
Bab 22
"Ka-kamu bilang apa?" tanya Nana tergagap, pelukan Juna membuat Nana susah bergerak, untuk melihat wajah Juna saja ia hanya bisa mengangkat dagu. Mereka saling memandang dalam diam. Larut dalam pikiran masing-masing. Telinga Nana yang masih berfungsi dengan baik membuat ia yakin jika apa yang ia dengar beberapa saat yang lalu tidak salah, tapi Nana tidak percaya dengan kata cinta yang diucapkan Juna. Tidak mungkin Juna yang masih lajang bisa mencintai Nana yang sudah pernah menikah dan saat ini saja masih menyandang status sebagai istri pria lain, walaupun ia dan Jordy sudah lama tidak bersama namun kenyataannya Jordy tidak pernah menceraikan dirinya.
Arjuna mengulas senyuman yang berhasil membuat jantung Nana berdegup kencang. Bagaimana tidak? Sudah lama mereka tinggal satu atap, tapi Nana jarang sekali melihat Arjuna tersenyum seperti sekarang, lihatlah senyuman yang menghiasi wajah Juna kian menambah ketampanannya.
"Aku cinta sama kamu," terang Juna lagi sambil sedikit merenggangkan pelukan yang langsung disambut Nana dengan satu langkah menjauhinya. "Aku tau kamu nggak percaya, tapi bukankah semua foto ini sudah menjelaskan perasaanku sama kamu? Apa masih ragu juga?" Arjuna tau Nana tidak mungkin secepat itu memercayainya, ia paham kalau Nana masih trauma dengan masa lalu yang hampir membuat ia merenggang nyawa, apa lagi yang lebih menyakitkan daripada dikhianati orang tersayang?
__ADS_1
"Sejak kapan?" Nana berdecih, ia tidak habis fikir kenapa pria yang saat ini masih melingkarkan kedua tangannya di pinggang itu bisa membuat ia hampir luluh. "Yang aku tahu kita pertama kali ketemu di rumah sakit, tapi dari mana kamu punya foto-fotoku bahkan dari aku sebelum menikah?!"
Nana mendorong Juna berusaha menambah jarak di antara mereka, tapi yang terjadi justru malah sebaliknya, tidak disangka Juna semakin menarik pinggangnya hingga membuat tubuh mereka nyaris bersentuhan, kini manik mata mereka kian bertautan, jarak sedekat ini membuat aroma wangi shampo dari rambut Juna kian tajam menusuk indera penciuman membuat Nana spontan menundukkan kepala. Dan betapa terkejutnya Nana melihat handuk putih yang dikenakkan Juna, ia baru menyadari kalau saat ini berada di pelukkan pria normal yang setengah telan*ang. Tidak seharusnya ia berada di sini, bukan? Nana yang semula ingin minta maaf, berakhir marah karena melihat foto-fotonya di kamar penipu ini, tapi sekarang ia menahan malu dan mulai khawatir Juna akan berbuat macam-macam kepadanya, kalau tahu seperti ini tidak seharusnya ia masuk ke kamar pria dewasa seperti Juna.
"Le-lepaskan, aku." Nana membuang muka menatap foto-fotonya seperti semula. Sialnya Nana menjadi salah tingkah, menunduk salah, melihat wajah Juna pun salah.
Arjuna tersenyum senang melihat pipi Nana bersemu merah seperti buah tomat, ia tahu kalau saat ini Nana terlihat salah tingkah, heh lucu sekali wanita yang satu ini, marah, menolak tapi wajahnya terlihat terpesona. Oh, mungkin Nana mengagumi tubuhnya yang kekar ini.
__ADS_1
Nana menggeleng cepat. "Nggak di sini ... maksudku nggak sekarang. Aku tunggu di luar," ucapnya dan langsung lari setelah ia menginjak kaki Arjuna.
Arjuna tidak kesakitan, ia justru tertawa melihat tingkah Nana yang sangat jelas salah tingkah tadi. Tapi, sebenarnya ia juga berusaha menahan diri dari rasa panas yang tiba-tiba menjalar di sekujur tubuhnya. Ah, rasanya ia tidak mau mencuci tangan yang sempat menggurita di pinggang ramping Nana tadi.
"Kapan aku bisa bebas meluk kamu?" tanya Juna pada foto Nana yang tidak akan pernah memberikan jawaban.
***
__ADS_1
Hingga malam hari tiba Nana masih mengurung diri di kamar, untuk makan malamnya saja diantarkan pelayan ke kamarnya. Nana benar-benar belum siap menghadap Juna, ia pun tidak tahu kenapa bisa malu seperti ini, bukankah seharusnya ia memarahi pria itu karena sudah lama membohonginya? Kenapa malah takut menghadapnya?
"Akhhh kenapa jadi begini?" teriak Nana sambil melemparkan bantal ke sembarangan arah, tadi setelah keluar dari kamar Arjuna, ia berencana pergi dari rumah ini, tapi Teo yang saat itu berjaga di luar rumah menghalangi dan tidak mengijinkannya pergi. "Juna pasti sengaja mengurungku di sini!" umpatnya kesal.