
31
"Juna, aku serius kamu kenapa ketawa, sih?" Melemparkan map kearah Juna. Pria itu langsung melipat bibir. "Inget, loh jangan minta yang aneh-aneh." Nana mengepalkan tangan seolah ingin memukul Juna.
"Gimana nggak ketawa? Wajahmu menggambarkan seolah kamu tahu apa yang aku minta." Juna terkekeh lagi. "Tuh, kan wajahmu merah," ucapnya ssngaja menggoda Mirna.
Mirna tidak menjawab, pipinya terasa panas, hingga akhirnya ia pergi tanpa bicara sepatah katapun lagi.
"Di mana dia?" tanya Arjuna kepada dua pria yang baru menghadapnya, sementara Nana sudah keluar dari ruang kerjanya.
__ADS_1
Dua pria yang tadi ditugaskan untuk mengamankan wanita yang hanya bisa membuat masalah itu pun langsung memberikan laporan mereka.
"Seperti yang bos inginkan. Wanita itu sudah kami kurung sampai bos ijinkan untuk dibebaskan," jawab salah satu dari mereka.
Juna tersenyum puas, ia yakin rencana yang sudah disusun beberapa hari yang lalu pasti akan berjalan sesuai yang ia inginkan. Nana tidak tahu kalau sebenarnya Juna masih memantau Jordy dan Zora dari jauh. Juna yang awalnya membebaskan Nana menuntaskan balas dendam sendiri agar wanita itu merasa puas melihat kehancuran Jordy dan Zora belakangan merasa proses yang dijalankan Nana agak lama, lihatlah yang ada Jordy malah semakin bebas berkeliaran dan mendekati Nana. Huh, ini tidak bisa dibiarkan.
"Ini ponsel wanita itu, bos." Memberikan ponsel Zora yang tadi sengaja ia sita kepada Arjuna.
Juna dan anak buahnya menyusun rencana untuk acara besok yang akan diadakan di ballroom hotel. Para kolega bisnis dan beberapa orang penting lainnya akan menghadiri acara itu. Besok semua orang akan tau siapa Jordy yang sebenarnya. Apapun yang terjadi rencana mereka tidak boleh gagal.
__ADS_1
Sementara di tempat lain.
Rumah yang dulu menjadi tempat ternyaman untuk kembali, kini sudah menjadi tempat terkutuk yang ingin dihindari Jordy. Ntah mengapa rumah ini menjadi panas. Hampir setiap hari diisi dengan pertengkarannya dengan Zora. Belakangan ini mereka sering sekali tidak sejalan. Perbedaan pendapat sekecil apapun selalu bisa memicu keributan di rumah itu. Wajah Jordi sudah seperti benang kusut kali ini. Pesan yang baru dikirimkan Zora membuatnya ingin menghancurkan benda apapun yang ada di depan mata.
"Bisa-bisanya Zora ke luar kota meninggalkan pekerjaan yang menggunung di sini. Untung saja gaun untuk acara besok sudah diambil Mirna, jadi aku nggak perlu repot-repot lagi datang ke butik."
Setelah membaca pesan singkat yang dikirim Zora beberapa menit yang lalu, Jordy langsung meletakkan benda pipihnya di atas meja, ia sama sekali tidak berminat menghubungi atau memastikan keadaan istrinya itu. Biarlah Zora sibuk dengan urusannya sendiri, mungkin itu lebih baik daripada harus mendengar Zora berulang kali membahas Mirna dan Nana.
Bicara tentang Mirna. Jordy jadi teringat tahi lalat yang ada di kening Mirna, karena penasaran ia mengambil foto Nana yang kemarin ditunjukkan Zora lalu mulai memerhatikan wajahnya.
__ADS_1
"Apa memang aku yang terlalu bo doh sampai terlalu gampang percaya sama Mirna atau memang Zora ngarang cerita?" Jordy mengusap wajah frustrasi, kalau saja tadi sekretaris itu tidak mengganggu, ia dan Mirna pasti sudah melakukannya. Ruang kerjanya itu pasti akan menjadi saksi cinta mereka.