Aku Balas Pengkhianatanmu, Mas!

Aku Balas Pengkhianatanmu, Mas!
Bab 6- Menyusun Rencana


__ADS_3

Bab 6 - Menyusun Rencana


Ruang keluarga yang hanya diisi dua orang asing yang belakangan terlihat seperti sudah lama saling mengenal itu menjadi hening, Juna dan Nana larut dalam pikiran masing-masing sampai akhirnya Nana bicara lagi.


"Mungkin, ini hukuman untukku karena dulu aku lebih milih Jordy daripada pria yang pernah dijodohkan orang tuaku dulu. Karena keras kepala dan penolakkanku papa terkena serangan jantung, kemudian setelah tujuh hari kematiannya aku pergi dari rumah."


Bulir bening kembali menetes membasahi pipi Nana, ia teringat kesalahan di masa lalu yang sudah mengambil keputusan terbodoh di dalam hidupnya hingga sampai sekarang tidak pernah pulang ke rumah orang tuanya.


Arjuna menatapnya iba. "Kenapa kamu menolak perjodohan itu? Apa laki-laki itu kurang tampan?"


"Bukan karena itu, aku bahkan nggak tau apapun tentangnya, seperti apa wajahnya ... siapa namanya ... apa pekerjaannya, bagiku hanya Jordy yang pantas menjadi suamiku. Tapi, huh...."


Hembusan nafas terasa berat dilepaskan, seberat beban pikiran yang bersarang di kepala Nana.


Sedangkan Arjuna sudah mengepalkan tangan, ingin rasanya ia mengatakan kepada Nana kalau sebenarnya ia adalah pria yang dulu pernah dijodohkan dengan Nana. Tapi, Arjuna khawatir Nana akan pergi dari rumahnya jika tahu identitasnya yang merupakan anak angkat sekaligus kepercayaan papa Nana semasih hidup.


"Jika bisa... aku ingin memerbaiki semua kesalahanku, pertama membalas kejahatan Jordy dan Zora kemudian pulang ke rumah, aku akan terima hukuman dari mama," ucap Nana lirih seperti sedang berbisik.


"Kalau gitu, kita harus nyusun rencana. Aku janji akan membantumu sampai kamu mendapatkan keadilan."


Arjuna yang kala itu duduk santai dengan kedua tangan tertumpu di atas lutut langsung menegakkan punggung melihat Nana, memasang wajah serius seolah apa yang ingin ia katakan adalah sesuatu yang penting dan wajib didengar wanita bertubuh subur itu.


"Rencana apa?" tanya Nana antusias.


"Pertama, mulai hari ini berusahalah mengubah bentuk tubuhmu. Kedua, kamu harus mengubah identitasmu, akan aku siapkan kartu identitas baru agar tidak ada seorangpun yang curiga kalau kamu adalah Nana. Ketiga, setelah mendapatkan semua itu, barulah temui Jordy dan buat laki-laki itu masuk ke dalam perangkapmu, terserah apa yang mau kamu lakukan terhadapnya nanti."


Nana terpaku mendengarnya, hatinya seperti terbakar mendengar nama dan membayangkan wajah suami dan sahabat pengkhianatnya itu.

__ADS_1


"Tapi, aku takut ngelakuin kesalahan? Lebih tepatnya, aku khawatir Zora dan Jordy curiga sama aku."


Meskipun Nana dipenuhi dendam dan amarah, tapi kehilangan janin akibat peristiwa kelam itu masih membekas dan membuatnya takut keluar rumah.


"Jangan takut sebelum mencoba, kita nggak akan tahu hasilnya kalau belum bertindak!" ujar Juna menyemangati Nana.


"Ok, mulai hari ini aku nggak akan ngebantah apapun yang kamu katakan, tapi aku nggak mau ke rumah sakit, Jun. Aku nggak mau operasi plastik. Selain harganya mahal aku pun masih trauma sama rumah sakit." Ucapan Nana dijawab anggukan kepala oleh Juna.


***


Tidak terasa tiga bulan sudah berlalu dan selama itu juga Nana masih tinggal di rumah Arjuna. Hubungannya dengan Arjuna berjalan apa adanya. Arjuna memerlakukan Nana seperti seorang teman lama dan membebaskan Nana melakukan apapun di rumah itu. Kecuali, masuk ke dalam kamarnya.


"Sayur hijau lagi? Semangat, sih semangat. Tapi, terkadang aku bosan harus makan sayuran yang dikukus, direbus tanpa garam atau penyedap rasa yang lain. Rasanya hambar bahkan, aku hampir lupa rasa nasi putih yang dulu aku makan setiap hari," protes Nana saat duduk di kursi meja makan.


Arjuna yang saat itu sedang membuat jus buah untuk Nana hanya meliriknya saja, telinganya sudah kebal mendengar keluhan Nana tentang pola makan dan olahraga yang selama ini dijalankan Nana.


"Olahraga saja tidak cukup untuk menurunkan berat badanmu, pola makanmu harus dijaga supaya program diet yang sedang kamu jalankan berjalan sesuai harapan. Mau kurus, tidak?" sahut Arjuna.


Pemuda berusia 30 tahun ini menuangkan jus aple dan wortel ke dalam gelas, kemudian meletakkannya ke meja tepat di hadapan Nana yang masih cemberut seperti tidak selera makan.


"Minumlah." Juna duduk di samping Nana dan mulai menyantap sarapannya.


"Boleh aku makan steak?" pinta Nana penuh harap, ia merasa sudah seperti seorang vegetarian yang lebih banyak makan sayuran saja.


"Tidak, ini belum ada setengah dari rencana kita, jadi lebih baik cepat habiskan sarapanmu karena setelah ini masih ada agenda yang harus dilakukan," jawab Juna acuh.


Nana berdecih, namun ia tetap mengisi perutnya dengan makanan dan jus yang disediakan Juna.

__ADS_1


"Kamu harus ingat, di dunia ini tidak ada yang instan harus bekerja keras supaya bisa mencapai keinginanmu itu, kalau mau kaya, ya harus kerja. Kalau mau kurus atau mendapatkan bentuk tubuh ideal ya harus rajin olahraga dan atur pola makan," ucap Arjuna tanpa melihat wajah Nana yang sudah sangat kesal padanya.


"Kenapa sih laki-laki selalu lihat perempuan dari fisik? Apa perempuan gendut itu jelek?" cetus Nana.


Arjuna menatap wajah Nana cukup lama, dilihatnya wanita itu cemberut dan memajukan bibir bervolumenya. Nana tidak sadar kalau tindakan sederhana itu membuat jiwa lelaki Juna bangkit, namun ia berusaha menahannya.


"Pada dasarnya semua wanita itu cantik, namun tidak bisa dipungkiri kalau laki-laki punya pandangan yang berbeda ... tapi bagiku kamu cantik, tidak perduli bentuk fisikmu seperti apa, kamu tetap cantik."


Mendengar jawaban Arjuna membuat Nana terdiam dan salah tingkah, ia terkejut saat ibu jari Juna menyentuh sudut bibirnya.


"Ma-mau apa?"


"Ehm, maaf ada sisa makanan di sini."


Arjuna menarik tangannya lalu meraih piring mereka berdua yang sudah kosong dan membawanya ke dapur, Sembari mencuci piring, ia mengumpat pada dirinya sendiri.


"Kalau seperti ini aku bisa lepas kendali, aku hampir menciumnya tadi." Arjuna bergumam dan sengaja berlama-lama berdiri di sana. Jantungnya selalu berdetak tidak karuan bila berdekatan dengan Nana.


"Rasa ini masih ada. Dulu hanya melihat fotomu saja sudah membuatku jatuh cinta dan ternyata sampai sekarang aku belum bisa melupakanmu, seandainya waktu itu kamu tidak melarikan diri dengan si brengs*k itu saat ini kita pasti sudah menikah dan hidup bahagia...."


Arjuna menghela nafas kecewa sebab cintanya bertepuk sebelah tangan, Nana tidak pernah mengenalinya.


***


Hari itu juga Juna mengajak Nana ke salah satu salon kecantikan ternama, dalam kurun waktu tiga bulan ini Nana sudah berhasil menurunkan berat badannya dan hari ini waktunya Nana melakukan perawatan agar jerawat di wajah Nana bisa hilang sepenuhnya.


***

__ADS_1


Ternyata Sang Arjuna pernah ditolak 🤣


__ADS_2