Aku Ini Milikmu, Bukan Miliknya

Aku Ini Milikmu, Bukan Miliknya
Bab 13


__ADS_3

"Loh, kenapa kamu membawanya kembali?" tanya bi Hanum melihat nampan yang berada diatas tangan Nadira dengan wajah sedih.


"Aku tidak tau bi, tiba-tiba nona Keysa marah menyuruh aku membawa sarapan ini kembali ke kamari".


"Benarkah?".


"Iya bi".


Bi Hanum berpikir ada apa dengan nona mereka itu, "Ya sudah kalau begitu kamu taruh saja diatas meja itu. Kamu boleh istirahat".


"Sebelum aku istirahat, apa ada sesuatu yang perlu aku kerjakan lagi bi?".


"Tidak, nanti kalau ada sesuatu aku akan memanggil mu ke kamar".


"Baiklah bi kalau begitu, aku istirahat dulu".


"Mmmmm".


Nadira pergi meninggalkannya, ia memasuki kamar yang sedikit jauh dari dapur sembari memijit tengkuk lehernya yang terasa pegal akibat mengerjakan pekerjaan yang belum pernah ia kerjakan.


Ceklek!


"Akh, tubuh ku terasa lelah sekali" lalu ia menyambar ponselnya yang tergeletak diatas tempat tidur melihat tak satu pun ia menerima notifikasi. "Tidak ada apa-apa, sebaiknya aku tidur saja" hingga akhirnya ia terlelap pulas.


Sedangkan Meta yang sedang bersiap-siap, sang suami melihat dan bertanya.


"Mama mau kemana?" tanyanya.


"Hhhmmss" Meta menarik nafas dalam. "Itu pah, mama mau menemui jeng Darita dulu untuk membicarakan mengenai perjodohan anak kita".


"Mama sudah bicara lagi dengan Keysa?".


"Sudah pah, tadi mama menemui anak itu lagi. Tapi Keysa masih tetap menolak perjodohan ini membuat mama jadi sedikit kesal".


"Ya sudah mah, apa boleh buat? Nanti juga lama kelamaan Keysa bakalan mau menerima putra mereka setelah mereka berkenalan. Jadi sekarang mama mau pergi?".

__ADS_1


"Iya pah, mama pergi dulu yah uummcchh. Dah papa".


"Iya mah, hati-hati di jalan".


"Mmmm".


Meta kemudian meninggalkan istana rumahnya menuju tempat yang sudah ia tentukan bersama dengan Darita yaitu sebuah cafe. Tidak lama menempuh tempat tersebut, ia pun tiba disana.


"Kamu pulang saja, nanti saya akan memanggil mu kemari setelah saya selesai" ucap Meta kepada sang supir.


Setelah itu ia masuk ke dalam, dan saat itu juga ia melihat Darita telah berada disana dengan senyum mengembang di wajah cantiknya.


"Aduh, jeng Darita ternyata sudah datang. Maaf sudah membuat jeng lama menunggu".


"Tidak apa-apa jeng Meta. Saya juga baru tiba disini, silahkan duduk jeng" keduanya lalu tertawa bersama sembari melihat si pelayan menghampiri meja mereka. "Kapan jeng Meta tiba di jakarta?".


"Tadi pagi jeng".


"Jeng Meta pasti sangat lelah sekali setelah perjalanan pulang. Padahal saya malah mengajak jeng Meta bertemu".


"Tidak apa-apa jeng Darita, saya justru senang sekali bisa bertemu dengan jeng Darita setelah 1 tahun lamanya akhirnya kita bertemu lagi. Bagaimana kabar jeng Meta selama di Landon?".


"Iya jeng, tapi itu sudah sekitaran 3 bulan yang lalu dan itu juga hanya sebentar saja" lagi-lagi mereka tertawa bersamaan serasa sedang melepas rasa rindu. "Terus, bagaimana dengan perjodohan anak kita yang kemarin sudah jauh hari kita bicarakan jeng? Apakah Marsel menerimanya?".


Darita menarik nafas dalam, "Itu yang saya bingungkan jeng. Dia berkata kepada kami, kalau dia tidak akan pernah mau menikahi wanita mana pun, kecuali dasar cinta. Sedangkan kita ingin sekali mereka langsung menikah tanpa perkenalan dulu" jawab Darita melihat wajah kesedihan di wajah Meta. "Dan saya sudah sangat ingin sekali menggendong cucu".


"Sama jeng Darita, saya juga sudah membicarakan ini dengan putri ku. Dia malah menangis sesenggukan, saya jadi bingung bagaimana caranya saya bisa membujuk putri saya".


Keduanya lalu terdiam bersama sambil memikirkan bagaimana caranya agar putra dan putri mereka bisa bersatu.


Dan setelah beberapa menit kemudian pesanan mereka tiba, Darita lalu melihat sipelayan mengucapkan terima kasih. Kemudian ia menyuruh Meta untuk menikmati hidangan itu terlebih dahulu, setelah itu mereka membicarakannya lagi nanti.


Tampa menolak tawaran Darita, Meta pun segera memakan hidangan yang berada di hadapannya itu, dan mereka berdua sedikit demi sedikit mengobrol bersama.


Hingga sekarang mereka sudah selesai, keduanya merasa sangat kenyang sekali dan itu membuat Mela tersenyum senang.

__ADS_1


"Jeng, apa tidak sebaiknya mereka perkenalkan saja dulu? Saya sih yakin kalau pada akhirnya mereka bakalan bisa jatuh cinta satu sama lain".


Darita berpikir, apakah pendapat Meta benar-benar bisa di jalankan atau tidak. Tapi ia takut kalau nantinya tidak berjalan sesuai dengan apa yang ia inginkan, karna ia sangat tau betul bagaimana sosok putranya itu.


"Bagaimana jeng, apa jeng Darita setuju?".


"Terus, apa menurut jeng Meta kalau ini akan berhasil? Karna putra saya begitu sangat...


"Putri saya juga seperti itu jeng, dia wanita yang sama sekali belum pernah terbuka dengan pria mana pun. Karna itu kami menerima perjodohan ini" Meta lalu mengeluarkan selembar foto diatas meja. "Ini Jeng, kalau jeng Darita setuju ayo kita atur jadwal kencang buta mereka. Foto ini foto Putri kami".


Darita melihatnya, "Ternyata putri mu cantik sekali jeng" senang Darita memujinya dengan tulus. "Tidak salah lagi, kalau anak kita di jodohkan, soalnya mereka saya lihat mirip" ia pun ikutan mengeluarkan selembar foto Marsel di hadapan Meta. "Ini, berikan foto ini juga kepada putri mu. Saya yakin begitu ia melihat putra ku, dia pasti langsung jatuh hati".


"Semoga saja jeng, saya sangat ingin sekali memiliki menantu seperti Marsel yang sangat baik, sopan dan juga dia benar-benar suami idaman sekali. Bagi saya Marsel adalah pria yang sempurna jeng".


"Hahahaha... Jangan terlalu memuji putra saya seperti itu jeng. Tapi terima kasih juga jeng, semoga putra saya selalu seperti itu sampai selama-lamanya".


.


Malam hari tiba, Meta telah kembali pulang kerumah. Ia lalu melihat suaminya sedang duduk seorang diri sembari membaca koran diruang keluarga dengan segelas kopi panas diatas meja.


"Pah" panggilnya.


Barhan pun langsung melihat kepadanya, "Mama sudah pulang?".


"Mmmmm".


"Lalu kenapa mama terlihat begitu sangat lelah sekali? Apa semuanya baik-baik saja?".


"Iya pah, semua baik-baik saja. Yang mama pikirkan sekarang ini, bagaimana agar Keysa mau menikahi putra jeng Darita" ia melihat kelantai atas. "Seandainya saja Keysa mau menikahi putra mereka, mama pasti sangat bahagia sekali bisa memiliki menantu yang sempurna".


"Mama tidak usah berpikir keras seperti itu. Papa yakin pasti ada jalan keluarnya agar Keysa mau menikahi Marsel".


"Bagaimana papa bisa yakin?".


"Papa yakin mah, coba mama bicarakan ini lagi dengan dia".

__ADS_1


"Ck" Mela mengingat rencana yang sudah mereka susun dengan Darita, yaitu dengan cara keduanya harus kencang buta. "Itu pah, sebenarnya mama sama jeng Derita membuat perkenalan mereka terlebih dahulu sebelum mereka menikah".


"Maksud mama? Kencan buta?".


__ADS_2