
Bab 8- Menjalin Kerja Sama
Restoran X menjadi tempat pertemuan penting antara Jordy dengan klient baru yang bersedia menanamkan saham di perusahaannya. Namun, sudah hampir satu jam ia dan Zora duduk di sini, tidak ada tanda-tanda kedatangan pria tersebut.
"Kenapa dia nggak profesional, sih? Sampai kapan kita menunggu di sini? Buang-buang waktu aja." Zora kesal melihat Jordy dan asisten dari klient penting mereka.
"Zora kamu harus tenang, jaga sikapmu!" ujar Jordy berbisik di telinga Zora.
"Mau nunggu sampai jam berapa lagi? Udah hampir jam 8 malam, loh!" sentak Zora, tidak mengindahkan ucapan suaminya.
Pintu utama yang seluruhnya terbuat dari kaca pun terbuka lebar. Seorang pria bertubuh tegap melangkah mantap mendekati meja Jordy. Kehadirannya menarik perhatian orang-orang yang ada di sana terutama Zora dan Jordy.
"Apa saya membuat kalian menunggu terlalu lama?"
Pertanyaan pria tersebut membuat Jordy dan Zora terkejut dan langsung berdiri menyambutnya.
"Ti-tidak," jawab Zora, ia terpesona melihat lawan bicaranya. "A-apa Anda Tuan Arjuna yang akan menjadi insvestor di perusahaan kami?"
'Huh perusahaan kami? Mereka sangat tidak tahu malu.' Arjuna tersenyum remeh. Sudah jelas itu perusahaan Nana yang sudah mereka curi.
"Silahkan duduk, Tuan!" Teo asisten Arjuna memersilahkan bosnya duduk.
Juna pun duduk dengan tenang.
"Silahkan duduk," ucap Juna kepada Zora dan Jordy.
"Iy-iya, perkenalkan nama saya Jordy dan ini istri saya Zora." Jordy mengulurkan tangan memerkenalkan diri. Namun, Juna tidak menyambutnya. Pria itu hanya mengangguk saja.
"Ternyata benar yang dikatakan Pak Teo kalau Tuan Arjuna yang penuh karisma dan wibawa ini pasti datang," ucap Jordy seraya menarik tangannya.
"Itu terlalu berlebihan, tapi tenang saja karena saya tidak akan pernah mengingkari janji yang sudah saya ucapkan, tapi sepertinya waktu saya tidak terlalu banyak, bagaimana kalau kita langsung pada intinya saja. Teo sudah menjelaskan semuanya, bukan?"
Juna menepuk pundak Teo pertanda ia ingin segera menyelesaikan semua dan pergi dari hadapan dua orang yang ingin ia beri pelajaran.
"Iya, Tuan. Hanya tinggal menunggu tanda tangan Tuan saja."
Teo memberikan pena dan membuka file-file yang akan ditanda tangani Arjuna.
"Apa tidak sebaiknya kita makan malam lebih dulu, Tuan?"tanya Zora yang sedari tadi hampir tidak berkedip melihat Juna.
"Tidak, saya masih ada pekerjaan lain dan kalian tidak perlu memanggil Tuan, panggil saja Juna. "
__ADS_1
"Oh, iya Pak Juna," sahut Jordy.
Tanpa banyak kata, Arjuna langsung menggoreskan tanda tangan berharga miliknya di file tersebut, mulai hari ini mereka resmi menjalin kerja sama.
Jordy dan Zora tersenyum lega, karena memang beberapa bulan ini keuangan perusahaan mereka tidak stabil sebab mereka memakai banyak uang untuk jalan-jalan dan membeli beberapa barang mahal untuk menunjang penampilan dan sekedar foya-foya ke luar negri.
"Silahkan lanjutkan makan malam kalian, biar saya yang bayar."
Arjuna mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu rupiah dari dompet, kemudian diletakkan di atas meja.
"Saya harus pergi!" Arjuna bangkit dari duduknya, namun Jordy menahannya.
"Terimakasih untuk semua ini, tapi kalau Pak Juna tidak keberatan, besok malam saya akan mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan kerja sama kita dan saya harap Pak Juna bisa menghadiri pesta itu."
"Baiklah, saya usahakan datang!" ujar Arjuna dan langsung pergi tanpa menoleh lagi. Teo pun mengikutinya.
"Aku yakin dia pasti kaya raya sampai mau nanam saham sebanyak ini di perusahaan kita," cetus Zora.
"Kamu kagum sama dia? Daritadi nggak berkedip!" kesal Jordy sambil mengambil uang yang ditinggalkan Juna.
"Nggak! Cuma seneng aja karena perusahaan kamu nggak jadi bangkrut dan butik aku nggak jadi dijual!"
"Makanya kalau bisa pengeluaran kamu dihandle, dong! Jangan suka belanja sembarangan! Kamu kan bisa mencontoh Nana!"
"Nana lagi, Nana lagi! Nana udah mati nggak usah kamu sebut namanya lagi!" pekik Zora, beberapa orang melihat kearahnya.
Demi menghindari pertikaian yang akan menarik perhatian orang lain, akhirnya Jordy memilih diam dan mulai memesan makanan.
***
Di luar restoran.
"Ini kartu identitas seperti yang Tuan minta!"
Sebuah kartu identitas baru sudah selesai seperti harapan, hanya tinggal menjalankan rencana saja.
"Bagus! Kau memang selalu bisa diandalkan. Tetap awasi pergerakan mereka!"
"Baik, Tuan!"
Arjuna menyimpan kartu identitas baru milik Nana di dalam saku jas hitam yang ia kenakan lalu masuk ke dalam mobil dan meminta sopir melajukan mobil ke suatu tempat.
__ADS_1
***
Sementara Nana tidak berselera makan, matanya selalu melihat kursi kosong di hadapannya. Biasanya saat makan malam seperti ini Arjuna duduk di kursi itu, namun malam ini hanya ia seorang diri.
"Kamu nggak makan? Sini temenin aku," ajak Nana kepada pelayan yang berdiri tidak jauh darinya. "Kenapa berdiri di situ? Biasanya jam segini udah istrahat."
"Pesan pak Juna, saya harus menjaga dan memastikan ibu menghabiskan makan malam."
"Memangnya Juna pergi ke mana? Biasanyaa sebelum pergi dia nemuin aku dulu. Dia nggak pamit sama aku, tapi sempat pamit sama kamu ya."
"Mungkin ada urusan penting."
'Urusan penting apa? Kenapa nggak pamit? Apa Arjuna mau melamar kekasihnya? Huh, kenapa aku jadi penasaran seperti ini?'
Nana membatin bukan berarti cemburu karena ada rasa di hati untuk Juna, namun ntah mengapa ia merasa setelah kejadian di ruang olah raga tadi, Arjuna terkesan menghindarinya.
***
Tepat jam 12 malam, Arjuna membuka pintu utama dan terkejut melihat Nana tidur di sofa yang terletak di ruang tamu.
Juna sengaja pulang ke rumah larut malam agar tidak canggung bertemu Nana. Tapi, tidak disangka Nana malah tertidur di sofa.
"Kenapa kamu tidur di sini? Nggak mungkin nunggu aku, 'kan?"
Arjuna jongkok di depan Nana, ia menyelipkan rambut halus ke belakang telinga Nana. Ditatapnya wajah teduh tanpa ada setitik jerawat ataupun noda yang terlihat sangat cantik itu. Bibir bervolume Nana mengingatkan Juna pada kejadian siang tadi, tanpa sadar Juna mengelus pipi Nana.
"Bersiaplah untuk hari esok, kamu pasti bisa balas dendam dan kamu sendiri yang harus melakukannya, aku hanya akan memantau dari jauh."
Juna tidak tega membangunkan dan mengganggu tidur nyenyak Nana, tapi tidak mungkin ia membiarkan Nana tidur sendirian di ruang tamu. Akhirnya Juna menggendong dan membawa Nana ke kamarnya.
***
Juna membaringkan Nana di atas ranjang.
"Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku...."
Sepertinya Nana mengigau, kedua mata wanita ini terpejam tapi ia bicara sambil menahan tangan Juna seolah tidak mau jauh dari Juna.
"Tetap di sini, jangan tinggalkan aku...."
Kali ini Nana terlihat gelisah, bahkan tangannya semakin mencengkram lengan Juna.
__ADS_1
"Tenanglah, aku di sini." Juna terpaksa duduk di tepian tempat tidur, namun tiba-tiba Nana menariknya sampai ia terjatuh dan hampir menindih Nana.
"Apa kamu mimpi buruk?" Ditepuknya pipi Nana agar wanita ini terjaga dari mimpi. Tapi, Nana tidak mengatakan apapun lagi, hanya helaan nafas yang terdengar di telinga sampai Nana tidur pulas lagi.