Aku Ini Milikmu, Bukan Miliknya

Aku Ini Milikmu, Bukan Miliknya
Bab 23


__ADS_3

Tok... Tok...


"Nadira, kamu di dalam?".


"Reva?" Nadira yang mendengar suara tersebut, ia segera berlari kearah pintu berharap ia mendapatkan pertolongan dari Reva agar ia bisa keluar dari dalam sana. "Reva, apa itu kamu?".


"Iya, ini aku. Sedang apa kamu di dalam sana?" Reva mencoba membuka pintu, tetapi pintu tersebut malah terkunci membuat ia tidak bisa membukanya. "Dira, kenapa pintunya tidak bisa di buka?".


"Aku juga tidak tau Reva, aku tidak tau kenapa pintu ini tiba-tiba tidak bisa di buka. Bisakah kamu menolong ku Reva? Tolong bukakan pintu ini untuk ku. Aku mohon".


"Tapi bagaimana caranya aku bisa membukakan pintu ini untuk mu Dira? Atau jangan-jangan, orang yang sudah mengunci mu di dalam sini adalah nona Keysa?".


"Apa?" Nadira terkejut. "Ta-tapi kenapa bisa nona Keysa mengurung ku di dalam sini Reva?".


Kemudian Reva mengingat kejadian tadi, "Aku juga tidak tau Dira. Tapi seorang pria tampan tadi datang kemari mencari keberadaan mu".


Nadira menyimak, "Ada apa Reva? Kenapa pria itu mencari ku?".


"Tidak tau Dira, tapi aku juga mendengar kalau pria itu menyebut mu sebagai calon istrinya. Dia siapa Dira?".


"Benarkah pria itu datang kemari mencari ku?".


"Mmmmm, tapi aku tidak bisa memberitahunya saat nona Keysa tiba-tiba muncul di belakang ku".


"Jadi pria itu dimana sekarang Reva? Apa dia masih ada di rumah ini".


"Tidak Dira, dia sudah pergi. Lalu bagaimana dengan mu? Apa kamu baik-baik saja disana?".


"Aku baik-baik saja Reva. Hanya saja aku ingin segera keluar dari dalam kamar ini menemui nona Keysa. Bisakah kamu membantu ku Rev....


Ceklek!

__ADS_1


"No-nona Keysa?".


PPLLLAAKKK....


Dengan sangat marah Keysa menampar wajah Nadira sampai berulang kali membuat Nadira merasa keheranan ada apa dengan majikannya itu.


"Puas kamu sekarang Dira? Puas kamu telah membuat aku seperti ini?" ia berteriak histeris menampar wajah itu kembali. "Aku membenci mu, aku sangat membenci mu. Kenapa dulu aku harus membawa mu kerumah ini? Kenapa dulu aku harus bertemu dengan mu aaarrrkkkhh... Aku sangat membenci mu Dira".


Kemudian Nadira menyentuh pipinya, ia juga tidak bisa berkata apa-apa lagi saat tamparan Keysa begitu sangat menyakitinya sehingga membuat ia juga begitu sangat membenci dirinya sendiri.


"Mulai hari ini, kamu pergi sekarang juga dari rumah ku. Pergi! Aku tidak ingin melihat mu lagi. Pergi kamu Nadira!".


Meta lalu muncul dari belakang mereka, "Tidak boleh sayang. Dia tidak boleh pergi dari rumah ini sebelum kamu berhasil mendapatkan hati Marsel yang sudah pembantu ini rebut dari mu. Kalau tidak, wanita pembantu ini akan datang sendiri menemui Marsel sehingga kamu tidak akan pernah mendapatkan kesempatan itu lagi".


Keysa berpikir sejenak, ia juga setuju dengan pendapat Meta dengan tidak mengusir Nadira dari rumahnya sebelum ia berhasil mendapatkan hati Marsel.


"Terus, kita harus bagaimana kan wanita pembantu ini mah?".


"Ya biarkan dia tetap dirumah ini, tapi jangan sampai dia melarikan diri".


"Iya sayang" setelah itu keduanya pergi meninggalkan mereka. Reva lalu melihat Nadira menangis dalam kehancuran membuat ia merasa kasihan kepadanya.


"Dira, kamu baik-baik saja?".


"Hiks.. hiks.. Apa salah ku Reva? Apa salahku sehingga aku harus mendapatkan perlakuan buruk seperti ini darinya?".


"Kamu yang sabar yah, nona Keysa memang orang ya seperti itu. Dia akan bersikap kasar kepada orang yang tidak menghargainya dan juga kepada orang yang sudah menyakiti dia seperti ini. Karna itu kamu harus kuat" Lalu Reva memberikan pelukan untuknya, setelah itu ia pergi meninggalkan Nadira yang masih menangis berdiri di depan pintu kamarnya.


"Ya Tuhan, kenapa lagi dengan diriku? Kenapa lagi aku harus merasakan sakit? Aaarrrkkkhh hiks.. hiks..".


.

__ADS_1


Marsel tengah berada diruang meeting, tetapi ia tidak bisa fokus dengan apa yang disampaikan para karyawan yang sedang memberikan pendapat mereka masing-masing. Tidak lama setelah itu, ia mendengar ponselnya berdering dan panggilan itu berasal dari Selin wanita yang tengah mengejar-ngejar dirinya saat ini.


"Ada apa?" jawab Marsel.


Selin tersenyum dari sebrang sana, "Kamu sedang apa Marsel? Semoga saja aku tidak menganggu mu. Siang ini aku ingin mengajak mu makan siang bersama, kalau kamu ada waktu, aku akan menunggu mu di restoran xx" .


"Baiklah, nanti aku akan kesana".


"Benarkah Marsel?" Selin terdengar begitu sangat gembira. "Terima kasih Sel, kalau begitu aku tutup dulu, sampai bertemu nanti".


"Mmmmm" Marsel mematikan ponselnya, lalu ia melihat karyawan yang lainnya sibuk dengan persentase yang akan ia dengarkan. Kemudian Marsel memanggil sang sekretaris untuk menyuruh mereka melanjutkannya besok saja karna ia terlihat begitu lelah untuk hari ini. Lalu ia keluar duluan dan pergi meninggalkan mereka di dalam ruangan tersebut.


"Ada apa dengan tuan Marsel? Sedari tadi aku melihat tuan Marsel tidak bisa fokus mendengarkan persentasi kita masing-masing" bisik mereka sembari merapikan meja mereka.


"Iya, aku pikir hanya aku saja yang memperhatikannya. Tenyata kalian juga memperhatikan beliau".


"Mmmm.. Tuan Marsel terlihat begitu banyak pikiran sehingga beliau tidak bisa fokus. Terus, siapa yah orang yang baru saja menghubungi beliau?".


"Sudah, sebaiknya kita keluar saja dari pada menebak sana sini kemari membuat kita bisa bermasalah nantinya. Ayo".


Begitu mereka keluar, sekretaris Marsel yang masih berada disana hanya bisa diam mendengarkan mereka bertanya-tanya ada apa dengan tuannya itu. Setelah itu ia keluar membawa berkas-berkas Marsel ke dalam ruangannya".


Tok... Tok...


"Masuk!".


Marsel melihat sekretarisnya masuk ke dalam membawa berkas-berkasnya. "Oh iya" dan ia terlihat ingin bertanya kepada sang sekretarisnya itu dengan serius membuat sang sekretaris melihat kepadanya menantikan apa yang hendak ingin Marsel katakan. Namun Marsel malah diam, dan itu membuat ia merasa heran ada apa dengan bosnya itu. "Tidak, lupakan saja. Dan jangan lupa bawakan saya kopi".


"Baik tuan".


Sekeluarnya sang sekretaris, Marsel beberapa kali mengusap wajahnya, ia tiba-tiba merasa sangat lelah sekali entah apa yang membuat ia seperti itu.

__ADS_1


"Aaakkhh, ada apa dengan ku? Kenapa aku tiba-tiba merasa sangat lelah sekali" tidak lama setelah Marsel mengusap tengkuk lehernya sampai beberapa kali, ia teringat dengan Nadira yang sedang ia tebak kalau anak itu pasti berada di dalam rumah tersebut. Tetapi ia tidak bisa mencarinya secara paksa, karna jika ia melakukan itu, keberadaan Nadira disana akan semakin terancam.


"Keysa Herlambang!" Marsel sedikit tertarik menarik sudut bibirnya. "Apa sekarang dia benar-benar menyesal setelah apa dia lakukan kepada ku?".


__ADS_2