
Jam 7 malam, Marsel tengah bersiap-siap merapikan pakaian dan juga rambutnya. Kemudian ia melirik kearah kertas yang berada diatas meja dengan rasa penasaran membuat ia segera membuka pesan tersebut yang berisikan.
"Marsel, ini aku Selin. Wanita yang dulu pernah menolak mu di depan umum. Kamu masih mengingat ku? Aku harap kamu masih mengingat ku. Apa kabar mu sekarang ini Sel? Semoga kamu baik-baik saja begitu juga dengan ku. Dan tujuan aku memberikan surat ini kepada mu, aku ingin sekali bertemu, tapi aku tidak punya keberanian bertemu secara langsung dengan mu. Maaf, Maafkan aku Marsel sudah pernah menyakiti mu".
Selesai Marsel membacanya, ia melihat pesan itu lagi di bagian bawah.
"Jika kamu sudah menerima pesan ini, bisakah aku bertemu dengan mu? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan mu. Jika kamu bersedia, temui aku di tempat pertama kali kita bertemu" Selin juga menerapkan nomor ponselnya.
Lalu Marsel meletakkan surat itu kembali di atas meja, ia terlihat tidak perduli meskipun surat itu berasal dari wanita yang dulu begitu sangat ia sukai. Setelah itu, ia keluar dari dalam kamar dan saat itu juga ia melihat kedua orang tuanya tengah duduk santai sambil menonton televisi melihat kepadanya.
"Sudah mau berangkat Marsel?" Darita tersenyum bahagia.
"Mmmm, aku pergi dulu".
"Iya sayang, semoga kamu berhasil yah. Mama akan selalu berdoa yang terbaik dengan kalian berdua. Pergilah, jangan sampai Keysa yang menunggu mu. Kasihan dianya nanti".
Tidak lama begitu Marsel pergi meninggalkan rumah, Darita kembali menghampiri suaminya yang tengah asik bermain ponsel.
"Pah, mama sangat yakin setelah Marsel melihat betapa cantiknya putri keluarga Herlambang. Marsel pasti langsung jatuh cinta" ia tertawa gembira. "Papa masih ingat kan? Waktu kita juga di jodohkan saat itu. Kita berdua langsung saling suka tanpa ada cara pengenalan-pengenalan seperti ini".
Rudian mengangguk, "Iya mah, waktu itu papa langsung jatuh cinta sama mama".
"Hehehehe... Aku pikir papa sudah melupakannya".
"Mana mungkin papa melupakan kenangan indah itu mah? Mama ada-ada saja".
"Terima kasih pah, mama sangat mencintai papa".
"Papa juga mah".
Sesampainya Marsel di depan cafe yang sudah ia janjikan bersama dengan Keysa. Marsel mengalihkan seluruh arah pandangan matanya dengan intens. Lalu ia masuk ke dalam, dan di ujung sana ia menemukan seorang wanita tengah duduk seorang diri. Ia yakin kalau wanita itu adalah Keysa.
"Keysa Herlambang?".
Deng!
Nadira membulatkan kedua matanya, ia merasa begitu sangat takut kalau sampai sesuatu terjadi kepadanya.
__ADS_1
"I-iya, silahkan duduk" jawab Nadira dengan kepala tertunduk.
"Ada apa? Kenapa kamu menundukkan kepala seperti itu?" Marsel mendudukkan diri, namun melihat wanita yang berada di hadapannya itu tidak berani menatapnya membuat ia sedikit curiga ada apa dengannya. Sedangkan tadi sore saat ia menjawab panggilannya, suara Keysa begitu sangat lantam. "Apa kamu tidak mendengar ku?".
Hingga akhirnya Nadira mengangkat wajahnya, dengan senyum murung ia menatap Marsel membuat pria itu mengernyitkan dahi seperti sedang berpikir.
"Hay, nama ku Keysa Herlambang".
Marsel tidak menjawabnya, ia malah mengeluarkan selembar foto diatas meja menunjukkan kepada Nadira.
"Kamu siapa? Kenapa wajah yang ada di hadapan ku ini berbeda dengan yang ada di dalam foto ini? Jawab!".
Nadira semakin gelisah, ia tidak tau harus bagaimana menjawab pertanyaan Marsel yang membuat ia ingin sekali menghilang dari hadapan pria itu sekarang juga.
"Apa kamu masih tidak ingin menjawab ku?".
"Maaf" jawab Nadira menundukkan kepala.
"Maaf? Kamu minta maaf untuk apa? Aku bertanya kenapa wajah mu berbeda dengan orang yang berada di foto ini? Apa kamu sedang mempermainkan ku?".
Nadira semakin gelisah, ia meneteskan air mata hanya mendengar suara Marsel yang begitu benar-benar sangat kasar dikedua telinganya.
"Kamu menangis?".
"Maaf, aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf hiks.. hiks..." Nadira menatap Marsel yang sedang marah kepadanya. "Tolong maafkan aku, aku tidak berniat menipu kamu, aku hanya menjalankan tugas atasan ku saja hiks.. hiks... Sekali lagi aku minta maaf".
Marsel lalu menarik nafas panjang, ia benar-benar tidak menyangka kalau dirinya akan ditipu seperti ini oleh kedua orang itu.
"Lalu dimana dia? Kenapa dia malah mengirim kamu menemui ku?".
"Di-dia ada di tempat lain. Dan nona Keysa juga berkata seperti ini kalau dia tidak ingin menikahi mu apapun alasannya".
"Apa?" Marsel tersenyum menyeringai. "Kalau begitu katakan ini juga kepadanya, aku juga tidak mau menikahi wanita yang tidak aku cintai".
Nadira terdiam, begitu juga dengan Marsel. Tetapi saat mata keduanya bertemu, tiba-tiba Marsel seperti mengenali wajah Nadira. Dan Nadira yang menyadari akan hal itu, ia pun segera mengalihkan wajahnya dari pandangan mata Marsel.
"Tunggu sebentar! Apa kita pernah bertemu?".
__ADS_1
"Tidak" jawab Nadira menggeleng kepala.
"Tapi kenapa kamu tidak mau melihat ku?".
Nadira terdiam.
Kemudian Marsel mendengar ponselnya berdering, ia melihat panggilan tersebut berasal dari Seto.
"Mmmm, ada apa Seto?".
"Kamu sedang dimana? Bisakah kita bertemu sebentar saja Sel? Aku dan Anto berada ditempat biasa".
"Aku akan kesana".
Marsel mematikan ponselnya dan kembali melihat Nadira menghapus air matanya.
"Kamu baik-baik saja?" tiba-tiba ia merasa kasihan kepadanya.
"Mmmmm, aku baik-baik saja".
Setelah itu Marsel pergi meninggalkannya, dan tinggallah ia seorang diri disana. Hingga beberapa menit kemudian, Nadira melihat beberapa pelayan membawakan beberapa hidangan untuknya membuat ia kebingungan kalau ia tidak memesan apapun.
"Maaf, tapi saya tidak memesan ini semua. Kalian pasti salah meja".
"Tidak nona, pria yang tadi bersama dengan nona yang memesan ini semua. Selamat menikmati nona" Jawab mereka meninggalkan mejanya.
Nadira terkejut, ia tidak habis pikir kalau Marsel akan melakukan ini semua.
"Astaga! Makanan sebanyak ini bagaimana bisa aku menghabiskannya?" ia menatap satu persatu hidangan tersebut begitu sangat istimewa dan ia sangat menyukainya. "Tapi, aku sangat takut sekali kalau sampai dia mengingat ku. Dia pasti akan menghina ku dan menganggap aku sampah. Ya Tuhan, semoga saja dia tidak mengingat ku dan berharap kalau hubungan diantara mereka segera terselesaikan agar aku tidak ikut campur lagi".
Nadira lalu memakan satu persatu hidangan tersebut dengan sangat lahap dan tidak lupa berkata kalau dia benar-benar sangat menyukainya sampai ia selesai dengan beberapa hidangan saja. Ia kemudian memanggil si pelayan, "Mbak, boleh saya minta ini semua di bungkus? Sayang jika nantinya terbuang".
"Boleh nona, kami akan segera membungkusnya. Tunggu sebentar yah".
"Iya mbak, terima kasih".
"Sama-sama nona".
__ADS_1