
33
Perasaan yang seperti apa? Nana pun bingung, ia tidak bisa menjawab pertanyaan simple itu. Tapi, tidak bisa dipungkiri kalau selama Nana tinggal di rumah Juna, ia merasa nyaman seperti ada di rumah sendiri. Perhatian dan kehadiran Juna mampu membuat Nana bangkit dari keterpurukan dan mampu melupakan Jordy. Selama ini ia bebas melakukan apapun. Sikap Juna selalu sopan dan menghargai dirinya. Yang mengherankan adalah pernah satu hari Nana tidak melihat Juna, ia merasa kehilangan. Seperti waktu itu Nana nyaris tidak bisa tidur karena Juna pergi berhari-hari tanpa memberi kabar padanya.
Apa itu pertanda Arjuna sudah mengisi kekosongan di hatinya?
"Nona...." Menyenggol lengan Nana sangat pelan.
Lamunan Nana buyar. "Apa? Ah, sudahlah sampai kapan kita bahas ini? Aku lapar." Nana sengaja mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Aku hampir lupa tujuanku datang kesini, yasudahlah. Tapi, sebaiknya Nona ganti pakaian yang lain." Lagi-lagi menurunkan resleting tanpa disuruh. "Maaf aku sudah lancang, Nona," ucapnya tidak enak hati.
Nana menganggukkan kepala. "Tidak apa, kamu sudah bisa keluar sekarang. Aku mau istrahat." Nana benar-benar merasa lelah hari ini, pikirannya sudah terkuras banyak, bertengkar dengan Zora, menghadapi Jordy ditambah lagi memikirkan permintaan Arjuna. Apa yang diinginkan pria itu darinya? Rasanya Nana ingin segera berguling di atas tempat tidur.
"Nona marah? Tolong jangan marah, ya. Aku nggak bermaksud menghasut Nona untuk menerima tuan Arjuna." Mdnggenggam tangan Nana lalu ia letakkan di depan dada. "Maafkan aku, Nona."
Nana menghembuskan nafas lelah. "Kenapa harus minta maaf? Aku nggak marah, aku cuma lapar, lelah, letih dan mataku terasa semakin berat."
Nana tersenyum dan menggelengkan kepala. "Untuk hari ini cukup, kita sambung besok lagi."
__ADS_1
"Baiklah, selamat malam, Nona." Ia berjalan ke luar, tapi langkah kakinya berhenti di ambang pintu. "Nona, mikirnya jangan terlalu lama, keburu ada wanita lain yang merebut tuan Juna dari Nona. Apa Nona siap melihat tuan Juna bersanding di pelaminan dengan wanita lain?" Melihat kebelakang melihat Nana sudah berkacak pinggang menatapnya, ia menyengir kuda. "Iya, maaf aku pergi, besok kita sambung lagi." Menutup pintu tanpa mendengar jawaban Nana.
"Anak itu...." Nana kembali duduk di tepian tempat tidur, matanya masih melihat pintu yang baru ditutup orang yang sedikit banyaknya sudah mengubah pandangan dan berhasil membuatnya tidak akan bisa tidur malam ini.
"Wanita lain?" Membayangkan Arjuna menggandeng wanita lain benar-benar membuat hatinya panas. Kenapa panas? mungkinkah Nana sudah mulai cemburu? Kenapa harus cemburu? Bukankah cemburu merupakan bagian dari cinta? "Apa aku sudah jatuh cinta?" Lagi dan lagi hati Nana berdebar tidak menentu. Pertemuan pertamanya dengan Juna seolah berputar di kepala. Beberapa foto dirinya yang ada di kamar Juna pun seakan ikut menjawab keraguannya.
"Aku memintanya menunggu sampai aku siap menjawab pertanyaan Juna watu itu, tapi gimana kalau Juna menyerah dan lelah menunggu kepastian dariku?" Ia mulai resah dan gelisah membayangkan Juna bersama wanita lain membuat hatinya sakit.
Mungkin, perut yang terasa lapar membuat Nana tidak bisa fokus mencari jawaban. Setelah mengganti gaun dengan piyama tidurnya, ia langsung menghabiskan makan malam yang sudah hampir dingin itu.
__ADS_1
***
Beberapa partai lagi tamat, ya heheheh. Makasih masih setia di sini 🤗