
Saat Nadira dan Reva selesai membersihkan taman depan, mereka kembali masuk ke dalam melalui pintu belakang. Kemudian mereka masuk dapur, disana Nadira melihat bi Hanum tengah beres-beres sendiri.
"Bi Hanum" keduanya memanggil sacara bersamaan.
"Kalian sudah selesai?" ia melihat keduanya terlihat begitu sangat lelah sekali sampai-sampai kening mereka dipenuhi keringat. "Duduklah, aku akan membuatkan minuman segar untuk kalian".
"Terima kasih bi" mereka duduk bersama menunggu minuman segar yang akan bi Hanum bawakan. Lalu Nadira melihat sekitar mereka, ia tidak melihat siapa lagi disana kecuali bi Hanum yang tengah membuat minuman. "Reva, kemana perginya orang tadi pagi aku lihat disini?".
"Mereka pasti sudah pulang".
"Pulang? Kenapa? Bukankah dirumah ini nona Keysa menyediakan semua fasilitas kepada setiap pelayan?".
"Mmmm, tapi mereka itu hanyalah pekerja paruh waktu saja membersihkan seisi dalam rumah. Kalau bagian dapur dan juga taman akan tetap tinggal dirumah ini".
"Oh begitu. Aku pikir mereka juga akan tinggal disini".
"Nona Keysa tidak suka keramaian, makanya nona Keysa tidak memberikan izin tinggal dirumah ini".
"Terus, bagaimana dengan ku dan juga kamu? Kamu tinggal di rumah ini kan?".
Reva menatapnya kesal, "Kan tadi aku sudah beritahu kamu kalau bagian dapur seperti bi Hanum akan tetap tinggal dirumah ini dan juga bagian kebersihan taman. Kamu itu gimana sih?".
Nadira lalu tertawa kecil merasa bersalah tidak memaknai apa yang tadi Reva katakan kepada.
"Hehehehe.. Sepertinya aku sangat lelah sekali Reva sampai-sampai aku tidak paham apa yang kamu katakan".
Tidak lama setelah itu bi Hanum membawakan dua gelas minuman segar dihadapan mereka. Setelah itu ia juga membawa sarapan pagi mereka dan menyuruh mereka untuk segera memakannya.
"Bagaimana Dira, apa kamu menyukai pekerjaan ini?".
"Iya bi Hanum, aku sangat menyukai pekerjaan ini" Nadira lalu melahap sarapan paginya begitu sangat lahap sembari memujinya kalau masakan bi Hanum begitu sangat enak.
Tertawa, "Kamu bisa saja Dira. Oh iya Reva, tadi nona Keysa memberitahu ku kalau sarapan paginya diantar saja ke dalam kamarnya".
Reva melihatnya, "Kenapa bi? Tumben tidak seperti biasanya nona Keysa mau sarapan di dalam kamar".
"Bibi juga tidak tau Reva".
"Tapi maaf bi".
"Ada apa?".
__ADS_1
"Sebaiknya Dira saja yang membawanya kesana bi. Soalnya jam 9 aku sudah harus berangkat ke kampus, aku takut terlambat jika nantinya aku pergi lagi mengantar sarapan nona Keysa ke dalam kamarnya".
Hanum melihat Nadira, "Dira, apa kamu bersedia melakukannya? Semalam aku sudah memberitahu mu dimana letak kamar nona Keysa".
Nadira mengangguk, "Baiklah bi, biar aku saja yang membawa sarapan nona Keysa ke dalam kamarnya. Bibi siapkan saja dulu".
"Mmmmm" Hanum segera menyediakan nya, dan setelah itu ia memberikan di hadapan Nadira. "Jangan sampai jatuh ya Dira".
"Bibi tenang saja, aku pergi dulu".
"Iya".
Nadira pergi meninggalkan mereka menuju kamar Keysa yang berada di lantai atas, tetapi saat ia hendak menaiki anak tangga. Ia melihat ibunya Keysa melihat kepadanya dengan tatapan wajah bertanya.
"Nyonya" Nadira menundukkan kepala.
Mela berkata, "Kamu siapa? Saya belum pernah melihat mu dirumah ini".
"Iya nyonya, saya orang baru dirumah ini. Nona Keysa yang membawa saya kemari".
"Putri saya?".
"Iya nyonya, dan ini saya mau mengantar sarapan pagi nona Keysa ke dalam kamarnya. Dan nyonya bisa memanggil saya Nadira" ia tersenyum ramah, dan senyuman itu malah membuat Mela sangat tidak suka.
Sambil mengikuti langkah kaki Mela, Nadira berharap dalam hati agar ia tidak akan melakukan kesalahan yang akan membuat ia menyesal seumur hidup.
Tok... Tok...
"Key, ini mama sayang. Boleh mama masuk?".
Tidak ada jawaban.
Tok... Tok...
"Boleh ya sayang mama masuk? Mama ingin bicara dengan mu".
Tetap tidak ada jawaban.
Kemudian Mela memutar tubuhnya melihat Nadira yang berdiri di belakangnya. "Kamu, coba kamu ketuk pintu ini. Siapa tau anak saya mau membukanya".
"Baik nyonya".
__ADS_1
Nadira maju ke depan, dan ia langsung mengetuk pintu tersebut sebanyak tiga kali sambil berkata.
"Nona, ini saya Nadira nona. Saya membawa sarapan pagi nona".
Lagi-lagi tidak ada jawaban. Nadira lalu melihat Mela yang malah kesal kepadanya.
"Maaf nyonya, nona Keysa juga tidak mendengar ku".
Kemudian Mela mendorong tubuh Nadira dari hadapannya dan kembali mengetuk pintu tersebut sampai beberapa kali banyaknya. Namun hasilnya tetap saja sama, Keysa sama sekali tidak mendengarkan keduanya dan itu membuat Mela semakin khawatir apa yang sedang putrinya itu lakukan di dalam sana.
"Key, ayo jawab mama sayang. Please jangan buat mama seperti ini, mama sayang sama kamu Key, mama sangat sayang sekali sama kamu. Ayo dong sayang buka pintunya, mama mohon Keysa".
Sedangkan Nadira yang mendengar dan melihat kesedihan di wajah Mela, ia sedikit merasa kasihan ada apa dengan ibu dan anak itu.
"Nyonya, apa sebaiknya saya bawa saja ini kembali" tanya Nadira.
Namun Mela lagi-lagi menatap dirinya dengan tajam sembari menghapus air mata yang baru saja menetes.
"Sekarang kamu buka pintunya ini bagaimana pun caranya. Saya tidak mau kalau sesuatu terjadi dengan putr...
Ceklek!
"Nona" Nadira tersenyum senang begitu Keysa membuka pintu tersebut menatap mereka berdua dengan wajah datar. "Syukurlah, akhirnya nona Keysa membuka pintu juga. Ini nona, saya membawakan sarapan pagi untuk nona".
"Kamu bawa saja itu kembali. Saya tidak nafsu memakannya lagi".
Nadira bingung, "Tapi nona, bukankah nona sendiri yang mengataka...
"Apa kamu tidak mendengar ku?" suara Keysa tiba-tiba terdengar kasar dan itu membuat Nadira takut. "Sekarang pergi bawa itu kembali".
"Ba-baik nona".
Tidak lama setelah Nadira pergi meninggalkan mereka. Keysa menatap ibunya lagi dengan wajah sedih, kesal, bercampur dengan yang lainnya.
"Ada apa lagi mah? Aku sudah katakan kalau aku tidak bakalan pernah mau menerima perjodohan itu. Jadi berhenti membujuk ku mah".
Mela menggenggam jemari tangan putrinya, "Kenapa sayang? Kenapa kamu tidak mau menerima perjodohan ini? Mama sudah katakan, dia anak yang baik. Kamu tidak bakalan pernah menyesali jika kamu menikah dengannya".
"Cukup! Cukup mah! Aku tidak ingin mendengar mama lagi, dan sebaiknya mama pergi saja. Aku ingin istirahat dan tolong jangan ganggu aku mah".
Mela terdiam menatap putrinya dengan tatapan sendu.
__ADS_1
"Baiklah jika kamu benar-benar tidak mau menerima perjodohan ini. Mama akan pergi sekarang juga" tidak lama setelah itu Mela juga pergi meninggalkan kamarnya. Lalu dengan air mata menetes, Keysa menjatuhkan tubuhnya diatas lantai dengan sangat marah. Tetapi ia tidak tau harus marah kepada siapa, ia harus marah kepada dirinya atau kepada kedua orang tuanya.