Aku Balas Pengkhianatanmu, Mas!

Aku Balas Pengkhianatanmu, Mas!
Bab 32


__ADS_3

32


"Cantiknya, Nona...."


Nana terkejut mendengar suara pelayan yang masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu. "Belakangan ini jantungku bermasalah karena hal kecil seperti ini," jawab Nana bercanda sambil memegang dadanya.


Pelayan muda itu tersenyum kemudian meletakkan nampan berisi makanan di atas meja kecil yang ada di dekat jendela. "Maaf ... ini aku bawakan makan malam untuk Nona," ucapnya sambil memuji penampilan Nana. Gaun yang melekat di tubuh Nana membuatnya terlihat lebih anggun dari hari biasa. "Nona persis seperti seorang model. Sini biar aku kancingkan." Menarik resleting di bagian punggung Nana sampai tertutup sempurna.


"Model apa? Ini cuma gaun biasa untuk acara besok malam. Aku cuma mencobanya saja." Nana melirik makanan di atas meja. "Kenapa dibawa ke kamarku?"


"Oh, ini perintah tuan Juna. Tuan Juna makan malam bersama beberapa anak buahnya di ruang makan. Mungkin, tuan Juna takut Nona terganggu atau merasa nggak nyaman kalau gabung sama mereka."

__ADS_1


"Harusnya nggak perlu dibawa ke sini. Aku nggak terganggu, kok."


Pelayan itu tersenyum simpul. "Iya, aku yakin sebenarnya tuan Juna yang takut terganggu karena nggak akan bisa fokus makan. Tuan Juna pasti nggak rela kalau anak buahnya memandangi kecantikan Nona yang paripurna ini."


"Hus bicara apa, kamu?" Nana menyiku perut pelayan muda itu. Nana tidak mau wajahnya semakin memerah.


"Maaf, tapi memang itu kenyataannya. Pria mana yang rela kekasihnya dipuji laki-laki lain?" Ntah kenapa ia semakin berani menggoda majikannya.


"Nona yakin nggak mau jadi kekasih tuan Juna? Padahal, 'kan tuan Juna itu setia dan sayang sama Nona. Nona tega matahkan hati dan harapannya?" Memegang dada seolah merasakan sakit hati yang dirasakan tuan Juna bila Nana menolak cintanya.


Nana semakin melotot melihatnya. "Jangan ngarang cerita! Tau apa kamu tentang perasaan dan kesetiaan tuanmu itu?"

__ADS_1


"Nona lupa kalau aku udah lama kerja sama tuan Juna? Jadi, aku tahu banyak tentangnya. Selama ini tuan Juna belum pernah membawa perempuan manapun. Bahkan, tuan Juna berulang kali menolak perempuan yang datang tanpa diundang, jangankan disuruh masuk dan duduk di ruang tamu, dibukakan pintu pun nggak!" Dia lupa pada siapa ia bicara, bahkan kini bok*ngnya sudah menempel di tepian tempat tidur majikannya.


"Tapi, Nona diperlakukan berbeda. Tuan Juna sendiri yang membawa Nona ke rumah ini, bahkan dari tatapan matanya saja sudah bisa menggambarkan isi hatinya untuk Nona."


Otak Nana seakan mencerna ucapan wanita muda ini. "Tapi, aku ragu...," ucap Nana lirih, ia ragu untuk berkeluh kesah.


Menarik tangan Nana mengajaknya duduk di tempat tidur seolah mereka berdua teman dekat yang sangat akrab. "Apa yang membuat Nona ragu?" Memasang telinga siap mendengarkan curahan hati sang majikan.


Nana menghela nafas di udara, berusaha mengontrol perasaannya. Mungkin, tidak ada salahnya jika ia tukar fikiran dengan orang yang sudah lama mengenal Arjuna.


"Aku cuma merasa tidak pantas untuk Juna. Arjuna punya segalanya dan banyak wanita yang mengejarnya, kamu tau aku sudah pernah menikah, sementara Arjuna adalah pria yang masih lajang, aku takut Juna menyesal."

__ADS_1


Menggelengkan kepala. "Nona, cinta yang tulus tidak pernah memandang status. Kalau Nona berfikiran seperti itu, sama saja Nona menolak jodoh yang dikirimkan Tuhan untuk Nona. Kalau Nona masih ragu juga, coba tanyakan sama hati Nona yang paling dalam apakah Nona sama sekali tidak tertarik atau memiliki perasaan kepada Tuan Juna?"


__ADS_2