
Bab 21
"Nana...." Arjuna mematung di depan pintu kamar mandi, kehadiran Nana di dalam kamar membuat ia terkejut setengah mati. Sepertinya Nana tidak menghiraukan panggilannya, wanita itu tampak serius melihat beberapa foto yang ia pajang di dinding. Arjuna baru sadar kalau tadi lupa mengunci pintu. Dengan masih memakai handuk sebatas pinggang Arjuna mendekati Nana dan berdiri di sampingnya. "Soal foto ini aku bisa jelasin, Na."
"Mau jelasin apa?" ucap Nana lirih, ia melihat Arjuna dengan penuh kecewa. "Masih mau menipuku?" Nana berusaha menahan genangan air mata yang minta untuk dikeluarkan, ia mulai berfikir kalau ternyata Arjuna tidak jauh berbeda dengan Jordy yang tega menipu dirinya.
"Aku pikir kamu tulus menolongku saat aku hampir merenggang nyawa waktu itu, kamu datang memberiku harapan untuk tetap bertahan hidup, aku pikir masih ada laki-laki baik disekitarku, tapi aku salah." Nana menggelengkan kepala. "Ternyata kamu dan Jordy sama saja!" imbunya sambil memukul dada bidang Juna yang basah terkena tetesan air dari rambut pria itu. Nana yakin Arjuna pasti mengincar hartanya juga.
__ADS_1
Dan yang dikhawatirkan Juna terbukti, ia tahu kalau Nana pasti marah bila melihat foto-foto yang selalu ia pandang sebelum dan sesudah bangun tidur itu. Tapi Arjuna berusaha menjelaskan kalau dirinya tidak seburuk Jordy.
"Kamu salah paham... aku nggak pernah berniat untuk menipumu, jangan samakan aku dengan dia." Arjuna meraih tangan Nana untuk minta maaf dan membujuk Nana agar mau mendengarkannya, tapi Nana menepis tangannya kuat.
"Aku yang terlalu percaya diri dan bodoh karena sudah percaya sama orang asing yang ntah datang dari mana. Harusnya diawal aku nggak pernah ketemu sama kamu, harusnya dari awal aku nggak percaya sama kamu, Jun! Kenapa... kenapa kamu bangkitkan trauma akan masa laluku, Jun? Kenapa kamu lebih jahat dari Jordy? Aku salah apa sama kalian?"
Suara Nana menggema di kamar Juna. Air mata yang sedari tadi ia tahan pun sudah tumpah ruah membasahi pipi, ditatapnya Juna dengan kecewa yang menyelimuti diri.
__ADS_1
Arjuna tidak memberikan perlawanan seolah membiarkan Nana memukul bagian tubuhnya, ditatapnya wajah Nana yang sudah sembab karena menangis.
"Jangan menyimpulkan sesuatu yang kamu sendiri tidak tahu kebenarannya, aku bersumpah aku nggak pernah ada niat jahat sama kamu, kamu salah menyamakan aku dengan mantan suamimu, itu!" Juna berusaha tetap tenang, mengingat Nana yang pernah kabur dari rumah orang tuanya dengan kondisi marah membuat ia waspada agar kejadian itu tidak terulang lagi, yah Arjuna tidak mau Nana pergi dari rumah ini.
"Kalau kamu nggak percaya, aku bisa berikan sertifikat rumah ini untukmu." Seketika Nana berhenti memukulnya kemudian mengangkat dagu menatap wajah Juna. Pandangan mereka pun bertemu. "Percaya sama aku, Na. Aku nggak mungkin nyakiti kamu." Juna menghapus air mata di wajah Nana menggunakan ibu jarinya.
Nana menghemaskan tangan Juna sampai tergantung di udara. Air mata itupun semakin mengalir deras.
__ADS_1
"Ini bukan masalah harta, tapi tentang kepercayaan. Kamu tau gimana sulitnya aku untuk percaya sama orang lain lagi, kamu satu-satunya orang yang berhasil merebutnya dariku. Tapi kenapa kamu tega bohongin aku? Dengan adanya foto-foto ini aku yakin kamu sudah tau banyak tentang aku, tapi kenapa kamu nggak pernah cerita?" Rasanya Nana sudah tidak sanggup lagi bersitatap muka dengan Juna, hingga ia akhirnya memutuskan untuk pergi tapi Juna memegang pergelangan tangannya mencegah Nana pergi.
"Sudah jangan menangis lagi, bagiku air matamu ini berharga." Juna mendekap Nana ke dalam pelukannya. Tapi, Nana tetap membetontak tidak mau diam. "Ok, aku minta maaf, ya. Tapi kamu harus percaya kalau aku nggak punya niat untuk menipumu, aku cinta sama kamu, Na." Dan ucapan Juna berhasil meredam tangisan Nana.