
Bab 29
Jordy susah payah menahan ludah, gerakkan spontan yang dilakukan Mirna semakin membuat ia panas dingin, leher jenjang Mirna sangat menggoda di mata, ditambah lagi kancing yang terbuka itu hampir memerlihatkan belahan da da Mirna.
"Sebentar, ya." Jordy beranjak dari duduknya dan langsung berjalan mendekati meja kerjanya, ia mengambil remot Ace kemudian mengatur suhu ruangan. Jordy tidak mau Mirna merasa tidak nyaman di ruangan yang akan menjadi saksi cinta mereka. Mirna atau Nana akan menjadi urusan belakangan kali ini. Yang penting hasrat kepada wanita itu bisa tersalurkan.
Mirna mengambil kesempatan mendekati meja kerja Jordy. "Aku suka ruangan ini, Mas. Nyaman apalagi kursi itu!" Jordy melihat kursi yang ditunjuk Mirna. "Kursi kebesaran kamu."
Jordy memegang tangan Mirna, lalu mendudukkan wanita itu di sana. "Ini pun akan menjadi milikmu kalau kamu mau, aku tau kamu tidak kekurangan materi, tapi aku mau kamu tau kalau aku bisa berikan apapun yang kamu mau."
Mirna sudah tidak bisa kemana-mana, sebab tangan Jordy yang tertumpu pada kedua sisi kursi itu mengurung Mirna di bawah tatapan dan wajah Jordy yang semakin mendekatinya.
"Bolehkan?" tanya Jordy tanpa malu-malu lagi, matanya tertuju pada bibir merah Mirna, perlahan tangannya pun sudah mulai meraba wajah dan sudut bibir wanita itu.
__ADS_1
Mirna memutar otak memikirkan cara menolak Jordy tanpa dicurigai wanita itu. "Kamu berat!" Ditolaknya dada Jordy sampai Jordy sedikit menjauhinya. "Aku takut kamu nimpahin aku, Mas. Kenapa nggak kamu aja yang duduk di sini?" Mirna memaksa berdiri kemudian sedikit mendorong Jordy sampai dia terduduk di kursi. "Ini yang benar," ucap Mirna sambil duduk di pangkuan Jordy.
Jordy terkesiap dengan apa yang dilakukan Mirna kali ini, ia tidak menyangka kalau Mirna bisa agresif juga, karena tidak mau membuang kesempatan, ia pun langsung memeluk pinggang Nana hingga membuat mereka semakin dekat nyaris tanpa ada jarak.
Mirna memaksakan senyumannya, tangannya menyisir rambut Jordy sambil sesekali memberikan pijatan mesra di sana, ia berusaha mengulur waktu agar Jordy tidak menciumnya.
"Jadi, kamu mau tetap jadikan aku selingkuhan atau istri sah?" tanya Mirna sedikit manja.
Sentuhan Mirna membuat Jordy terasa melayang sampai ia memejamkan mata. Jordy terkekeh dan menjawab, "Mirna, kalau kamu mau, kita bisa menikah saat ini juga."
"Aku ceraikan, gampang 'kan? Lagipula dia hanya mencintai hartaku aja. Nggak seperti kamu yang pasti tulus cinta sama aku, harta kamu aja lebih banyak dariku, benar'kan?"
Ucapan Jordy memaksa Mirna untuk tertawa lebar. "Iya, aku nggak butuh harta kamu." Tangan kirinya masih mengelus rambut Jordy, sementara tangan kanan berusaha meraih kamera miliknya dan dapat! Tapi, kamera itu nyaris terlepas dari tangannya ketika tiba-tiba Jordy membuka matanya.
__ADS_1
"Ke-kenapa?" tanya Mirna tergagap, ia takut Jordy melihat kamera yang berada di tangannya saat ini.
"Siapa sih yang berani ganggu kita?" Jordy kesal karena seseorang mengetuk pintu ruangannya. Sementara Mirna tersenyum lega dan cepat-cepat turun dari pangkuan Jordy.
"Kamu mau dipecat?" tanya Jordy kepada sekretaris yang sudah mengganggunya. "Kan udah saya bilang jangan ada yang masuk selain Nona Mirna!" teriakannya membuat Nana terperanjat, wanita itu sudah kembali duduk di sofa.
"Maaf, Pak. Saya mau menyampaikan pesan dari pak Juna kalau lounching produknya dimajukan menjadi besok malam. Pak Juna sudah menyiapkan semuanya, sesuai kesepakatan kita hanya menyiapkam gaunnya."
Mirna dan Jordy saling beradu pandang.
"Dimajukan, ya? Tapi nggak apa-apa, sih. Gaunnya sudah aku ambil dari butikku, eh ... maksudnya sudah aku ambil di Butik Zora," jawab Nana sambil tersenyum membayangkan keadaan Zora yang saat ini pasti sedang meratapi nasibnya.
"Kamu bisa jadi modelnya?" Mirna menganggukkan kepala. "Tapi, rasanya aku nggak rela kecantikan kamu dilihat orang lain," imbuhnya lagi.
__ADS_1
Sekretaris Jordy menggelengkan kepala heran kenapa Jordy bisa bicara semanis ini, tapi tidak dengan Zora istrinya itu.