
25
"Mau ke mana?" Juna menatap Nana penuh selidik, sepagi ini Nana sudah terlihat cantik dan rapi, rasanya ia tidak rela ada orang lain yang melihat kecantikan Nana terutama laki-laki buaya seperti Jordy itu, padahal dari awal ini rencananya tapi siapa sangka ia ingin merubah rencana di tengah jalan. Yah, Juna cemburu bila Nana berhubungan dengan Jordy meskipun itu hanya sandiwara saja.
Nana menarik kursi dan duduk untuk sarapan, ia merasa menjadi seorang istri yang dicurigai suaminya. Padahal, mereka belum berkomitmen apapun.
"Aku mau ke butik ngambil gaun untuk shooting iklan besok itu, loh ... masak kamu lupa?" Nana menjawab sambil menyentong nasi, ia sengaja tidak melihat wajah Juna yang terasa membekukan tubuhnya.
"Aku temenin, ya," tawar Juna. Nana langsung melihatnya. "Meeting aku tunda sampai urusan kamu selesai," jelas Juna seolah tau arti tatapan mata Nana.
"Nggak apa-apa, aku sendirian aja. Kamu lupa sama kesepakatan kita?" Nana mengingatkan kesepakatan yang sudah mereka sepakati bersama yaitu, Juna tetap fokus mengurus perusahaan yang sudah beberapa hari dia tinggalkan, sementara Nana mengurus iklan, kemudian setelah urusan mereka selesai barulah Nana pulang ke rumah mamanya.
Arjuna mendesahkan nafas penuh keterpaksaan membiarkan Nana pergi sendirian. "Baiklah, tapi kamu harus tetap waspada sama Zora dan Jordy," ucap Juna memberikan peringatan.
Dering ponsel Nana menjadi pusat perhatian Juna. Kening Juna mengkerut melihat Nana mengabaikan ponselnya. "Jordy?" tebaknya.
__ADS_1
Nana menyudahi sarapannya lalu pamit pergi. "Aku pergi, ya," ucapnya sambil menyambar ponsel di atas meja. Ntahlah, setelah tahu identitas dan perasaan Juna padanya, ia jadi malas bicara dengan pria itu apalagi membahas Jordy, sebab Nana tidak mau dikasiahani orang seperti Juna.
"Hubungi aku kalau dia berani macam-macam!" Ingin rasanya Juna mencegah Nana, tapi ia tidak mau membuat wanita keras kepala itu merasa terkekang dan tidak nyaman tinggal bersamanya.
.
.
.
Nana mau mun tah mendengar kata sayang dari orang yang ada di seberang sana, ya dari tadi malam ia memang sengaja mengabaikan panggilan dari Jordy.
'Kenapa diam aja? Aku khawatir karena kamu nggak angkat teleponeku. Kamu marah sama aku?'
"Nggak, kok. Aku cuma kelelahan jadi nggak mau diganggu siapapun dulu. Tapi sekarang udah baikan, kok"
__ADS_1
'Baguslah, kita ketemuan ya aku udah kangen banget sama kamu.'
Nana berfikir sejenak, sebenarnya ia terlalu malas bertemu Jordy karena pria itu pasti mau minta yang aneh-aneh padanya, tapi sepertinya ini kesempatan bagus untuk mengambil kamera yang ia selipkan di kantor Jordy. Nana berharap kamera itu sudah berhasil merekam bukti akurat untuk menjerumuskan dua orang itu ke penjara. Akhirnya Nana meng-iyakan ajakan Jordy.
"Ya sudah, nanti aku ke kantor kamu, ya." Terdengar suara tawa Jordy di seberang sana. Sepertinya laki-laki itu bahagia sekali.
'Boleh, sekalian kita lunch di sini. Aku nggak sabar mau makan....'
Jordy menjeda kalimatnya, hanya deru nafas Jordy yang kian terdengar di telinga Nana. "Makan apa? Mau aku bawakan makanan?" tanya Nana sekedar basa-basi, padahal hatinya mengumpat setengah mati.
"Mau makan kamu," ucap Jordy sambil mendes*hkan nafasnya sengaja memancing Nana. "Aku tunggu di sini, ya sayang...."
Nana semakin muak, ia menjauhkan ponsel dari jangkauan telinganya, lalu meludah sembarangan seolah yang ia ludahi adalah wajah Jordy. Setelah merasa lebih tenang ia pun kembali bicara.
"Iya, sayang," ucap Nana sebelum menyudahi percakapan mereka. Nana semakin tidak sabar untuk mengakhiri semua sandiwara ini, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menemui Zora dan mengungkapkan yang sebenarnya. Padahal sebelumnya ia sendiri yang minta agar Juna tetap menjaga rahasia ini, tapi ah sudahlah lihat saja kalau kamera itu sudah berada di genggaman itu artinya penderitaan yang selama ini dirasakan Nana sudah berakhir dan di situlah awal penderitaan Jordy dan Zora akan dimulai. Mereka tidak akan bisa menutupi kenyataan dari semua orang.
__ADS_1