Aku Ini Milikmu, Bukan Miliknya

Aku Ini Milikmu, Bukan Miliknya
Tamat


__ADS_3

"Jangan menyentuh ku, aku mohon jangan mendekat" Nadira memberontak agar Rudian tidak menyentuhnya. "Pergi, tolong tinggalkan aku hiks.. Hiks.. Aku mohon tolong jangan libatkan aku dalam masalah, kalau tidak sebaiknya aku mati saja".


"Tidak! Jangan berkata seperti itu Dira. Aku sangat mencintaimu sampai-sampai aku tidak bisa berpaling dari mu".


"Hentikan! Hentika..n" Nadira membulatkan mata melihat Marsel berdiri diambang pintu sana dengan wajah terkejut tidak percaya apa yang baru saja ia dengar. "Ma-marsel? Apa yang sedang kamu lakukan disana?".


Rudian kemudian memutar tubuhnya langsung melihat Marsel berdiri disana dengan wajah marah.


"Ma-marsel sejak kapan kamu berdiri disitu".


Lalu Marsel mendekati keduanya, dengan air mata menetes ia menatap mereka secara bergantian masih belum bisa mempercayai apa yang ia lihat dan ia dengar.


"Ka-katakan yang sebenarnya. Apa yang terjadi diantara kalian berdua? Kenapa kalian bisa saling mengenal satu sama lain dan tolong jelaskan apa yang baru saja aku dengar".


Rudian menatap putranya itu, lalu mencoba membawa Marsel pergi dari sana. Namun Marsel bersikeras menolak dan malah mendorong tubuh Rudian di balik tembok dengan sangat marah menatapnya tajam.


"Sekarang jawab pertanyaan ku, ada hubungan apa papa dengan Nadira?".


"Ma-mar...


"Jawab" Marsel meninggikan suaranya.


"Tolong kamu tenang dulu Marsel, biar papa jelaskan sebenarnya apa yang terjadi dengan kami berdua".


Marsel melepaskan tangannya, ia melihat Nadira hanya bisa diam menangis sesenggukan di belakang mereka sambil menundukkan kepala.


"Sebenarnya papa sudah lama mengenal Nadira sejak kalian masih berada di London. Dan" Rudian berhenti. "Dan pertama kali papa bertemu dengan dia di club bersama dengan teman-teman papa".


Mendengar penjelasan Rudian, Marsel tertawa mengejek keduanya. "Dan papa malah selingkuh dari mama bersama dengan wanita ini? Wanita yang hendak mau aku nikahi yang aku pikir adalah wanita baik-baik?".


"Tolong jangan berkata seperti itu Marsel".


"Haahh.. Hahahhaha.. Aku tidak habis pikir sama kalian berdua. Kalian benar-benar monster dalam kehidupan ini, aku tidak menyangka kalau papa tega mengkhianati mama di belakang dan kamu juga, bagaimana bisa kamu melakukan ini dengan... dengan... Aaarrrkkkhh" Marsel meremas rambutnya.

__ADS_1


"Marsel, papa minta tolong jangan sampai mama kamu tau ini semua. Kalau sampai mama kamu tau, papa tidak tau apa yang akan terjadi dan apa yang akan mama kamu lakukan".


"Jadi papa masih memikirkan itu setelah apa yang sudah papa lakukan dengan dia?" Marsel tertawa menyeringai. "Luas biasa.. Kalian berdua luar biasa" Marsel hendak melangkah pergi, namun tangan Nadira segera menghentikannya. "Kamu pikir kamu siapa menghentikan langkah ku?".


Nadira semakin menumpahkan air matanya, "Aku tau aku salah, aku tau aku telah melakukan kesalahan yang begitu sangat besar terhadap mu. Tapi tolong dengarkan dulu penjelasan ku Marsel, aku mohon tolong dengarkan aku dulu".


Marsel menarik nafas dalam, "Sekarang penjelasan apa yang perlu aku dengarkan dari mu? Bukankah semuanya sudah terbukti kalau selama ini kamu diam-diam mendekati ayah ku bahkan...


"Aku tak Marsel, karna itu aku mohon dengarkan dulu. Sebelum kita bertemu dan saling mengenal, aku sudah duluan bertemu dengan ayah mu dan kami berdua sempat menjalankan.. Menjalankan sebuah hubungan yang tidak sewajarnya. Tapi itu semua berjalan hanya beberapa saat saja, aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami karna aku tau itu tidak pantas aku lakukan dengan ayah mu".


Lagi-lagi Marsel tertawa mendengar penjelasan Nadira, "Terus, sekarang kamu berusaha mendekati aku?".


"Tidak! Aku sama sekali tidak berusaha mendekati mu Marsel dan aku sama sekali tidak tau kalau ayah mu adalah dia. Tapi sekarang, dengan bodohnya aku malah menaruh perasaan terhadap mu".


"Hahahaha... Dan kamu pikir aku akan mempercayainya ini semua?".


"Tidak, aku tau kamu tidak akan mempercayai ku lagi. Hanya saja ini kenyataan yang sebenarnya aku katakan kalau aku menaruh perasaan terhadap mu. Tolong maafkan kesalahan yang akan lakukan dan aku akan pergi meninggalkan rumah ini karna aku tidak pantas berada disini".


"Tidak, aku harus pergi. Tolong jangan halangi jalan ku".


"Aku tidak akan membiarkan mu pergi".


Marsel lalu pergi meninggalkan mereka dan Nadira hanya bisa menatap kepergian Marsel dengan kesedihan akhirnya semua berujung seperti ini dan itu semua terjadi karna kebodohannya.


.


Hingga esok harinya di meja makan anggota keluarga itu hanya diam saja tanpa satu orang pun diantara mereka yang membuka pembicaraan. Baik itu Darita, Rudian dan juga Marsel. Kemudian Marsel mendengar ponselnya berdering, panggilan itu berasal dari kantor, lalu ia menjawab dan langsung bangkit berdiri pergi meninggalkan mereka.


Darita mendengus kesal, ia menatap suaminya itu hanya diam saja sama seperti yang tadi Marsel lakukan.


"Apa-apaan ini pah?" Rudian melihat kepadanya. "Harusnya mama yang marah dan diam seperti tadi, tapi kenapa malah kalian berdua yang diam?".


Rudian tidak menjawabnya.

__ADS_1


"Terus dimana wanita pembantu itu? Selagi Marsel tidak ada dirumah, aku akan mengusirnya dari sini dan kalau dia tidak mau, maka aku akan membuat hidupnya serasa di neraka" Darita hendak bangkit berdiri, tetapi Rudian telah duluan mengatakan kalau Nadira sudah pergi meninggalkan rumah mereka.


"Apa? Dia sudah pergi? Kapan? Mama kok enggak tau?".


"Semalam, dia sudah pergi meninggalkan rumah kita".


"Benarkah?".


"Mmmm".


Darita tersenyum senang, "Bagus dong kalau begitu, mama senang mendengarnya karna wanita pembantu itu tidak pantas ada di rumah kita. Kalau gitu, mama pergi dulu".


"Mama mau kemana?".


"Menemui teman-teman mama".


.


Sedangkan Nadira yang berada di dalam kamarnya tempat dulu ia berasal, ia tak henti-hentinya menangis sesenggukan di bawah selimut sambil berkata.


"Aarrkkhhh.. Aku bukan milik Rudian lagi Marsel, tapi aku milik mu hiks.. hiks..".


Lala lalu masuk ke dalam kamarnya, ia mencoba memberikan ketenangan kepada sahabatnya itu setelah Nadira menceritakan semuanya kepadanya saat ia tiba disana.


"Jangan menangis lagi! Semua sudah berakhir dan Marsel tidak pantas untuk mu karna kamu dan Marsel itu bagaikan langit dan bumi".


"Aaarrrkkkhh.. Hiks.. hiks.. Tapi bodohnya aku malah menaruh perasaan terhadapnya La. Dan sekarang hati ini sangat sakit La, aku benar-benar merasa hancur berkeping-keping. Rasanya aku ingin menghilang dari dunia ini sekarang juga".


"Dasar bodoh! Kamu pikir hanya karna kamu menaruh perasaan terhadap dia kamu ingin berakhir seperti ini?".


Nadira menatapnya, "Terus apa yang harus aku lakukan La? Aku benar-benar tidak tau mau melakukan apa lagi?".


"Kamu mau tau? Sekarang hapus air mata mu dan ikut aku" keduanya lalu pergi meninggalkan kamar tersebut.

__ADS_1


__ADS_2