereka berbisik tentangmu, sepertinya kamu cukup terkenal. Tapi, kenapa aku baru tahu sekarang kalau kamu seorang pengusaha kaya raya?" tanya Nana penasaran karena selama beberapa bulan ini Juna lebih sering berada di rumah bersamanya.
"Kemana saja kamu selama ini?" canda Arjuna menjawab sambil menunjuk ballroom hotel dimana acara yang diadakan Jordy sudah berlangsung. "Bersiaplah, kamu pasti bisa."
Jantung Nana semakin berdetak tidak menentu, sekilas peristiwa mengerikan itu terlintas di dalam ingatan membuat darahnya mendidih.
"Jun, aku ke toilet sebentar, ya," ucap Nana saat hampir memasuki pintu utama. Ingin rasanya ia menenangkan diri barangkali untuk sebentar saja.
"Perlu aku temani?" tawar Juna, ia memahami kegelisahan Nana.
"Nggak ... aku bisa sendiri, kok. Kamu masuklah dulu. Nanti aku nyusul."
Arjuna manautkan kedua alis membaca ekspresi wajah Nana. "Yakin?" Ia khawatir Nana akan melarikan diri.
"Iya, masuklah! Aku pergi dulu." Nana bergegas mencari toilet.
***
Jordy dan Zora menyambut kedatangan seorang pria tampan yang wajahnya terkesan cuek dan tidak suka tersenyum.
"Pak Juna datang sendirian?" tanya Jordy, ia seolah bingung darimana harus memulai percakapan. "Maaf, cuma pesta kecil-kecilan."
"Tidak masalah, ini sudah lebih dari cukup." Arjuna menjawab seadanya.
Ketika mereka sedang berbincang, tiba-tiba seorang pelayan tidak sengaja menjatuhkan gelas berisi jus jeruk sampai menodai gaun Zora.
"Astaga! Kalau jalan pakai mata, dong! Gaunku jadi kotor, nih!"
Zora marah dan mengibaskan jus jeruk yang menodai gaunnya. Tindakannya menarik perhatian sebagian orang termasuk Arjuna dan Jordy.
__ADS_1
"Maaf Nyonya, saya nggak sengaja menumpahkannya." Pelayan wanita muda itu tampak ketakutan.
"Ini mahal, maafmu nggak akan bisa menggantikan gaunku!" pekik Zora.
"Sudah, jangan buat kegaduhan. Malu dilihat orang banyak. Sebaiknya bersihkan gaunmu di toilet," bisik Jordy menahan malu diperhatikan para tamunya.
Zora yang masih kesal menghentakkan kaki menuju toilet. Ketika sampai di toilet Zora langsung membuka krain air dan mulai membersihkan gaunnya di depan wasetafle.
"Dasar pelayan nggak tau diri, dia udah merusak gaunku yang mahal ini. Lihat aja aku pastikan dia dipecat dari sini!"
"Akhhh, nodanya nggak bisa hilang lagi. Gaun putih tercantik dari butikku ini jadi rusak!" Zora masih mengumpat ia tidak perduli kalau kemungkinan ada orang lain yang mendengar ucapannya.
Tepat dibalik pintu yang tertutup rapat, telinga Nana berdengung mendengar suara yang tidak asing baginya, tentu Nana masih mengenali suara ini. Suara sahabat jahat yang pernah menghina dan menghancurkan hidupnya.
'Zora ... kau sendiri yang mendatangiku. Seenaknya mengaku itu butikmu. Lihat saja aku janji akan kubuat kau lebih menderita dan memohon maaf dariku.'
Beberapa menit kemudian, Nana mendengar suara percikan air dari balik dinding kamar mandi tepat di sampingnya. Nana yakin kalau Zora yang menggunakan toilet tersebut hingga akhirnya Nana keluar lalu mengunci pintu dari luar.
"Ini belum seberapa, tunggu kejutan yang lain." Nana meninggalkan toilet dan kembali ke tempat acara.
Sesampainya di tempat acara, Nana kesulitan menemukan Arjuna diantara beberapa orang yang sedang berdansa. Dari satu meja ke meja pun tidak luput dari penglihatannya, namun batang hidung Juna masih tidak kelihatan.
"Jordy...."
Delapan tahun membina rumah tangga dengan Jordy tentu banyak kenangan indah yang sudah mereka lewati. Hampir satu tahun tidak bertemu nyatanya masih meninggalkan getaran di hati, namun Nana sadar kalau Jordy tidak pantas mendapatkan cintanya ditambah lagi Jordy yang sudah membuat ia kehilangan calon anaknya. Nana harus dan berusaha kuat agar bisa kembali pada rencana semula.
"Aku pasti bisa." Nana yang sekarang bukanlah Nana yang lemah seperti dulu, ia sudah menjadi pemberani dan siap memberantas musuh-musuhnya.
Namun, ketika pandangan mereka saling bertemu, tubuh Nana bergetar membuatnya sulit melangkah bahkan berbalik badan sekalipun. Ya, di sana Jordy menatapnya tanpa berkedip.
Jordy terbengong tanpa kata, matanya membola mengamati penampilan wanita cantik bergaun merah tersebut. Jordy merasa seperti pernah melihatnya, tapi di mana?
"Apa ada masalah Pak Jordy?" tanya Juna saat melihat wajah Jordy pucat pasih.
Jordy menggelengkan kepala. "Ti-tidak, ak-aku hanya resah menunggu istriku," jawab Jordy terbata dan masih menatap wajah wanita cantik yang dalam hitungan detik sudah berhasil mengusik pikirannya.
"Nana....?" Jordy spontan menyebut nama Nana yang sudah meninggal beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1
Arjuna mengikuti kemana Jordy memandang, hingga ia pun melihat Nana yang sepertinya sudah melihatnya lebih dulu. Dengan isyarat mata, Juna menyuruh Nana mendekat, namun sepertinya wanita itu tidak bersedia melangkah.
Rasa penasaran membawa Jordy mendekati Nana, sampailah ia berdiri di hadapan Nana.
"Na-Nana...." Jordy ingin memastikan kalau ia tidak salah lihat. Tapi, kenapa Nana bisa hidup lagi? Kenapa bisa secantik ini? Mata Jordy mulai berkedip seolah memastikan wanita ini memang Nana.
Jantung Nana seperti mau jatuh, bayangan kelam itu berputar membuatnya takut Jordy mengenali dan menyakitinya lagi. Ternyata trauma itu masih ada.
"Mirna, ternyata kamu di sini?" Arjuna merangkul Nana. "Sudah ketemu toiletnya?"
Kedatangan Juna membuat Nana bisa bernafas lega.
"Su-sudah." Nana menjawab setenang mungkin.
"Mi-Mirna?" Jordy memastikan apakah ia salah mendengar nama yang disebutkan Juna atau wanita ini memang bukan Nana.
"Iya, perkenalkan dia Mirna sepupu saya dari Paris," ucap Juna.
Nana mengulurkan tangan. "Mirna...."
"Mirna? Kalian sepupu?"
"Iya, apa ada yang salah sampai Pak Jordy terkejut mendengarnya?" Arjuna tidak mau Jordy terlalu jauh curiga pada Nana.
"Ti-tidak ... Jo-jordy," jawab Jordy setelah kulit tangan mereka saling bersentuhan, ia merasa ada getaran aneh di dalam hati yang membuatnya enggan melepaskan tangan Mirna. "Senang berkenalan denganmu, Mirna."
Nana semakin lega. 'Syukurlah kamu nggak ngenalin aku yang sekarang. Lihat saja akan kubalas pengkhianatanmu, Mas!' batin Nana sengaja tersenyum manis berusaha menarik perhatian Jordy.
Jordy bingung, ntah pesona apa yang dimiliki Mirna hingga ia tertarik untuk mengenalnya lebih dekat, atau mungkin karena wanita ini sudah berhasil mengingatkannya pada Nana.
"Ehm, gimana kalau kita dansa itupun kalau Mbak Mirna nggak keberatan," ajak Jordy, ia masih tidak percaya kalau wanita ini memang Mirna.
Nana terkejut. 'Dasar laki-laki mata keranjang, baru sebentar ditinggal istrinya udah lupa diri. Tapi, biarlah itu artinya kamu tertarik sama aku, Mas.'
"Tapi, aku takut istri Pak Jordy salah paham." Mirna pura-pura menolak secara halus.
"Jangan khawatir, kita'kan cuma berdansa seperti yang lainnya."
__ADS_1
Nana bingung, Jordy bisa curiga padanya jika ia menolak hingga akhirnya ia terpaksa menerima ajakan Jordy.
Sebenarnya Nana jijik disentuh Jordy, tapi mau bagaimana lagi? Tidak mungkin ia menolak, akhirnya dengan berat hati Nana menerima ajakan Jordy dan meninggalkan Juna.