
24
Arjuna tercekat mendengarnya, ia sama sekali tidak menyangka kalau Nana akan membahas status mereka yang merupakan seorang laki-laki lajang dan perempuan yang statusnya masih gantung. Gadis bukan, istri orang bukan dan janda pun bukan. Tapi, bukan itu masalahnya, Juna tidak perduli apapun satus yang disandang Nana tidak akan mengurangi kadar cintanya pada wanita itu.
"Bahkan, saat kamu masih menjadi istri orang pun aku nggak bisa melupakan kamu, apalagi sekarang kamu udah nggak terikat pernikahan sama siapapun, aku bebas mencintai dan memilih kamu, Na. Apa salahnya seorang pria lajang mencintai seorang janda?"
Setiap orang punya hak mencintai dan dicintai. Dan hati bebas memilih pada siapa ia akan berlabuh. Meskipun tidak bisa dipungkiri kalau terkadang cinta datang tidak tepat waktu. Tidak dibenarkan mencintai seseorang yang sudah menjadi milik orang lain, tapi dalam kasus mereka jelas berbeda 'kan?
"Cinta tidak mengenal status, Na...." Juna berusaha meyakinkan Nana, kalau cintanya tulus dan apa adanya.
Nana tersenyum sinis. "Tapi, aku belum jadi janda, aku belum resmi bercerai dari Jordy."
__ADS_1
"Biar aku yang urus perceraian kalian, kalau perlu besok aku temui dia dan bilang siapa kamu yang sebenarnya!" Juna mendadak emosi, telinganya panas kalau Nana menyebut nama Jordy.
"Nggak, Jun. Jangan sampai dia tau siapa aku yang sebenarnya sebelum aku berhasil mengambil perusahaan dan rumahku, karena mereka aku kehilangan janinku, aku nggak akan biarkan mereka hidup bahagia di atas tangisanku, Jun." Nana mengambil alih tangan Juna. "Kamu janji akan tetap menjaga rahasia ini?"
Arjuna yang awalnya marah akhirnya mengalah, air mata dan wajah sayu Nana membuat ia luluh. Ditatapnya Nana sangat dalam.
"Tapi, kamu janji kita menikah setelah urusanmu dan laki-laki itu selesai. Dan aku nggak terima penolakan," ucap Arjuna memaksa, ya ia sudah hampir kehilangan akal untuk menjadikan Nana menjadi miliknya.
***
Beberapa waktu yang lalu di rumah Jordy.
__ADS_1
Pertengkaran Jordy dan Zora di kantor waktu itu terbawa sampai ke rumah. Zora masih berusaha meyakinkan Jordy kalau wanita yang menjadi selingkuhan suaminya itu adalah Nana. Tapi, Jordy tetap tidak percaya dan mengelak kalau ia selingkuh dengan Mirna.
"Kamu lihat ini!" Zora melemparkan beberapa foto lama Nana ke atas meja kerja Jordy, ya beberapa saat yang lalu ia memukan foto Nana di gudang. Ada untungnya juga pembantu menyimpan foto Nana, jadi bisa ia gunakan untuk menyadarkan suaminya. "Wajahnya sama dengan Mirna, bukan? Apa kamu mau menyangkalnya lagi? Buka mata kamu lebar-lebar dan perhatikan baik-baik!"
Beberapa foto yang terpampang di mata cukup membuat Jordy terkejut, bahkan hampir tidak berkedip memerhatikan wajah lama Nana dan juga berusaha mengingat wajah Mirna, memang dilihat sekilas sama hanya saja wajah Nana terlihat polos tanpa sentuhan makeup badannya pun terlihat gendut.
"Itu orang yang sama, sekarang kamu patut curiga karena bisa-bisa saja Nana operasi plastik mengurangi lemak atau semacamnya untuk ngelabuhi kita. Bisa jadi kamu udah masuk ke dalam jerat perangkapnya sampai mau selingkuh sama dia atau jangan-jangan sertifikat butik aku udah kamu kembalikan sama dia!" Zora semakin berisik dan panik. Diamnya Jordy ia anggap sebagai jawabannya.
Jordy menatap Zora. "Kalau dugaan kamu ini benar, maka aku sendiri yang akan kasih dia pelajaran karena udah berani main-main sama aku!" Wajahnya mengetat membayangkan kemungkinan ini, tapi otaknya memikirkan yang lain hingga ia tersenyum membayangkan itu. Kalau memang Mirna adalah Nana itu artinya ia berhak atas wanita itu, sebab kenyataan yang ada ia dan Nana masih suami istri. Jordy pasti akan mengurung Nana di dalam kamar.
"Memangnga, kamu mau ngelakuin apa?" tanya Zora setengah curiga melihat ekspresi wajah mesum Jordy. "Kamu jangan berfikir yang aneh-aneh, ya. Harus tetap fokus jangan sampai Nana menguasai semua ini lagi!" Sampai kapanpun Zora tidak siap kembali ke kehidupan seperti dulu.
__ADS_1
Jordy mengangkat bahu acuh kemudian ke luar dari ruang kerjanya. Jordy tidak menghiraukan suara Zora memanggil namanya ia terus berjalan ke taman untuk menghubungi Mirna, tapi wanita itu tidak mengangkat teleponnya.