Aku Balas Pengkhianatanmu, Mas!

Aku Balas Pengkhianatanmu, Mas!
Bab 30


__ADS_3

30


"Sial! Buka pintunya!" Zora histeris, ia dikurung di sebuah rumah yang tidak berpenghuni. Zora tidak tahu di lokasi mana saat ini dirinya berada, sebab ia dibawa secara paksa oleh dua pria kekar itu dalam keadaan mata ditutup kain warna hitam yang menghalangi pandangannya.


"Nana! Jangan pikir kau bisa menang melawanku, ya!" Zora mengumpat dan menendang pintu berharap ada yang mendengar dan menolongnya, tapi sudah lebih dari tiga jam ia dikurung di tempat ini tidak ada tanda-tanda kehadiran orang lain di sana. "Semua ini gegara Jordy. Lihatlah aku bahkan nggak bisa menghubungi laki-laki plimplan itu!" Zora akhirnya menyerah, ia sudah melakukan segala upaya untuk keluar dari tempat ini tapi berakhir sia-sia.


***


"Kenapa acaranya dimajukan?" Begitu sampai di rumah, Nana langsung mencari Arjuna di ruang kerja yang ada di lantai dasar. Arjuna duduk menatap layar monitor yang ada di atas meja.

__ADS_1


"Kenapa bertanya?" Juna kembali bertanya tanpa melihat Nana, ia masih kesal karena Nana bertemu dengan Jordy seorang diri. Apa wanita ini tidak tahu kalau ia cemburu?


"Jun, aku serius! Kenapa malah balik tanya?" Nana menarik kursi lalu duduk di depan meja Juna, ia mengambil camera dari dalam tasnya. "Kamu lihat ini , aku penasaran sama isi di dalamnya!" Tangan Nana sibuk mengoerasikan benda tersebut, tapi sepertinya ada masalah. "Ini kenapa nggak bisa nyala?" Nana menjadi panik, sebab hanya ini satu-satunya harapan yang ia punya.


Juna mengambil benda itu dari tangan Nana. "Sepenting apa kamera ini untukmu?" Ia bertanya, tapi matanya melihat kamera yang berusaha ia nyalakan.


Juna menyimpan kamera itu di dalam laci sambil bicara. "Kamu mau kasih aku hadiah apa kalau aku bisa buat kamera ini nyala dan mastikan bukti seperti yang kamu bilang tadi benar-benar terekam di sini?" Juna menatap Nana intens.


Bibir Nana terkatup rapat, memangnya apa yang bisa ia berikan untuk Juna? Juna sudah punya segalanya, tampan, baik, tulus. Selama ini hidupnya baik-baik saja. Lalu apa yang kurang sampai Juna minta hadiah darinya?

__ADS_1


"Ka-kamu mau apa?" tanya Nana sedikit ragu. Mungkin Juna hanya bercanda, tapi tidak seperti yang ia duga. Tidak ada candaan melainkan keseriusan di wajah tampan itu.


"Apa kamu mau janji, kalau kamu mau nuruti apapun yang aku minta?!" Nana hampir tidak berkedip menatapnya. "Ok, cuma satu janji, nggak banyak." Wajah menggemaskan Nana membuat Juna terkekeh. "Mikirin apa?"


Nana menggeleng cepat, mengusir pikiran kotor yang sempat hinggap di otaknya. Bagaimana ia bisa berfikir kalau Juna akan meminta seperti apa yang diminta Jordy? Juna 'kan laki-laki normal yang sudah menyatakan cinta kepadanya? Ah... apa Arjuna seperti itu?


Tapi, kamera itu sangat penting. Nana melirik laci yang sudah dikunci Arjuna. Itu tandanya sebelum ia berjanji seperti yang diinginkan Juna, kamera itu tidak akan kembali ke tangannya.


"I-iya, aku janji ... tapi jangan minta yang aneh-aneh, ya!" ancam Nana sambil melotot, tapi pria yang ia ancam bukannya takut malah tertawa seolah yang ia katakan sangat lucu didengar.

__ADS_1


__ADS_2