Aku Balas Pengkhianatanmu, Mas!

Aku Balas Pengkhianatanmu, Mas!
34


__ADS_3

Bab 34


Keesokan harinya.


Hari masih sangat larut matahari belum menampakkan dirinya,tapi Juna sudah harus pergi ke kantor untuk memimpin rapat membahas acara malam ini di ballroom sebuah hotel yang tidak jauh dari kantornya. Sebenarnya, persiapan sudah hampir rampung, hanya saja waktu yang dimajukan membuat orang yang bertanggung jawab menangani acara jadi repot dan takut melakukan kesalahan.


Jam 10 pagi, Juna sampai di tempat acara. Ia datang untuk memantau lokasi yang akan menampung banyak orang terutama kolega bisnis dan para awak media. Ya, Juna sengaja mengundang banyak wartawan untuk meliput acara lounching produk baru yang juga memerkenalkan Nana sebagai modelnya.


"Ini kunci kamarnya, Bos." Teo menyerahkan kunci kamar hotel kepada Juna, ia berinisiatif memesankan kamar agar atasannya itu tidak bolak-balik pulang ke rumah hanya untuk mengganti pakaian lalu kembali lagi menghadiri acara malam ini. "Biar nggak buang-buang waktu," imbuh Teo saat Juna menolaknya.


"Siapa yang suruh?" Meskipun bertanya, tapi tangannya mengambil kunci itu dari tangan Teo, Juna tidak menolak lagi karena ternyata Teo sudah menyiapkan semua kebutuhannya.


"Saya tahu apa yang bos inginkan, jadi lebih baik bos istrahat di dalam supaya nanti malam staminanya ok."

__ADS_1


Arjuna menggeleng. "Sejak kapan kau panggil aku, bos? Lagipula kau tidak tau apa yang aku inginkan, jadi diamlah!"


Yang diinginkan Juna saat ini adalah, pulang ke rumah dan makan siang bersama Nana. Staminanya akan tetap terjaga bila ia bebas mengobrol dan memandangi wajah Nana. Tapi, Teo malah mengganggu semuanya. Hah, kenapa terlalu sulit untuk diwujudkan?


"Kau sudah kirimkan MUA untuk merias Nana?" tanya Juna sambil berjalan menuju lift.


"Semua sudah beres seperti yang bos perintahkan," jawab Teo bangga karena merasa bisa diandalkan.


"Lalu gaunnya?" Juna menjeda ucapannya, ah tidak mungkin ia menanyakan gaun apa yang dipakai Nana malam ini. Juna baru ingat kalau ia belum melihat gaun Nana. Bagaimana kalau ternyata gaun itu terlalu sexy? Pasti banyak mata buaya yang melihatnya.


"Sudahlah, biarkan aku istrahat."


***

__ADS_1


Di tempat lain.


Zora tidak tahu ntah berapa lama lagi ia dikurung di dalam sini, jendela dan ventilasi udara yang tertutup rapat menghalangi pandangannya melihat pergantian siang dan malam. Tapi, Zora masih beruntung karena orang-orang yang menyekapnya rutin memberikan makanan untuknya.


"Keluar! Cepat keluar!" Anak buah Juna membuka pintu. "Kau mau ke luar atau tetap di sini?" Ia bertanya setengah berteriak. Zora langsung lompat dari tempat tidur.


"A-aku mau keluar! Apa aku sudah boleh keluar dari tempat ini?" Zora gemetaran, ia takut pria ini melukainya.


"Malam ini bos kami ada acara di hotel X. Jadi, kami bisa membebaskanmu. Cepat pergi sebelum kami berubah fikiran."


"I-iya, aku pergi!" Zora tidak mau membuang kesempatan, dia pergi dengan membawa pertanyaan kenapa orang-orang ini membebaskan dirinya.


Setelah berhasil keluar dari rumah itu, Zora baru tahu ternyata ia disekap di rumah yang terpencil dari bangunan yang lain. Gelapnya malam itu tidak menghalangi semangat Zora untuk tetap berjalan menuju jalan raya. Meskipun pandangannya terbatas, Zora tetap berusaha pergi jauh sebelum para penjahat itu berubah fikiran dan menangkapnya lagi.

__ADS_1


"Hotel X? Apa jangan-jangan acaranya dimajukan? Ini kesempatanku untuk membuka rahasia Nana di depan semua orang. Biar semua orang tau kalau Nana memalsukan identitasnya." Zora tidak perduli. Meskipun saat ini tampilannya sangat berantakan, tapi Zora tetap pergi ke acara yang sedang berlangsung malam itu.


__ADS_2