
Bab 26
"Kalian siapa? Seenaknya merusak butikku!" Zora marah kepada dua orang laki-laki berbadan kekar yang sedang menurunkan spanduk bertuliskan nama butik miliknya tanpa izin, ulah dua orang itu membuat darah tingginya naik di pagi hari, ia tidak terima karena merasa tidak dihargai sebagai pemilik tempat ini.
Dua orang yang sudah dibayar mahal oleh Mirna itu pun tidak menghiraukan Zora, mereka tetap melakukan tugasnya mengganti papan spanduk yang berada persis di halaman butik Zora.
"Hey, siapa yang suruh kalian merusuh di sini? Turunkan itu! Butik ini milikku bukan milik Mirna, kenapa kalian menggantinya?" pekik Zora sembari menarik lengan pria yang sedari tadi mengacuhkannya. "Kalian bisa aku tuntut atas perbuatan tidak menyenangkan!" ancam Zora berapi-api.
Salah seorang pria itu pun akirnya meladeni Zora. "Maaf, Bu. Kami cuma menjalankan tugas," jawabnya lalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan Zora.
"Tunggu! Kalian mau ke mana? Tugas dari siapa yang kalian maksud?" Diabaikan membuat kesalnya semakin naik ke ubun-ubun.
__ADS_1
Disaat yang bersamaan sebuah mobil mewah warna hitam berhenti tepat di samping Zora. Zora semakin kesal melihat seseorang yang baru t
Mirna tersenyum sinis lalu membuka kaca mata hitam yang menghiasi wajah manisnya, ia merasa puas melihat Zora seperti menahan kesal kepadanya.
"Selamat pagi, Bu Zora. Anda menyukai kejutan dari saya ini, bukan?" Mirna berdiri tegak di hadapan Zora.
"Jadi ini perbuatanmu? Apa maksudnya ini, huh?" tanya Zora sambil menolak bahu Mirna, mengingat perselingkuhan Zora dan Jordy membuat emosinya menjadi berlipat ganda. "Jangan macam-macam sama aku kalau kamu masih mau hidup damai di sini!" Mengarahkan jari telunjuk di wajah Mirna.
Mirna menepuk bahunya seolah membersihkan noda yang ditinggalkan jari Zora, kemudian ia berbisik di telinga Zora. "Memangnya kamu mau lakuin apa? Apa mau melenyapkan aku seperti kalian melenyapkan Nana?" bisikkannya berhasil membuat wajah Zora menjadi pucat pasih, Zora melihat Mirna dengan mata yang terbuka sdmpurna, yah sepertinya wanita itu sangat terkejut dengan apa yang ia katakan.
Kali ini Mirna bersedekap dada di depan Zora, memerhatikan wanita itu dari ujung kaki ke ujung kepala.
__ADS_1
"Kenapa sahabatku ini seperti ketakutan melihatku lagi?" Nana menggelengkan kepala. "Kamu nggak senang kalau aku masih hidup?" Nana menjeda kalimatnya seolah menikmati suasana ini, kapan lagi ia bisa melihat Zora ketakutan seperti sekarang?
Zora masih diam mendengarkan Nana.
"Oh, aku lupa kalau orang yang berdiri angkuh di hadapanku sekarang adalah seorang sahabat berhati busuk yang menginginkan harta dan kematianku, tapi lihatlah aku masih bisa berdiri di hadapanmu lagi!" Mirna
"Kau mau apa Nana? Kenapa kau memalsukan kematianmu?" Suara Zora terdengar sampai ke dalam butik hingga membuat dua pegawainya keluar untuk melihat keadaan di luar.
"Jangan berteriak di depanku atau aku sendiri yang membungkam mulutmu di depan semua orang yang ada di sini!" ancaman Nana membuat nyali Zora menciut dan terdiam menatapnya.
Zora tentu tau arti membungkam yang dimaksud Nana pasti berhubungan dengan kejadian di Villa waktu itu, jika Nana bicara di sini maka ia bisa berakhir tragis. Polisi pasti langsung datang menjemputnya.
__ADS_1
"Kamu takut?" Nana mangut-mangut seolah menikmati kegelisahan Zora. "Ya, seharusnya kamu takut sama aku Zora, kalau waktu itu aku mohon-mohon belas kasihan dari kalian, maka hari ini dan seterusnya kalian yang akan memohon belas kasihan sama aku, karena aku akan menjebloskan kalian berdua ke dalam penjara!" ucap Nana tanpa ada rasa takut berhadapan dengan Zora. Ya, traumanya benar-benar sudah hilang.
"Kau tidak punya bukti apapun, jadi jangan berharap bisa mengurungku di penjara. Ternyata kau masih sebodoh dulu, karena aku udah tahu siapa kamu yang sebenarnya jadi kita lihat apa akan aku lakukan kali ini!" Zora tertawa remeh kemudian ia berbalik badan kembali ke butiknya.