
Sedikit banyak berbicara, Bi Hanum lalu membawa Nadira berkeliling-keliling rumah besar Keysa yang begitu sangat luas sampai-sampai Nadira dibuat bingung untuk mengingat itu semua. Dan tidak sampai disana saja, bi Hanum lagi-lagi ia membawa Nadira ke halaman belakang yang juga begitu sangat luas, bahkan disana ia melihat adanya binatang buas yang sedang terkadang membuat ia seketika merasa takut.
"Jangan takut Dira, selama kamu tidak menganggu mereka. Kamu tidak akan kenapa-kenapa?".
Nadira mengangguk, "Lalu siapa yang merawat binatang itu selama ini bi?".
"Nona Keysa".
"Apa?" Nadira melonjak kaget.
"Iya, mereka adalah sahabat nona Keysa yang sudah ia anggap sebagai manusia. Dan juga yang memberikan binatang-binatang itu makan nona Keysa sendiri".
"Astaga! Dia berani sekali" kemudian Nadira mengingat belanjaan yang tadi Keysa bawa dari pasar. "Jadi, daging-daging itu untuk hewan ini semua?".
"Iya, nona Keysa sendiri yang selalu membelinya ke pasar tradisional".
"Mmmmm, hewan-hewan ini sangat beruntung sekali memiliki majikan baik seperti dia hehehehe.. Terus, orang tua dia dimana bi?".
"Tuan dan nyonya sedang perjalanan bisnis di luar kota. Paling besok mereka akan kembali, dan juga kamu jangan panggil dia lagi dengan sebutan itu, kamu panggil nona Keysa".
"Nona Keysa?".
"Iya, tidak baik memanggil majikan kita sendiri dengan sebutan dia. Jika orang lain mendengarnya, mereka pikir kita tidak punya sopan santun kepada orang yang sudah menampung kita".
Nadira pun langsung mengerti maksud perkataan bi Hanum, "Baiklah bi, aku akan selalu mengingatnya. Mmmmm, dan lagi ada berapa pelayan dirumah seluas ini bi? Dari tadi aku tidak melihat siapa-siapa".
"Oh itu" bi Hanum melihat sekitar mereka berharap ia tidak melihat Keysa berada disana. "Karna itu dari sekarang kamu bibi ingatkan. Selama kamu berada disini, tolong kamu jaga sikap, mata, dan yang paling intinya jangan pernah melakukan satu kesalahan saja. Karna kalau sampai kamu melanggarnya, kamu akan langsung di usir dari rumah ini".
"Benarkah bibi?".
"Iya, kamu harus ingat itu".
"Baiklah bibi, aku akan selalu mengingatnya. Terima kasih sudah memberitahu ku".
.
__ADS_1
Hari sudah sore, kini waktunya Nadira harus kembali ke tempat dimana ia tinggal. Kemudian ia melihat Keysa menuruni anak tangga dengan wajah ramah melihat kepadanya yang tengah menunggu di lantai bawah.
"Dira, kamu sudah mau pergi?".
"Iya nona, saya harus pergi".
"Loh, kenapa kamu tidak tinggal disini saja Dira? Kamu akan kewalahan jika kamu harus pulang pergi kesana kemari".
"Emang aku bisa tinggal dirumah ini nona?" Nadira bertanya serius, ia berpikir kalau dia tidak pantas tinggal dirumah tersebut mengingat siapa dirinya yang sebenarnya.
"Tentu saja Dira, semua pelayan dirumah ini harus tinggal disini. Emang bibi Hanum tidak memberitahu mu?".
Nadira mengangguk, "Mungkin bibi Hanum lupa memberitahu ku nona".
"Ya sudah kalau begitu, sekarang kamu ikut aku. Aku akan memberitahu dimana kamar mu".
"Tapi nona, bagaimana dengan pakaian ku?".
"Kamu tidak usah khawatir tentang pakaian mu Dira, dirumah ini semua pakaian pelayan sudah disediakan sebelum kamu ada disini. Dan ini, kamu lihat kamar ini? Mulai sekarang kamar ini punya kamu. Masuklah" Keysa membukanya dan membawa Nadira masuk ke dalam kamar tersebut.
"Bagaimana? Kamu menyukainya?".
"Wah, kamar pembantu saja bisa sebagus ini. Aku menyukainya nona hehehehe".
"Baguslah kalau kamu menyukainya Dira. Dan juga disana" Keysa menujuk kearah lemari pakaian. "Kamu lihat itu, pakaian kamu ada di dalamnya dan kamu bisa bebas memakainya sepuas yang kamu mau".
"Wah" kedua mata Nadira benar-benar sangat senang sekali. Ia merasa kalau ia tengah berada di alam negeri dongeng yang sedang menemukan majikan yang berhati seperti malaikat. "Nona, aku bahkan tidak tau caranya bagaimana aku harus berterima kasih kepada nona. Hari ini aku benar-benar sangat beruntung sekali bisa bertemu dengan wanita yang begitu sangat cantik berhati mulia. Terima kasih nona, terima kasih banyak".
"Mmmm, sama-sama Dira. Sekarang kamu boleh istirahat dan aku keluar dulu".
"Iya nona".
Tidak lama setelah Keysa pergi meninggalkan kamar baru Nadira, dengan senangnya ia tertawa gembira sambil menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka kalau hidup ku akan berubah" Nadira berguling. "Akhirnya aku meninggalkan pekerjaan itu juga dan aku tidak akan pernah bertemu dengan pria-pria itu lagi hahahhah. Terima Tuhan dan selamat tinggal pekerjaan lama ku".
DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT...
Nadira mendengar ponselnya berdering, dan orang yang memanggilnya itu adalah Lala yang tengah memikirkan apa yang sedang terjadi kepadanya karna di jam seperti ini ia belum kembali juga.
"Iya La, ini aku" suara Nadira terdengar bahagia.
"Kamu dimana Dira? Kenapa kamu belum pulang sampai jam segini?" sedangkan suara Lala terdengar begitu sangat khawatir akan dirinya yang sudah menunjukkan pukul 9 malam ia belum pulang. "Ayo katakan Dira, kamu dimana sekarang? Jangan membuat ku khawatir".
"Aku baik-baik saja Lala, kamu tidak usah khawatir. Dan sekarang aku sudah menemukan pekerjaan ku yang baru".
"Apa? Kamu serius Dira?".
"Mmmm, aku serius La. Aku mendapatkan pekerjaan baru dari orang yang begitu sangat baik sekali kepada ku".
"Pekerjaan apa La sampai membuat mu tidak pulang?".
"Sebagai asisten rumah tangga La. Disini aku sangat bahagia sekali, aku mendapatkan fasilitas yang begitu sangat bagus dan juga, pemilik tempat aku bekerja baik banget".
Dari suara Nadira ia benar-benar terdengar begitu sangat bahagia sekali sehingga Lala tidak tau harus berkata seperti apa lagi hanya mendengar dari suaranya saja.
"Benarkah Dira? Kamu bahagia?".
"Mmmm, aku sangat bahagia. Dan nanti aku akan membawa mu kemari, aku akan memperkenalkan kamu kepada majikan ku".
"Oh, kalau begitu aku turut ikut bahagia mendengar kabar ini. Selamat ya Dira, semoga majikan kamu selalu baik kepada mu dan semoga apa yang kamu inginkan tercapai".
"Hehehehe iya La. Terima kasih banyak yah".
"Iya Dira, aku tutup dulu ya".
"Mmmm".
Setelah sambungan tersebut terputus, Nadira melihat seisi dalam kamarnya lagi yang begitu sangat banyak dipenuhi barang-barang mewah. Padahal kamar tersebut hanyalah kamar seorang pelayan.
__ADS_1
"Sebaiknya aku mandi saja, tubuh ku terasa gatal dan bau setelah satu harian aku mulai bekerja membantu bi Hanum di dapur" Nadira berjalan kearah kamar mandi, dan saat ia membuka pintu, lagi-lagi ia dibuat kagum. Dikarenakan, kamar mandi itu saja memiliki bathtub tempat untuk ia bersantai.
"Astaga! Aku jadi penasaran sekaya apa dia ini dan pekerjaan orang tuanya apa? Rasanya aku ingin sekali jadi dia menikmati semua fasilitas yang kedua orang tuanya berikan" Nadira menanggal pakaiannya. "Karna aku tidak memiliki pekerjaan lagi, hari ini aku akan berendam di dalam dan menikmati setiap tetesan air yang akan jatuh".