Aku Balas Pengkhianatanmu, Mas!

Aku Balas Pengkhianatanmu, Mas!
Bab 23


__ADS_3

Bab 23


"Kopi...." Aroma khas kopi hitam yang baru diseduh air panas menyeruak hingga menusuk rongga hidung Nana, asap yang mengepul dari gelas yang masih dipegang Juna membuat pipinya semakin bersemu merah. Nana mendongak melihat Juna yang sudah lebih dulu menatapnya, pria itu tersenyum simpul kemudian ikut duduk di sampingnya.


Tadi, karena tidak bisa tidur Nana memutuskan untuk mencari angin malam di luar rumah, duduk di teras seorang diri bertemankan taburan bintang di langit, sunyi dan sepi, tapi sekarang Juna pun mengikuti jejaknya. Datang membawa segelas kopi untuknya. Apa Juna mau mengajaknya begadang di sini? Padahal, Nana masih malu mengingat kejadian tadi.


"Malam ini nggak ada pengecualian, sedikit kafein bisa mengurangi beban," canda pria itu berusaha mencairkan suasana sembari mengulurkan segelas kopi kepada Nana. juna tahu kalau Nana masih salah tingkah. "Mau aku pegang sampai kopi ini dingin?"


Karena Nana masih diam seribu bahasa akhirnya Juna meletakkan gelas tersebut di atas marmer hingga menjadi batas pemisah diantara mereka. Nana menatap bintang-bintang di atas langit, seperti sengaja mengabaikan Juna.


Hening beberapa saat sampai Juna kembali beicara, "aku udah bilang gak baik menyimpulkan sesuatu sebelum mengetahui fakta yang sebenarnya, bukan?" Nana lantas menoleh hingga pandangan mereka bertemu.


Arjuna menghembuskan nafas ke udara berusaha meyakinkan diri untuk tetap mengungkapkan identitas dan hubungan Juna dengan orang tua Nana. Arjuna berharap setelah ini Nana tidak salah paham dan tidak menyamakan dirinya dengan Jordy lagi.

__ADS_1


"Tapi kamu jangan bicara sebelum aku selesai bicara," ucap Juna memberikan peringatan.


"Tap--


"Jangan bicara sebelum aku suruh," pungkas Juna dan Nana langsung menganggukkan kepala, sepertinya tidak punya pilihan selain menurutinya.


Juna memegang kedua lengan Nana dan mengarahkan wanita itu untuk fokus melihat dan mendengarkannya.


"Sebenarnya ... aku adalah orang yang dulu akan dijodohkan dengan kamu," ucap Juna mengawali pembongkaran identitasnya, mata Nana membola sempurna melihatnya. "Ya, aku laki-laki pilihan papamu yang sudah kamu tolak sebelum kita bertemu."


"A-apa? Nggak mungkin." Nana menolak kebenaran ini, tapi Juna semakin bicara banyak dan perlahan berhasil membuat ia percaya kalau Juna tidak sedang berbohong.


"Sudah jangan menangis lagi." Juna menjauhkan gelas kopi yang tadi ia bawa lalu menggeser duduknya lebih dekat dengan Nana, ia merangkul dan menyandarkan kepala Nana di dada bidangnya. Yah, Nana menangis setelah mendengar penjelasannya, foto-foto itu ia kumpulkan saat menjadi penguntit Nana secara diam-diam tanpa sepengetahuan Nana. Dan tangisan Nana semakin pecah setelah ia menceritakan kondisi mama Nana yang belakangan memang sudah sering sakit-sakitan.

__ADS_1


"Kenapa baru cerita sekarang?" tanya Nana di sela tangisannya. Ia tidak menyangka kalau ternyata laki-laki pilihan papanya dulu memang seorang laki-laki baik dan bertanggung jawab, buktinya meskipun sudah pernah ditolak, tapi Juna masih menjaga mama dan perusahaan peninggalan sang papa. Bahkan, sampai detik ini masih mau membantunya. Apa laki-laki ini tidak sakit hati padanya?


"Karena aku nggak mau kamu pergi lagi, Na," jawab Juna seraya mengelus rambut Nana. "Sudah cukup dulu kamu pergi dariku, sekarang jangan lagi... jangan pergi lagi," ucapnya penuh permohonan.


Nana lantas heran melihat Juna. Ditatapnya wajah Juna seolah mencari jawaban atas pertanyaan yang mengganjal di hati. Kenapa Juna bisa begitu baik? Kenapa Juna tidak membencinya? Kenapa Juna tidak mau ia pergi? Apa Juna sedang bergurau? Apa Juna sedang bersandiwara? Apa ini bagian dari rencana jahatnya?


"Kenapa?" Juna meraih kedua tangan Nana lalu ia letakkan di dadanya. "Kenapa melihatku seperti itu? Kamu pikir aku gila atau bohong?" Juna tersenyum simpul. Ya, ia memang sudah tergila-gila kepada Nana ini.


"Kenapa?" Nana mengembalikan pertanyaan. "Kenapa kamu nggak mau aku pergi?" Suara Nana terdengar lirih dan menunggu jawaban.


Juna tersenyum. "Kenapa masih bertanya? Sudah jelas karena kamu perempuan yang aku cintai. Apa masih perlu bukti lagi?"


"Nggak ...aku bukan Nana yang dulu, Jun. Aku sudah pernah menikah sementara kamu masih laki-laki lajang dan bebas memilih perempuan yang lebih baik dari aku, Jun! Aku dan Jordy masih belum resmi berpisah kalau kamu lupa itu!"

__ADS_1


Perbedaan status diantara mereka tidak bisa terbantahkan, Nana tidak mau Juna menyesal di kemudian hari.


__ADS_2