Aku Balas Pengkhianatanmu, Mas!

Aku Balas Pengkhianatanmu, Mas!
Bab 9- Identitas Baru


__ADS_3

Bab 9- Identitas Baru


Melihat Nana seperti ini membuat Juna gamang, ia ingin pergi tapi tidak tega meninggalkan Nana sendirian.


"Baiklah, aku akan menemanimu tidur di sini. Aku harap besok kamu nggak salah paham." Rasa kantuk dan lelah sudah menyerang Juna, hingga ia pun terlelap di samping Nana.


*


Suara kicauan burung-burung di pagi hari terdengar syahdu di telinga Nana, namun ia enggan membuka mata. Nana tidak mau bangun dari mimpi indah. Malam tadi, ia bermimpi kalau ia masih bersama Jordy calon anak mereka masih ada di dalam rahim. Rasanya Nana tidak mau ditinggal pergi, mimpi itu seperti nyata karena Nana yakin kalau sepanjang malam tidur sambil memeluk sosok pria di sampingnya.


DEG!!!


"I-ini bukan mimpi...." Tangan Nana meraba sesuatu di sampingnya, bukan guling melainkan dada bidang milik seorang pria. Sontak, ia membuka mata.


"A-Arjuna? Kenapa dia bisa tidur di sini? Tadi malam aku nungguin dia di ruang tamu, tapi kenapa pagi ini kami ada di kamar dan tidur di atas ranjang yang sama?"


Pikiran Nana dipenuhi berbagai pertanyaan menebak apa yang terjadi saat ia tidur lelap, apa mungkin terjadi sesuatu diantara mereka? Tapi melihat piyama tidur masih melekat di badan membuatnya lega sekaligus malu sudah memeluk Juna.


"Semoga Juna nggak tau kalau tadi aku meluk dia." Nana tidak mau Juna melihatnya seperti ini, akhirnya ia pun turun dan lari ke kemar mandi.


Mendengar pintu kamar mandi ditutup, barulah Juna membuka mata. "Dasar." Sebenarnya Juna sudah bangun tapi berpura-pura masih tidur supaya bisa lebih lama menikmati hangatnya pelukan Nana. Bahkan, sudah cukup lama ia memandang wajah Nana yang terlelap di sampingnya.


"Mungkin, seperti ini rasanya punya istri," gumam Juna sambil melihat pintu kamar mandi tertutup rapat. Karena tidak mau Nana canggung melihatnya akhirnya ia menyingkap selimut dan pergi diam-diam dari kamar Nana.


Sementara Nana gelisah di kamar mandi, handuk kimono warna putih sudah membalut tubuh rampingnya, terhitung sudah lebih dari tiga puluh menit ia mondar-mandir di balik pintu takut Juna masih ada di kamarnya.


"Kenapa aku jadi grogi kayak anak abage? Mau sampai kapan aku di sini?"


Nana membuka pintu dan mengintip situasi kamar, dilihatnya ranjang sudah kosong. Pria itu sudah tidak ada di sana.


"Syukurlah kalau Juna sudah pergi," ucapnya lega dan bergegas memakai pakaian.


Beberapa saat kemudian, Nana memerhatikan penampilannya di cermin, ia masih tidak menyangka bisa mendapatkan bentuk tubuh ideal seperti yang diharapkan, Nana tidak memungkiri kalau semua ini tidak lepas dari Juna yang selalu membantunya.


Sebuah dres warna peach tanpa lengan sudah melekat di tubuhnya, rambut hitam yang iamiliki menambah pesona dan kecantikkannya.

__ADS_1


"Ini beneran aku?" Mengagumi diri sendiri.


Suara pintu kamar diketuk dari luar menarik perhatiannya. Seorang pelayan muda mengatakan kalau Juna sudah menunggu di ruang makan. Mau tidak mau Nana turun ke lantai dasar.


"Selamat pagi!" sapa Juna.


"Pagi...." Nana menarik kursi dan duduk persis dihadapan Juna. Ia canggung bertemu Juna tapi sepertinya Juna biasa saja.


"Kenapa lama sekali?" Senyum semirk mengembang di wajah dingin Juna. "Habiskan sarapanmu setelah itu temui aku di ruang kerja." Juna meraih tisu dan membersihkan mulutnya lalu beranjak dari duduknya, ia tidak mau Nana membahas kenapa ia bisa tidur di kamarnya.


"Maaf udah buat kamu nunggu, kamu udah siap makan?"


"Sudah...." Juna menjawab singkat.


Nana terdiam sampai Juna benar-benar menghilang dari matanya.


***


"Kartu identitas untukku?" tanya Nana sesaat setelah Juna memberinya kartu identitas baru di ruang kerjanya.


"Hah? Mirna? Kenapa harus ganti nama juga? Apa aku sudah boleh keluar rumah? Apa rencana selanjutnya?" Nana sangat antusias.


Juna menutup laptop lalu menatap wajah Nana.


"Dengar, Nana ... akh, maksudku Mirna. Aku sudah berhasil menjalin kerja sama dengan Jordy dan Zora. Mereka tidak tahu apapun tentangku. Berpuralah menjadi sepupuku Mirna seorang pengusaha sukses dari paris yang akan menjadi partner kerja Jordy juga, buat mereka terkesima padamu lalu setelah itu ambil kembali apa yang mereka ambil darimu, gampang, kan?"


Nana menggelengkan kepala, ia tidak menduga akan berhadapan langsung dengan dua orang itu. Bertindak seperti orang penting di perusahaan orang lain.


"Pengusaha sukses dari Paris? Artinya setiap hari aku akan berhadapan dengan mereka?"


"Tepat! Dan malam ini Jordy mengadakan pesta, ini kesempatan bagus untuk kamu menarik perhatiannya!"


Nana mendadak kesusahan menelan salivanya sendiri, ia gemetaran membayangkan pertemuannya dengan Jordy dan Zora setelah hampir 10 bulan tidak bertemu.


"Kamu yakin mereka gak akan curiga kalau aku ini Nana?"

__ADS_1


Juna mengangguk yakin. "Semua dokumenmu akan menjadi bukti dan bisa menjelaskan identitas kamu yang sekarang, jadi tenang saja."


"Sebenarnya aku nggak sabar mau mencabik-cabik mereka, tapi aku harus main cantik supaya Zora merasakan apa yang aku rasakan. Aku akan mengambil semua milikku, menarik perhatian Jordy dan buat dia terpesona sampai jatuh ke dalam pelukanku, dengan begitu aku yakin Zora kepanasan dan nggak bisa tidur nyenyak, lalu setelah itu kuhempaskan mereka berdua seperti dulu mereka menghempaskanku dan calon anakku."


Dendam kian membara di hati Nana, meskipun ia sedikit ragu tapi bukan berarti Nana takut menghadapi Jordy dan Zora.


"Aku selalu mendukungmu." Juna berusaha tersenyum menyembunyikan kekhawatirannya tentang Nana yang kemungkinan bisa kembali ke pelukan Jordy. Apalagi sampai sekarang Jordy dan Nana belum resmi bercerai.


***


Malam pun tiba. Arjuna dan Nana yang saat ini telah berganti nama menjadi Mirna sudah siap menghadiri pesta yang diadakan Jordy di salah satu hotel ternama yang letaknya di pusat kota.


"Apa ini nggak terlalu berlebihan? Apa pakaian ini nggak terlalu sexy?"


Nana memerhatikan penampilannya di depan cermin, ia sudah memoles wajah dengan makeup minimalis dan lipstik merah di bibir senada dengan warna gaun merah yang membentuk lekuk tubuhnya.


"Sempurna, kamu cantik!" jawab Juna dari ambang pintu kamar Nana.


Nana tersenyum dan mendekati Juna.


"Dan kamu ... tampan, sangat tampan." Nana merapikan tuxedo hitam dibagian dada Arjuna.


"Kalau seperti ini mereka akan berfikir kita ini sepasang suami istri bukan sepupu," seloroh Juna sambil terkekeh.


Nana tertawa dan memukul dada Juna.


"Jangan buat orang curiga dan jangan berpikir yang bukan-bukan, hem... kamu buat aku gerogi." Nana yakin saat ini pipinya sudah merah padam, ia pun tidak tahu kenapa wajahnya terasa panas.


"Ya, baiklah. Kita pergi sekarang. Kamu sudah siap'kan?"


Nana menghela nafas berusaha tenang.


"Mirna ... aku Mirna, bukan Nana dan aku siap bertemu mereka."


Arjuna menggandeng tangan Nana ke luar rumah, jika dilihat sekilas mereka terlihat seperti sepasang kekasih, para pelayan pun tersenyum melihatnya. Hingga akhirnya dengan diantar Teo mereka pergi ke tempat acara.

__ADS_1


__ADS_2