
"Nadira" sang sahabat datang dari belakang memanggil namanya. "Ada apa?".
Anto lalu melihat Lala dengan senyuman sinis membuat Lala yang dilihat seperti itu merasa jengkel.
"Maaf, apa yang sedang kamu lakukan kepadanya?" tanya Lala.
"Menurut mu apa yang sedang aku lakukan kepadanya?".
Lala memgeryitkan dahi, "Ada apa Dira? Apa kamu baru saja bermasalah dengan mereka?".
"Tidak, sebaiknya kita pergi saja".
Namun lagi-lagi Anto segera menahan keduanya dengan wajah kasar. "Apa kalian berdua tidak punya aturan melayani tamu yang datang kemari?".
Keduanya tidak menjawab, Lala hanya menatap Anto dengan kekesalan. Kemudian Seto bangkit berdiri, lama-kelamaan Anto semakin memanas akibat alkohol yang sudah ia minum.
"Anto, tenangkan diri mu. Biarkan mereka pergi" ia membawa Anto kembali duduk diatas sofa dan menyuruh keduanya pergi dari sana meninggalkan mereka.
"Ais, kenapa kamu membiarkan mereka pergi Seto? Kamu tidak lihat kalau kedua wanita jal*Ng itu sedang mengejek ku?".
"Sudah hentikan. Lebih baik kita bersenang-senang tanpa mereka, kamu tau sendiri kalau perayaan ini khusus untuk Marsel. Jadi sebaiknya kamu hentikan sekarang juga".
Mendengar akan hal tersebut, Anto langsung melihat kepada Marsel yang tengah sibuk memainkan ponselnya sembari menghisap sebatang rokok di tangan kirinya dengan minuman alkohol yang ia teguk mulai sedari tadi.
"Ais, itu semua gara-gara mereka" Anto kesal membuang wajahnya. "Maafkan aku Sel, aku tidak bermaksud...
"Tidak apa-apa, santai saja" potong Marsel melihat kepadanya.
"Benarkah?".
"Mmmmm".
Setelah itu Anto tersenyum menepuk bahu sang sahabat, "Terima kasih bro, aku pikir kamu akan marah setelah aku terbawa suasana" lalu mereka kembali bersenang-senang.
Sedangkan kedua wanita itu yang tengah berada di taman, Lala tampak begitu sangat marah mengingat kejadian yang baru saja mereka lalui bersama.
"Pria itu benar-benar sangat kurang ajar sekali Dira. Bagaimana bisa di menganggap kita serendah itu? Emang dia siapa?".
Nadira menarik nafas panjang, "Sudah hentikan, percuma kamu marah-marah seperti itu hanya membuat kamu lelah".
"Ck, tapi aku benar-benar sangat kesal sekali kepadanya Dira. Pria itu berhasil membuat aku ingin melenyapkan dia malam ini juga. Dan, aku minta maaf ya Dira".
"Minta maaf untuk apa?".
__ADS_1
"Mmmm, gara-gara aku kamu jadi terkena musibah seperti ini. Seandainya aku tidak memaksa mu, ini semua tidak akan terjadi".
"Tidak apa-apa, ini semua memang sudah harus terjadi. Lagian aku tidak apa-apa La, karna pria itu sama sekali tidak menyentuh ku dan menyakiti aku".
"Benarkah?".
"Mmmm".
"Terus, apa kamu sudah mendapatkan pekerjaan itu?".
"Tidak, aku belum menemukan satu pun perusahaan yang mau menerima pekerja seperti aku ini La" Nadira kembali menarik nafas dalam-dalam. "Entah harus kemana lagi aku harus mencarinya".
Lala tampak berpikir, "Begini saja Dira, kamu kan sudah mencari di situs-situs internet tentang lowongan pekerjaan, tapi tidak satupun dari antara perusahaan itu semua yang membuka. Bagaimana kalau kita datangi saja perusahaannya langsung?".
"Maksud kamu La?".
"Ya kita datangi perusahaan itu secara langsung Dir dan bertanya apakah mereka membutuhkan pekerja seperti mu apa tidak".
"Iya juga yah" Nadira pun membenarkan apa yang baru saja Lala ucapakan. "Kalau begitu, bisakah kamu membantu ku La?".
"Tentu saja Dira, aku akan membantu mu kapan pun kamu mau. Aku ini akan selalu ada".
"Hehehehe" Nadira tertawa gembira memeluk Lala dengan erat. "Kalau begitu, kamu temani aku besok ya mencari pekerjaan?".
.
Pagi ini Nadira tengah bersiap-siap mencari pekerjaan. Ia lalu mengenakan pakaian yang cocok untuk ia kenakan sembari menatap pantulan tubuhnya di depan cermin.
"Apa ini cocok?".
Ceklek!
"Dira, apa kamu sudah selesai?".
Nadira menggeleng kepala, "Belum La, aku bingung mencari pakaian yang cocok untuk aku pakaian hhhmmss".
"Masa iya bingung?" Lala menatap pakaian yang melekat di tubuh Nadira. "Pakaian ini sangat cocok sekali untuk mu Dira. Kenapa kamu masih bingung lagi mencari pakaian?".
"Masa iya La? Tapi aku merasa tidak cocok".
"Hey, sekarang coba kamu perhatikan pantulan tubuh mu di depan cermin. Kamu begitu sangat cantik dan juga modis. Bahkan, siapa pun yang akan melihat mu mereka pasti akan tergoda hehehehe".
"Kamu ada-ada saja La. Ya sudah kalau begitu, aku akan mengenakan pakaian ini. Lalu bagaimana dengan mu? Apa kamu sudah selesai?".
__ADS_1
"Iya".
Setelah itu keduanya pergi meninggalkan kamar Nadira dan segera mencari kendaraan menuju lokasi yang pertama kali akan mereka tujuh. Hingga kini mereka tiba disana, kedua orang itu langsung menatap keatas gedung tinggi yang menjulang diatas langit begitu sangat megah.
"Wah, gedung ini sangat tinggi sekali Dira" ucap Lala menatap kagum.
"Iya La, semoga saja mereka merima pegawai pekerja. Tidak perduli itu mau babu, yang penting aku bisa bekerja disini".
"Mmmm, semoga saja Dira. Ayo kita tanyakan langsung kepada si penjaga itu".
"Ayo".
Nadira dan Lala kemudian mendatangi si petugas kemanan disana. Dengan senyum mengembang, si petugas bertanya kepada mereka.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan sopan.
Dan lagi-lagi Nadira tersenyum mengangguk kepala, "Iya pak. Maaf sudah mengganggu waktunya. Saya mau bertanya, apakah disini menerima pekerjaan? Terserah mau bekerja sebagai apa yang penting saya bisa bekerja di perusahaan ini".
Si petugas kemanan melihat rekannya yang lain.
"Maaf nona, tapi perusahaan ini tidak pernah menerima pekerja secara terbuka".
"Maksudnya pak?" mereka bingung.
"Iya, tanpa orang dalam kalian tidak dapat bekerja disini. Sebaiknya kalian cari tempat lain saja".
Mendengar jawaban si petugas, Nadira dan Lala langsung kecewa, mereka pikir gedung perusahaan seperti itu akan selalu membutuhkan tenaga kerja yang banyak. Tapi nyatanya tidak seperti yang mereka harapkan.
"Kalau begitu kami permisi dulu pak".
"Iya, silahkan".
Lala lalu melihat kesedihan di wajah Nadira dan ia juga ikut merasakannya.
"Jangan sedih seperti itu Dira, di kota Jakarta ini begitu banyak perusahaan yang akan menerima kamu. Hanya saja kita belum bertemu dengan perusahaan itu".
"Iya La, tapi kamu akan lelah...
"Sudah, jangan pikirkan aku. Sekarang yang perlu kita pikirkan itu bagaimana caranya kamu bisa menemukan pekerjaan seperti yang kamu inginkan. Jangan jadi sedih seperti ini ok?".
Nadira tersenyum, "Makasih La sudah menyemangati aku seperti ini. Kamu memang yang terbaik, ayo kita cari lagi".
Dan sekarang hari sudah semakin siang, bahkan sore hari pun sudah tiba. Namun dari beberapa perusahaan yang sudah mereka tanya, tidak satupun dari perusahaan tersebut yang mau menerima Nadira, dan jawaban setiap perusahaan selalu sama kalau mereka tidak sedang menerima lowongan pekerja.
__ADS_1