
Sesampainya Nadira dirumah, ia langsung masuk ke dalam kamar dengan tubuh lelah setelah beberapa jam lamanya ia menunggu Keysa yang tak kunjung datang menjemputnya.
Ceklek!
Nadira melonjak kaget, "Nona Keysa?".
Keysa berjalan mendekatinya dengan mata tajam.
PPLLLAAKKK...
"Nona!".
Keysa kemudian tersenyum menyeringai, "Kamu pikir aku tidak tau apa yang baru saja terjadi?".
"Ma-maksud nona? Sa-saya tidak mengerti maksud nona marah seperti ini menampar saya".
"Hahhh.. Pura-pura tidak tau lagi. Yah, aku tau kalau kamu tidak menjalankan tugas mu seperti yang sudah aku perintahkan kepada mu. Sekarang katakan, apa yang sebenarnya mau mu?" Keysa melihat kantong kresek yang tadi ia bawa dari restoran. "Sekarang jawab aku Dira, ini apa? Kenapa kamu malah membawa sisa makanan dari restoran itu? Jawab Dira".
Nadira menetes air mata, "Tolong jangan salah paham dulu nona, saya juga benar-benar tidak tau kalau tuan Marsel akan membelikan saya makanan itu semua hiks.. hiks.. Maaf nona, maafkan saya".
"Terus, kamu mau jadi kegatelan gitu ingin bertemu dengan dia lagi?".
"Tidak nona, itu semua tidak benar".
Keysa mengeram dalam hati, ia benar-benar sangat kecewa dengan Nadira yang tidak bisa becus menjalankan tugas seperti yang ia perintahkan. Dikarenakan ia yang mendapatkan pesan dari Marsel kalau ia ingin bertemu lagi dengannya.
"Tolong maafkan saya nona, tolong jangan marah seperti ini".
Kemudian Keysa menatap tajam Nadira, "Ingat ya Dira! Ini peringatan terakhir buat kamu. Kalau kamu masih gagal membatalkan perjodohan ini, aku tidak akan segan-segan mengusir kamu dari rumah ini".
"I-iya nona, saya akan mengingatnya".
Lalu Keysa pergi meninggalkannya kamarnya. Sedangkan Nadira yang mendapatkan tamparan darinya membuat ia sangat marah besar kepada dirinya sendiri. Kenapa ia harus menjalankan tugas seperti ini? Kenapa ia harus mengiyakan kalau ia akan membantu Keysa? Ia benar-benar sangat marah besar.
.
Marsel yang tengah berada di tempat Anto dan Seto sekarang ini berada, ia melihat kedua orang itu dengan kening mengerut membuat ia penasaran ada apa dengan mereka.
__ADS_1
Lalu Seto tertawa, "Maafkan kami bro kalau selama ini kami berdua tidak menyadarinya".
"Maksud kalian berdua apa?" Marsel meneguk anggur yang berada di hadapannya itu. "Katakan".
"Marsel, kamu masih mengingat Selin? Wanita yang dulunya begitu sangat populer di sekolah kita".
Deng!
Marsel terdiam.
"Dia ada disini Sel, dan dia ada di belakang kamu".
Mendengar hal tersebut, Marsel langsung memutar tubuhnya melihat Selin benar-benar berdiri dibelakangnya dengan senyum manis seperti dulunya.
"Ini aku Sel, Selin" ucapnya mencoba menyentuh pipi mulus Marsel yang langsung di hempaskan olehnya. "Akh, maaf jika aku sudah terlalu lancang".
"Tidak apa-apa Selin" balas Seto merasa tidak enak kepadanya. "Ayo duduk, Marsel mungkin hanya terkejut saja".
"Terima kasih Seto" Selin lalu duduk di sebelah Marsel, namun wajah anak itu langsung berubah menjadi tidak suka melihat kehadiran Selin yang secara tiba-tiba ada disana. "Apa kabar mu Sel? Aku harap kamu baik-baik saja".
Tidak ada jawaban.
Masih tidak ada jawaban, Marsel malah asik meneguk anggur itu kembali sampai habis.
Kemudian Selin melihat mereka secara bergantian, "Sepertinya kehadiran aku disini...
"Jangan pergi" ucap Marsel membuat mereka terdiam begitu juga dengan Selin. "Sekarang katakan, apa mau mu ingin bertemu dengan ku? Soal maaf? Aku sudah memaafkan mu dan aku juga sudah melupakan kejadian itu, kejadian dimana aku pernah menyatakan perasaan ku kepada mu".
Selin semakin merasa bersalah.
"Aku minta maaf Sel! Aku benar-benar minta maaf dan aku benar-benar sangat menyesalinya setiap kali aku mengingat kejadian itu".
Marsel tersenyum, "Tidak apa-apa, seperti yang aku katakan tadi kalau aku sudah memaafkan mu".
Lalu Selin menatap Marsel, ia melihat kalau pria yang berada di hadapannya itu benar-benar sangat tampan dan sempurna.
"Marsel" panggilnya. "Aku.. Aku.. Aku juga saat itu sebenarnya memiliki perasaan terhadap mu. Hanya saja...." Selin menggantung perkataannya.
__ADS_1
"Hanya saja apa Selin?" timpal Anto penasaran dan juga Seto.
"Hanya saja saat itu aku belum siap memiliki hubungan dengan pria kutu buku seperti Marsel. Maaf!".
Kedua orang itu langsung tertawa, Marsel saat itu benar-benar adalah pria kutu buku, karna itu banyak dari siswa lainnya tidak menyukai Marsel.
"Jadi kamu menolak cintanya Marsel saat itu karna hahahhaha... Baiklah, sekarang aku mengerti Selin kenapa kamu menolaknya. Yah, kalau di pikir-pikir sih saat itu wajar saja kalau kamu menolak Marsel hahahhaha".
Kedua orang itu tak henti-hentinya tertawa puas menatap kekesalan di wajah Marsel.
"Terus Selin, bagaimana dengan sekarang? Apakah perasaan yang dulu itu ada sampai sekarang masih ada?".
Selin menatap Marsel kembali, "Jika boleh jujur, saat itu aku sangat menyesalinya. Aku benar-benar bodoh telah menolak pria sebaik dan sepintar Marsel hanya karna aku takut diledek satu sekolah kita".
"Kamu menyesal?" Marsel tersenyum sinis.
"Mmmm, aku sangat menyesalinya Marsel. Dan baru sekarang aku bisa berani menemui mu untuk meminta maaf. Maukah kamu memaafkan aku Marsel? Aku mohon".
Lagi-lagi Marsel meneguk anggur itu kembali.
"Harus berapa kali lagi aku katakan kepada mu kalau aku sudah memaafkan mu?".
"Saat kamu tulus menatap kedua mata ku Marsel".
"Apa?" Marsel tertawa kecil. "Jadi maksud mu aku tidak tulus mengatakannya?".
"Mmmm, kamu malah terlihat sedang meledek ku. Apakah permintaan maaf ku belum bisa kamu terima? Jika kamu belum bisa, katakan harus dengan cara apa agar kamu benar-benar bisa melakukannya?".
Kedua orang itu merasa kasihan, mereka melihat kedua mata Selin memerah seperti sedang menahan tangis air mata.
"Hentikan! Tidak usah memaksakan diri seperti itu Selin" ucap Seto. "Aku yakin Marsel hanya butuh waktu saja untuk benar-benar bisa menerima maaf mu. Paling nanti juga Marsel akan segera tulus memaafkan mu, karna dia bukanlah pria yang egois, dia masih pria yang seperti dulu".
"Iya Selin, nanti juga Marsel akan benar-benar bisa memaafkan mu" sambung Anto. "Dan sekarang lebih baik kita minum anggur ini lagi, tidak baik disaat seperti ini kita malah melihat air mata menetes. Bukankah begitu Marsel?".
Marsel hanya menutup mata, ia mulai merasa sedikit pusing akibat anggur yang sudah banyak ia minum.
"Sepertinya Marsel sudah mulai mabuk" Seto mencoba menyadarkannya. "Yah bro, apa kamu tidak mendengarkan kami lagi?".
__ADS_1
Lalu Marsel tertawa, ia melihat mereka satu persatu dengan tawa sumbang hingga akhirnya ia berhenti saat melihat Selin yang menatapnya dengan tatapan sendu.